Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
65. Rencana


__ADS_3

Situasi sangat mendukung. Hanya berdua di dalam ruangan. Pun sang kekasih berada dalam kepasrahan. Memejamkan mata dengan bibir ranum yang sedikit terbuka. Sangat menggoda. Rama menatapnya dengan sorot mendamba.


Jatuh cinta memang memabukkan. Bisa membuat hilang akal dan kesadaran. Menggoda jiwa untuk mengikuti hawa nafsu, menuruti syahwat. Rama menggeleng, tidak ingin menodai kesucian sang kekasih yang ia nilai masih polos dalam urusan asmara. Meski dorongan ingin meraup bibir ranum itu begitu kuat.


Tunggu halal, Rama!


Sikat aja, Rama! Dia aja udah pasrah.


Perang batin terjadi. Bisikan iman dan nafsu beradu saling mempengaruhi. Rama dalam dilema. Tapi ia ingin. Tidak tahan. Dan...


Bugh


"Aduuuhhh...Pu puut." Rama memekik kaget. Dengan sedikit membungkuk memegang perut yang sakit karena ditonjok.


"Ahh, maaf-maaf gak sengaja...eh barusan tuh spontan." Puput tak kalah kaget dengan tindakannya sendiri. Saat kesadaran terkumpul dan membuka mata, hidungnya hampir bersentuhan dengan Rama. Membuatnya reflek melayangkan tinju dengan sekuat tenaga.


"Aa, gak papa kan? Eh salah. Sakit banget gak?!" Puput ikut duduk di sofa di samping Rama. Menatap cemas pria yang tengah meringis sambil menyandarkan punggung ke belakang dan tangan mengusap-ngusap perut.


"Kamu udah buat 2 pelanggaran, Neng. Apa hukuman yang pantas buat karyawan yang melakukan kekerasan sama atasan, hmm?" Rama masih meringis. Sakitnya terasa sampai ke ulu hati.


"Haiss----" Puput menggaruk kepala yang tak gatal. "Salah sendiri hidung Aa mau gesekkan sama hidung aku. Hayoh mau ngapain tadi?" ujarnya membela diri sekaligus menuduh.


"Kamu juga tadi malah merem. Hayoh nungguin apa?" serang balik Rama dengan tatapan menyipit.


"Itu...tadi tuh anu...hmm lagi ngingat-ingat isi briefing." Puput memalingkan wajah sembarang arah.


Rama memencet hidung Puput dengan gemas. "Kamu tuh gak pandai bohong." Lalu meraih tangan gadis yang tengah tersenyum meringis itu. Menyimpan di perutnya. "Gantian usap-usap! Aku mau mikir hukuman buat kamu."


"Ihhh, gak mau ah." Puput ingin menarik tangannya, namun ditahan Rama.


"Ini juga salah satu hukuman. Usap-usap sampai sakitnya hilang!" Tegas Rama memasang wajah serius.


Puput menekuk wajah. Terpaksa menurut mengusapkan tangan di bagian perut yang terkena tinjunya. Padahal hanya menyentuh permukaan kemeja slimfit yang membungkus perut rata sang boss RPA. Tapi tangannya menjadi gemetar.


Kenapa pagi-pagi udah error sih.


Duh kenapa juga tadi harus merem lagi. Kan jadinya dihukum gini.


Kacau-kacau ini hati dan otak.....


Lima menit kemudian Rama menyuruh berhenti. Menghela nafas panjang. "Kamu itu nonjok full power, ngusap low power. Jadinya ngebangunin yang lagi tidur." Keluhnya sambil mengegakkan punggung dan duduk tegak.


"Masa ada yang lagi tidur? Siapa?" Puput memelankan suara. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Cicak." Jawab Rama asal. Lupa kalau Puput tidak akan faham maksudnya. "By the way, tadi ngelamun apa sampai gak sadar briefing udah beres? Kamu belum boleh keluar dari sini kalau gak jawab jujur!"


Wajah Puput kembali bersemu. "Maaf, aku emang gak denger Aa ngasih briefing apa? menyeringai dengan mengangkat dua jari. "Aku malah terbius sama pesona Aa. Terpesona sama wibawamu." Bantal sofa di dekatnya dipakai untuk menutupi muka yang kian memerah.


