Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
79. Starting, One Hundred Kisses


__ADS_3

"Aku kebelet pengen pipis." Puput memasang wajah merajuk disaat Rama masih menangkup wajahnya. Mengecup keningnya, lalu beralih turun mengecup hidung. Jika tidak dihentikan akan semakin panjang urusan...


Rama terpaksa menghentikan kegiatannya. Melepaskan Puput yang kemudian berjalan tergesa ke arah kamar mandi. Sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal, ia terkekeh sendiri. Baru menyadari sikapnya yang terburu-buru ingin menyentuh. Lupa jika gadis pujaannya mulai sekarang sudah menjadi miliknya, akan menjadi teman tidurnya.


Rama membuka pakaian atas, tersisa dalaman warna putih membungkus perut ratanya. Memilih berbaring telentang di ranjang berseprai putih bersih itu dengan berbantalkan lengan. Terbayang kemesraan saat tadi menemani Puput bernyanyi. Membuatnya senyum-senyum sendiri.


Suara pintu kamar mandi yang dibuka, membuat Rama menoleh. Puput keluar dengan rambut panjang yang diikat ke atas. Menampakkan leher putih yang jenjang.


"Aa, aku dulu ya mandinya. Bentar mau bersihin dulu make up." Ada gugup melanda melihat dari pantulan cermin, Rama datang mendekat. Kemudian memeluknya dari belakang. Aktifitas membersihkan sisa riasan di wajah menjadi tak karuan saat suaminya itu menggesekkan hidung di tengkuknya. Terasa meremang.


"Mandi bareng ya?" Rama menyimpan dagu di bahu Puput. Masih dengan memeluk perutnya erat. Menatap keintiman itu dari pantulan kaca. Namun Puput menggelengkan kepala.


"Tapi shalat isya berjamaah ya?" Rama memaklumi jika Puput masih malu. Tangan yang melingkar di perut, kini naik ke atas. Menangkup dua gunung kembar yang teraba penuh dan padat di tangan. Terasa, tubuh Puput berubah menegang. Dengan wajah yang usai dibersihkan, terlihat merona merah.


Puput merubah posisi, membalikkan badan menjadi berhadapan. Karena sesuatu yang terasa bergerak dan mengeras menusuk bo kongnya, membuat ia risih dan meremang.


"Aku lagi berhalangan." Ucap Puput. Kemudian mengulum senyum melihat kepala Rama yang langsung terkulai menunduk seolah bunga yang layu kekeringan.


"Berapa lama?" Jemari Rama memainkan manik-manik mutiara di dada Puput. Persis anak kecil yang merajuk saat kehabisan mainan yang ingin dibelinya.


"Sehari lagi." Puput menahan tawa karena geli melihat ekspresi Rama itu. Tak menyangka jika di kantor terlihat cool dan penuh wibawa. Di hadapannya kini wajah tampan itu memelas. Merajuk manja.


"Berarti senin udah bisa, kan? Sorot yang sejenak melempen kembali berbinar. Memiringkan wajah diiringi kerlingan nakal.


"Bisa apa? Awas ah mau mandi keburu malam." Puput menghindar tanpa menunggu jawaban Rama. Namun wajahnya penuh senyum. Faham akan menjurus kemana.


"Sayang, aku akan undur terbang ke NY."


Teriakan riang Rama terdengar sampai ke balik pintu kamar mandi. Puput mengulum senyum. Tak urung bulu halus di tengkuk dan lengannya meremang.


Puput menyiapkan baju koko lengan pendek dan sarung saat Rama giliran masuk ke kamar mandi. Di dalam koper kecil milik suaminya itu tidak banyak baju ganti. Karena memang berniat tidur hanya semalam di hotel.


