Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
Bab 90. Hasil Penerawangan


__ADS_3

Hal yang tak diduga jika keluarga Anggara adalah kerabat dekatnya Adi, sang calon mempelai pria. Anggara bilang jika neneknya dia dan neneknya Adi, adik kakak. Dua meja yang disatukan dua keluarga, menjadi hangat oleh obrolan ringan yang mengalir sambil menikmati makan soto. Adi dan keluarga besar sudah lebih dulu sampai di hotel. Dan keluarga Anggara menyusulnya.


Puput pun menjelaskan jika calon mempelai wanita adalah sahabatnya. Bertemu pertama kali saat sama-sama kuliah di Bandung dan satu kost. "Via itu sahabat rasa saudara. Kami juga sangat dekat dengan keluarganya. Apalagi pamannya Via nikahnya sama tetangga aku beda desa. Jadi sehari-hari Via di Ciamis tinggal sama pamannya." Jelas Puput saat ibunya Anggara menanyakan garis hubungannya dengan Via.


"Ngomong-ngomong, suami kamu mana, Put?" Angggara baru menyadari jika yang hadir hanya keluarga inti Puput.


"Suami lagi di Amerika. Lagi ada pekerjaan di sana." Puput tersenyum simpul melihat reaksi Anggara yang membulatkan mata.


"Ya ampun, Put. Pengantin baru udah ldr an aja." Anggara geleng-geleng kepala. Selalu merasa salut dengan kisah orang yang mampu menjalani hubungan jarak jauh.


Hari bahagia tiba. Minggu pagi bertempat di sebuah gedung graha, akad nikah Novia Prameswari dan Adi Yanur berjalan lancar. Sepasang pengantin mengumbar senyum kebahagiaan sambil memamerkan buku nikah di tangan. Sekali pose penuh keanggunan, kedua kali gaya sengklek Via keluar. Ia mengajak Adi bergaya mengejan sambil menyilangkan tangan memegang buku nikah. Spontan membuat semua orang mentertawakan. Dan semua momen telah diabadikan dalam jepretan kamera .


Acara berlanjut dengan resepsi. Jam 11 menjadi puncaknya tamu undangan yang hadir sampai mengular. Kebahagiaan sepasang pengantin menular pada diri Puput yang sejak semalam selalu bersama Via dan tidur berdua di kamar pengantin. Hingga ia pun menjadi bagian dari brides maid bersama Aul. Menggandeng dan melepas sang mempelai duduk di depan meja akad.


Puput tak lupa mengirimkan foto saat sendiri dan foto selfie dengan pengantin. Sudah 15 menit tapi pesannya belum dibaca. Mungkin Rama masih tidur karena di sana masih dini hari. Ia pun tampil menyumbang sebuah lagu di hari istimewa ini. Tak lupa meminta Aul untuk merekamnya untuk dikirim ke sang suami.


"Lagi apa?" Anggara mendekat. Aul memasang telunjuk di bibirnya. Ia tengah merekam keanggunan sang kakak di atas panggung yang menyanyikan lagu Titi Dj - Jangan Berhenti Mencintaiku.


Anggara mengangguk. Ia pun memusatkan perhatian ke panggung musik. Ikut menikmati kemerduan suara Puput yang bernyanyi penuh penghayatan. Tak dipungkiri ia merasa kagum karena melihat Puput semakin cantik dan berpenampilan stylish setelah menikah. Tak lagi terlihat tomboy.


"Sudah." Aul tersenyum dan memasukkan ponsel ke tas selempangnya. "Ini rekaman buat dikirim ke Kak Rama." sambungnya dengan bangga.


"Sekarang giliran kita selfie ya. Mumpung matching nih." Ujar Anggara menunjuk pada warna baju yang senada karena ia pun menjadi groomsmen. Aul pun mengangguk setuju. Beberapa pose dibuat dari berbagai arah. Mulai dari pose senyum tipis sampai tertawa penuh keriaan.


Anggara mengajak Aul ke meja VIP. Mengecek hasil jepretan barusan. "Hm, bagus-bagus semua. Menurutmu yang mana yang paling bagus? Aku mau bikin status." Ia meminta pendapat Aul dari 6 foto yang ada.