Rama terkekeh. Menyingkirkan bantal sofa itu untuk menatap bebas wajah cantik yang tengah tersipu malu itu. "Neng, lihat sini!" ujarnya berubah serius.


Puput menurut.


"Ayo kita bicara terbuka. Sudah jelas kan kita punya rasa yang sama? Saling mengagumi, saling cinta?" Rama meminta persetujuan pendapat.


Puput tidak menyangkal. Membenarkan dengan mengangguk.


"So, mari kita melanjutkan langkah untuk saling memiliki." Tatapan Rama melembut dengan sorot penuh kesungguhan.


"Maksud Aa gimana?!" Puput lebih suka mendengar penjelasan rinci. Demi menghindari salah persepsi.

__ADS_1


"Aku pengen segera lamaran. Lalu nikah. Karena aku udah mantap memilihmu sebagai pendamping hidup."


Puput terpekur. Memang benar, apalagi yang ditunggu saat dua insan sudah merasa cocok. Secara usia sudah pas, kedewasaan juga menunjang. Pacaran lama rentan akan godaan syetan. Tapi....


"Apa yang jadi ganjalan? Bilang aja, Neng!" Rama seolah menangkap kerisauan di wajah cantik Puput.


Puput menelan saliva. "Sebenarnya aku punya target menikah 2 tahun lagi. Disaat tanggung jawabku lebih ringan. Aul lulus kuliah, Zaky lulus SMK. Jadi bisa tenang ninggalin Ibu saat aku harus turut suami, karena ada Aul yang stay. Aul menyukai entrepreneurship. Makanya setelah lulus dia akan fokus mengembangkan usaha kuliner ibu sampai bercabang."


"Terus aku juga sekarang ini masih berat kalau harus jauh dari Ibu." Puput menghela nafas panjang. Galau melanda.


Rama masih diam menyimak. Menunggu semua unek-unek dikeluarkan Puput sampai habis.


"Aku gak nyangka malah jatuh cinta secepat ini. Ini di luar ekspektasi. Dan aku juga gak mau pacaran lama, takut khilaf dan dosa. Jadi aku harus gimana?!" Puput menatap Rama meminta solusi. Merasa dalam dilema.


"Neng, keluargamu akan jadi keluarga aku juga. Aku yang akan menjadi tulang punggung. Kamu beralih menjadi tulang rusuk." ujar Rama tanpa ragu diiringi mengulas senyum manis.


"Kalau kamu belum bisa jauh dari Ibu, gak apa-apa aku mengalah. Kita LDR an Jakarta - Ciamis, bertemu seminggu sekali. Aku akan sabar menunggu sampai kamu siap pindah ke Jakarta."


"Aa, serius?!" Puput masih belum yakin dengan solusi yang ditawarkan Rama.


Rama mengangguk. "Ingat gak tanggal jadian kita?"


"Tanggal 21. Kenapa?"


"Tanggal 21, ulang bulan pertama. Keluargaku akan datang melamar kamu. Acara khitbah Rama dan Putri." Mata Rama berbinar terang


Puput sontak berdiri. "Aa jangan ngeprank deh. Itu kan 2 mingguan lagi." Menggeleng tidak percaya.


Rama menarik lembut tangan Puput untuk kembali duduk. "Kamu mah gak percayaan terus dari tadi." Rasa gemasnya semakin naik ke ubun-ubun. Ingin sekali merengkuh pinggang ramping itu dan mendekapnya dengan ketat. (Otak Rama ngajak bae traveling 🙈)


"Tapi tanggal 15 mau opening warnas dulu. Aduh bakal repot gak ya persiapannya?" Puput menautkan kedua alis. Pertanyaan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.


"Jangan dibikin repot. Pakai WO aja, beres. Semua biaya dari aku. Kamu jangan ngeluarin uang sepeserpun. Jangan lupa juga undang semua teman komunitas silat, teman waktu reunian juga."


Hanya berani disuarakan Rama dalam hati. Yang menjadi salah satu alasan kenapa ia ingin segera menikahi Puput.


"Ya gak semuanya dong, A. Lamaran mah undangannya dipilih, dikit aja. Nanti kalau nikah, baru undang semua." Protes Puput merasa aneh dengan perintah Rama.


"Terus nikahnya kapan?"


"Dua bulan setelah khitbah. 21 Agustus." Sahut Rama tenang dan lugas.


"HAHH?!"


