Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
36. Memangnya Siapa yang Kangen Aku?!


__ADS_3

Ciamis


Puput tengah berada di ruangan Pak Hendra. Bicara empat mata mengenai grafik perkembangan RPA cabang Ciamis yang bulan lalu omsetnya naik 4%. Kurang dari yang diharapkan. Dan bulan sekarang yang bertepatan dengan bulan ramadhan ditargetkan omset naik sampai 20%. Setiap manajer cabang harus berlomba mencapai target. Dan kantor pusat telah menyiapkan reward bagi cabang yang berhasil berada di limit apalagi sampai melampui target.


"Put, kita bakal nyampe gak ya?!" Pak Hendra merasa nyaman menjadikan Puput teman sharing. Beban tanggung jawab sebagai manajer memang berat tetapi juga sekaligus tantangan.


"Optimis, Pak. Puasa kan baru berjalan seminggu. Kebutuhan konsumen untuk membangun rumah atau renovasi atau pula mengecat di bulan puasa makin naik. Dari seminggu ini saja sudah kelihatan kunjungan konsumen makin rame dan omset meningkat." Puput kembali menunjukkan berkas laporan sementara dari tiga kasir selama seminggu ini.


"Kita punya kelebihan dalam servis dibanding toko bangunan yang lain. Toko yang luas kelas supermarket, bersih serta stok kumplit. Harga juga kompetitif. Yakin, konsumen makin banyak yang tertarik belanja di sini." Lanjut Puput menyuntik semangat sang manajer.


Pak Hendra manggut-manggut. "Kamu benar, Put. Ya...terkadang pesimis itu ada kalau lihat rivalitas juga target yang harus dicapai. Kadang bikin stres juga." ujarnya sambil terkekeh.


"Hal yang wajar sih, kalau menurutku. Apalagi Bapak kan manajer. Asal jangan larut terus, harus bangkitkan lagi optimis."


"Kita harus sering-sering turun ke bawah, Pak. Menyapa langsung dan membantu konsumen milih bahan. Itu akan jadi poin plus toko kita. Konsumen akan kembali lagi sebagai pelanggan dan makin bertambah yang daftar member." tambah Puput dengan wajah optimis.


"Ide yang bagus, Put." Pak Hendra mengacungkan jempol. Setuju dengan saran Puput.


"Hape kamu nyala tuh, Put!" Pak Hendra menunjuk dengan dagunya ke arah ponsel yang tergeletak di meja, dekat sikut kanan stafnya itu.


Puput meliriknya. "Oh, Pak Rama telpon. Sebentar, Pak." Seperti biasanya, jam kerja ponselnya di setting mode silent. Ia meminta izin menjawab panggilan masuk dari sang owner RPA.


"Aasalamu'alaikum, Pak Rama." Puput menyapa dengan sopan dan senyum ramah.


"Apa kabar, Puput?!" Dari sebrang sana, Rama lantas menyusul dengan pertanyaan kabar usai menjawab salam.


"Alhamdulillah baik, Pak. Kabar Pak Rama sendiri gimana?! Pasti di pusat super sibuk ya." Puput terkekeh kecil tanpa beranjak dari tempat duduknya. Tanpa diketahuinya jika Pak Hendra tersenyum mesem meski mata terfokus memandangi layar laptop.


"Iya. Di sini sangat sibuk. Gimana kabar RPA Ciamis? Makin rame pengunjung gak?" Rama sebenarnya tidak perlu menanyakan hal itu kepada Puput karena sudah tahu dari laporan berkala Pak Hendra. Berhubung tidak ada topik pembicaraan yang disiapkan jadinya berbasa-basi. Yang penting bisa mendengar suara gadis pujaannya itu.


"Alhamdulillah sudah ada sedikit peningkatan. Saya optimis minggu depan makin rame, Pak." Fokus Puput sedikit teralihkan saat Pak Hendra mengangsurkan secarik kertas ke depannya. Ternyata ada tiga baris kalimat yang membuat Puput mengerutkan dahi. Ia membaca gerak bibir sang manajer yang menyuruhnya untuk mengucapkan kalimat dalam kertas itu.


"Hmm, Pak Rama. Jangan lupa jaga kesehatan ya. Cabang Ciamis sangat mengharapkan kunjungan bapak lagi---" Untuk satu kalimat lagi, Puput menggantungkan ucapan sambil menggelengkan kepala menatap Pak Hendra. Namun sorot tegas manajernya itu mengisyaratkan tidak bisa dibantah.