"Aduh aku juga bingung. Tapi yang ini boleh juga, lucu." Aul memutuskan menunjuk foto yang sama-sama tersenyum lebar dengan latar belakang pelaminan dimana pengantin pria tengah berbisik pada istrinya.


Anggara mengangguk setuju. Ia memainkan ponselnya. Mengupload foto di story WA dan Ig. "Kamu pajang juga ya. Udah di kirim tuh."


"Nggak akan ada yang marah, kan? Atau kamu udah punya pacar?" Cecar Anggara yang melihat Aul terdiam memegang ponsel.


Aul menggeleng. "Nanti teman-teman suka heboh. Bakalan ngegosip deh mereka."


Anggara terkekeh. "Woles aja. Toh yang digosipin sama-sama single ini. Nggak akan ada yang cemburu."


...***...


Mobil CRV hitam berhenti di depan Dapoer Ibu. Agak mundur sedikit agar tidak menghalangi pintu masuk. Mengingat banyak pengunjung yang datang di akhir pekan ini membawa keluarga.


Panji membuka kaca mata hitamnya. Ia baru tiba dari di rumah Enin 2 jam yang lalu. Berangkat dari Bandung pagi tadi dengan tujuan menengok sang bunda juga ingin bertemu Aul. Sengaja tidak mengabari gadis yang akan ditemuinya untuk memberikan kejutan.


Kening Panji mengkerut. Pintu pagar besi rumah Ibu Sekar tidak bisa didorong. Ia beralih mamasuki Dapoer Ibu. Beberapa orang tengah mengantri mengambil menu makan dengan sistem prasmanan.


"Teh, apa Ibu Sekar ada di rumah?" Panji bertanya pada bagian kasir.


"Ibu sama semuanya lagi pergi ke Banyumas dari kemarin." Petugas kasir menjawab ramah.


Panji membulatkan bibir tanpa suara. "Hmm, lagi ada acara apa ya?" ujarnya penasaran.


"Ke acara nikahan, A'."

__ADS_1


Panji tak bisa berlama-lama bertanya karena petugas kasir harus melayani tamu yang akan membayar. Ia kembali ke mobilnya. Menengok sekilas oleh-oleh yang ada di jok belakangnya. Kecewa? Iya. Karena ini diluar ekspektasi. Ia membuka ponsel untuk menghubungi Aul. Namun tergelitik ingin melihat status gadis itu. Sebuah foto momen bahagia yang baru diupload 5 menit yang lalu itu mendadak menimbulkan perih di dalam perut. Bukan perih karena sudah memasuki jam makan siang.


Tiba-tiba ponselnya berdering saat Panji hendak memutar balik mobilnya. Ia melihat nomer yang tidak dikenal. Diabaikannya. Memilih melajukan mobilnya arah pulang usai membayar parkir. Dua kali ponselnya berdering panjang dari nomor tak dikenal itu kini senyap dan beralih notif pesan berbunyi terus-menerus.


Tiba di lampu merah, Panji iseng membuka pesan masuk yang terdengar berkali-kali itu.


"Assalamu'alaikum, Kak Panji...."


"Ini nomer Ami yang cantik dan imut tea....."


"Masih ingat kan? Masih dong."


"Kalao ngefans simpen aja nomerku ini. Aku udah punya hape sendiri sekarang. Hape samsul warisan dari Teh Puput. Hihihi..."


"Sepertinya Kak Panji kangen sama aku ya? Soalnya tanganku tiba-tiba kekerenyedan. Hehehe....becanda kok. Tapi serius."


"Dah dulu ya kak. Aku lagi di nikahan Mbak Via. Mau makan es dawet dulu. Siang-siang beurr segeerrrr."


"Eh, lupa. Mau titip salam sama teh Aul nggak?"


Panji terkekeh-kekeh membaca rentetan pesan itu. Jika ada orang yang melihatnya mungkin akan merasa aneh karena tertawa sendiri. Moodnya berubah. Wajahnya kembali semringah. Ia menepikan mobil di bahu jalan yang lebar dan teduh setelah melewati lampu lalu lintas yang menyala hijau. Headsetnya dipasang untuk menelpon si centil Ami.


