Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
57. Selamat Datang Senin


__ADS_3

Si bungsu Ami tengah berada di kamar kakak keduanya. Untuk apa lagi kalau bukan untuk meminjam ponsel. Mumpung kakaknya itu tengah di dapur mencuci piring kotor bekas acara makan siang bersama. Ponsel punya Ibu sebenarnya juga sama nganggurnya hanya saja habis kuota.


Game favoritnya adalah Baby's Panda Adventure yang sudah terinstal di ponsel ketiga kakaknya. Jadi mau pinjam ponsel punya siapapun tinggal play.


"Argh, ganggu aja!" Ami mendecak kecewa karena game nya terhenti dengan adanya panggilan masuk. Tapi kemudian beralih terkikik membaca nama yang tampil di layar yang menurutnya lucu. Pinokio.


Ami pun menjawab dengan berucap salam.


"Waalaikumsalam. Ini dengan Aul kan?!" Suara laki-laki di sebrang sana terdengar sedikit ragu, ingin memastikan. Mungkin karena yang didengarnya suara anak-anak.


"Bukan, Kak. Ini sama Ami adiknya Teh Aul yang cantik dan imut tapi tidak amit-amit. Teh Aul nya lagi di dapur." Cerocos Ami seperti biasa dengan gaya narsisnya. Sehingga si penelepon tertawa lepas.


"Oh Ami ternyata....apa kabar Ami? Kakak jadi kangen sama anak centil ini."


"Kak Pinokio udah pernah ketemu aku? Kapan ya, Kak?" Ami mengernyit heran. Mencoba mengingat-ngingat.


"Ami manggil apa? Pinokio? Ini sama Kak Panji. Ami kok tega Ami manggil aku Pinokio." Si penelepon yang ternyata Panji terkaget dan mendesah kecewa.


"Whattttt? Ini Kak Panji Enin? Kak Panji yang ngasih THR 150 ribu sama aku?" Giliran Ami yang kaget. Apalagi setelah Panji menjawab meng iya kan.


"Waduh. Teh Aul save namanya Pinokio nih Kak. Aku aja sampai ketawa geli baca namanya. Pasti kakak tiap berbohong hidungnya memanjang dong. Ahahaha---"


"Enak aja. Ih Ami tega banget ngetawain. Emang nama Panji jelek ya sampe diganti Pinokio segala." sahut Panji dengan nada sedikit kesal.


"Enggak kok. Nama Kak Panji keren. Sekeren orangnya. Kalau aku dah segede teh Aul pasti akan aku tembak deh. Ciyus lho Kak." Terdengar kekehan dari sebrang sana yang merasa tersanjung karena dipuji sekaligus geli dengan ucapan sok dewasa itu.


"Nah panjang umur. Orangnya datang nih Kak." Ami menatap ke arah pintu kamar yang terbuka. Dimana Aul datang menghampiri dengan kedua alis terangkat.


"Teh, ini telepon dari PINOKIO." Ami menyerahkan ponsel sambil terkikik. Apalagi melihat reaksi kakak keduanya itu yang menganga dan melotot karena kaget sekaligus panik.


"Aku mau keluar ah takut dikira sekongkol sama teteh . Tuh Kak Panji marah karena namanya jadi Pinokio." sambung Ami sambil beranjak turun dari ranjang. Pergi keluar kamar masih cekikikan karena Aul terus-terusan aduh-aduhan.


Wajah Aul meringis serba salah dengan tangan memegang ponsel tapi belum ditempelkan ke telinga. Menyesal, kenapa pas Panji menelepon diangkat oleh Ami yang mulutnya suka bocor.


"Hallo, Kak Panji--" Dengan takut-takut Aul menyapa. "Apa kabar, Kak?" sambungnya basa basi, saat ditunggu sahutan tapi tidak ada suara.


"Awalnya sehat. Tapi sekarang nyeri ulu hati." Sahut Panji dengan nada datar.


"Hmm, Kak Panji sakit maag mungkin. Ada mual gak?!" Aul menganggap serius ucapan Panji. Yang malah dibalas dengan decakan.


"Bukan karena sakit maag tapi karena kamu nyamain aku dengan Pinokio. Tapi sudahlah pembahasan ini aku pending dulu. Next time kita harus ketemu! Kamu hutang penjelasan!" Tegas Panji yang membuat Aul mengaduh tanpa suara. Tapi tidak diberi kesempatan untuk memberi penjelasan.


"Aku menelponmu disuruh Bunda. Gini....Enin kan ikut Om Krisna ke Jakarta. Mungkin kamu udah tahu masalah yang menimpa Cia?"


Aul menyahut mengiyakan. Karena baru saja Puput menceritakannya di depan Ibu.

__ADS_1


"Jadi Bunda di rumah sendirian. ART mulai masuk kerjanya lagi besok sore. Kata Bunda bisakah kamu sama Ami nemenin semalam ini saja? Sendirian di rumah gak ada teman ngobrol dan Bunda juga penakut." Panji menjelaskan secara rinci. Ia tidak mungkin dari Bandung pulang ke Ciamis. Memberitahukan juga rencananya besok pagi akan menyusul ke Jakarta.


