Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
132. Autumn in Turkey


__ADS_3

Turki


Negeri yang berada di wilayah Eurasia, yaitu berada di lintas benua antara Asia dan Eropa. Negeri yang terkenal dengan sejarah peradaban dan kebudayaan, ragam megahnya arsitektur, saat ini berada pada masa autumn (musim gugur). Dimana suhu rata-rata yang berlangsung di Turki saat musim gugur berkisar antara 20°C dan bisa turun sampai mencapai angka 14°C.


Keadaan suhu sejuk seperti ini, tidak panas tidak juga dingin. Juga tidak terlalu padat dengan turis-turis, sangat dinikmati oleh sepasang suami istri, pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Rama dan Puput.


Tiba di bandara internasional Istanbul, Turki. Seorang tour guide berkewarga negaraan Indonesia, yang sudah disewa sebelumnya, mengantar Rama dan Puput untuk beristirahat di hotel. Sesuai schedule, tidak lantas mengeksplorasi kota terpadat di Turki yang penuh sejarah itu.


"Neng, cape nggak?" Rama mengerjap-ngerjapkan mata diiringi seringai penuh arti. Ia memiringkan badan menghadap Puput yang sudah lebih dulu naik ke peraduan.


Puput menggeleng. Rama berbinar.


"Ish, salah. Maksudku jangan malam ini. Soalnya besok kita akan mulai berpetualang. Sekarang tidur aja hilangin pegel."


"Yaaah, kirain...." Rama mengerucutkan bibir. "Sayang, kan di tiap kota yang disinggahi kita kan dah komit bakal anu." ujarnya merajuk.


"Iya, Aa. Kan nanti terakhir jalan-jalan balik lagi ke Istanbul. Jadi destinasi terakhir sebelum pulang. Jadi anu nya mulai besok di hotel Kusadasi." Puput mencubit gemas bibir Rama yang mengerucut.


"Cubitnya jangan pakai tangan, Neng. Tapi pakai bibir." Rama menggeser tubuhnya lebih rapat.


"Janji ya hanya ciuman. Tidak lebih!" Ancam Puput yang sudah mengantuk setelah tadi sore berjalan-jalan di lokasi yang tidak jauh dari hotel.


"Iya....kalo nggak khilaf." Ucap Rama yang mulai menyosor lebih dulu. Jawaban yang tidak meyakinkan itu membuat Puput hanya bisa mendesah.


Namanya gairah yang sudah naik ke ubun-ubun, menjadi tanggung jika tidak dilanjutkan. Rama melancarkan modus. Beralasan bakalan migrain dan susah tidur. Puput mengalah pasrah berada dalam kungkungan hingga mencapai puncak nirwana bersama. Sama-sama terlelap dalam lelah sampai subuh menjelang.


Hari kedua usai breakfast di hotel, pemandu bernama Yosa menjemput dengan membawa minibus. Ia berlaku sebagai driver juga.


Perjalanan di hari kedua menuju Bursa dan Kusadasi. Setelah dua jam perjalanan, mobil yang membawa Rama dan Puput tiba di Masjid Agung Ulucamii.


"Mas Rama dan Mbak Putri, Masjid Agung Ulucamii Bursa ini adalah landmark-nya kota Bursa." Ucap Yosa saat berada di halaman masjid.


"Masjid ini dibangun oleh Sultan Ottoman Bayezid I, sebagai janji beliau karena telah memenangkan beberapa peperangan Nicopolis." Yosa mulai memaparkan sejarah Masjid tersebut.


Rama dan Puput menyimak dengan serius.


"Seusai memenangkan perang Nicopolis di tahun 1396, beliau berjanji untuk membangun 20 masjid. Namun keadaan tidak berjalan seperti yang direncanakan. Untuk mengganti 20 masjid tersebut, beliau kemudian membuat 20 kubah di masjid agung Bursa ini. Masjid ini dibangun antara tahun 1396 dan 1399."


Yosa mengajak berjalan memasuki area dalam masjid. Rama dan Puput langsung disuguhi dengan banyak sekali karya kaligrafi indah yang ada di dinding-dinding masjid. Keduanya terlihat penuh kekaguman menatap kaligrafi yang sangat indah itu.


