Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
47. Suara Dengarkanlah Aku


__ADS_3

"Katakan dengan jelas, Kak!" Sorot mata Puput penuh permohonan.


"Aku takut...aku takut salah mengartikan perhatianmu itu." Suara Puput bergetar. Menelan saliva dengan susah payah serta tubuh yang menegang.


Sejenak kebisuan tercipta lagi. Atmosfer di dalam mobil berubah memanas. Padahal semilir angin senja menjelang adzan magrib terasa sejuk dan dingin menelusup ke kaca jendela mobil yang sedikit diturunkan.


Rama memiringkan badan menghadap Puput. Sedikit merangsek, duduk lebih mendekat. Tangan kiri terulur, menyimpannya di puncak kepala yang berbalut pasmina krem. Perlahan mengelusnya. Sorot mata meredup berubah menatap dalam dan lama.


"Putri Kirana----" Rama menggantungkan ucapan. Sejenak menelisik wajah cantik yang tengah menggigit bibir, nampak tegang. "Kamu yakin butuh penjelasan?!"


Puput menganggukkan kepala. Bibir ingin protes atas kelancangan Rama menyentuh kepalanya. Namun bertolak belakang dengan hati yang malah rela mendapat usapan lembut di kepalanya itu. Merasa nyaman. Sungguh membuat kacau pikiran karena perang batin antara rasa dan logika.


"Aku hanya akan berucap sekali. No repeat. Jadi dengerin baik-baik ya." Rama tersenyum miring menggoda. Sengaja mempermainkan dulu karena betah menatap wajah Puput yang tegang.


Tidak ada jawaban dari Puput yang kini mengatupkan bibir. Seolah sabar menunggu jawaban kepastian.


Hening lagi. Mulai terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari hidung Rama.


Mungkin ini waktunya aku nembak kamu....


Rama memantapkan hati membuat pernyataan cinta. Siap menorehkan sejarah pada senja menjelang magrib ini.


"Puput! Aku ----"


"DORRR!"


Rama dan Puput sama-sama terperanjat mendengar suara keras di luar kaca jendela.


"Ahahaha....kaget gak...kaget gak? Kaget dong...masa nggak. Ahahaha-----" Ami tertawa terpingkal-pingkal di depan kap mobil usai mengagetkan dari kaca samping kanan yang sedikit terbuka. Sengaja beralih ke depan agar lebih terang. Lebih terlihat wajah penghuni mobil. Karena kaca jendela mobil berwarna hitam pekat tidak bisa tembus melihat ke dalam.


Rama menurunkan kaca sampai bawah. Sehingga Ami pun mendekat dan melanjutkan tawa riang di samping pintu mobil.


"Bocil, ngagetin aja." Rama menyentil kening Ami dengan pelan. Momen penting mengikrarkan perasaan menjadi ambyar gegara tingkah iseng anak gadis itu.


"Abisnya lama banget aku nunggu. Tuh liat di belakang A Zaky juga nungguin. Mau masuk terhalang mobil Kak Rama." Ami tahu pasti jika mobil plat B ini milik Rama. "Entar bakso aku keburu dingin." Ia memang pergi untuk jajan bakso karena Zaky saat pulang tidak membawa pesanannya itu karena lupa.


Sontak Rama menatap dari rear visio mirror. Puput menolehkan kepala melihat langsung ke kaca belakang. Benar saja, mereka tidak menyadari ada Zaky dengan motor supranya terparkir di belakang mobil. Keduanya saling tatap dan tersenyum dikulum.

__ADS_1


Rama memajukan mobilnya memberi ruang pada Zaky agar bisa lewat. Adzan magrib mulai berkumandang. Puput menawarkan sekali lagi, mengajak Rama masuk dulu ke rumah.


"Lain waktu deh. Aku pulang aja. Salam sama Ibu." ujar Rama menatap Puput yang sudah turun dan berdiri bersisian dengan Ami.


"Kak kenapa ga masuk dulu. Nanti aku yang akan suguhin teh. Aku udah bisa bikin teh celup yang rasanya sangat maknyusss. Ada manis-manisnya walaupun gak pake gula. Karena yang bikin aku, si cantik dan imut. Tadi aja Kak Panji minum sampe habis." Cerocos Ami dengan percaya diri. Seperti sales yang mempromosikan barang kreditan.


