Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
68. Kosong


__ADS_3

Semalam tidurnya gelisah. Bahkan Puput mengulang berwudhu sebelum tidur sampai tiga kali, saat kantuk tak kunjung datang. Tak dipungkiri, ucapan Zara memenuhi kepalanya, mengganggu pikirannya. Membuat hatinya gelisah. Sehingga matanya tetap terjaga sampai tengah malam. Barulah setelah wudhu ketiga kalinya itu, ia berhasil menyingkirkan beban pikiran dan berakhir tidur dengan lelap.


Saat pagi menjelang, Puput sudah bersiap untuk pergi ke wilayah Singaparna. Tiba-tiba ide itu tercetus usai shalat subuh. Dimana hati dan otak sudah jernih sehingga bisa membuat keputusan matang. Berangkat 20 menit lebih awal sebelum Rama datang menjemput. Dengan terpaksa harus berbohong kepada Ibu. Karena tidak ingin ibunya menjadi cemas dan terbebani dengan masalah yang tengah menimpanya.


Satu setengah jam perjalanan, Puput sampai di tempat yang dituju. Terakhir kali bermain ke wilayah ini 4 tahun yang lalu. Tentunya banyak perubahan yang membuatnya bingung. Dulu, sepanjang jalan di kiri dan kanan adalah pesawahan, rumah-rumah masih jarang. Kini menjadi padat dengan deretan rumah dan toko. Tersisa satu dua petak sawah.


"Punten Pak mau tanya, tahu rumahnya Wina gak Pak?" Puput bertanya pada salah seorang bapak yang tengah ngopi di warung.


"Wina yang mana ya? Di sini ada dua orang namanya Wina."


Puput menaikkan kedua alis. Bingung. Dulu rumah teman lamanya itu bercat abu dan di halaman ada pohon durian. Tapi ciri seperti itu sekarang tidak ada. "Wina yang bapaknya TNI AU, Pak. Saya lupa namanya." Sambungnya baru teringat jika dulu Wina pernah mengabsen nama anggota keluarga yang ada pada foto yang terpajang di ruang tamu.


"Oh Wina anaknya Pak Yosef berarti. Udah purnawirawan dia. Rumahnya yang itu, Neng....."


Puput berterima kasih. Membelokkan motor berbalik arah karena rumah yang ditunjukkan, sudah terlewat sejauh 200 meter. Benar, rumah model lama sudah gak ada. Berganti rumah model minimalis dengan cat warna broken white. Tak ada lagi pohon durian. Berganti bangunan toko pakaian yang saat ini baru buka.


Saat hendak bertanya, sudut mata Puput menangkap sosok yang dicarinya keluar dari rumah. Berjalan menuju pintu pagar besi dan membukanya lebar.


"Hai, Wina." Puput berdiri tegak menenteng helm full face kesayangannya. Tersenyum dengan wajah yang tenang. Berbanding terbalik dengan orang yang disapanya. Terkejut dan mematung.


"Aku gak diajak masuk nih? Sengaja lho jauh-jauh datang dari Ciamis. Mau nengok teman lama, yang semalam gak jadi datang karena sakit perut. Padahal aku udah sampai di cafe." Puput memperhatikan wajah yang mendadak terkesiap dan salah tingkah.


"Astaga. Saking surprise, jadi speechless aku." Wina beralasan. Mengulurkan tangan mengajak bersalaman diiringi cipika cipiki.


"Sayangnya, kamu datang kurang pas waktu, Put. Aku mau ke toko, mau mantau kerja anak buah. Toko yang ini punyaku juga. Tapi yang gede di sana, arah pasar Singaparna." sambungnya dengan niat dalam hati ingin pamer.


"Aku juga gak akan lama kok." Puput menatap tajam dengan raut wajah yang tetap tenang. "Tujuan pertama mau nengok yang semalam sakit perut. Kedua, kangen pengen ketemu karena udah 4 tahun ya kita gak ada komunikasi. Surprise lho, kamu bisa tahu nomer aku. Dan yang ketiga...." Sengaja menggantungkan ucapan untuk melihat sorot mata Wina yang mengerjap-ngerjap gelisah.


"Dan yang ketiga, apa hubungan kamu sama Zara?!"