"Soalnya...ada yang kangen." Puput menyelesaikan perintah tertulis Pak Hendra dengan dampak perasaan yang tidak karuan. Kedua pipinya memanas karena malu. Sudah tentu terbit rona merah jambu. Berbeda dengan sang manajer yang tersenyum semringah sambil mengacungkan jempol.


Nun jauh di sebrang sana. Berjarak ratusan kilometer. Ekspresi bahagia seorang Rama tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tersenyum lebar tanpa ada siapapun yang melihatnya. Merasa pendekatannya terhadap Puput mendapatkan sinyal positif.


"Memangnya siapa yang kangen aku?!"


Mendapat umpan balik seperti itu, Puput menatap dengan sorot protes terhadap Pak Hendra. Minta bertanggung jawab karena merasa terjebak dengan ucapan kalimat tadi. Pak Hendra seolah bisa menebak ucapan Rama. Memilih merespon dengan mengangkat bahu.


"Semua, Pak. Semua kangen sama Pak Rama terutama staf dan karyawan perempuan. Mereka ngefans karena bapak boss yang humble dan tentunya ganteng." Puput terlanjur terjebak. Tapi apa yang disampaikannya bukanlah bualan. Ia mendengar sendiri rumpian kaum hawa saat jam istirahat.


"Wow...jadi tersanjung." Nada bicara Rama terdengar riang. "Put, aku mudiknya mundur jadi H-3 bersamaan dengan kantor cuti bersama. Jadi pas sampai Ciamis, besoknya cabang pasti sudah libur ya. Nanti aja kita ngadain halal bi halal pas masuk kerja lagi."

__ADS_1


Obrolan masih berlanjut dengan usulan Puput yang menyarankan mudik memakai pesawat tujuan Jakarta - Tasik. Yang kemudian akan dipertimbangkan oleh Rama.


Puput menyimpan kembali ponselnya di meja usai percakapan jarak jauh dengan owner RPA berakhir. Beralih menatap sang manajer yang jarinya tengah lincah mengetikkan kata pada keyboard.


"Pak, itu tadi maksudnya apa?! Aku jadi malu sama Pak Rama. Aduuuh ada-ada aja bapak mah. " Wajah Puput memberengut. Hubungan yang terjalin baik dengan keluarga Pak Hendra di dalam dan di luar kantor, membuat Puput tidak sungkan melakukan protes.


Pak Hendra terkekeh dan tetap memasang wajah tenang sambil tetap melanjutkan mengetik.


"Put, kamu kan lagi belajar jadi sekretaris Pak Rama. Harus biasakan kasih perhatian. Seperti tanya kabar, ngasih semangat, tanya apa yang mau diinginkan. Kalau hari-hari biasa pas ada di sini, tanyakan juga mau makan siang menu apa atau makan di mana. Itu bagian dari tugas sekretaris juga. Tidak melulu membantu urusan pekerjaan." ujarnya panjang lebar menjelaskan.


"Ooh...gitu ya?!" Puput mengangguk-ngangguk mengerti. Percaya begitu saja dengan ucapan Pak Hendra.


Pak Rama...Anda butuh sabar dan berjuang extra untuk mendapatkan Puput. Dia terlalu polos untuk memahami kode.


Pak Hendra menatap pungung staf accounting itu sampai hilang di balik pintu. Sebagai pria berpengalaman, ia sudah bisa menebak gestur yang tertangkap kasat mata. Jika atasannya itu memang menyukai Puput.


...***...


Seminggu berlalu.


Pulang ke rumah tiga puluh menit menjelang adzan magrib. Puput memasukkan motor ke garasi melewati sebuah motor yang terparkir di pekarangan. Pintu utama terbuka lebar. Kemungkinan motor yang satu merk dengan punyanya itu adalah milik orang yang tengah bertamu.


Puput memilih masuk melalui pintu depan, tidak lewat pintu garasi yang tembus ke tengah rumah. Penasaran ingin lihat siapa orang yang tengah bertamu itu.


"Aul, mau ke mana?!" Puput berpapasan dengan adiknya di teras. Yang keluar dari dalam rumah dengan seorang laki-laki. Ditaksir Puput usianya sebaya dengan sang adik.


"Mau bukber bareng teman kampus, Teh. 10 orang. Sama Ibu udah diijinin." Aul pun menyebutkan nama rumah makan yang berada di kawasan pusat kota Tasik.


"Sekalian Taraweh nggak?!" Puput bertanya sekaligus secara tidak langsung mengingatkan agar jangan sampai tertinggal.