"Masjid ini mampu menampung sampai 5000 jamaah juga sekaligus menjadi monumen penting hadirnya karya arsitektur Ottoman. Juga terkenal dengan sebutan masjid kaligrafi. Karya kaligrafi mulai dibuat pada rentang tahun 1778-1938 oleh 41 seniman kaligrafi pada masa itu." Yosa memaparkan dengan lancar seolah sudah hafal di luar kepala.


"Mau salat Duha dulu di masjid ini, Mas, Mbak? Karena kita akan lanjut ke Masjid Hijau dan Green Tomb. Kita akan Duhur di sana." Sambung Yosa.


"Aa, Duha yuk!" Ajak Puput. Yang disetujui oleh Rama. Yosa pun turut serta melaksanakan salat sunat tersebut.


Beralih menuju Masjid Hijau dan Green Tomb yang berada satu komplek. Berdiri di atas bukit di lingkungan Yeşil di Bursa.


"Green Tomb atau Makam Hijau ini merupakan makam Sultan Mehmet I, Sultan Ottoman kelima yang dimakamkan pada tahun 1421. Dirancang oleh arsitek bernama Haci Ivaz Pasha yang juga merancang Yesil Mosque atau Masjid Hijau di sebelah ini." Jelas Yosa saat berada di dalam Green Tomb. Ia juga menjelaskan makam lain yang mengapit adalah makam putra dan putrinya sang Sultan.


"Ini disebut Green Tomb karena dominan struktur heksagonal hijau sama ubin yang berwarna biru-hijau ya?" Tebak Rama yang mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan penuh kekaguman. Bagaimana arsitektur indah ini dibuat begitu rumit. Hiasan mosaik pada ubin di makam itu sangat indah.


"Betul, Mas. Selain itu karena lingkungan di luar pun dominan tanaman hijau di area taman dan kebun." Sahut Yosa.


"Manusia pada awal abad ke 14 ternyata sudah sangat pintar. Arsitek sekarang belum tentu bisa merancang karya bernilai seni tinggi gini." Gumam Puput yang lebih ditujukan untuk diri sendiri.

__ADS_1


Tour dilanjutkan ke Kusadasi. Dan Yosa mempersilakan Rama dan Puput beristirahat di hotel untuk besoknya melanjutkan mengunjungi tempat wisata kota kuno Ephesus.


...***...


"Lihat apa? Anteng banget." Rama memeluk Puput dari belakang. Yang berdiri di dekat jendela sambil mengarahkan kamera. Menyampirkan rambut panjang yang setengah basah ke leher sebelah kanan. Leluasa menghirup bagian leher kiri yang bebas.


Hari ini, keduanya sudah berpindah kota tour yaitu Pamukkale. Yang juga dikenal dengan julukan Cotton Castle (Istana Kapas). Daerah ini terkenal karena adanya kandungan mineral karbonat. Merupakan daerah sumber mata air panas.


Kandungan mineral karbonat yang terbentuk sudah sangat lama. Secara alami membentuk dinding-dinding seperti kolam berwarna putih bersih seperti kapas. Itulah mengapa terkenal dengan nama Istana Kapas.


"Betah lihat Cotton Castle dari sini. Indah banget." Puput menolehkan wajah sehingga pipi beradu dengan bibir Rama. Pagi tanpa sinar matahari ini dihangatkan oleh saling me magut bibir.


Rama dan Puput tidak melewatkan berendam di kolam thermal Istana Kapas tersebut. Sumber air panas itu telah digunakan sebagai spa sejak abad kedua SM. Yang juga dekat dengan Hierapolis yang terdapat museum terbesar di dunia dengan gaya arsitektur Greco-Roman.


"Kalo masih betah di sini, tambah sehari lagi mau?" Usul Rama yang kini menelusupkan tangan ke balik bathrobe. Semalam tidak melewatkan waktu untuk memadu kasih. Meninggalkan jejak cinta setiap hotel yang disinggahi.


"Nggak usah. Sesuai jadwal aja. Aku juga udah gak sabar ke Cappadocia. It's my dream, sayang." Puput terkekeh sambil mengusap rambut Rama yang menyandarkan dagu di bahunya.



Rama dan Puput check out setelah sarapan pagi. Kali ini Yosa berhasil dibujuk untuk ikut sarapan bersama setelah kemarin-kemarin menolak karena sungkan.


"Kamu masih lama tinggal di Turki nya?" Disela sarapan bersama, Rama mengakrabkan diri pada mahasiswa yang bekerja freelance sebagai tour guide itu.


