
Jam sepuluh tepat. Seperti dugaannya, Cinta belum sampai. Kala langsung menuju lantai tiga untuk menemui Pak Rahmat di sekretariat Fakultasnya. Pintunya tertutup. Kala mengetuknya dua kali. Tak ada jawaban. Ia ketuk lagi sambil mengucapkan salam, tak ada jawaban juga. Akhirnya, Kala memutar kenop pintu, hendak membukanya. Sialan, pintunya masih dikunci.
Kala berjongkok di depan ruang sekretariat, sambil menahan beban di punggungnya. Rupanya menggendong laptop membuat bahunya cepat pegal. Sembari memikirkan apa saja yang akan dia katakan nanti jika Pak Rahmat bertanya soal perkembangan penelitiannya.
" Mas, nunggu siapa?"
Kala berdiri, berhadapan dengan seorang lelaki yang kira-kira usianya tiga puluhan. Lelaki itu membawa ember dan alat pel.
" Pak Rahmat, Pak."
Lelaki itu tampak berpikir, " Pak Rahmat... Oh Rahmat Fauzi?"
Kala mengangguk, " iya, Pak."
" Biasanya sih Pak Rahmat Fauzi stand by di sini setiap weekend dari jam sembilan sampai jam dua, Mas."
Kala mengingat hari apa ini. Kamis. Artinya bukan weekend. Kala mencoba positif saja. Lagipula, bukannya kemarin Pak Rahmat yang mengatur jadwal bimbingan untuknya. Tanpa mau dibantah.
" Saya sudah janjian, Pak."
Lelaki tiga puluhan itu mengangguk, " oh yasudah kalau memang sudah punya janji," ucapan Bapak itu seraya membuka ruang sekretariat dan masuk, " Mas, duduk aja dulu di kursi tunggu depan sekret. Siapa tahu Pak Rahmat beneran datang kan?"
Kala mengangguk. Ia menurut saja apa yang dikatakan bapak tersebut. Sembari melihat jam, Kala duduk di kursi tunggu. Bodoh, ada kursi sepanjang ini kenapa tadi ia jongkok sih?
Sambil menunggu, Kalau melihat ponselnya. Jam sembilan lewat sepuluh. Kala mulai mencari kontak dosen pembimbingnya, berniat meneleponnya. Namun, ia urungkan niatnya. Mungkin masih dijalan. Sepuluh menit lagi, jika Pak Rahmat belum juga datang, Kala akan menghubunginya.
" Tuh kan bener, Kala!"
Kala mengangkat kepalanya. Mendapati Cinta sudah duduk di sebelahnya.
" Kok kamu kesini?"
" Di kantin bosen sendirian. Ya udah kesini aja deh. Katanya bimbingan, mana dospem kamu?" Cinta memberikan satu cup rasa vanilla latte kepada Kala yang diterima dengan wajah ditekuk.
" Dosen emang begitu," Cinta melirik tas yang dibawa Kala dan menggoyang-goyangkannya, " kamu bawa laptop?"
" Kan mau bimbingan."
Cinta geleng-geleng kepala, tak menyangka dengan niat Kala, " semangat ya, Kala."
Kala menyedot minuman pemberian Cinta dan melirik perempuan di sebelahnya yang hanya membawa sebundel kertas yang diklip dan dimasukkan ke dalam clear holder. Sedangakan di bahu sebelah kanan Cinta tersampir tas kecil yang mungkin hanya cukup untuk tempat dompet dan ponsel.
__ADS_1
" Kamu mau bimbingan?"
Cinta mengangguk, " iya dong. Liat nih proposal aku. Sebentar lagi udah boleh daftar sempro (Seminar Proposal)."
Kala tak dapat berkata-kata lagi. Meski terlihat tidak niat, nyatanya Cinta seratus langkah lebih maju dari dirinya. Kala melihat jam tangannya lagi. Kali ini ia kaget karena sudah menunjukkan jam sebelas kurang dua luluh menit. Segera Kala ingin menelpon Pak Rahmat. Namun, Kala segera mengurungkan niatnya. Kala akhirnya mengirimi pesan singkat kepada dosen pembimbingnya.
" Belum ada kabar?" Cinta membaca pesan singkat Kala dari tempatnya.
" Nggak tahu nih. Padahal kemarin dia yang ngatur jadwal."