...***...


Septi mencuri waktu setengah jam sebelum waktunya istirahat. Melajukan motor keluar dari RPA menuju cafe tempat janjian. Hanya berjarak 5 menit sudah sampai di tujuan. Saat memasuki pintu cafe yang terbuka, ia disambut lambaian tangan seorang perempuan di meja pojok.


"Terima kasih sudah menyempatkan waktu menemui saya." Perempuan cantik berwajah sendu itu mengulurkan tangannya.


"Sama-sama, mbak...." Septi lupa dengan nama perempuan yang ditabraknya tempo lalu itu. Yang kemudian meminta nomor ponselnya.


"Zara. Panggil saja Zara tanpa embel-embel mbak." Zara mendorong buku menu pada Septi untuk memesan.


"Apa yang bisa saya bantu, Zara?" Sejak semalam mendapat telpon meminta bantuan dengan memelas, Septi dilingkupi rasa penasaran di benaknya. Apalagi disebutkan ada sangkut pautnya dengan Rama Adyatama.


Zara menarik nafas dengan mata terpejam. Seolah mengumpulkan kekuatan untuk memulai cerita. "Kenalin...aku ini tunangannya Rama."


"Apaa?!" Septi sampai menegakkan punggung saking terkejutnya. Dua kenyataan hari membuat wajahnya terkesiap. Kehebohan di RPA dimana Puput dan Rama menjadi trensing topik. Lalu pengakuan perempuan ini....

__ADS_1


Zara mengangguk. "Ini kalau gak percaya..." mengeluarkan album kecil dari dalam tas. Memberikannya pada Septi.


Dengan ragu Septi menerimanya. Matanya membelalak sempurna. Foto-foto dengan latar The engagement Rama dan Zara tidak diragukan. Diulang dibuka 2 kali, yakin semuanya asli.


"Tapi dua minggu sebelum puasa, tiba-tiba Rama mutusin aku tanpa kejelasan." Mata yang full maskara itu mulai mengembun. "Aku shock sampe jatuh sakit dan stres." Air mata mulai berderai membasahi pipi.


"Usut punya usut, ternyata Rama terpikat sama cewek Ciamis. Dia selingkuh di belakang aku dan memilih cewek itu." Selembar tisu dipakai untuk menyeka air mata yang terus berderai.


"Astaga. Jadi si Pu...." Septi mendelikkan mata. Wajah Puput yang memerah saat keluar dari ruangan Rama tadi terbayang. Membuatnya kini menjadi muak. Spontan bahunya bergidik jijik.


"Mbak tau tidak siapa pelakor itu? Katanya karyawan di RPA." Suara Zara serak karena tangisan yang berganti isakan kecil.


"Saya tahu." Septi menggenggam tangan Zara. "Jangan khawatir saya berada di pihakmu. Saya akan bantu sebisa mungkin. Saya juga sangat benci yang namanya pelakor. Saya sudah mengalami putus pacaran gara-gara pelakor."


"Makasih, mbak." Zara terlihat lebih tenang. Tersenyum tipis.


"Aku pengen ketemu pelakor itu. Tolong atur tempat dan waktu. Besok malam kalau bisa."


"Oke, saya usahakan bisa. Kalau kamu pengen tahu, tadi Pak Rama sudah memproklamirkan hubungannya denga Puput. Dan jadi trending topik di kantor. Huh, makin besar kepala tuh si pelakor."


"Oh, jadi si pelakor itu namanya Puput?! Sorot mata Zara seketika berkilat. "Nama kampungan." Sambungnya mengejek.


"Namya Putri Kirana. Biasa dipanggil Puput. Dia memang idola di kantor. Sempat ada affair dengan manajer. Tapi setelah Pak Rama sering berkunjung ke cabang Ciamis, dia pasang umpan deketin si boss." Jelas Septi. Ia tersenyum sinis. Merasa ada jalan untuk melampiaskan kedengkian yang bercokol di hati. Kerjasama saling menguntungkan, pikirnya.


"Secantik apa sih cewek itu sampai Rama tergoda. Jadi gak sabar menunggu besok." Zara *******-***** tisu bekas sampai membulat kecil. Marahnya tersulut. Dendamnya terhadap Rama yang sudah membuat sang ayah di penjara, terpantik. Ia kemudian memberi tahu rencananya untuk dituruti Septi.


