Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
139. Merayu Ami


__ADS_3

"Bu Sekar, kedua anak saya mendukung niat saya untuk menikah lagi. Dan setuju dengan pilihan saya melamar Bu Sekar. Waktu dulu kan anak gadis saya pernah ikut ke sini. Kesan pertama katanya langsung suka sama Bu Sekar."


Pak Bagja mengutarakan maksudnya datang bertamu pagi ini. Ini kali kedua ia mengatakan kesungguhannya. Setelah terakhir kali datang ke rumah Bu Sekar untuk mengambil pesanan, sekaligus menyatakan perasaan sukanya terhadap ibu dari empat orang anak itu.


Bu Sekar tadinya duduk di teras untuk berjemur di bawah sorot hangat sinar mentari. Sekaligus sambil menunggu kedatangan Ami yang akan pulang sendiri naik ojol. Tidak mau dijemput. Namun yang datang malah sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Pak Bagja bertamu dengan menenteng buah tangan.


"Saya......" Bu Sekar nampak ragu berkata. "Anak-anak saya tidak ingin ibunya menikah lagi. Dan saya pun dulu tidak ada niat buat nikah lagi. Melihat anak-anak soleh dan saleha adalah kebahagiaan tiada tara." ujarnya. Mampu menyelesaikan ucapan dengan lancar dari yang awalnya gugup.


"Dulu tidak ada niat. Kalau sekarang?" Pak Bagja menatap lurus dan tenang terhadap sang pemilik rumah yang kini tertunduk menekuri lantai.


Bu Sekar mendongak. Balas menatap sang tamu yang berbadan tegap serta aura prajuritnya masih kentara kuat meski sudah pensiun. "Sekarang pun sama, Pak."


Bu Sekar baru tahu dengan status Pak Bagja saat kemarin lalu sang tamu mengutarakan isi hatinya. Pak Bagja adalah marinir dengan pangkat perwira tinggi Laksda TNI. Yang baru pensiun satu setengah tahun yang lalu dan berpindah domisili dari rumah dinas di Jakarta ke kampung halaman, Ciamis.


"Bu Sekar yakin apa yang diucapkan di bibir dan di hati sama?" Pak Bagja menaikkan satu alisnya.


"Saya siap meminta izin kepada anak-anak Bu Sekar. Tapi saya harus mendengar dulu jawaban yang sebenarnya darimu. Jawaban yang jujur dari hati Bu Sekar."


Bu Sekar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Saya......"


"Assalamu'alaikum Ibuuuu oh Ibu. Ami pulang."


Suara melengking Ami terdengar nyaring sejak membuka sepatu di teras. Dan kini melenggang riang memasuki pintu yang terbuka lebar. Namun keriangan dan langkahnya terhenti begitu menyadari ada tamu. Tatapannya menyelidik dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Ami....lupa salim sama Ibu?" Bu Sekar menegur sikap Ami yang masih mematung menggendong tas sambil memperhatikan tamu.


Ami kemudian mendekati Ibu dan mencium punggung tangannya. Ia beralih menyalami tamu karena mendapat bisikan dari ibunya.


"Ami baru pulang dari pesantren? Mau liburan di rumah ya?" Tanya Bagja.


Ami hanya menganggukkan kepala. Duduk di samping Ibu dan menggelayut di lengannya.


"Mumpung libur panjang tiga hari. Guru ngebolehin mudik bagi santri yang jaraknya dekat." Jelas Bu Sekar mewakili si bungsu yang mendadak jadi anak pendiam.


Pak Bagja manggut-manggut dan tersenyum.


"Ami kalau mau liburan ke pantai Cipatujah, ayo Bapak antar. Ajak Ibu sama kakak-kakak. Di sana bapak punya tambak udang. Kita makan-makan sama udang lobster dan kakap merah dadakan sambil lihat laut lepas." Pak Bagja melancarkan modus pendekatan.


Ami mendongak menatap Ibu. "Ibu mau?!"


Hanya Ibu yang mengerti karakter setiap anak-anak saat dalam mode merajuk. Termasuk gestur dan tatapan Ami barusan.


Ibu menggeleng. "Besok ada pesanan nasi kotak banyak. Ibu harus bantuin Ceu Nining."