"Ami----" Puput menegur kecentilan si bungsu sambil geleng-geleng kepala. Rama terkekeh-kekeh. Kehadiran Ami mencairkan suasana menjadi normal. Kembali rileks seolah tidak terjadi hal serius sebelumnya.


"Nanti aja deh Kakak kesininya bawa rombongan keluarga." Rama menjawab dengan menatap Ami, mengabaikan Puput. Ia dapat menangkap dengan sudut mata jika Puput tengah menatapnya penuh tanda tanya. Namun diacuhkan saja.


"Uwoww rombongan keluarga? Pasti seru tuh. Kapan, Kak?! Nanti kita ngaliwet sama bakar ikan." Ami dengan polosnya menyambut antusias.


Rama tersenyum simpul. "Nanti deh dikasih tahu lagi. Udah ya, Kakak pulang dulu," pungkasnya sambil menyalakan mesin mobil.


"Oke deh, Kak. Heart-hearth on the street! Ehehehe---" sahut Ami sambil melambai-lambaikan tangan.


Rama yang sudah siap melaju, urung, tertawa lepas mendengar istilah hati-hati di jalan versi Ami.


Ami lanjut mencolek lengan sang kakak. "Teteh, kiss bye dulu atuh sama Kak Rama. Kayak di sinetron tuh. Masa diem bae kayak patung. Gak romantis."


Sontak membuat Puput melotot. "Ayo masuk! Tuh bakso keburu dingin." sahutnya merangkum bahu si bungsu itu, mengajak memasuki gerbang yang sudah dibuka Zaky. Keisengan Ami membuatnya malu saat menatap lagi Rama yang ternyata tengah memperhatikannya.


Sebenarnya Kak Rama mau bilang apa tadi...


Menarik nafas berat, mewakili rasa sesal. Karena obrolan terpotong oleh kehadiran Ami yang mengagetkan. Padahal Puput ingin mendengar kejelasan. Agar dirinya bisa menentukan sikap kedepannya.


Ya Allah...kenapa benih mulai ditabur disaat hati belum siap menyemai menjadi bibit.


Suara hati yang teriak. Membuat kepala Puput berdenyut memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


Suara notif pesan terdengar dari ponsel yang tersimpan di tepi ranjang. Puput meraihnya.


"Put, maaf terpending. Next time kita lanjut lagi obrolannya."


Pesan dari boss RPA yang sudah ia ubah namanya menjadi "KaRam".


"Baik, Kak." Balasan singkat dikirimkan.

__ADS_1


...***...


Ini video call kali ketiga yang dilakukan Cia malam ini. Memantau posisi Damar yang sampai jam 8 malam ini masih di jalan. Terjebak macet.


"Kak, posisi dimana sekarang?!" Cia menatap wajah yang duduk di kursi kemudi. Nampak raut lelah namun sama sekali tidak pernah keluar kata keluhan.


"Baru sampe Limbangan. Macet total." Damar menurunkan sandaran jok ke belakang. Membuat posisi duduk setengah tiduran. Tak ada pilihan. Saat melihat map jalur tol Cipali, sama saja macet. Sehingga memutuskan memakai jalur biasa arah Tasik.


Cia memperhatikan obyek sekitaran yang tertangkap kamera ponsel Damar. Sorot lampu mobil yang diam di tempat dan pemotor yang memaksa berjalan padahal sudah jelas tersendat. Ada rasa bersalah dan menyesal bercokol di hati Cia. Kenapa menerima saran Damar yang bersedia menjemputnya. Baru merasa mafhum jika Adit tidak mau ke Ciamis. Memang macet parah. Ini saja sudah 13 jam, Damar belum sampai.


"Kak Damar kalau lelah dan ngantuk ke pinggir aja dulu istirahat. Jangan dipaksain, Kak." Cia menatap dengan sorot tidak tega. Meski kenyamanan dalam mobil Fortuner warna hitam itu terjamin, namun kelamaan duduk jelas menimbulkan rasa lelah dan pegal.