Mulai malam ini, Puput akan mempelajari kebiasaan. Kaos putih dan celana boxer sudah disimpan berdampingan dengan baju koko dan sarung. Rama bilang, pakaian santai itu sebagai baju tidurnya, tanpa mengenakan ce lana dalam. Pipinya bersemu. Ia masih canggung mendengar penjelasan sang suami yang diucapkan dengan berbisik lalu menggigit daun telinganya.


Rasanya gugup melihat Rama yang keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk melilit pinggang. Karena untuk pertama kalinya melihat penampilan polos sang suami. Dada bidang dan perut rata tanpa berbungkus baju.


Puput menundukkan wajah, menyembunyikan pipi yang bersemu sambil memejamkan mata. Karena dengan cueknya Rama menjatuhkan handuk ke lantai di dekatnya. Memakai celana boxer, sarung, dan baju koko bersiap shalat.


...***...


Di peraduan yang empuk beralaskan sprai putih. Sepasang pengantin duduk bersandar di kepala ranjang. Rama merangkum bahu Puput. Membawa kepala sang istri bersandar di dada. Sejenak tanpa kata. Menikmati keheningan dimana waktu terus merambat semakin malam. Dibelainya rambut panjang yang menguarkan keharuman aroma strawbery yang segar.


Seintim ini. Puput bisa merasakan belaian tangan suaminya itu penuh kasih. Ia memejamkan mata menikmati hangatnya dada, nyamannya pelukan, mendengarkan detak jantung yang berdetak cepat dan terasa dekat di telinga. Sama halnya dengan detak jantungnya.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu bahagia menikah denganku?" Rama mengecupi berulang puncak kepala Puput. Karena wajah istrinya itu tenggelam di dadanya. Hanya terlihat anggukkan sebagai balasan.


Rama beralih meminta Puput tiduran di pahanya. Sehingga ia bisa jelas menatap wajah ayu dengan bibir pink yang ranum menggoda.


"Gini ya rasanya pacaran setelah nikah. Tenang...nggak ada rasa takut. Nikmat yang nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata." Jemari Rama menelusuri permukaan wajah Puput. Berakhir mengusap dagu sedikit bulat yang halus dan lembut.


Puput mengangguk setuju. "Eh aku hampir lupa nanya. Itu beneran....kita gak harus akad ulang buat diakui negara?" ujarnya sedikit mendongak sambil menikmati usapan lembut tangan Rama yang kini beralih di pipinya.


"Iya. Waktu aku cerita sama Enin kalau kamu setuju nikah, Enin langsung kontek ketua MUI meminta untuk jadi saksi. Katanya itu temannya Enin. Alhamdulillah bersedia. Padahal tadinya punya jadwal ngisi ceramah. Jadinya dimundurkan jam demi Enin." Rama terkekeh mengingat ia dan Cia menggoda sang nenek agar menikah saja sama ketua MUI yang berstatus duda cerai mati itu. Malah mendapat respon pelototan.


"Dan beliau ngejelasin jika kita gak perlu akad nikah ulang. Cukup lengkapi berkas segera." Tangan Rama beralih membuka kancing piyama Puput. Yang sepertinya tidak disadari karena sang istri fokus menatapnya dan mendengarkan penjelasannya.


"Aku udah nyuruh orang untuk mengurus semuanya. Besok akan ada orang ke rumahmu mengambil persyaratan sekalian kita difoto." Kancing ketiga sudah terlepas. Membuat Rama menelan ludah melihat keindahan pemandangan yang terpampang jelas tanpa penghalang. Karena ternyata Puput tidak mengenakan b r a.


"Sebelum aku berangkat ke NY, kita sudah punya buku nikah." Suara Rama serak memberat saat semua kancing terlepas dan memperlihatkan pemandangan tanpa batas dari dada sampai perut rata yang putih bersih.


Puput baru menyadarinya saat telapak tangan Rama berada di atas pusarnya. Hendak menutupkan baju, tapi Rama mencegahnya.


"Aku udah halal melihatnya." Bibir Rama berucap tegas. Namun sorot mata berkabut gairah.


