
Rama membuka jasnya. Menyampirkan di kursi kebesarannya. Mengendorkan dasi dan duduk di sofa. Baru saja usai menerima tamu kolega selama satu setengah jam lamanya.
Tring.
Bunyi notifikasi pesan terdengar. Bukan sekali tapi berkali-kali. Membuat Rama penasaran. Bangkit lagi meraih ponselnya yang tersimpan di meja kerja.
Kedua alisnya bertaut. Lalu mata melotot. Nomor tidak dikenalnya mengirimkan lima buah foto Puput bersama seorang pria. Ia mencoba positif thinking mungkin saja foto itu editan. Ia zoom in zoom out foto yang memiliki kualitas jernih itu.
Ini asli.
Hawa panas mulai menyelinap ke hati. Puput sudah bilang sejak semalam akan pergi bersama Cia jam 10 pagi. Menemani meeting dengan vendor. Faktanya, ia menerima foto dengan rincian keterangan merk ponsel yang digunakan, dan waktu motret. Adegan ceria, saling senyum, saling tertawa, serta si pria mengusap kepala Puput, cukup membuat gerah lahir batinnya.
Rama tersentak dengan menegakkan punggung. Wajah pria dalam foto itu sepertinya pernah dilihat saat di Ciamis. Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jam dua lebih dua puluh menit. Ia berniat menghubungi Zaky. Meng crop foto pria yang tak kalah tampan itu.
Pas sekali Zaky sedang online. Rama segera mengirimkan foto.
"Hallo, Zaky." Rama sigap menelepon saat pesannya centang biru.
"Iya, Kak." sahut Zaky.
"Kakak mau tanya. Kenal sama cowok di foto itu?" Rama langsung pada tujuan.
"Itu....memangnya kenapa, Kak?" Zaky balik bertanya karena merasa heran bagaimana bisa kakak iparnya memiliki foto itu.
"Cuma pengen tau aja, Zak. Tadi kakak iseng motoin soalnya merasa pernah liat waktu di Ciamis. Tapi lupa ketemu dimana gitu." Kilah Rama.
"Itu Aa Idam. Dulu mah yang suka sama Teh Puput. Tapi akhirnya jadi teman aja kan tetehnya nolak bae." Jelas Zaky.
Rama hanya manggut-manggut. Tidak memperpanjang pertanyaan. Beralih menanyakan kabar Ibu Sekar sebelum kemudian menyudahi sambungan telepon.
Alhasil konsentrasi kerjanya terusik karena foto-foto itu. Keceriaan yang sangat natural diekspresikan kedua pelaku. Membuat moodnya turun. Kesal dan cemburu. Sudah mencoba menghubungi nomor yang mengirimkan foto beberapa kali, namun tidak aktif.
"Muka lo kenapa ditekuk gitu?" Damar yang baru saja masuk, menatap heran.
"Lagi bete." Sahut Rama sembari mendesah kasar.
"Masalah kerjaan or masalah pribadi?" Sambung Damar dengan tatapan penuh selidik.
"Pribadi." Rama menjawab singkat. Beralih memijat-mijat kening.
"Mau curhat?" Damar lagi-lagi mencecar Rama.
Rama menggeleng. "Sebenarnya bukan masalah besar. Tapi kenapa ya hati gue jadi moody gini. Gue juga aneh."
"Hm. Tadinya gue mau laporan hasil sidak gudang pelabuhan. Tapi sikon nggak tepat kayaknya." Damar menempelkan punggung ke sandaran kursi. Beralih duduk santai bertumpang kaki.
"Ada masalah?" Rama menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Sedikit. Soal manajemen. Entar malam lo butuh charger biar besok pagi siap dengerin laporan gue." Damar menaik turunkan alisnya. Rama hanya menanggapi dengan mendengkus.
"Pulang yuk! Gue mau dinner sama Cia." Damar bangkit. Jam sudah menunjukkan waktunya pulang kerja.