"Jika lancar, satu tahun lagi selesai S1, Mas. Saya mau ajuin beasiswa S2, biar bisa lanjut di sini tanpa break dulu." Sahut sang pemandu penuh pengharapan. Berasal dari keluarga sederhana, namun kaya akan mimpi. Jadilah dengan beasiswa, ia bisa melanjutkan kuliah di negeri yang terkenal dengan pahlawan besar Islam bernama Muhammad Al Fatih.


"Good luck. Saya senang dengan pemuda yang berani bermimpi dan bekerja keras. Kalau nanti mau bekerja di dalam negeri, perusahaan saya siap menerima kamu. Simpan ini. Karena ini ibarat wildcard. Kamu bisa diterima tanpa seleksi. Hanya dengan menunjukkan ini, pihak HRD akan langsung memberimu posisi." Rama memberikan kartu nama khusus yang jarang sekali dikeluarkan.


"Alhamdulillah. Sebelumnya terima kasih banyak, Mas, Mbak." Yosa memegang kartu nama itu dengan wajah semringah.


Usai sarapan, perjalanan berlanjut menuju ke Cappadocia melalui kota Konya. Di Konya akan mengunjungi dulu Mevlana Museum.


"Mevlana museum ini adalah tempat ajaran agama Islam Sufi. Mulai diperkenalkan di Turki oleh tokoh penting Sufi bernama Jalaludin Rumi." Ucap Yosa begitu menginjakkan kaki di tempat bersejarah tersebut.


"Aku jadi terbayang tarian Sufi yang berputar-putar itu. Itu kan diciptakan Jalaludin Rumi, ya?!" Puput menoleh pada Yosa untuk memastikan kebenarannya.


Yosa mengangguk. "Tarian Sufi diciptakan sebagai bentuk ekspresi rasa cinta dan kasih sayang kepada Sang Pencipta dan kepada sosok tauladan yang sempurna yaitu Nabi Muhammad SAW."


"Kerap disebut tarian pengingat kematian karena filosofi atribut hingga gerakan yang menyimbolkan kematian. Bukan sekadar menari, selama melakukan gerakan berputar, penari terus berdzikir. Kunci agar tidak pusing adalah ketenangan dan fokus."Pungkas Yosa.


Rama dan Puput manggut-manggut mengerti. Selain makam Jalaludin Rumi dan ayahnya, terdapat pula makam beberapa tokoh Sufi lainnya.


Puas berkeliling kota Konya, yang juga singgah di Sultanhan Caravanserai. Dimana dulunya bangunan ini adalah selayaknya hotel. Yang memiliki area tempat parkir kuda, dapur, mushola, dan kamar-kamar.


Sore harinya, tibalah di Cappadocia.


"Selamat datang di Cappadocia, Tuan dan Nyonya. Selamat menikmati pemandangan unik nan romantis. Jangan lupa naik balon udara pagi-pagi sekali untuk melihat pemandangan unik Cappadocia dari atas. " Goda Yosa saat mengantar sampai lobi hotel.


Puput tersenyum dengan wajah yang merona sekaligus gembira. Cappadocia bukan lagi mimpi tapi nyata sudah menjejakkan di wilayah yang terkenal akan lembah-lembahnya yang cantik.


Masuk ke kamar hotel, Puput segera menuju jendela. Di sini, keduanya akan menginap selama dua malam sebelum kembali ke Istanbul.


Rama tersenyum mesem melihat Puput yang heboh sendiri seperti anak kecil.


"Sayang, Aa kayak liat fotokopian Ami deh liat kamu sekarang." Rama duduk santai di sofa diiringi kekehan.

__ADS_1


"Biarin.... emang aku kakaknya." Puput memeletkan lidah sambil bergabung duduk di sofa yang sama.


"Ah, kayaknya malam ini gak bisa tidur deh. Kepikiran pengen buru-buru pagi naik balon udara." Puput menggigit bibir sambil memeluk bantal sofa dengan gemas.


"Tenang....emang Aa bakal bikin Neng begadang." Rama merasa nyaman memanggil diri sendiri Aa. Ia tersenyum miring sambil merebut bantal sofa di pelukan Puput. Beralih ia merebahkan kepala di paha istrinya itu.


"Aduh apa gak bosen tiap malam. Libur sehari lah ya? Besok kan masih di sini juga." Tawar Puput.


