Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
140. Ami dan Padma


__ADS_3

"Kak Panji punya adik satu ayah beda ibu. Selama ini tinggalnya di Yogyakarta lalu sekarang pindah ke Bandung. Nanti Ami nggak boleh tanya-tanya soal ini lagi sama Kak Panji atau adiknya, ya!" Ibu memberi pengertian sama si bungsu yang suka ceriwis.


Ami manggut-manggut. "Aku main hape dulu ah. Kasih tau kalo udangnya udah masak ya, Bu." Ami mencuci tangannya yang lengket usai makan apel.


"Main hape harus sambil duduk. Nggak boleh sambil tiduran!" Tegas Ibu.


"Asiyap....." Ami berlalu menuju kamar Ibu. Mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di nakas. Selama di pesantren, ponselnya dimatikan. Sehingga saat sekarang dinyalakan, hal pertama yang dilakukan adalah membuat status.


[Hello fans, it's me...yg cantik & imut. Lagi holiday di rumah 🙃]


Ami membuat caption di bawah foto selfienya yang baru saja diunggah di ruang tengah. Beralih bermain game kesukaannya.


[Ami, sehat?]


Sebuah balasan status dari kakak ipar mengganggu konsentrasi Ami dari permainannya. Ia memilih membalas pesan.


Ami : [Alhamdulillah Kak. Super sekali 😁]


Rama: [Liburan di Jakarta aja mau?]


Ami : [ Waktunya sebentar Kak. Nanti aja libur semester]


Rama: [Oke. Kakak lanjut kerja dl]


Ami : [Cemungut Kak]


Ami bersiap lagi memulai game candy crush usai berbalas pesan dengan kakak iparnya itu. Namun lebih dulu ada panggilan masuk dengan nama 'Teh Puput'.


"Teteh....miss you." Ucap Ami lebih dulu menyapa dengan riang.


Terdengar suara Puput terkekeh di ujung telepon.


"Ami, di rumah ada siapa?"


"Ada Ibu lagi masak lobster. Tadi ada Bapak Happy ke sini bawa lobster gede-gede." Lapor Ami.


"Ami ketemu sama Pak Bagja?" Puput terdengar penuh keingin tahuan.


"Iya." Sahut Ami dengan nada datar.


"Pak Bagja baik nggak, Mi?" Pancing Puput.


"Hmm....tadi ngasih pulus 300 buat jalan-jalan besok sama Teh Aul. Tadinya Bapak Happy ngajak ke pantai Cipatujah sama Ibu sama semuanya, tapi untungnya Ibu nggak bisa." Jelas Ami yang malah senang.


"Ya udah deh Mi, Teteh mau pergi dulu ke rumah Mami. Salam sama Ibu ya. Assalamu'alaikum."


"Iya. Wa'alaikum salam."


Ami merentangkan tangan. Berpindah duduk di ruang tamu sambil duduk di sofa. Tidak jadi bermain game. Beralih menonton Upin Ipin di chanel yutub


"Yaelah.....gangguan lagi gangguan lagi." Gerutu Ami karena kini ada panggilan video dari nama 'Kak Leo'.


"Assalamu'alaikum, Kak." Ami menyapa usai mengusap ikon terima.


"Wa'alaikum salam, Neng Ami. Pantesan pengen lihat-lihat status ternyata ada si cantik dan imut hidup lagi." Leo tersenyum lebar sambil menggeser arah kamera ke sebelah kiri. Memperlihatkan bosnya yang berada di meja kerjanya sedang serius menatap layar laptop sambil mengurut pelipis.


"Hidih, emangnya aku baru bangkit dari kubur. Kak Leo mah aya-aya wae." Ami memutar bola matanya.


Leo tergelak dengan kepala mendongak. "Maksudnya hapenya hidup lagi. Biasanya kan mati. Tadi kecepatan ngomong saking senengnya dengar suara Ami." Ralatnya.


"Hei, kerja! Malah maen hape."


Ami melihat Akbar yang membentak Leo dengan wajah masam.

__ADS_1


"Wuih, ada yang marah tuh kak. Atuuut. Hihihi." Ami terkikik sambil membekap mulut.


"Kak Akbar lagi stres, Mi. Tolong hibur dia, Mi." Leo bergerak mendekati meja Akbar. Mendudukkan ponselnya di hadapan Akbar yang terlihat menatap bingung.