"Lo aja duluan. Gue mau zoom sama Ben dan Jo." Rama mengibaskan tangan menyuruh Damar keluar dari ruangannya.
...***...
Rama baru meninggalkan gedung kantornya usai sholat magrib. Bukan mengarahkan mobil ke rumahnya tapi menuju rumah Mami Ratna. Moodnya belum membaik.
Tiba di pekarangan rumah orangtuanya itu, Rama menatap pantulan wajahnya di spion. Menepuk-nepuk kedua pipi, berusaha terlihat normal. Ia masuk dengan berucap salam. Langsung mengarah ke ruang makan saat terdengar sahutan dari arah sana.
"Rama, sini makan bareng." Mami menatap senang akan kedatangan anak sulungnya itu. "Puputnya mana?" sambungnya sembari menoleh ke arah ruang tengah.
Papi Krisna hanya memperhatikan Rama yang baru saja menarik kursi dan duduk. Menyimak obrolan anak istrinya.
"Aku dari kantor langsung ke sini, Mi." Rama membalikkan satu piring makan yang berada di hadapannya.
"Tapi Puput tau kalo kamu pulangnya ke sini dulu?" Papi Krisna mulai bersuara. Mengunyah makannya dengan cepat dan tetap intens menatap raut wajah sang putra.
"Nggak, Pi." Rama berkata jujur. Tangannya terulur bersiap menyendok nasi.
"Jangan dulu makan!" Tegas Papi Krisna. Membuat Mami Ratna dan Rama terkaget bersamaan.
"Kalian berantem?!" Selidik Papi Krisna.
"Kamu kesini tanpa bilang sama Puput. Sementara Puput disana bisa jadi udah siapin makan buat kamu, Rama. Jangan buat istri kamu khawatir karena jam segini kamu belum pulang dan tidak ngasih kabar. "
"Kalau ada masalah, bicarakan! Selesaikan di rumah. Jangan malah menghindar dan datang ke sini."
"Kamu tidak boleh makan. Sana pulang!" Papi Krisna panjang lebar memberi nasihat dengan tegas.
Rama menundukkan kepala. Tidak berani menatap wajah Papi Krisna karena takut dan segan dengan kemarahan berbalut teguran keras itu.
"Papi benar, nak. Kalau ada kesalahan pahaman selesaikan dengan komunikasi. Bicara dengan kepala dingin."
"Mami juga mendukung keputusan Papi. Rama jangan makan disini. Seorang istri akan sedih dan kecewa saat udah menyiapkan makan tapi malah nggak di makan sama suami. Apalagi ini malah belum pulang-pulang." Mami Ratna pun tidak mentang-mentang Rama anaknya. Tidak akan membela anaknya yang salah.
Rama menyimak tanpa menyanggah. Papi berkata tegas, Mami berkata lembut. Tapi sama saja menyalahkan sikapnya.
"Aku pulang dulu." Rama bangkit. Menghampiri dulu Mami dan Papi, mencium tangan keduanya.
.
.
.
__ADS_1
Puput sudah menata meja dengan sajian makan malam serta sebuah kejutan pun disiapkan. Senyam-senyum sendiri membayangkan reaksi Rama saat nanti memulai makan. Dan akan melihat sebuah kotak kado kecil persegi panjang saat membuka piring yang menangkup.
Bi Lilis meletakkan semangkuk kecil sop krim jagung pesanan khusus Puput yang menginginkannya saat ini juga. Ia turut tersenyum semringah melihat keceriaan sang majikan. Bisa dibilang lebih dulu tahu hasil tespek yang sudah dilakukan tadi sore. Namun tentu saja ia akan tutup mulut.
"Dimakan sekarang Neng, mumpung hangat." Ucap Bi Lilis sebelum berlalu.
"Iya, Bi. Makasih ya." Keinginan makan sop krim jagung saat ini juga. Anggap saja cemilan sebelum makan berat sambil menunggu Rama pulang. Ia berprasangka baik hingga jam setengah tujuh ini sang suami belum datang mungkin terjebak macet. Karena jika lembur, pasti akan memberitahunya.