"Iya, Teh. Taraweh di masjid Agung."


Puput beralih memperhatikan teman pria Aul. "Kamu namanya siapa?!" bersikap ramah namun ada aura wibawa.


"Saya Billy, Teh. Teman kuliah Aul."


"KTP nya mana?!" Puput membuka telapak.


Membuat pemuda itu menatap heran ke arah Aul. Yang dijawab Aul dengan anggukkan agar menuruti permintaan kakaknya itu. Ia terbiasa dan sudah faham dengan perlakuan protektif kakaknya itu.


Puput membaca nama dan alamat yang tertera di KTP. Kemudian memfoto dengan kamera ponselnya.


"Billy, kamu yang jemput Aul, kamu harus antarkan lagi pulang. Jangan lewat dari jam sembilan ya!" Puput mengembalikan lagi KTP milik temannya Aul itu. Mengingatkan pula agar jangan ngebut.


"Iya siap, Teh." Billy pamit sambil mencium tangan Puput.

__ADS_1


Puput memperhatikan sampai motor tak nampak lagi oleh jangkauan pandangan matanya. Menutup pintu dan menguncinya, nampak Ami tengah menonton televisi ditemani Ibu sambil menunggu waktu berbuka.


"Bu, Teteh mandi dulu---" Ujarnya sambil lalu menaiki tangga.


Waktu berbuka hanya bertiga di rumah. Puput, Ibu, dan Ami duduk bersama di meja makan. Ternyata Zaky juga pergi untuk acara buka bersama dengan teman-teman sekolahnya. Memang memasuki pertengahan puasa, mulai ramai acara buka bersama. Puput bukannya tidak ada ajakan dari temannya. Ia menolak. Memilih buka puasa menemani Ibu di rumah.


"Teh, besok Ibu mau masak pepes jantung pisang sama pepes ayam. Pengen ngasih ke Enin. Sudah dua minggu belum bertemu lagi beliau. Nanti Teteh yang anterin ya?!" ujar Ibu di sela makan yang hampir selesai itu.


"Aku ikut ya, Teh. Kangen ketemu Kak Cia." Ami antusias menyambar dengan riang sebelum kakaknya itu membuka suara.


"Iya." Puput hanya menjawab pendek. Masih fokus membongkar pepes kepala ikan gurame kesukaannya.


Pulang dari shalat Tarawih di masjid terdekat, Puput memilih rebahan di sofa sambil memainkan ponsel. Ibu masuk ke kamar melanjutkan dengan tadarus. Sementara Ami langsung tepar di kasur karena siangnya cape dengan kegiatan pesantren kilat


"Memangnya siapa yang kangen aku?!"


Puput spontan duduk tegak saat scroll chat yang belum dibalas, melihat nama Param. Otomatis terngiang komunikasi terakhir kali seminggu yang lalu di ruangan Pak Hendra.


Pertanyaan Rama yang kini terngiang membuat tubuhnya mendadak menegang dengan rasa hati gelisah.


Kenapa tiba-tiba harus ingat Param?!


Puput meraba tengkuknya yang terasa meremang dengan darah yang berdesir. Padahal seminggu ini disibukkan dengan turun tangan ke lantai bawah bersama Pak Hendra memantau lonjakan pengunjung toko. Sama sekali tidak mengingat boss RPA itu.


Penasaran, Puput membuka riwayat chat yang sudah lama tidak pernah ada pesan masuk lagi. Melihat status Rama yang saat ini tengah online.


"Hai, Put...."


Pesan itu masuk saat Puput tengah membaca riwayat chat dari awal sampai akhir. Otomatis centang biru muncul. Membuat ia terjengit kaget karena ketahuan tengah berada di halaman chat Param. Mendadak badannya panas dingin.


Aduh...aku harus gimana ini....


...***...


Dear readers tersayang,


Hari ini bertepatan dengan Lebaran. Aku ucapkan....


Taqobalallahu Minna Wa Minkum. Shiyamana Wa Shiyamakum. Taqobbal Yaa Kariim.


Aku memohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf selama ini membersamai teman-teman semua di dunia halu.


Aku hanyalah manusia biasa yang pasti punya salah dan dosa. Entah dari sikap maupun tutur kata.


Semoga di hari yang suci dan penuh berkah ini, teman semua berkenan membukakan pintu maaf seluas-luasnya.

__ADS_1


Selamat Idul Fitri 1443 H.


Me Nia


__ADS_2