
Ciamis
Tadinya ingin merahasiakan tentang pertandingan silat yang akan diikutinya minggu besok. Malah keceplosan menyampaikannya. Ya sudahlah. Mungkin memang Rama sebagai orang spesial, yang kini namanya bertahta di hati, harus tahu akan kegiatannya. Meski harus beberapa kali diyakinkan jika pertandingan ini aman dan sehat. Biarpun tidak berijin atau tidak dalam pengawasan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).
Puput sudah bersiap berangkat kerja. Memakai motor Aul yang hari ini libur kuliah. Sedikit kecewa karena Rama tak membalas pesannya. Padahal centang biru, jelas sudah dibaca. Semalam berpikir positif mungkin Rama lelah dan pagi-pagi akan menelponnya. Nyatanya zonk.
Sebentar mengamati progres pembangunan warung nasi. Dimana hari jum'at semua pekerja bangunan libur. Alhamdulillah sudah 50%. Dan yakin minggu depan bisa selesai tidak hanya bangunannya, tapi juga dengan isinya lengkap. Order kursi meja hanya tinggal menunggu konfirmasi darinya kapan harus diantar. Banner juga neon box hari ini akan diurus oleh Aul ke percetakan.
"Nita, tolong belanjaan ini kalau bisa pengantaran sebelum jum'atan." Puput membayar cash pembelian keramik, cat, dan lainnya. Ia sendiri yang memilih sesuai selera. Menyebutkan alamat atas nama Ibu Sekar. Tak perlu rekan kerja tahu jika itu sebenarnya belanjaan miliknya.
"Siap, Teh." Kasir yang kemarin menjadi MC halal bihalal itu mengangguk patuh. Membuat double faktur yang akan diserahkan ke admin yang kemudian diteruskan ke petugas gudang. Dengan menulis kode khusus yang mengisyaratkan pengiriman pagi dibawah jam jam 12.
Naik lagi ke lantai dua, Puput disambut todongan pertanyaan oleh Via yang masuk ke kubikelnya. Hanya dia rekan di kantor yang tahu tentang belanja bahan bangunan yang baru saja dilakukannya. "Put belanjamu besar gini. Padahal bilang sama Pak Hendra. Kan lumayan dapat diskon 20%." ujarnya mengamati faktur pembelian milik Puput. Mengingatkan adanya harga spesial untuk staf. Hanya dengan menunjukkan surat pengantar yang ditandatangani sang manajer.
"Sama aja bocor dong. Biarin beli normal aja daripada ujung-ujungnya dikasih free sama boss besar. Aku gak mau aji mumpung ah." Puput kembali menghadap layar komputernya. Bersamaan dengan telepon di mejanya berdering.
Via keluar dari kubikelnya Puput sambil mengangkat bahu. Mengalah pada pendirian pengkuh sahabatnya itu. Disamping itu merasa bangga. Mungkin jika perempuan lain akan berubah over acting saat memiliki pasangan orang yang tajir melintir seperti boss RPA.
"Ada apa, Pak?!" Puput duduk di ujung sofa ruangan pak Hendra. Karena sang manajer yang menelponnya barusan tengah berada di sana memangku laptop dengan banyak berkas yang terhampar di meja.
Pak Hendra memindahkan laptop ke sampingnya. Memusatkan atensi terhadap Puput yang menunggunya membuka pembicaraan. "Put, barusan big boss telpon saya. Kamu besok harus libur kerja. Bukan penawaran lho ya. Ini perintah yang harus dituruti."
"Eh, kenapa? Aku melanggar apa ya?!" Jelas saja keputusan yang tiba-tiba itu mengagetkan. Masa iya karena barusan turun ke lantai satu hampir 30 menit lamanya, buat belanja bahan bangunan menjadi masalah.
Pak Hendra mengulum senyum. "Bukan sanksi. Tapi kamu disuruh istirahat, gak boleh cape. Katanya minggu mau ikut pertandingan silat. Duh, punya ayang perhatian sekali ya. Beruntung kamu, Put. Dapet cowok kayak Pak Rama. Awas jangan dilepas! Tapi juga harus kuat dengan godaan di luar sana. Bisa jadi banyak cewek yang antri pengen dapetin cintanya si boss perfect. Muda, ganteng, baik, tajir lagi. Dan kamu pemenangnya. Pesonamu udah buat dia bertekuk lutut." Terang-terangan ia mendukung hubungan Puput dengan Rama. Berapi-api ia memberi wejangan.