...***...


Puput melipir mencari tempat yang sepi dari hiruk pikuk tamu undangan dan suara musik. Ia berada di luar gedung sebelah kiri dimana ada tiga kursi taman berjajar renggang. Ia duduk di kursi paling ujung. Ia sudah meminta Rama menghubungi ulang lima menit lagi. Dan kini panggilan video itu terhubung lagi.


"Sayang...kenapa kamu makin cantik sih? Mana aku jauh darimu lagi. Ahhh...." Rama mengeluh dengan nada merajuk. Ia sudah membuka semua kiriman istrinya itu usai berpakaian rapih. Dan kini merasa gemas sendiri.


Puput terkekeh pelan. "Aku makin cantik karena tiap hari jatuh cinta sama suamiku." ujarnya dengan kedua pipi merona merah.


Puput terkejut dan menggeleng. "Jangan bicara begitu, sayang. Nggak boleh egois. Gimana nanti nasib dua temanmu itu, juga seluruh karyawan di sana. Maafin aku yang udah menggodamu." Sorot matanya penuh penyesalan. Tak menyangka akan reaksi suaminya itu.


"Ish, mukanya jangan sedih gitu. Harus senyum kayak tadi! Aku cuma becanda kok. Tapi serius kalau aku pengen peluk kamu saat ini juga." Rama menatap dengan lembut dan dalam. Mengusap layar ponsel seolah tengah mengusap pipi putih sang istri yang merona merah jambu.


Sesaat saling diam hanya saling menatap dengan senyum yang terus terukir di antara keduanya.


"Sayang, nanti kita pun akan memakai pakaian pengantin. Aku membayangkan bidadariku memakai gaun putih yang elegan. Aku pakai tuxedo hitam dengan bunga mawar putih tersemat di jas. Hmm....tak sabar nunggu momen itu tiba." Rama memejamkan mata. Segala rencana resepsi impian sudah terbayang dan terkonsep di angan.


Puput tersenyum simpul. "Insyaa Allah, akan tiba waktunya impian Aa menjadi nyata."


"Impian kita, sayang." Ralat Rama. Dan Puput mengangguk diiringi senyuman.


"Lagu tadi....bukan hanya untuk pengantin. Tapi juga curahan perasaanku buat Aa." Ujar Puput dengan wajah yang kembali merona. Ia selalu malu saat harus jujur tentang perasaannya. Tapi ia pun ingin suaminya tahu betapa dirinya sangat cinta dan sayang pada suaminya itu. Karena seumur hidup baru merasakan rasanya jatuh cinta.


Rama memajukan bibir membentuk satu kecupan. Sampai terdengar kecapan suaranya. "Feelnya sampe padaku, sayang. Aku udah 5 kali putar ulang. Ini bakal jadi vitaminku tiap hari. Proud of you."


"Aku jadi membayangkan sedang memelukmu dari belakang saat kamu menyanyikan lagu itu. Dan kamu pakai lingerie...hmmm." Rama menggeram dan men de sah.


"Wah itu mah nyanyinya harus privat dong. Bayarannya mahal." Puput mengerling nakal.


"Siap, my diva. Mau minta bayaran berapa? Kalau perlu semua aset balik nama atas nama Putri Kirana."

__ADS_1


Puput terkekeh. "Becanda kok."


"Aku malah serius, sayang. Aku bisa suruh pengacara mengurusnya. Please, jangan pernah berpaling dariku. Apapun akan kuberikan. Karena aku udah jatuh sedalam-dalamnya sama pesonamu. Hidupku makin terarah setelah mengenalmu. Di sini aku hanya bekerja. Tidak pernah dan tidak akan kemana-mana. Ben dan Jo mengajak aku menghilangkan stres dengan pergi ke bar, aku memlilih pulang ke apartemen. Semua video yang aku rekam saat kita honeymoon di hotel, jadi pelipur...jadi obat stres."


Puput menyimak dengan mata berkaca haru. "Aa nggak perlu memberikan seluruh harta. Perhatianmu sama aku dan keluarga udah cukup menjadi bukti. Aa jangan khawatir, aku akan selalu setia. Percayalah, cintaku hanya untukmu."