"Maksud kamu apa? Aku gak ngerti juga gak kenal nama itu." Wina menggelengkan kepala. Beralih menatap jam yang melingkat di pergelangan tangannya. Kode untuk mengusir Puput secara halus.


"Makin cepat kamu jawab, makin cepat pula kamu bisa pergi, Wina. Pilih aja!" Puput berkata tegas. "Bagaimana mungkin si Zara kebetulan ketemu aku di cafe itu. Aku yakin ada hubungannya sama kamu. Sengaja kan beralasan sakit perut?"


"Sumpah aku gak tahu, Put. Aku beneran kok pengen ketemu kamu. Dapat nomer kamu itu dari kerabat di Ciamis."


"Siapa nama kerabatmu itu?!" Puput terus mendesak. Tatapannya yang tajam semakin membuat Wina gugup.


"Huft. Kamu udah buang waktu lama, Wina. Oke aku masuk aja. Mau ketemu sama bapakmu. Barangkali beliau belum tahu kalau anaknya ini pernah check in sama om-om....." Puput melangkah cepat melewati bahu Wina.


"Oke, Put....oke. Aku kasih tahu." Wina menjegal langkah Puput dengan raut kesal. "Aku disuruh....."


...***...


Puput melajukan motor kembali pulang ke arah Ciamis. Sementara tidak akan mengecek ponsel yang ia simpan dalam tas di bawah jok motor dalam mode senyap. Bisa diprediksi Rama maupun Via akan menghubunginya karena tidak masuk kantor tanpa alasan. Ia fokus ingin menyelesaikan dulu urusan pribadi yang mengganggu pikirannya itu.


"Punten, Kang. Mau tanya rumahnya Septi yang mana ya?" Meski bekerja satu kantor, selama ini Puput belum pernah bermain ke rumahnya Septi. Apalagi mengingat rekannya itu selalu sentimen terhadapnya. Berbekal alamat dari Wina, ia mengabaikan pegalnya mengendarai motor dengan perjalanan yang lumayan jauh memasuki pelosok perkampungan serta jalan yang menanjak.


"Oh si Septi....itu Neng rumah yang warna biru. Tapi jam segini gak ada di rumah, lagi kerja. Ada juga ibunya sama anaknya Septi." ujar lelaki yang tengah membuat kursi daei bahan kayu limbah. Menunjuk rumah baris ke empat dari tempatnya berdiri.


"Eh, ada berapa nama Septi di sini, Kang? Soalnya Septi yang saya cari itu belum nikah." Puput ingin memastikan lagi. Jangan sampai salah orang.


"Ada satu, Neng. Emang dia belum nikah tapi kawin udah, sampe melendung...."


Puput tidak ingin mendengar cerita lebih panjang lagi. Sudah cukup kaget mendengar cerita sepotong itu juga. Berterima kasih, ia segera pergi menuju rumah yang ditunjukkan.


Maksud kedatangan Puput menyusuri ke alamat ini, karena ingin tahu rumah dan ingin berkenalan dengan orangtua dari orang yang selama ini membencinya tanpa sebab yang jelas. Orang yang selalu ia diamkan tanpa mau membalas. Tapi kali ini Puput tidak akan diam karena tindakan Septi sudah melewati batas. Terlalu jauh ke ranah privasi. Namun sambutan dari pemilik rumah yang tiba-tiba membuka pintu.....

__ADS_1


"Alhamdulillah ada orang. Neng....tolongin! Tolong anter ke puskesmas. Nabila demam tinggi. Ibu khawatir kenapa-kenapa." Seorang wanita diperkirakan berusia setengah abad tergopoh-gopoh membopong anak kecil yang lemas tak berdaya.


Puput yang kaget dengan pemandangan tak terduga itu segera menaiki motornya lagi. Usai meraba dahi anak kecil yang nafasnya lemah itu.


"Bu, kasih tahu jalannya ya! Saya gak tahu, bukan orang sini." Teriak Puput yang melajukan motor sambil ngebut. Agar terdengar oleh penumpang di belakangnya itu.


Anak kecil itu tidur terkulai di bed perawatan dengan jarum infus yang menancap di tangan kanan. Wajah dan bibir memucat. Tapi Puput bisa membaca raut wajah pucat pasi itu banyak kemiripan dengan Septi.