"Monggo, boss. Ada Ami nih." Ucap Leo yang kemudian beralih melanjutkan kerjanya di sofa.


"Kak Akbar wajahnya jangan kusut nanti cepet keriput." Ami cengengesan sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengah.


Akbar tersenyum mesem. "Ami kenapa nggak sekolah?" Ia beralih menopang dagu menatap layar.


"Kak Akbar nggak lihat kalender ya. Ini tanggal merah. Harusnya aku yang nanya, kenapa Kak Akbar kerja?" Ucap Ami tanpa beban.


Akbar terkekeh. "Lagi banyak pekerjaan, Mi. Kadang minggu juga tetep kerja."


"Innalillahi....kacian, kacian, kacian....." Sahut Ami nelangsa sambil geleng-geleng kepala.


"Piknik dong Kak. Dodol aja piknik. Masa Kak Akbar enggak. Hihihi." Sambung Ami.


"Ami mah....." Akbar mencebik. Tapi sebetulnya dalam hati tertawa. Leo benar. Ngobrol dengan Ami jadi penawar stres pekerjaan yang saat ini penuh tekanan. Bisa-bisanya merk dodol jadi bahan candaan.


Ami menyahut dengan berteriak pula saat Ibu berteriak dari dapur, memberi tahu jika udang sudah masak.


"Kak, udahan dulu ya. Aku mau makan dulu."


"Oke deh, Mi. Jam segini baru makan pagi?" Akbar menaikkan satu alisnya.


"Aku mah bebas. Makan kapan aja kalau lapar atau kalau pengen." Sahut Ami yang selalu menyikapi dengan santai.


"Hehe, biar cepet gede ya Mi."


"Hm, maybe yes." Ami manggut-manggut.


"Oh ya, Kak Akbar kan cowok blasteran. Harus banyak senyum jangan banyak mengkerut ya Kak."


"Masa sih? Kok aku liatnya kayak blasteran Indonesia Surga. Eee aaa....." Ami menggoyang-goyangkan bahunya sambil cengengesan.


Akbar tertawa lepas. Lepas sekali, sampai bahunya terguncang-guncang. Terdengar pula tawa Leo karena ia pun menguping obrolan beda kota itu.


"Kak, udahan ah....."


"Eh, bentar Mi. Karena Ami udah bikin Kak Akbar happy, nanti bakal ditransfer pulsa." Akbar memotong ucapan Ami.


"Aku gak minta loh ya. Makasih sebelumnya Kak. Moga Kak Akbar selalu happy." Ucap Ami dengan riang.


Sambungan video pun berakhir setelah Ami mengucap salam. Si bungsu berlari ke dapur untuk makan lobster yang wanginya menguar sampai ke depan rumah.


...***...


Mobil Panji berhenti di depan rumah Ibu Sekar tepat jam 11 siang. Mengajak Padma untuk turun. Ini untuk pertama kalinya sang adik mengunjungi Ciamis. Yang nampak senang dan takjub saat diberitahu jika gugusan hijau yang terlihat sepanjang jalan menjulang tinggi adalah pemandangan gunung Syawal.


"Ayo kita masuk." Panji merangkum bahu Padma yang masih berdiri di depan kap mobil sambil memperhatikan plang Dapoer Ibu di samping rumah Ibu Sekar.


Panji menekan bel pintu. Tak berselang lama pintu terbuka. Dan Ami yang membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum, Ami." Panji tersenyum lebar.


"Wa'alaikum salam, Kak Panji." Ami menyahut riang. Lalu memperhatikan wajah anak sebayanya yang juga sedang menatapnya.


"Ami, kenalin ini adik Kak Panji. Ayo pada kenalan. " Panji seolah membaca raut tanya di wajah Ami juga Padma.


"Aku Padma." Padma lebih dulu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


"Aku Ami yang can...." Ami menggantungkan ucapan sambil membekap mulut dengan mata membelalak seolah merasa keceplosan.

__ADS_1


Panji terkekeh.


"Kenapa nggak dilanjutkan, Mi? Ami yang cantik dan imut gitu." Panji sudah tahu betul slogan si ceriwis Ami.