"Bisa, Kak. Jam berapa aku berangkat ke rumah Enin?!" Aul menyetujui. Ditambah Bibi Ratih juga orangnya baik dan ramah seperti Enin.


"Nanti Bunda akan jemput sekalian pulang dari butik. Setelah ini aku akan share nomer kamu ke Bunda. Biar Bunda yang lanjut komunikasi."


"Oke, Kak." sahut Aul singkat.


"Makasih Aul. Jangan lupa next time kita dinner! Pinokio butuh penjelasan dari kamu."


"Ihhh. Aku jelasin aja sekarang. Gini-----"


"Assalamu'alaikum." Panji memotong ucapan Aul. Lebih dulu mengakhiri sambungan telepon.


"Waduh gawat. Kan Pinokio jadinya ngajak dinner!" Aul bergumam sambil meringis dan menepuk jidat.


Gara-gara Ami ini mah.


Aul menggerutu dalam hati. Menjatuhkan tubuh telentang di kasurnya yang empuk dengan bibir memberengut.


Sebelum magrib, Ratih menjemput Aul dan Ami. Setelah sebelumnya mengabari untuk bersiap-siap. Ibu Sekar sempat menahan pemilik butik Sundari itu agar mau makan malam di rumahnya.


"Maaf Bu Sekar, bukannya gak mau. Tapi saya udah beli nasi kotak buat dimakan bertiga. Lain waktu aja ya." Ratih menolak dengan halus karena sudah terlanjur membeli makanan. Tidak lama langsung pamit kepada Ibu Sekar dan Puput.


"Bibi Ratih, aku dan Teteh tidurnya di kamar mana?!" tanya Ami begitu sampai di rumah Enin. Yang langsung mendapat cubitan kecil dan tatapan tajam dari Aul. Membuat Ami melipat bibirnya.


"Dan satu lagi. Jangan panggil Bibi, panggil Bunda aja ya! Sama seperti Panji." Ratih memperhatikan reaksi Aul yang hanya mengangguk kecil. Berbeda dengan Ami yang berbinar dan memberi hormat.


"Bi eh Bunda, boleh di kamar lain aja jangan di kamar Kak Panji?! Nanti kalau Kak Panji complain gimana?" Aul merasa tidak nyaman. Apalagi setelah ketahuan menyimpan nomer Panji dengan nama Pinokio.


"Panji sendiri yang nyuruh kok. Ayok ah udah adzan nih." Ratih merangkum bahu Aul dan Ami, mengantar sampai depan pintu kamar Panji. Tidak memberi kesempatan Aul yang sepertinya mau mendebat.


Masuk ke dalam kamar, Ami tertarik menjatuhkan badan ke atas ranjang queen size yang terbungkus seprai warna biru motif abstrak. Riang merasakan empuknya springbed yang berbeda dengan yang ada rumah.


Aul lebih tertarik mengamati deretan pigura yang menempel pada satu dinding. Panji kecil sampai dewasa terbingkai dalam pigura hitam yang berbeda ukuran. Membuat sudut bibirnya tertarik.


"Teteh ayo sholat! Malah liatin foto Pinokio eh Kak Panji." Ami tahu-tahu sudah berdiri di samping Aul yang terkaget karena tengah fokus menatap wajah tampan Panji saat mengenakan toga wisuda S1.


"Ami jangan nyebut lagi Pinokio. Nanti kedengaran Bunda, teteh yang gawat." Sahut Aul berkata pelan.


"Salah Teteh. Kenapa ganteng-ganteng dinamai Pinokio?!" Ami balik menyalahkan. Menggulung lengan baju sampai sikut, bersiap ke kamar mandi.


"Ada sejarahnya. Diem lah anak kecil mah jangan kepo. Sekarang udah diganti kok jadi Kak Panji." Aul menutup obrolan dengan bersiap juga untuk ambil wudhu. Malam ini untuk pertama kalinya tidur di rumah Enin. Dengan jamuan makanan dan buah-buahan dari Bundanya Panji yang serba enak. Tak lupa ada satu dus donat madu usulan Panji, untuk menyenangkan si anak periang Ami.


...***...

__ADS_1


Minggu ini, perdana pengerjaan bangunan warung nasi. Dimulai dengan membongkar tembok pilar sebelah kanan sebagai akses keluar masuk. Empat orang tukang bangunan dipekerjakan agar target 2 minggu bisa selesai. Puput merangkum bahu Ibu yang menyaksikan dari jendela dengan wajah semringah. Meski harus melepas motor kesayangannya, tidak membuatnya sedih. Yang penting salah satu cita-citanya memberikan kelayakan usaha kuliner sang ibu terlaksana.


"Teh, kalau bilang sama Kak Rama pasti dikasih gratis semua bahan bangunan. Gak perlu beli gini." Zaky menyerahkan nota pembelian pasir dan batu yang baru saja diturunkan di tepi jalan. Meminta uang.