...***...


Puput menyaksikan sendiri keseriusan Rama. Pulang kantor menemui Ibu dan mengutarakan tentang rencana lamaran juga pernikahan. Sama persis seperti yang sudah didiskusikan saat di kantor.


Ibu mengucap syukur dan menyambut setuju dengan wajah semringah. Kebahagiaan dan kelegaan yang terpancar di wajah Ibu membuat Puput ikut terharu. Betapa tidak, ia tahu pasti Ibu selalu merayunya untuk segera menikah. Dan ia selalu bergeming dengan pendiriannya. Sehingga Allah yang Maha membolak-balikan hati telah menyentuhnya. Bisa jadi itu karena do'a Ibu.


"Bismillah....menuju hidup baru. Jangan lupa untuk selalu berdo'a sama Allah agar segala sesuatunya dilancarkan, diselamatkan dari ujian, dijauhkan dari cobaan." Ibu mengingatkan dengan bijak pentingnya menggantungkan semua asa pada Sang Khalik.


Puput dan Rama mengaminkan dengan sepenuh hati. Saling pandang dan melempar senyum.


"Aku pulang dulu yak, sayang! Gak sabar mau ngabarin Enin dan keluarga di Jakarta." Rama mengusap puncak kepala Puput yang mengantar sampai depan mobil. Sabar....gak lama lagi bisa memeluknya.


"Iya. Hati-hati...jangan ngebut." Dada Puput berdesir mendengar kata sayang. Semburat merah di pipi tidak bisa dibohongi jika ia sangat tersanjung dengan sikap sang kekasih yang semakin kentara menunjukkan rasa cinta.


Puput menatap kepergian mobil sampai jauh tak terjangkau pandangan. Masih terpaku di tempatnya, tak menyangka pula jika hari ini terakhir ia bekerja sebagai accounting. Pak Hendra gerak cepat melakukan seleksi untuk mencari penggantinya sesuai kualifikasi.


Kejutan dari Rama terus berlanjut. Puput sampai tidak bisa berkata untuk menggambarkan berbagai rasa. Di hadapan manajer Hendra, sang kekasih tanpa sungkan dan malu menjelaskan ; "Karena kamu calon nyonya Rama. Jabatanmu mulai bulan depan naik menjadi wakil CEO. Bisa juga disebut direktur operasional, khusus untuk RPA cabang Ciamis. Mulai besok aku ajarin tugas dan wewenangnya. Aku juga akan membuat surat kuasa. Nantinya segala kebijakan tak perlu menunggu tanda tangan aku. Neng geulis bisa langsung membuat keputusan."


Ya Allah... apa ini gak terlalu berlebihan. Membayangkan aja gak pernah...apalagi mimpi.


Puput mendesah pelan, mengerjapkan matanya yang berembun keharuan. Ia belum menceritakannya pada Ibu. Tunggu nanti malam setelah makan.


"Doorrr!" Suara keras Ami dari belakang punggung, membuatnya terjengit.


"Teteh jangan melamun. Ini sareupna....ntar diculik sandekala. Hiihhh---" Ami menakuti dengan menggidikkan bahu dan meringis.


"Oh ini ya sandekala nya. Hah gak atut----" Puput memiting leher Ami yang lalu terkikik. Menyeret langkah bocah itu, memasuki pintu utama dan menguncinya.


TBC....


...***...


Info : Fakta / Mitos

__ADS_1


SAREUPNA adalah istilah penyebutan rentang waktu dalam literatur sunda yg berarti saat hari mulai gelap menuju malam atau dimulai dari saat menjelang matahari terbenam sampai kira-kira satu jam ke depan atau yg disebut dengan waktu senja, dan maghrib yg biasanya ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu disinyalir tidak baik untuk kesehatan.


Ketika Sareupna tiba, orang tua di tatar sunda & jawa melarang anak-anak bermain di luar rumah. Orang tua menyeru anak-anak untuk menyongsong waktu salat magrib dan mengaji. Mereka meyakini pada saat Sareupna itu ada makhluk ghaib yg disebut SANDEKALA yg hobinya mengganggu anak-anak. Sandekala diartikan sebagai titik rawan, sampai bayi tidak boleh dibawa ke luar rumah, agar tidak kerasukan atau diganggu oleh makhluk itu.


__ADS_2