Namun saat adzan isya berkumandang, Rama belum juga datang. Sop krim jagungnya pun sudah habis. Puput berinisiatif menghubungi sang suami. Tersambung tapi tidak ada jawaban. Ia memutuskan untuk sholat dulu. Bisa jadi suaminya itu lagi menyetir.
Suara pintu kamar dibuka dari luar saat Puput membuka selesai mengaminkan doa. Ia menoleh dan tersenyum manis menyaksikan siapa yang datang.
"Tumben Aa telat?" Masih berbalut mukena, Puput menghampiri dan mencium tangan Rama.
"Mampir dulu ke rumah Mami." Sahut Rama datar.
"Oh." Puput manggut-manggut. "Aa mau makan sekarang? Udah aku siapin dari tadi." Sambungnya sambil melipat mukena bekas pakainya.
"Mau mandi dulu. Duluan aja makannya. Aa belum lapar." Rama berlalu.
Puput mengerutkan kening. Ada yang janggal dengan sikap Rama. Biasanya setiap pulang selalu semringah dan memberi pelukan mesra. Kali ini wajah tampan itu nampak ditekuk.
Dengan sabar Puput menunggu Rama selesai dengan mandinya. Baju ganti sudah disiapkan pula. Sabar menanti meski perut sudah keroncongan.
"Aa, makan yuk. Udah lapar nih." Puput merajuk dengan mengalungkan tangan di lengan Rama yang baru selesai sholat isya.
"Kan tadi udah dibilangin duluan aja. Aa mau lanjutin dulu pekerjaan. Mungkin makannya nanti jam sembilan malam." Rama mengurai tangan Puput. Bersiap keluar kamar.
"Aa, kenapa? Ada masalah di kantor?" Puput menahan tangan Rama sehingga tidak berhasil melanjutkan langkah.
"Iya. Keburu malam. Aa mau di ruang kerja dulu. Kamu makan duluan, tidur duluan aja." Rama menarik tangannya dan pergi meninggalkan kamar.
Aa kenapa ya? Belum pernah melihatnya sedingin ini.
Tadinya aku mau cerita soal pertemuan dengan Idam.
Puput hanya bisa mengangkat bahu. Situasi dan kondisi belum mendukung. Selama melalui waktu beberapa bulan menjalani rumah tangga, baru sekali ini mengetahui sisi lain Rama saat sedang bad mood.
Puput menuju meja makan yang sudah dikonsep ala candle light dinner. Namun realita tak seindah ekspektasi. Terpaksa makan sendiri karena rasa lapar tidak bisa ditahan lagi. Baru mengerti sekarang. Pantas saja selalu merasa lapar. Karena ada yang bersemi di dalam rahim.
Melanjutkan kerja hanya alasan. Justru di ruang kerjanya Rama hanya duduk diam memijat-mijat kening. Ia pun merasa aneh dengan sikapnya sendiri. Diakui sangat kekanak-kanakkan. Padahal sebenarnya lapar tapi melihat wajah Puput malah timbul rasa kesal. Tidak mau makan bersama.
Jam sepuluh malam Rama baru keluar dari ruang kerjanya. Lampu-lampu terang tiap ruangan telah dimatikan berganti lampu redup. Melewati tangga, ia mendongakkan wajah menatap ke atas. Mungkinkah Puput sudah tidur?
Rama melanjutkan langkah menuju ruang makan. Tertegun melihat meja kaca yang dihias cantik. Lilin-lilin masih utuh belum dinyalakan. Tak menyangka Puput menyiapkan makan malam romantis. Ia jadi merasa bersalah sudah mengacuhkan istrinya itu.
Rama berlari dan menaiki anak tangga dengan buru-buru. Ingin menemui Puput dan meminta maaf. Nyatanya Puput sudah tidur dengan bibir sedikit terbuka. Menandakan tidur istrinya itu sangat lelap. Ia tidak tega mengganggunya. Memutuskan turun lagi dan makan seorang diri.
__ADS_1