"Neng, makasih banyak udah nolongin Ibu. Kalau tidak ada Eneng....nyawa cucu Ibu mungkin tidak tertolong. Barusan dokternya bilang katanya untung tidak terlambat datang..."


Puput menatap wajah kuyu dan lelah dengan banyak kerutan halus di kening itu. "Sama-sama, Bu. Hmm, cucu ibu umurnya berapa ya? Emang ibunya gak ada di rumah?" Dengan hati-hati mengorek keterangan.


"Umurnya 5 tahun. Ibunya Nabila kerja di toko bahan bangunan yang ada di kota. Yang gede kayak supermarket. Kalau Eneng mau lewat jalur stadion, nah sebelumnya keliatan tuh parkiran luas, bangunan dengan tulisan gede warna merah. RPA."


Puput manggut-manggut menyimak.


"Setiap hari, Ibu yang ngurus Nabila. Septi pulangnya sampe rumah magrib. Kadang malam, kalau pas lembur. Hari minggu baru bisa seharian di rumah." Pungkas ibunya Septi sambil menarik selimut untuk menutupi kaki Nabila yang terbuka.


"Hmm, jadi ayah dan ibunya Nabila sama-sama kerja ya, Bu?" Puput menangkap perubahan air muka ibunya Septi. Yang menyibukkan diri merapihkan rambut Nabila seolah tidak mendengar pertanyaannya.


"Bu, saya permisi mau pulang. Semoga Nabila lekas sembuh." Puput menyalami ibunya Septi sambil mengepalkan sejumlah uang. Sempat ditolak dengan gelengan kepala. Namun Puput mengepalkan tangan sambil mengangguk kecil meyakinkan. "Hatur lumayan, untuk beli bubur."


"Alhamdulillah.... nuhun, Neng. Udah cantik, soleha lagi. Semoga rejekinya tergantikan berkali lipat." Ibunya Septi memeluk Puput dengan mata berkaca. "Ngomong-ngomong, Eneng namanya siapa? Tadi kok tiba-tiba ada di depan rumah ibu? Apa gusti Alloh sengaja ya ngirimin orang baik buat nolongin orang susah kayak saya?"


Sekian detik Puput berpikir. "Saya Kiran, Bu. Tadi kebetulan mau ikut istirahat di teras. Mau selonjoran kaki abis motoran terus, pegel."


...***...


Makan siangnya sudah sangat terlambat. Sepanjang jalan menuruni perkampungan rumah Septi, perutnya berdisko ria. Bersamaan dengan kumandang adzan ashar bersahutan dari tiap masjid. Saat motornya memasuki jalan nasional, Puput memilih rumah makan padang untuk mengisi bahan bakar perutnya.


Memutuskan melanjutkan perjalanan menuju alun-alun. Lalu melaksanakan shalat ashar di masjid Agung. Puput mengambil ponsel yang ada di bagasi joknya. Selonjoran di selasar masjid sambil mengecek isi benda pipihnya itu. Benar saja, panggilan tak terjawab dari Rama mendominasi. Disusul dari Via serta total ratusan chat dari personal dan grup.


Pertama, Puput membuka pesan dari nama kontak yang ia ubah lagi menjadi "SP❤". Tersenyum membaca puluhan chat penuh kekhawatiran dari kekasihnya itu. Dua balasan sudah dikirimkan kepada Via dan Rama. Berakhir dengan ponselnya mati saat Rama melakukan panggilan.


"Sipuuut, kamu tuh demen banget sih bikin orang khawatir." Via geleng-geleng kepala saat tiba di bangku beton, tempat biasa nongkrong. Mengomel tapi juga memeluk bahu sahabatnya itu dengan perasaan lega.


"Lepas ih, Bakpia. Nanti dikira kita pasangan anu...." Puput menggeser badannya dengan bahu bergidik.


"Tak sambelin cangkemmu itu pake cabe domba!" Via mengeplak bahu Puput dengan gemas. Yang hanya dibalas dengan tawa lepas sang sahabat.


"Buru, Put! Ceritain lengkap ada masalah apa, terus kemana seharian ini. Jangan ada yang kelewat. Awas!" Via memasang muka galak. Seharian ini sudah merasakan galau tingkat tinggi karena memikirkan kabar Puput.