"Tapi aku malu---" Puput menutup dada yang membusung dan menantang dengan kedua telapak tangan. Jangan ditanya pipi yang memerah seperti tomat. Dengan cepat memiringkan tubuh ke arah perut Rama. Tanpa sengaja bibirnya mencium gundukan yang keras seakan batu.


"Kamu udah menggodaku, sayang." Mata Rama terpejam menahan desakan syahwat yang ingin berlanjut dan dituntaskan.


Membuat Rama terpancing dan berpindah posisi mengungkung di atas tubuh Puput. Ia sudah mendapatkan titik sensitif yang juga membangunkan gaorah kelakiannya. Beralih jempolnya mengusap bibir ranum yang basah bekas jilatan lidah.


"Aa, sebaiknya jangan dulu...." Puput menggeleng. "Nanti tunggu senin." sorot matanya memohon. Ia khawatir Rama tidak bisa mengendalikan diri. Ia dengan cepat mengancingkan lagi baju yang terbuka.


"Oke. Aku mau nyicil aja...." Rama dengan berat hati menurut. Ia mengecup kening. Meski posisi mengungkung tapi tangan bertumpu di kedua sisi bahu Puput. Bersikap memberi perlindungan dan kenyamanan.


"Sayang, katakan kalau kamu cinta aku." Rama mengecup pipi sebelah kanan.


"Aku sudah mengatakannya lewat lagu tadi. Apa Aa masih ragu?" Sorot mata Puput sayu dengan kedua tangan mencengkram seprai, menahan gelenyar aneh yang merasuki aliran darah.


"Katakan lagi, please!" Rama beralih mengecup pipi kiri. Melarang Puput memejamkan mata. Sehingga netra hitam yang merefleksikan isi hati, saling bertaut dan mengunci.


"Aku jatuh cinta pada seorang pemuda yang gigih berjuang memenangkan hati seluruh keluarga." Puput menggelinjang saat daun telinga kiri dikecup dan ditiup-tiup perlahan.


"Logika ingin menolak segala pesonamu. Karena merasa diri tak sepadan denganmu. Tapi hati bertentangan. Menyambut dan memberi harap. Aku jatuh cinta padamu tanpa mampu dicegah. Kamu adalah cinta pertamaku, hmmp..." ******* lolos dari bibirnya saat lehernya dihisap kuat. Menimbulkan sensasi rasa yang sulit dijabarkan dengan kata.


"Aku gak suka dengan kalimat kedua. Jangan pernah berkata seperti itu lagi!" Rama merangkum wajah Puput dengan sorot protes. "Tuhan menganugrahkan rasa yang sepadan diantara kita. Aku lebih dulu mencintaimu. Aku tergila-gila padamu, Neng." Digigitnya dagu yang membuatnya gemas itu.


Pandangannya sayu menatap bibir yang merekah menggoda. "Apakah aku juga orang pertama yang akan menikmati bibir ini?" kecupan pertama mendarat. Tak ingin terburu-buru menyergap. Ingin sama-sama saling menikmati setiap sentuhan.

__ADS_1


Puput mengangguk. Kedua tangannya beralih mengusap titik-titik hitam di wajah suaminya itu. "Semuanya....kamulah orang pertama yang menyentuh dan boleh mereguknya." Senyum malu-malu menghiasi wajah yang bersemu di remang cahaya lampu tidur.


Rama tersenyum lebar. Bahagianya tak bisa dijabarkan dengan kata. "Makasih, sayang. Ah...jadi gak sabar nunggu senin." Keluhnya sambil menelusupkan wajah di dada istrinya itu. Yang justru menimbulkan sensasi geli dan membuat tubuh Puput menegang.


Malam pertama...meski tak mungkin menyatukan raga berbagi peluh, Rama tak ingin malam berlalu begitu saja. Kembali ia mendongak dan menangkup lagi wajah istrinya itu. "Sayang, ayo kita bikin moment, one hundred kisses, sebelum aku terbang ke NY."