Cinta mengecek ponselnya yang bergetar sejak tadi, " Kala, aku duluan ya. Dospemku udah nunggu di lantai lima."
Kala mengangguk dan membiarkan Cinta pergi. Ia pandangi punggung Cinta hingga ia berbelok. Rupanya, Cinta sudah lupa dengan kejadian semalam dan tak mengungkitnya lagi. Itu membuat Kala agak lega. Namun, pesan singkatnya yang tak kunjung dibalas membuatnya kesal.
" Mas, saya kunci dulu ya. Pak Rahmat punya serepnya, jadi Mas tenang aja."
Kala mengangguk saja. Melihat Bapak yang tadi masuk ke sekretariat kini sudah keluar lagi.
Tepat pukul jam sebelas, ponsel Kala bergetar dua kali, menandakan ada pesan masuk. Kala langsung membuka pesan itu. Rupanya balasan dari Pak Rahmat untuknya.
Dari : Pak Rahmat Dospem
Aduh. Saya lupa.
Ke : Pak Rahmat Dospem
Jadi gimana, Pak?
Kirim. Terkirim. Kala mengamati ponselnya berharap pesannya segera dibalas. Namun, sepuluh menit kemudian baru ada balasan.
Dari : Pak Rahmat Dospem
Diundur weekend saja. Saya baru sampai Bandung.
Kala tak membalas lagi karena kesal. Ia akhirnya berjalan meninggalkan sekret fakultasnya dan duduk di kursi kosong sambil menunggu Cinta. Tak lama ponselnya bergetar berkali-kali menandakan ada panggilan masuk.
Ibu.
Kala segera mengangkat panggilan itu.
" Halo..."
__ADS_1
" Ya, Bu."
" Kala... terimakasih ya."
Kala bingung, " terimakasih?"
" Kala... terimakasih kamu sudah mau membantu keluarga kami."
Kala semakin bingung. Tak mengerti kemana arah pembicaraan Ibunya.
" Ibu sama Bapak dapat uang lima milyar, Nak. Dian Miranti menepati janjinya."
Kini, Kala paham apa yang sedang dibicarakan Ibunya.
" Terimakasih banyak. Kalau bukan karena kamu, Ibu nggak tahu bisa dapat biaya sekolah anak-anak dari mana."
Kala turut senang mengetahuinya. Tapi, bagaimana bisa ini semua terjadi?
" Bu, apa Kala benar-benar anak Dian Miranti dan Kevin Adiguna?"
" Iya, Kala. Kamu anak kandung mereka. Ibu dan Bapak cuma asisten rumah tangga dan tukang kebunnya dulu."
Kala mengatur napasnya. Satu lagi fakta yang membuatnya benar-benar tak menyangka. Ibunya dan Bapaknya hanya asisten rumah tangga dan tukang kebun Dian Miranti.
" Bu, kenapa Dian Miranti menitipkan Kala sama keluarga Ibu?" Akhirnya pertanyaan itu terucap juga. Namun, untuk waktu yang cukup lama, tak ada jawaban apa_apa dari Ibunya. Di telepon hanya terdengar suara tarikan dan embusan napas berkali-kali.
" Bu?"
" Kala... walaupun Ibu tahu soal itu, tapi itu bukan ranah Ibu. Tugas Ibu dan Bapak cuma menjaga kamu tetap sehat sampai dewasa. Urusan yang lain, biar Mama sama Papamu yang jelaskan, ya."
" Kala cuma penasaran. Kenapa mereka nggak mau ngurus Kala dari bayi."
" Mereka baik, Nak. Selama ini mereka baik sama Ibu sama Bapak. Jadi, kamu nggak usah mikir yang enggak-enggak ya. Kalaupun kamu dengar sesuatu yang menyakiti hati kamu, jangan diambil hati. Mereka yang dulu sudah berubah."
Perasaan Kala semakin terombang-ambing. Kala tak mengerti apa yang diucapkan Ibunya. Jika tak salah tangkap, mungkin maksudnya begini : Jika suatu saat ia mengetahui kenyataan yang lain, Kala tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Toh, jikapun buruk, itu hanya masa lalu. Yang penting kan sekarang mereka sudah berubah. begitu kiranya.
" Kala!"
Kala kaget. Mendengar suara Cinta membuat jantungnya terasa merosot ke perut. Refleks Kala mematikan sambungan telepon dengan Ibunya.
" Cinta, ngagetin aja."
__ADS_1
***