"Gak ngantuk kok. Kan ada kamu yang nemenin ngobrol. Kalau nanti ngantuk ya tidur di jalan aja. Toh mobil gak gerak-gerak udah satu jam nih." Damar memutar layar ponselnya ke depan. Memperlihatkan antrian panjang kendaraan yang mengular dan diam di tempat.


"Kak Damar udah makan malam?!" Cia mengingatkan lagi. Setelah tadi siang ketahuan Damar belum makan lagi sejak berangkat dari rumah. Sampai dipaksa untuk menepi di rumah makan dan memperlihatkan bukti video tengah makan.


"Belum lapar, bawel. Udah ngopi tadi pas magrib sambil istirahat. Tenang....ini banyak stok cemilan. Tadi beli di rest area. Ada pizza, kacang....." Damar mengabsen semua makanan dan minuman yamg disimpan di jok penumpang sebelah kirinya.


Cia mengerucutkan bibir setiap kali disebut "bawel". Padahal cerewetnya itu karena tidak ingin Damar sampai jatuh sakit. Mengabaikan makan nasi bisa menimbulkan masuk angin, jelasnya lagi.


"Cemilan aja gak akan kenyang Kak, kalau belum makan nasi." Sambung Cia dengan sabar menahan rasa jengkel. "Jangan susah disuruh makan dong! Aku gak mau kalau Kak Damar sampe sakit," sambungnya berubah dengan nada dan tatapan merajuk.


Ah manjanya itu.... Hati Damar selalu luluh melihat gaya merajuk Cia seperti itu. "Iya deh iya... Nanti kalo di depan ada rumah makan, mampir dulu," sahutnya mengalah menurut.


Cia tersenyum lebar, mengacungkan 2 jempol. "Nah gitu dong... ini baru kakak aku yang guanteng," mengedipkan sebelah mata dengan wajah semringah. "Tenang, Kak. Aku temenin terus biar gak kesepian. Ditemenin sampai mobil bisa maju lagi ya. Asal jangan nyuruh mendongeng, aku gak bisa." sambungnya sambil menata bantal di kepala ranjang. Membuat posisi duduk setengah rebahan yang nyaman. Dengan tripod ponsel berada di samping kirinya.


Ditanggapi Damar dengan terkekeh. Padahal dalam hati merasa gemas ingin menjawil bibir yang tadi mengerucut.


Sudah 3 jam berlalu. Mobil tak jua bergerak. Rata-rata kendaraan mematikan mesin demi menghemat bahan bakar. Menjadi tak terasa bagi Damar yang harus sabar menunggu. Ada Cia yang sabar dan setia menemaninya. Berbincang santai diselingi canda tawa. Kadang ditinggalkan sejenak untuk irisan kamar mandi. Terpaksa menurut memakan pizza karena si bawel terus-terusan menyuruh ngemil mengingat waktu semakin larut malam. Dalam posisi mobil belum melaju lagi.


Lama-lama Cia pun mulai menguap sekali, berubah berkali-kali. Damar yang tidak tega, menyuruh untuk menyudahi video call, namun ditolak olehnya. Keukeuh akan menunggu sampai mobil bisa melaju.


Kini tidak ada lagi suara Cia. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar dalam keheningan malam. Damar mengulas senyum. Layar ponselnya menampilkan gadis pujaannya yang kepalanya terkulai ke samping kanan. Akhirnya tumbang juga. Tertidur pulas.


"Aku sayang kamu, Cia." Damar berkata lirih penuh perasaan. Tangannya terulur mengusap virtual wajah yang tengah lelap dalam posisi duduk setengah berbaring. Yang selama perjalanan terus memantaunya penuh perhatian.


Damar memilih mengikuti alur. Membiarkan cinta sepihak terus tumbuh dan mengakar. Meski entah sampai kapan terus berperan sebagai secret admirer.

__ADS_1


Tidur yang nyenyak, sayang...


Lirih dalam hati. Menatap sekali lagi dengan sorot penuh cinta dalam durasi 10 menit, sebelum memutus sambungan video. Mumpung orang yang ditatapnya tidak mendengar dan melihat aksinya. Damar pun memutuskan memejamkan mata. Memanfaatkan situasi macet total untuk beristirahat tidur dengan kaca sedikit diturunkan.


__ADS_2