__ADS_1


"Ibunya juga nggak bisa, Pak. Aku mau jalan-jalan aja sama Teh Aul." Ucap Ami sambil tetap bersandar di lengan kiri Ibu. Melingkarkan tangan dengan posesif.


"Mau jalan-jalan kemana, Ami? Nih buat bekalnya." Pak Bagja menarik dua lembar warna merah dan mengulurkannya pada Ami.


Ami menggeleng. "Tidak usah, Pak. Makasih. Aku punya tabungan di Ibu."


"Biarin tabungannya jangan diganggu. Jajannya dari bapak aja nih. Buat berdua sama Teh Aul." Pak Bagja menambah selembar lagi.


Ami masih bergeming. Namun colekan Ibu di pahanya membuat ia menegakkan punggung. Mengambil uang yang masih terulur sambil mengucapkan terima kasih.


Pak Bagja melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Tak terasa sudah empat puluh menit bertamu. Masih betah sebenarnya. Namun ia harus pergi karena ada janji.


"Bu Sekar, saya pamit dulu. Mau lanjut ke Ciawi sekalian jumatan di sana." Pak Bagja berdiri. Merapihkan celana jeans nya yang melipat di bagian paha. Meski usia kepala enam, namun penampilannya selalu flamboyan. Atasan polo shirt dan celana jeans menjadi outfit kesehariannya.


Bu Sekar mengangguk. Mengantar sang tamu sampai keluar pintu utama.


"Lain waktu kita lanjutkan ngobrolnya ya?" Ucap Pak Bagja dengan suara pelan sebelum turun dari teras. Bu Sekar hanya mengangguk kecil.


"Assalamu'alaikum." Pak Bagja menangguk dan tersenyum.


"Wa'alaikum salam." Bu Sekar tersenyum samar. Masih berdiri di ambang pintu sambil menatap punggung sang TNI angkatan laut yang berjalan tegap menuju mobil.


Pandangannya kembali bersirobok saat Pak Bagja membuka kaca jendela sampai bawah dan sudah mengenakan kaca mata hitam di balik kemudi. Sama-sama mengangguk dan tersenyum.


"Ibuuu!"


"Ami mau makan sekarang? Atau mau nunggu Ibu masak udang lobster? Pak Bagja barusan bawa oleh-oleh udang. Katanya tadi malam pulang dari Cipatujah abis panen udang." Ibu mencium puncak kepala si bungsu yang kini mengerucutkan bibir dengan raut wajah memberengut.


"Ibu maksud bapak happy lanjutin ngobrolnya nanti apa?" Ami memicingkan mata menatap Ibu Sekar. Mengabaikan tawaran sang ibu. Rupanya ia menguping ucapan Pak Bagja saat di depan pintu tadi.


Ibu membulatkan mata. Pantas saja mood Ami berubah. Ternyata karena ucapan Pak Bagja itu.


"Tadi Pak Bagja cerita soal pekerjaannya. Ternyata beliau itu tentara di angkatan laut. Beliau itu pangkatnya perwira tinggi Laksamana Muda. Itu loh Mi yang di bahunya pakai lencana dua bintang. Sekarang udah pensiun. Menurut Ami gimana?" Ibu Sekar menyadari jika pertanyaannya ambigu. Tapi ia ingin melihat reaksi si bungsu seperti apa. Terpaksa pula berbohong. Itu adalah cerita waktu lalu. Karena tidak mungkin menceritakan maksud khusus dari kedatangan Pak Bagja barusan.


"Angkatan laut? Berarti bapak Happy jago renang di laut ya, Bu?" Ucap Ami dengan polos.


"Pastinya dong. Jago menyelam juga. Karena beliau kan pernah jadi prajurit Kopaska. Ami tau Kopaska?"


Ami menggeleng.


"Kopaska itu Komando Pasukan Katak. Pasukan khusus milik TNI-AL. Kalau di angkatan darat disebut Kopassus. Di angkatan udara disebut Paskhas."


Ami manggut-manggut.

__ADS_1


"Pak Bagja hebat nggak, Mi? Pekerjaannya bertaruh nyawa demi menjaga keamanan negara di wilayah laut." Ibu masih memancing perhatian Ami agar lunak hatinya.