"Aa tau nggak....do'aku tidak putus setiap hari. Aku juga bersedekah atas nama suamiku setiap hari. Aku merayu Allah agar mempermudah kesulitan yang sedang Aa hadapi. Semoga sebelum dua bulan, Aa bisa pulang."


Puput yang tadinya menyembunyikan hajat yang tengah dilakukannya, akhirnya dibocorkan. Agar suaminya yang berada di beda benua itu lebih tenang dan tidak meragukan kesetiannya.


"MasyaAllah, sayang! Aku.....ah speechless deh." Rama meremas rambutnya dengan mata terpejam, menikmati gejolak rasa. Haru dan rindu memenuhi rongga dada.


"Sayang, aku harus berangkat!" Rama menilik jam di pergelangan tangannya.


Obrolan manis itu pun berakhir karena Rama akan berangkat ke kantor. Ucap mesra dan peluk jauh sambil mendekap dada dilayangkan Puput untuk penyemangat. Dibalas kecupan mesra dengan bibir menempel ke layar ponsel, oleh pria yang sudah rapih berdasi di sebrang sana.


...***...


Minggu malam selepas isya, Puput dan keluarga tiba di rumah dengan selamat. Keluarga Via sebenarnya menahan untuk menginap semalam lagi, meminta pulang senin pagi saja. Namun Puput beralasan senin harus masuk kerja karena banyak tugas di kantor yang tidak bisa diwakilkan.


Zaky, Aul, dan Ami mengeluarkan buah tangan yang memenuhi jok baris ketiga. Juga mengeluarkan barang pribadi di bagasi belakang.


"Ami, eling woy! Ngapain senyam senyum gitu?" Zaky menegur sang adik yang menerima uluran kantong keresek darinya tapi tidak fokus. Tidak ada gurat lelah di wajah si bungsu itu. Malah terlihat bersemangat.


Ami memutar bola mata. "Yaelah, Aa. Mana mungkin si cantik dan imut ini kesambet. Se tan pada minder duluan dan kabur terbirit-birit sama pesona Rahmi. Bakal kepanasan."


"Ck. Narsis overdosis." Zaky menutup pintu mobil dan mendahului masuk menenteng 2 dus yang berat. Entah isinya apa.


"Guys....dengerin nih guys!" Ami berdiri dan bertepuk tangan meminta atensi semua orang yang tengah berkumpul di ruang tengah. Puput telentang di karpet untuk meluruskan badan yang lelah dan kaki yang pegal usai menyetir. Ibu, Aul, dan Zaky membuka satu persatu buah tangan dari orangtuanya Via. Kali saja ada makanan yang mesti dihangatkan agar tidak basi.


"Mi...ambilin dulu minum. Yang hangat!" Pinta Puput.


"Iya bentar. Nih dengerin dulu pengumuman ya! Tangan kanan aku ini kekerenyedan (berkedut) terus. Hmm, mata batinku mengatakan bakal ada yang ngirim oleh-oleh lagi ini mah." Ami berkata sambil memejamkan mata dengan kedua tangan mengatup di dada. Seolah benar ucapannya itu hasil penerawangan.


Zaky melemparnya dengan sebutir rambutan mengenai kening Ami yang sontak terkaget dan membuka mata.


"Buruan ambil air minum tuh Teteh mau pingsan!" Hardik Zaky yang mendapat cibiran Ami sambil memanyunkan bibir.


"Aduh!" Zaky mengusap pipinya karena mendapat lemparan rambutan dari Puput dengan keras. Orang yang melemparnya tanpa dosa mengunyah rambutan tanpa melihat padanya.


"Hahaha....karma dibayar kontan. PUAS!" Ledek Ami tertawa lepas. Buru-buru berlari ke dapur. Menghindar balasan dari Zaky sekaligus melaksanakan tugas dari Teh Puput.


.


.


Tbc


...***...


Besties,

__ADS_1


Sedikit lagi menuju 100 bab. Jangan lupa kirimkan bukti ss kopi kepada mimin @Imas Perwati. Lima buah tas menanti untuk lima orang dengan akumulasi gelas kopi terbanyak sampai 30 Juli 2022.


Cemungut 💪💪💪😍


__ADS_2