"Hehe...itu mah untuk kenalan kalo sama anak gede. Ayo Kak Panji, Padma, masuk masuk masuk....." Ami memberi jalan untuk kedua tamu. Ia setengah berlari menuju dapur untuk memberitahu Ibu.


Ibu menuju ruang tamu. Menyambut dengan ramah terhadap Panji dan Padma yang mengalaminya.


"Padma kelas berapa sekolahnya?" Ibu duduk berdampingan dengan Ami yang


"Kelas lima, tante." Padma masih nampak malu-malu.


"Jangan panggil tante. Panggil aja Ibu, sama seperti teh Ami." Ralat Ibu Sekar.


"Ih, nggak mau. Jangan panggil teh Ami. Panggil Ami aja. Berasa tua aku." Protes Ami diiringi gelengan kepala.


"Ya kan emang tuaan Ami." Ucap Ibu sambil tersenyum mesem. Sementara Panji hanya terkekeh.


"Nggak mau ah. Ami aja biar kita jadi friend ya, Padma?" Ami beralih menatap Padma meminta persetujuan.


Padma mengangguk saja. Ia masih nampak malu-malu dan menatap bengong dengan sikap Ami.


Ibu menawarkan Panji dan Padma untuk makan. Namun Panji memilih nanti saja setelah sholat jum'at.


Suara ucap salam terdengar. Aul datang, baru pulang dari kampus.


"Hai, ini pasti Padma ya?" Sapa Aul usai bersalaman dengan Panji. Ia sengaja duduk di samping adiknya Panji itu.


"Iya, Kak..." Sahut Padma usai mencium tangan Aul.


"Panggil aja Teh Aul ya, Padma." Aul mengusap kepala Padma. Kesan pertama melihat raut wajahnya, ia bisa menilai anak itu penurut.


Obrolan santai harus berhenti dulu karena Panji mau ke masjid untuk sholat jum'at. Ia menitipkan Padma.


"Ami tidurnya sama Padma nanti di kamar atas. Di kamarnya teh Puput ya." Ibu memberi tahu.


"Yes yes yes. Ibu terbaik." Ami mengacungkan dua jempol. Ia paling senang berada di kamar kakak pertamanya itu. Karena kasurnya paling empuk.


"Padma, ayo tasnya kita bawa ke kamar." Ami mengakrabkan diri pada Padma yang masih malu-malu. Padma mengangguk. Mengekori langkah Ami yang berjalan lebih dulu.


"Tara....silakan masuk." Ami membukakan pintu kamar dengan tersenyum lebar.


"Padma, ini kamar Teteh aku yang pertama. Namanya Putri Kirana. Nama panggilannya Teh Puput. Teh Puput nikah sama Kak Rama. Kak Rama itu kakak sepupunya Kak Panji. Ini nih...fotonya." Ami menunjuk foto besar yang menempel di dinding. Ada juga foto kecil di atas meja rias.


Padma menyimak penjelasan Ami.


"Teh Puput sama Kak Rama tinggalnya di Jakarta. Nanti libur semester aku mau liburan ke sana. Padma nanti ikut yuk. Biar aku punya temen main." Ami duduk di tepi ranjang sambil mengayun-ngayunkan kaki.


"Nanti gimana Kak Panji aja." Sahut Padma yang duduk manis di samping Ami.


"Ah gampang Kak Panji kan fans aku. Nanti aku yang akan minta izin." Ami menjentikkan jarinya.


"Oh iya, hampir lupa." Ami menepuk jidat. "Kan Kak Cia juga nikah Desember. Pas libur sekolah, yes aku bisa lama di Jakarta."


"Padma kenal nggak sama Kak Cia?" Ami beralih memeluk guling.


Padma menggeleng.


"Kak Cia itu adiknya Kak Rama. Kak Cia juga salah satu fans sekaligus bestie aku. Uhhh, pokoknya aku mah punya fans yang suka ngasih oleh-oleh sama ngasih jajan. Ada segini fans aku." Ami mengangkat kedua tangan. Menunjukkan jumlah tujuh. Kemudian mengabsen nama satu persatu.


"Padma, ngomong dong. Masa dari tadi aku terus yang ngomong puanjaaang." Ami merentangkan kedua tangan sambil menggeliat.


"Padma kehabisan kata-kata sama Ami." Ucap Padma sambil menutup senyumnya dengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2