Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
45. Reuni (2)


__ADS_3

Zaky pulang ke rumah usai mengantarkan kakaknya ke tempat reuni. Bergabung bersama Ibu dan Aul yang tengah berada di halaman. Ami anteng sendiri duduk sila di teras meminjam ponsel Ibu. Puput sudah memutuskan membuat warung nasi dengan memanfaatkan halaman sebelah kanan. Itu artinya akan memugar pagar tembok depan sebagai akses keluar masuk. Tidak jadi menggunakan lantai dasar rumah sebagai tempat makan. Demi menjaga keamanan dan privasi keluarga. Untuk itu Aul menjelaskan sketsa gambar yang sudah dibuat Zaky kepada Ibu, langsung dilokasi.


"Ini pasti biayanya besar. Padahal udah aja masak untuk jualan keliling aja." Ibu tidak ingin membebani anak-anaknya terutama si sulung yang keukeuh akan menjual motor untuk tambahan modal usaha.


"Kan harus ada kemajuan, Bu. Kalau buka warung nasi kan target market lebih luas. Bisa jual via go food dan sejenisnya." Aul meyakinkan sang ibu. Zaky juga menguatkan pendapat kakaknya itu.


"Barusan aku mampir ke rumah Mang Jajang. Katanya sabtu bisa mulai kerja." Zaky sudah memperlihatkan desainnya ke tukang bangunan tersebut. Kemampuannya menggambar diaplikasikan sesuai dengan disiplin ilmu yang ditempuhnya di SMK jurusan TGB (Tekhnik Gambar Bangunan).


"Bismillah...mudah-mudahan lancar segala sesuatunya." Ibu mengalah. Dukungan ketiga anaknya tidak boleh disia-siakan. Ibu bertekad akan memulai lagi usaha kuliner lebih baik lagi.


Zaky masuk ke dalam rumah hanya untuk mengambil hoodie. Minta izin pergi lagi untuk main ke rumah temannya.


"Aa pulangnya bawa bakso ya!" Teriak Ami begitu motor supra sudah dihidupkan.


"Iya. Tapi bukain pintu dulu!"


"Hah. Resiko jadi anak kecil disuruh-suruh mulu." Omel Ami tak urung melangkah ke depan mendorong pintu pagar sampai motor keluar. Begitu pintu setengah ditutup, suara klakson terdengar. Membuat ia menoleh ke asal suara. Mengenali motor NMax merah itu milik Teh Puput. Memperhatikan sejenak pengemudi motor yang tengah melepas helm.


"Eh, Kak Panji. Kirain siapa." Ami tersenyum semringah usai tahu siapa wajah dibalik helm itu. "Ayo, Kak. Masuk....masuk!" Mendorong lagi pintu dengan semangat sampai terbuka lebar. Lalu menutupkannya lagi demi keamanan. Rumah sisi jalan raya sangat rawan akan aksi pencurian kendaraan roda dua.


"Nih...ada oleh-oleh buat Ami." Panji menyerahkan dua kantung berbeda warna saat Ami mencium tangannya. Yang aromanya sudah terendus lebih dulu oleh Ami begitu motor masuk melewatinya.


"Wuah----pizza sama donat madu. Kok Kak Panji tahu sih kesukaan aku." Ami berseru girang. "Ulala...masih hangat lagi. Jadi lapar deh aku padahal udah makan hi hi hi....."


"Eh lupa. Makasih ya calon pacarnya Teh Aul, hihihi." Ami terkikik lagi sambil menarik tangan Panji mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Panji yang tidak kebagian berbicara hanya tersenyum lebar dengan hidung yang kembang kempis. Pasrah dan ikhlas dituntun oleh Ami masuk ke ruang tamu.


Ami menuju dapur sambil menenteng dua kantong oleh-oleh dengan langkah riang. Menghampiri kakaknya yang tengah mencuci piring kotor. "Teh....tuh ada tamu cogan. Aku dikasih oleh-oleh nih." ujarnya menunjukkan dua dus yang dikeluarkan dari kantongnya.


"Kak Rama ya?! Itu sih tamunya Teh Puput. Kasih tahu Ibu aja....biar Ibu yang bilang kalau Teteh lagi pergi reuni." Tebak Aul karena melihat jenis oleh-oleh yang diperlihatkan Ami.