"Hus ah. Teteh gak mau aji mumpung. Nanti kalau Kak Rama ada nelpon, jangan bilang lagi ngebangun ya. Awas lho!" Ada hikmahnya juga Rama pulang ke Jakarta. Bisa jadi apa yang dikatakan Zaky benar. Meski store RPA baru buka mulai besok, Rama mungkin akan menghubungi manajer Hendra untuk mengurus semua kebutuhan bahan bangunan. Puput sama sekali tidak mau. Ia ingin mandiri dengan budget yang memang sudah disiapkannya. Membeli sementara untuk kebutuhan hari ini dari toko bangunan yang dekat dengan rumahnya.


"Sudah ada kabar terbaru dari Rama?!" Ibu buka suara setelah Zaky pergi membawa sejumlah uang untuk membayar nota batu dan pasir.


"Tadi malam aja ngabarin udah sampe rumah jam 9. Sekarang mah belum ada." Sahut Puput sambil mencatat dalam buku setiap pembelanjaan. Yang sudah dimulai sejak kemarin.


Rumah terasa sepi tanpa adanya si centil Ami yang masih berada di rumah Enin bersama Aul. Puput fokus memperhatikan layar laptop. Mengamati desain banner yang dibuat Zaky untuk nama warung nasi nanti. Berdua diskusi santai untuk konsep warna dan detil lainnya. Ibu hanya menyimak. Menyerahkan semua tekhnik marketing pada anak-anaknya yang tentunya lebih mengerti akan perkembangan zaman now.


Selamat datang senin. Permulaan hari kerja dan hari sekolah. Menjadi pagi yang sibuk untuk seisi rumah. Ami yang lebih dulu berangkat sekolah menggunakan ojol karena jarak sekolah SD nya menjadi jauh setelah berpindah rumah. Toh ini tidak akan lama. Kurang lebih sebulan lagi sampai acara perpisahan. Disusul Zaky juga Aul berangkat dengan motor masing-masing. Sementara Puput menunggu jemputan Via yang tentunya setiap berangkat akan melewati rumahnya.


Rasa kangen melanda setelah 8 hari lamanya libur cuti bersama. Kini bertemu kembali dengan sesama karyawan RPA yang hampir bersamaan berdatangan di jam lebih awal. Admin grup "Forum Kubes RPA" sudah memberi pengumuman jika perdana masuk kerja jam 7.15 WIB karena akan diadakan halal bihalal terlebih dahulu.


"Njir....Put, penampilan baru. Makin geulis euy!" Di parkiran, Andi tidak menyangka jika yang dibonceng Via adalah Puput. Setelah dibuka helm langsung tercengang dengan penampilan Puput yang kini berhijab.


"Biasa aja jangan mangap. Ada laler tuh." Puput mendecak. Sudah biasa rekan cowok suka memuja muji dirinya. Tidak oernah dimasukkan ke hati.


"Aih kirain ada karyawan baru. Tadinya mau kenalan." Giliran Cepi yang bergabung mendekat. Malah bibirnya bersiul-siul sebagai bentuk pujian.


"Pada lebay banget lo pada. Buruan kerjain tugas noh." Via menyela. Menunjuk sebagian karyawan yang sudah berkumpul di jalan lintasan depan mushola. Mengingatkan tugas Andi dan Cepi menyiapkan sound system.


Andi dan Cepi berlalu. Ponsel Puput di dalam tas berdering. Serta merta merogohnya dengan cepat.


"Ehemm...uhuyyy. Beda nih yang nelpon pasti ayang yang lagi malarindu karena ldr an." Via meledek dengan mencebikkan bibir melihat Puput senyum-senyum saat menatap layar ponsel.


"Kowe ki jo meri karo aku (kamu jangan iri sama aku)." Puput mengerling dan pergi menjauh mencari tempat yang aman dari lalu lalang orang. Belum ada pengumuman acara akan dimulai. Meski mobil Pak Hendra sudah datang dan terparkir di tempat biasanya.


"Assalamu'alakum, Pak Boss!" Puput menyapa dengan melempar canda. Tak dipungkiri hatinya riang karena sehari kemarin tidak ada telepon ataupun chat. Bukan jawaban salam yang didengar dari sebrang sana. Tapi dengusan seolah kesal dan sebal.


"Sekali lagi kamu manggil aku begitu, aku culik lho ya! Mau dibawa ke KUA." Nada suara Rama terdengar gemas.


"Kan ini lagi di kantor. Harus profesional dong aku. Masa manggilnya ayang----" Puput berkilah dengan memelankan suara. Takut didengar orang.


"Noted. Aku suka panggilan itu. Ayo ulangi kasih salamnya. Nanti aku jawab." Tegas Rama dengan gaya bossy.


"Ihhh----nggak ah!" Puput kaget dan panik karena berada pada posisi senjata makan tuan. Membuat sebagian orang yang lewat menoleh karena suaranya yang meninggi.


...***...


Besties.....


Sambut kembali kedatangan RamPut dengan sajen kembang dan kopi ya!

__ADS_1


Siapa tahu dapat double up kalau hati othornya seneng 🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_2