"Oke. Pastikan jantung kamu aman, Via. Dan awas lambemu jangan bocor!" Sahut Puput memberi warning terlebih dahulu.


...***...


Rama datang 7 menit lebih awal. Sepertinya sudah tak sabar ingin berjumpa dengan Puput. Bahkan di jalan sudah mengirimkan pesan agar Puput siap-siap. Meluapkan ekspresi dan berbincang di luar rumah tentunya lebih leluasa daripada berbincang di ruang tamu.


"Ada yang salah sama penampilanku?!" Puput spontan meraba jilbab dan wajahnya. Masuk ke dalam mobil tak lantas menyalakan mesin. Rama malah menatapnya lekat dengan memiringkan badan.


"Iya ada. Salahnya, kenapa kamu seperti hantu. Sepanjang hari ini aku gak konsen kerja. Hanya wajahmu yang terus menghantui. Kamu udah biin aku cemas tahu gak sih." Rama mencolek dagu Puput sambil menggeram gemas.


Puput menjentikkan jari dengan wajah berbinar. "Judulnya Kosong. Penyanyi Dewa 19. Benar kan?" terkekeh dengan mata mengerjap-ngerjap.


"Apaan....." Rama mendelikkan mata. "Emangnya ini lagi kuis?" bibirnya memberengut. Niat menciptakan suasana romantis berubah ambyar.


Ishh...Aku cium lho ya!

__ADS_1


Rama menggeram dalam hati. Semakin gemas melihat Puput yang kembali terkekeh. Berakhir bibirnya menyunggingkan senyum. Rindunya sehari ini terobati. Bisa melihat lagi tingkah cuek dan apa adanya kekasihnya itu.


"Ayo ah jalan! Aku udah lapar nih." Puput membuyarkan aksi Rama yang masih betah menatapnya.


Rama mengatur duduk lurus ke depan, memasang safety belt nya. "Mau makan dimana, Neng. Aa siap antar dan temani sampai ke bulan." mesin mobil sudah dinyalakan. Ia masih saja ingin menggombal. Meski tanggapan Puput biasa saja.


"Sate maranggi aja ya. Tempatnya biasa bukan restoran. Tapi rasanya maknyus. Pak boss gak masalah makan di kaki lima?" Puput tersenyum mesem menggoda Rama.


"Why not. Tunjukkan jalannya, neng!" Rama mengusap puncak kepala Puput sebelum beralih mengoper persneling.


"Sambil jalan sambil cerita ya! Tadi pergi kemana? Kenapa gak bilang?" Rama melajukan mobil pada kecepatan 40 km/jam agar bisa menikmati manisnya perjalanan dengan sang pujaan hati di malam yang cerah ini. Ia bertanya lembut tanpa terkesan mengintrogasi.


"Ceritanya nanti aja ya abis makan. Biar hati dan pikiran gak oleng." Puput menolehkan wajah. Memberi senyum menenangkan saat pandangan saling beradu.


"Oke deh." Rama teringat tebakan lagu Puput tadi. Meraba tombol on play musik.


"Sayang, cariin di playlist lagu dewa tadi kayaknya ada." Rama memfokuskan lagi pandangan lurus ke depan. Konsentrasi menatap lalu lintas yang ramai lancar.


Puput merasakan dadanya berdesir mendengar panggilan 'sayang'. Wajahnya tersipu di keremangan cahaya lampu malam. Jarinya menyentuh layar LED pada judul lagu 'Kosong'.


Kamu seperti hantu


Terus menghantuiku


Ke mana pun tubuhku pergi


Kau terus membayangi aku


Salahku biarkan kamu


Bermain dengan hatiku


Aku tak bisa memusnahkan


Kau dari pikiranku ini


Di dalam keramaian, aku masih merasa sepi


Sendiri memikirkan kamu


Kau genggam hatiku dan kau tuliskan namamu


Kau tulis namamu


...***...


Dear Besties,


Terima kasih selalu antusias mengunggu up date RamPut.


Author juga berharap, besties antusias juga memberi vote serta sajen kembang & kopi. JANGAN KENDOR! 😄


Semoga kesehatan dan keberkahan selalu menyertai kita semua.


Salam sayang dari Ramput


__ADS_1


__ADS_2