"Ya kan jadi tentara mah gitu. Harus berani mati demi menjaga kedaulatan NKRI." Sahut Ami sesuai pelajaran yang ia serap di sekolah.


"Ibu, kenapa Pak Happy datang lagi datang lagi. Kan tangan Ibu udah sembuh. Nggak perlu diantar lagi ke dokter." Ami kembali pada mode merajuk.


"Karena Pak Bagja ingin terus menjalin silaturahmi. Selama orangnya baik dan sopan, kita gak boleh melarang orang bertamu. Ingat, banyak saudara banyak rejeki. Alhamdulillah kan kita dikasih lobster kualitas premium. Kalau beli, sekilonya 900 ribu loh Mi." Ucap Ibu yang kini mengajak Ami ke dapur. Memperlihatkan lobster laut di dalam box styrofoam. Tetap lembut meladeni si bungsu yang protes.


"Ami jangan judes-judes kalau Pak Bagja ke sini. Nanti dikira Ibu nggak ngajarin Ami sopan santun. Kan Ibu yang malu." Ibu sengaja memasang wajah sedih.


Ami diam dengan bibir mengatup.


"Itu uang dari Pak Bagja mau diterima Ami nggak? Kalau nggak mau. Ibu akan kasih buat teh Aul sama Aa Zaky."


"Ya mau, Bu. Kan dibagi dua sama Teh Aul. Besok pengen jalan-jalan ke mal." Sahut Ami.


"Kalau pemberian Pak Bagja mau diterima, Ami nggak boleh lagi judes ya. Harus senyum ramah dan ceria seperti biasanya." Ucap Ibu yang tetap sabar menasihati.


Ami menatap Ibu dengan rasa bersalah. "Iya maafin Ami, Bu. Abisnya aku takut Ibu nikah lagi sama Pak Happy. Aku gak mau punya bapak tiri. Temen aku waktu SD yang namanya Yesi, punya bapak tiri. Kalau lagi ada mamanya Yesi, si bapak tiri itu baik. Kalau gak ada mamanya, Yesi suka di bentak-bentak dan dicubit gara-gara berantakan mainan atau dirumah berisik."


Ibu menjadi tahu alasan utama si bungsu paling tegas melarangnya menikah lagi.


"Tidak semua bapak tiri atau Ibu tiri itu jahat atau galak kok. Ami masih ingat kan sama Zidan? Tetangga kita waktu di Sukamaju. Ayahnya Zidan meninggal waktu Zidan umur empat tahun. Terus ibunya Zidan nikah lagi. Dan bapak tirinya Zidan keliatan sayang banget. Sampai sekarang Zidan punya adik dua tetap aja bapak tirinya baik. Kemarin sekeluarga makan-makan di Dapoer Ibu."


Ibu memperhatikan Ami yang mengunyah apel sambil keningnya mengkerut.


"Ibu, aku mau makannya sama lobster." Ami beralih topik pembicaraan.


Ibu tersenyum simpul. Minimal ia bisa melihat air muka si bungsu tidak lagi memberengut. "Tunggu ya. Ibu masakin dulu. Mau dimasak gimana, saus tiram, saus padang, atau asam manis?"


"Asam manis tapi agak pedes."


"Baik, tuan putri. Harap sabar menunggu." Ibu sengaja menggoda Ami.


"Ibu mah salah. Itu nama teh Puput. Harusnya, baik tuan Ami. Hihihi." Ami mulai beralih mode riang.


Ibu terkekeh dan meralat ucapannya sesuai kehendak Ami.


"Ah, Ibu hampir lupa. Kak Panji sama adiknya mau ke sini, Mi. Kayaknya bentar lagi sampe deh. Nanti ajak main sama Ami ya. Teh Aul pulang dari kampusnya jam 12 soalnya." Ucap Ibu sambil mencuci sebagian lobster yang akan dimasak.


"Sama adiknya? Kapan Bunda Ratih melahirkan, Bu?" Ami yang baru menancapkan gigi di apelnya, urung menggigit.


...****************...

__ADS_1


Just info :


Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengubah nama satuan elite baret jingga milik TNI Angkatan Udara, yakni Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) menjadi Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat). Tertanggal 21 Januari 2022.


__ADS_2