"Ish, bukan...bukan Kak Rama. Tapi cogan yang satunya lagi. Yang ngasih THR 150ribu." sahut Ami tanpa menoleh karena tengah membuka tali yang mengikat pizza.


"Kak Panji ya, Mi?!" Aul terkejut sendiri. Spontan memegang lengan Ami. Lupa jika tangannya masih dipenuhi sabun cuci piring. Baru ingat jika Panji akan datang mengantarkan motor.


"Ish, Teteh...kan tanganku jadi sabunan." Ami mendelik dengan wajah memberengut. Beranjak menuju washtafel untuk mencuci tangan.


"Eh maaf, lupa..." Aul baru tersadar dan cengengesan. Meminta Ami menemani dulu tamu. Ia mau berganti pakaian karena memakai baju rumahan selutut.


Di ruang tamu, Panji mengamati foto keluarga yang terpajang di dinding dalam figura besar. Ini kali kedua ia datang setelah kemarin malam mengantarkan Aul pulang usai mencari susu.


"Kak, diminum dulu ya!" Ami datang membawa nampan berisi dua gelas teh. Menyimpannya di meja. "Ini buatan aku lho....rasanya dijamin sangat enak. Wangi melati pokoknya." Sambungnya mempromosikan teh celup yang dibuatnya.


"Wah boleh coba nih nanti kalau dah hangat. Emang bikinnya gimana sampai bisa dijamin sangat enak." Panji memperhatikan isi gelas yang masih mengepulkan uap panas. Warna air teh yang kuning kecoklatan itu menguarkan wangi aroma melati.


"Gampang atuh, Kak. Teh celup favorit kita mereknya dari huruf T yang dibungkus satu-satu dalam box. Masukkin satu kantong dalam gelas, terus seduh sama air panas. Diamkan 3 menit, angkat....jadi deh."


"Ya memang biasanya gitu kan kalau bikin teh." Panji tersenyum geli. Mengira ada resep khusus. Ternyata umum.


Ami menjentikkan jari. "Ada bedanya, Kak. Kan yang bikinnya cewek cantik dan imut. Jadi meskipun gak pakai gula, rasanya bakal seperti ada manis-manisnya." Ami terkikik dengan gaya centil.

__ADS_1


Panji tertawa. Benar kata Cia, ngobrol dengan Ami sangat menghibur dan bisa bikin keram perut.


"Aduh lupa." Ami menepuk jidat. "Kata Teh Aul tunggu dulu. Teh Aul lagi touch up. Pengen tampil cantik dan wangi di depan Kak Panji, katanya. Sabar ya, Kak." Ujar Ami mengarang bebas. Dibukanya semua tutup toples di atas meja dan menawarkannya kepada sang tamu


Membuat Panji tersenyum simpul. Merasa terkesan, tersanjung, dan melambung karena ternyata kehadirannya disambut baik oleh Aul.


...***...


Puput opening dengan berucap salam. Lanjut menyapa dengan luwes seluruh angkatan sambil memperkenalkan diri.


"Masih hangat momen idul fitri. Tentunya aku haturkan minal aidin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga tali silaturahmi diantara kita terus terjalin meski terpisah jarak dan waktu." Ucapannya mendapat applause hampir semua hadirin.


"Baiklah, aku akan mencoba duet sebuah lagu dari Chrisye dengan judul "Cintaku". Yang tahu, ayo ikut nyanyi bareng. Yang mau mau joget harap tertib ya guys."


Di tengah kerumunan orang-orang yang kebanyakan kaum adam yang merangsek ke depan panggung, Rama msih berdiri terpaku. Menatap tanpa kedip dengan mulut sedikit menganga. Terhipnotis. Masih tidak percaya jika yang berdiri di tengah panggung dengan penuh percaya diri itu adalah Putri Kirana yang kemarin gugup di atas rumah pohon. Ia menunggu momen sang gadis pujaan itu bernyanyi. Penasaran dan deg-degan ingin mendengar suaranya. Benarkah bisa bernyanyi?


Intro dimainkan. Penonton dari kalangan pria terus berdatangan memenuhi area bawah panggung karena antusias ingin menyaksikan penampilan Puput dari dekat.


Adi bernyanyi lebih dulu. Jelas penuh penghayatan karena memang profesinya sebagai panyanyi dengan jam terbang yang sudah lumayan lama.