Puput mengangkat alis. Menuntut penjelasan lebih.


"Aku ingin membuat momen romantis untuk dikenang saat kita saling jauh. Setiap ciuman bibir kamu hitung ya! Ini baru contoh." Rama menempelkan bibir. Mulanya mengecup, beralih me nyesap, lalu me magut tanpa melepas. Ia menyadari jika Puput masih kaku menyambutnya.


Pupus melepas dengan nafas naik turun. Selama Rama menyatukan bibir, ia sama sekali menahan nafas. Sehingga pasokan oksigennya habis.


Rama menguluk senyum. Lucu dan gemas melihat ekspresi Puput antara malu dan gugup. "Mau test lagi? Or mulai berhitung?"


"Mulai hitung ah. Lagian ini udah malam. Ngantuk." Puput beralasan. Padahal ia tak sudah berdaya dengan segala sensasi yang timbul oleh setiap sentuhan suaminya itu.


"Oke. Let's do it. Rileks, sayang. Enjoy sensation..." Rama memulai lagi dengan lembut. Membimbing Puput yang masih kaku mengimbanginya. Barulah setelah tiga kali mengambil nafas, sang istri mulai rileks. Sehingga selanjutnya bisa memperdalam ciuman yang memberi efek panas menggelora.


...***...


"16 kali tapi kayaknya lebih. Ah aku gak bisa fokus, rasanya melayang. Dan bibirku rasanya jontor." Lapor Puput sambil meraba bibir bawahnya yang menebal. Di balik selimut yang membungkus keduanya yang tidur berpelukan karena udara dingin.


Rama terkekeh dibuatnya. Ia memiringkan tubuh agar Puput lebih nyaman menelusupkan wajah di dadanya. Sekarang kita tidur. Besok lanjut morning kiss." Kecupan mesra mendarat di kening istrinya itu. Ia harus bersabar menyimpan hasrat yang ingin dituntaskan.


"Aa---"


"Hm."


"Aa harus tau kebiasaan jelek aku. Tidurku suka ileran. Jadi tidurnya jangan gini ya!" Puput akan merenggangkan badan. Namun Rama yang sudah memejamkan mata, menahannya. Terpejam bukan karena kantuk tapi untuk meredakan gairah yang memanas.


"Sudah tau kok."


"Hah?" Puput mendongak tidak percaya.


Rama membuka mata. Mengecup bibir Puput yang menganga. Sehingga menutup dengan kaget.


"Aku gak gegabah memutuskan menikah denganmu dengan cepat. Aku udah cari tau semua tentang kamu, kebiasannmu." Rama merapihkan rambut yang tergerai menutupi sebelah pipi Puput. "Aku mencintai semua yang ada padamu. Jadi kalau mau bikin pulau di bajuku, monggo bae, Neng. Dengan senang hati." kekehnya menggoda wajah yang nampak malu itu.


"Pulau? Hmm itu kan bahasanya Ami. Wah ini mah pasti bocoran dari Ami ya?" Tatapan Puput menyipit menyelidik. Namun Rama hanya menjawab dengan kekehan sambil menjawil hidungnya.


"Ah, aku mau ngadep sini aja ah malu...." Puput membelakangi Rama. Beralih memeluk guling. Mana bisa tidur jika pikirannya tidak tenang memikirkan ilernya jatuh membasahi kaos putih Rama.


"Eh-eh...dosa lho tidur membelakangi suami." Rama membalikkan lagi posisi Puput sehingga menghadapnya. Membuang guling yang dipeluk istrinya itu sembarang arah. Beralih mendekap erat tubuh yang harum lembut itu. "Jangan malu karena ileran. Jangan sungkan kalau mau buat pulau. Aku suka dirimu apa adanya." Dikecupnya puncak kepala sang istri sebagai akhir dari percakapan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2