Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
136. Dicintai Dan Dibenci


__ADS_3

Mami Ratna sedang mendengarkan penjelasan Cia tentang konsep tema pernikahan Desember nanti. Sang anak begitu bersemangat menyusun daftar perencanaan sangat rinci, agar tidak ada yang terlewat.


"Bu, tamunya sudah datang." Ucap ART yang masuk ke kamarnya Cia usai mengetuk pintu.


"Iya, mbak Nur. Sebentar lagi saya turun. Suguhi aja dulu!" Mami Ratna merapihkan pasminanya yang melorot ke leher.


"Hais, itu jurig ganggu aja. Mami sih pake mau ketemuan sama dia." Cia mendecak kesal. Menyimpan tab nya di meja sambil meregangkan tangan.


"Karen udah tiga kali hubungin Mami. Keukeuh pengen datang ke rumah. Kita lihat saja maunya apa." Sahut Mami Ratna sambil berkaca memasang lagi pasmina dengan rapih.


"Jangan sampe teh Puput tahu loh, Mam. Gimana kalo tiba-tiba datang. Kemarin teh Puput ngabarin ada oleh-oleh Turki. Mau ke sini tapi nanti masih cape. kita harus jaga perasaannya, Mam." Cia beralih tidur telentang di sofa ungu sambil menatap Mami yang bersiap keluar kamar.


"Tenang aja, sayang. Lagian Mami hanya penasaran maunya dia apa. Temenin Mami yuk!" Ajak Mami Ratna yang bersiap akan keluar kamar.


"Ogah pake banget. Mending googling nyari souvenir." Cia menolak keras sambil menggoyangkan tangan.


Mami Ratna menerima pelukan cipika cipiki Karenina yang nampak tersenyum semringah. Saling menyapa dengan bertanya kabar masing-masing.


"Tante, maaf aku udah ganggu waktu tante. Kedatangan aku kesini dengan maksud baik. Meskipun aku tidak berjodoh dengan Rama, aku ingin tetap menjalin hubungan baik sama Om dan Tante. Aku juga inginnya bisa berteman dengan Rama. Tapi aku tau diri. Menjaga perasaan istrinya takut salah faham dan cemburu." Karenina berkata lirih. Sorot matanya sendu.


Mami Ratna bersikap tenang sambil menatap tajam tamunya itu.


"Karen, kalau kamu tau diri dengan tidak lagi mendekati Rama. Kamu juga harus tau diri menjauhi tante dan Om. Karena ada perasaan menantu yang harus kami jaga." Tegas dan lugas ucapan Mami Ratna.


Karenina mendadak gagu. Ia nampak menelan ludah dengan susah payah. Tak menyangka akan mendapat penolakan tanpa basa basi.


Di luar. Puput masih duduk santai di belakang kemudi. Menunggu waktu lima belas menit baru akan masuk ke rumah. Sengaja memberi waktu pada orang yang sedang bertamu. Agar tidak terlalu kentara jika datang di waktu yang sama.


Tanpa risau, Puput turun dari mobil dengan menenteng paper bag berisi oleh-oleh. Setelah memastikan penampilannya rapih serta riasan minimalis di wajahnya masih sempurna.


Pintu utama masih terbuka. Terdengar percakapan sedang berlangsung saat Puput semakin dekat ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum, Mami." Puput berucap salam dengan riang. Langsung menuju Mami Ratna yang nampak terkejut melihat kedatangannya. Mencium punggung tangan dan cipika cipiki. Ia abaikan Karenina seolah tidak mengenal dengan tamu itu.


"Mantu Mami, kapan pulang honeymoon dari Turki, sayang? Kok tiba-tiba datang ke sini bikin surprise." Ucap Mami Ratna sedikit drama. Padahal ia sudah tahu karena kemarin Rama mengkonfirmasi. Tapi ia sungguh-sungguh terkejut dengan kedatangan Puput tanpa konfirmasi.


"Dua hari yang lalu, Mih. Maaf aku baru ke sini. Aa nyuruh aku istirahat dulu di rumah." Puput duduk di samping sang mertua.


"Eh, maaf ada tamu ternyata. Aku kira Mami lagi bicara dengan mbak Nur." Sambung Puput dengan memasang wajah kaget melihat adanya Karenina.