"Mana ada kata bosen. Yang ada malah nagih. Semua yang ada padamu rasanya gurih dan nikmat." Rama mengaduh karena Puput mencubit pinggangnya dengan keras.


"Sayang, harusnya di balon udara bisa sambil anu. Kan biar berkesan." Rama mulai lagi pada mode mesumnya.


"Astaga, Aa. Mau bikin film judulnya 'Balon Udara Bergoyang'. Nanti ditonton live sama semua penghuni balon udara lainnya, gitu?!" Dengan gemas Puput memencet hidung Rama yang tertawa lepas.


...***...


Pagi menjelang usai melewati malam panjang yang sejuk dengan penyatuan dua raga. Usai salat subuh segera menuju tempat naiknya balon udara. Yosa tepat waktu menjemput ke hotel jam lima pagi.


"MasyaAllah, so beautiful!" Pekik Puput begitu balon udara mulai melayang. Dapat menyaksikan lanskap lembah-lembahnya yang eksotis. Melihat relief-relief alam yang terbentuk karena bekas letusan gunung berapi.



Tak lupa mengabadikan dengan berswafoto dengan latar belakang matahari terbit di antara formasi lembah dan bebatuan. Begitu eksotis. Musim gugur ini menjadi waktu yang pas menikmati pemandangan dari balon udara. Dengan tiket dolar berkisar 2,8 juta per orang, sudah termasuk paket sarapan. Berdua sarapan romantis sambil puas melayang di udara dalam durasi satu jam.


Bukan hanya balon udara yang ada di Cappadocia. Rama dan Puput diajak menjelajah lembah Pasabag Valley dan Devrent Valley. Dimana di lembah ini bisa menemukan bebatuan yang bentuknya menyerupai makhluk hidup asli.


Tour honeymoon tujuh hari enam malam itu berakhir di Istanbul lagi setelah dari Cappadocia singgah di Ankara, ibukota Turki dan kota Bolu.


Bolu adalah daerah dimana Taman Nasional Yedigoller berada.


Pada saat musim gugur ini, di Taman Yedigoller, Rama dan Puput dimanjakan dengan keindahan Turki dengan alamnya yang berubah cantik berwarna kuning oranye.


"Yosa,makasih ya sudah menemani kami selama seminggu ini." Rama mengucapkan salam perpisahan di bandara. Sejumlah uang tip lembaran dolar disematkan di tangan pemuda Indonesia yang gesit itu.


"Sama-sama, Mas dan Mbak. Saya juga berterima kasih udah dapat traktiran makan dan jajan tiap hari." Yosa tulus berucap. Jarang-jarang memandu turis seloyal dan low profile seperti pasangan ini. Yang menolak dipanggil Tuan dan Nyonya ataupun Bapak dan Ibu.


"Kalau tahun depan kembali ke sini, jangan lupa email saya. Saya siap sedia mengantar Tuan dan Nyonya." Yosa bergaya hormat dengan sedikit membungkukkan punggung, menyilang satu tangan di dada.


"Nanti deh kalau sudah bertiga." Sahut Rama sambil merangkum bahu Puput. Membuat Yosa tersenyum mesem sambil mengacungkan jempol.


Di Istanbul, Rama dan Puput tidak melewatkan menaiki Bosphorus Cruise, berlayar di selat Bosphorus yang menjadi gerbang menuju dua benua. Yaitu Turki bagian Eropa dan Turki bagian Asia.


Hagia Sophia, yang memiliki fase perjalanan sejarah dari fungsinya sebagai Katedral, menjadi Masjid, lalu menjadi Museum di masa Kemal Ataturk, dan kini menjadi Masjid lagi, pun disambangi Rama dan Puput sambil melaksanakan salat di sana.



Masih banyak tempat ikonik yang kaya akan peradaban di Istanbul yang dijelajahi Rama dan Puput. Masing-masing tempat memberi kesan tersendiri dan berbeda. Tak lupa belanja oleh-oleh di Grand Bazaar.


Masih betah sebetulnya. Namun waktunya kembali ke tanah air sudah tiba. Perpisahan dengan sang guide berakhir dengan lambaian tangan.


Selamat tinggal Turkiye.


...****************...


Dikutip dari berbagai sumber.

__ADS_1


Besties, maaf ya jika telat up. Selain ada trouble NT di hp aku, aku pun harus membaca banyak referensi untuk bisa menghadirkan bab ini.


__ADS_2