"Aku menerima cintanya Aa Rama bukan karena tajirnya kok. Ini mah soal hati. Padahal aku tipe cewek yang gak mudah jatuh cinta. Tapi dia terus-terusan ngasih perhatian bukan hanya sama aku, tapi keluarga juga. Jadinya hati aku tersentuh deh." Puput terkekeh menjawab seadanya tanpa gengsi. Toh Pak Hendra sudah tahu dengan kepribadiannya. Malah dulu pernah dikenalkan dengan tamu manajer perusahaan kayu lapis yang menyukainya. Namun tidak berlanjut karena ditolaknya.
"Oh, oke. Jadi Aa ya panggilannya. Co cuit kalau kata si bungsu Bunga mah." Pak Hendra tertawa. Menjadi teringat akan anak ketiganya yang ceriwis. Dan kini senang sekali menggoda Puput yang terkaget menutup mulut karena merasa keceplosan.
Puput menutup pintu rapat. Berdiri sejenak untuk menetralkan pipi yang memanas dan merona. Ia buru-buru keluar karena malu menjadi bulan-bulanan godaan Pak Hendra. Masih terdengar tawa lepas sang manajer itu sampai tembus keluar. Bahkan kini pandangannya bersirobok dengan tatapan tajam Septi yang berjalan mendekat dengan saru tangan mengapit map.
Puput duduk di kursinya. Membuka laci tempat menyimpan ponsel. Jempolnya bergerak cepat membuka pesan dari Rama. Mengabaikan pesan yang lain.
"Neng, besok di rumah aja. Jangan terlalu cape ya. Manfaatkan sehari sebagai masa tenang."
"Maaf belum bisa telpon. Ada meeting di luar kantor."
__ADS_1
"Miss you so much."
Tiga pesan berturut-turut yang masuk 16 menit yang lalu itu mampu melukiskan senyum kecil di bibirnya.
"Makasih, Aa. Jangan lupa jaga kesehatan ya!"
Tentu saja ia juga sama merasakan rindu. Tapi cukup sebaris kalimat aja yang dikirim sebagai balasannya. Karena semalam sudah diungkapkan rasa sono itu. Meski gak dibalas.
Puput kini memiliki kebiasaan baru yang sebentar-sebentar mengcek ponsel. Tiada lain tiada bukan hanya untuk melihat apakah ada pesan baru ataupun telpon tak terjawab. Menjelang tidur membuka tutup galeri foto juga melongok room chat Rama. Namun malam sabtu ini tak ada chat ataupun telpon darinya.
Sudah seminggu gak ketemu.
Puput mengeluh dalam hati. Hanya bisa mengekspresikan dengan mengerucutkan bibir. Padahal sangat berharap bisa berbincang untuk mengobati rindu malam ini. Akhirnya memilih tarik selimut saja memejamkan mata untuk menambah pulau di bantal kesayangannya.
...***...
Sabtu jam 1 siang. Rama, Enin dan Cia sudah tiba di rumah Ciamis dengan lancar selamat. Mang Yaya yang menjemputnya ke bandara dengan mengendarai Pajero milik Rama yang memang tidak dipakai saat pulang ke Jakarta.
Rama tidak lantas berdiam diri berleha-leha. Jempolnya bergerak cepat berselancar di aplikasi belanja online. Memilah-milih apa saja yang akan dibawa ke rumah Puput sebagai oleh-oleh. Juga menyiapkan rencana surprise yang harus berhasil. Itu berarti butuh bantuan seseorang, pikirnya. Ia mengirimkan pesan pada seseorang sebelum kemudian beralih menjadi percakapan via telepon. Done.
Waktu bergerak menuju sore. Tiga driver ojol dan satu kurir dalam waktu yang berbeda, sudah mengantarkan semua belanjaannya.
Ditanggapi Rama dengan tertawa lepas. Jelas tergambar wajah dengan aura bahagia itu. Yang dengan santai memasukkan semua barang ke dalam mobil yang sudah dicuci mengkilap oleh Mang Yaya.
Selepas magrib Rama masuk ke kamar Enin. Nampak sang nenek tengah mengaji sambil menunggu waktu isya. Ia pamit pergi ke rumah Puput.
"Rama kapan mau lamar Puput? Jangan dilama-lamain. Lebih bagus langsung ajak nikah aja kalau kamu udah sreg." Enin mengingatkan sang cucu yang merengkuh bahunya.
"Sabar, Enin. Kita kan jadian belum lama. Rama juga udah pikirkan hal itu. Doa'in ya Enin, moga Puput memang jodoh terbaik." Rama pergi usai mencium takzim tangan sang nenek.
Di depan kamar Cia yang pintunya sedikit terbuka, terdengar percakapan antara sang adik dan Bibi Ratih. Rama hanya melewati saja. Membiarkan bibinya memberi semangat dan dukungan moril. Trauma sang adik belum hilang. Selama di pesawat terus memejamkan mata. Karena masih takut dan tangan berkeringat dingin saat melihat penumpang laki-laki yang tidak dikenalnya. Berharap selama di sini, seiring waktu trauma itu akan hilang.