'Kan kujalin lagu


Bingkisan kalbuku


Bagi insan dunia


Yang mengagungkan cinta


Betapa nikmatnya


Dicumbu asmara


Bagai embun pagi


Yang menyentuh rerumputan


Kompak Adi dan Puput lanjut berduet.


Cinta akan kuberikan bagi hatimu yang damai


Cintaku gelora asmara, seindah lembayung senja


Tiada ada yang kuasa melebihi


Indahnya nikmat bercinta


Rama semakin terdesak oleh gerak orang-orang yang ikut bernyanyi sambil menggoyangkan badan. Ia tidak peduli dengan dorongan dari belakang dan samping kiri serta kanannya. Posisinya sudah pas menatap penampilan enerjik Puput dengan jelas. Senyum simpul tersungging di bibir. Binar penuh kekaguman tergambar di wajahnya. Diselingi gelengan kepala. Tidak menyangka si cuek bebek punya bakat bernyanyi. Mencengangkan.


Satu lagu selesai dalam durasi 6 menit. Penonton bersorak sorai. Berteriak meminta Puput bernyanyi lagu dangdut.


"Tenang....tenang. Penonton harap tenang ya." Bung MC mengambil alih sejenak. Menertibkan penonton di bawah panggung yang gaduh. "Teh Putri akan mengabulkan request lagu dangdut asal jogetnya tertib. Tidak boleh senggol bacok. Kita di sini berkumpul untuk senang-senang. SETUJU!"

__ADS_1


"Setujuuuuu!" Koor para penonton di bawah panggung dengan kompak.


"Baiklah, satu lagu lagi ya." Puput mengatur nafas. Masih semangat menebar senyum. "Kali ini aku mau mengajak perwakilan genk pinky untuk naik ke panggung. Harus joget dan nyawer. Jangan nyawer aku tapi nyawer teman-teman yang ada di depan nih..." sambungnya merentangkan tangan ke arah kumpulan orang-orang dengan berbagai warna baju.


Tanpa menunggu lama, trio slengean dengan antusias naik ke atas panggung. Disusul Selly si rambut pirang, lalu Linda si galau yang batal curhat, tak mau ketinggalan ingin joget di atas panggung. Sementara Adi menepi duduk ke sudut kiri, memberi ruang kepada teman-reman Puput.


Musik ala DJ Kentrung dimainkan. Sorak sorai riuh terdengar. Sudah bisa menebak judul lagu yang akan dinyanyikan. Sehingga sebagian orang turut bernyanyi.


Sungguh ku terpuruk dalam lamunan


Seakan ragaku hangus terbakar


Begitu besar api


Tak akan mampu kusirami


Sengajakah kau kirimkan undangan?


Ataukah hanya pelampiasan?


Adakah alasan


Yang akan kau tunggu? (Hok a, hok e)


Tidak bagi Rama. Disaat yang lain larut dalam goyangan dan keriaan, mimik wajah Rama berubah memberengut. Ia kesal melihat tiga pria yang berjoget mengitari Puput seperti cacing kepanasan dengan lembaran uang 20 ribuan diacung-acungkan. Siap menyawer penonton di bawah panggung.


Meski tidak berlaku kurang ajar, namun sedekat itu mereka dengan Puput, Rama sungguh tidak rela. Ia malah masih terpaku dengan kedua tangan menyilang di dada, berjarak 4 meter jauhnya.


Suara merdu mengalun, membuat fokus Rama kembali fokus pada sosok sang penyanyi.


Apa salahku?


Apa dosaku?


Hingga kau tega menyakiti


Kau yang s'lalu kupuja-puja


Namamu terukir indah


Gelapnya indah dunia


Terluka, penuh kecewa (hok a, hok e)


Luka tiada mengesan


Larut kesepian


Lagu kedua diselesaikan dengan apik dalam durasi lebih lama karena sang player keyboard memperpanjang durasi. Puput closing dengan mengucapkan terima kasih sambil sedikit membungkukkan badan. Menolak permintaan bernyanyi lagi. Memberi kesempatan angkatan lainnya yang akan menyumbangkan suara.


Buliran keringat mengembun di dahi dan pelipisnya. Karena bernyanyi cukup menguras energi sehingga punggung pun.basah berkeringat. Puput bersiap turun panggung.

__ADS_1


Sebuah uluran tangan di bawah tangga membuatnya mendongak. Terkesiap. Dengan mulut menganga dan mata membelalak sempurna, saat beradu tatap dengan orang yang membantunya turun.


__ADS_2