...***...
Berbagai ekspresi ditunjukkan Ami saat diajak bergabung oleh Zaky di kamar Aul. Membulatkan mata, kadang terkikik ditahan, kadang menggosok-gosokkan tangan karena gregetan dan tidak sabar harus menunggu. Bisa dikatakan bertiga di kamar itu untuk bersembunyi dari kakak pertamanya.
"Aa, berapa lama lagi sih? Duh aku jadi pengen ngompol." Ami berbisik. Berdalih mau ke kamar mandi karena tak sabar ingin segera keluar kamar.
__ADS_1
"Tunggu sampai tamunya datang. Sudah jangan ngomong lagi. Nanti dilakban lho mulutnya kalau berisik terus." Zaky menegur Ami yang selalu saja heboh sendiri sejak tadi.
"Uughhh, oyeh-oyeh....datanglah....datanglah!"
"DIEM!"
"DIEM!"
Aul dan Zaky bersamaan menggeram dan melotot tajam ke arah si bungsu. Ami langsung bereaksi menggembok mulut dengan memutar dua jari.
Puput usai shalat magrib membuka lemari pakaiannya. Zaky mendadak memberitahu tadi sore, jika jam 7 malam minggu ini minta ditemani ke ulang tahun Clarisa teman sekolahnya beda kelas. Ia tahu Clarisa, yang kadang menelponnya hanya untuk bertanya ; "Teh, Zaky nya ada?"
Karena adik satu-satunya yang tergolong idola di sekolah itu selalu acuh dan mengabaikan setiap mendapat pesan dari teman perempuan. Selalu enggan menemui jika ada yang datang ke rumah. Maka Ibu yang paling sering berhadapan jika tamu yang datang adalah perempuan. Zaky lebih tertarik memahat kayu di teras belakang untuk dibuat miniatur benda sesuai order yang masuk. Daripada menghadapi teman perempuan yang cari perhatian dan tebar pesona padanya dengan memberi coklat.
Puput selesai berdandan cantik. Karena memang dasarnya sudah cantik. Clarisa anak pak camat dan mengadakan pesta ulang tahun di cafe terkenal di kawasan pusat kota. Tentu harus tampil paripurna, tidak boleh mengecewakan Zaky yang keukeuh minta menjadi pasangannya.
Why not. Aku jadi kayak anak SMA pakai baju ini.
Puput terkikik di depan cermin. Berlenggak-lenggok mencermati gaya casual namun elegan. Dengan aplikasi make up minimalis di wajah. Percaya diri. Merasa menjadi anak SMA umur 17 tahun.
"Zaky.....Teteh udah siap." Puput meneriakkan nama sang adik begitu sampai di bawah tangga. Yang dipanggil tidak menyahut. Orangnya pun tidak nampak. Kamar Zaky yang ada di lantai atas juga kosong. Mengira jika sang adik sudah bersiap dan menunggunya di bawah.
"Bu, Zaky mana? Aul sama Ami juga kemana? Tumben sepi gini." Puput menodong Ibu yang baru keluar dari kamar masih berbalut mukena atas.
"Gak tahu. Ibu dari magrib di kamar. Jajan cilok mungkin. Tadi kan Ami pengen beli cilok Mang Aos yang biasa mangkal di pos ronda tiap magrib." Ibu berlalu pergi ke dapur meninggalkan si sulung yang mendecak.
Puput hanya bisa menggerutu kecil. Zaky meminta jam 7 berangkat jangan telat. Malah anak itu sekarang tidak terlihat. Dua menit lagi jam 7 teng. Gimana sih tuh anak. Ia berkacak pinggang.
Ting tong.
Bel rumah berbunyi saat Puput tengah merapihkkan lagi jilbab yang dikenakannya.
Ting tong.
"Iya sebentar----" Sahut Puput sambil berjalan menuju pintu utama. Agar sang tamu tidak lagi menekan bel.
Pintu yang selalu terkunci dari dalam demi keamanan itu diputar dua kali. Handle pintu ditekan ke bawah dan menariknya ke arah dalam. Menganga dengan mata membulat begitu melihat sosok yang berdiri saling berhadapan itu. Jantungnya mendadak berdetak tidak beraturan seperti lomba lari.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum----" Sesosok pria jangkung mengucap salam. Berdiri tegap mengulas senyum manis menampilkan deretan gigi putih yang rapih, dengan netra hitam yang berbinar, serta kedua tangan disembunyikan ke belakang.