"Hm, Puput......kenalin......" Mami Ratna nampak bingung untuk berucap.


Tapi Puput segera bangkit dari duduknya. "Apa kabar, Karen? ujarnya mengulurkan tangan dengan senyuman yang lebar. Yang disambut sang tamu dengan senyum kaku. Masih nampak sisa kekagetan. Sepertinya tidak menyangka akan bertemu di saat ini.


"Tunggu-tunggu! Kalian sudah saling kenal?!" Mami Ratna masih nampak kaget melihat Puput dan Karenina saling sapa tanpa canggung.


Puput duduk kembali di samping Mami. "Kita sudah dua kali bertemu tanpa sengaja. Pertama, saat aku dan Aa abis dinner. Kedua, waktu aku lagi belanja di mall. Dia memperkenalkan diri sebagai mantan tunangannya Aa." ujarnya sambil menatap sang mertua dengan tenang.


"Ada urusan apa Anda bertamu ke rumah mertua aku?" Puput beralih meluruskan pandangan terhadap tamu. Bertanya dengan ramah namun berintonasi tegas.


Mami Ratna tersenyum samar. Hatinya merasa lega. Mengira suasana akan berubah panas. Menduga Puput akan bersikap galak ataupun judes karena berhadapan dengan mantannya Rama itu. Ia memilih menyimak drama apa yang akan terjadi.


"Aku ke sini untuk bersilaturahmi dengan tante Ratna." Karenina memasang wajah lugu, duduk dengan anggun. "Dulu kami sangat dekat, selalu shopping bareng, ke salon bareng, aku juga udah biasa keluar masuk rumah ini. Dan.....sekarang aku ingin kembali dekat. Yang lalu biarlah berlalu. Kita juga bisa menjadi teman, kan?" sambungnya dengan sorot mata memohon.


"Kalau aku maaf, tidak bisa berteman denganmu. Tidak juga menganggapmu musuh. Kita hanyalah pernah bertemu. Selebihnya biasa saja." Sahut Puput tanpa beban.

__ADS_1


"Karen, tante sudah ngasih jawaban tadi. Kita masih tetap bisa bertegur sapa kalau ketemu di luar." Tegas Mami Ratna.


Sang tamu menghembuskan nafas panjang. Mengangguk-ngangguk dengan raut wajah lesu.


"Baiklah. Aku pamit." Karenina berdiri diiringi senyum getir.


...***...


"Aku sih gak percaya si kakaren tulus. Palingan lagi ngedrama minta empati kita. Pokoknya jangan kasih celah bibit pelakor tumbuh jadi hama. Kita ini bukan cewek-cewek dalam sinetron iklan terbang yang lemah dan percayaan gitu aja. Big no!" Cia berapi-api mengomentari cerita Puput juga Mami. Bicara sambil mengacung-ngacungkan pisau saking gemasnya.


Puput hanya terkekeh. Beralih membuka kulkas melihat bahan masakan yang tersedia. Karena kedatangannya dimanfaatkan Cia yang ingin belajar masak.


"His, anak Mami serem juga kalo bahas pelakor. Dah ah Mami mau baca buku aja. Kalau udah matang kasih tau ya. Mami di ruang perpustakaan." Mami Ratna berlalu dari dapur.


Giliran Puput mulai menjadi mentor untuk Cia yang bersemangat ingin belajar memasak.


"Tips pertama belajar masak tuh jangan takut untuk mencoba. Mulai mencoba masak resep sederhana dulu. Kita akan masak ayam goreng bumbu kuning ya." Puput dengan mengenakan apron, mengeluarkan potongan paha ayam beku dari plastik vacum. Mengabsen bumbu yang harus dihaluskan.


Cia sigap mengikuti instruksi Puput.


"Sebenarnya dulu Mami juga suka ngajak aku ke dapur. Tapi akunya malas. Kalau sekarang merasa punya motivasi jadi semangat pengen bisa." Ucap Cia yang mulai mengulek bawang merah, bawang putih, dicampur ketumbar, kunyit bubuk serta garam.


"Gak ada kata terlambat buat belajar. Masak sendiri buat suami tuh ada kepuasan tersendiri." Puput tersenyum kecil. Menyerahkan potongan ayam yang sudah dicuci. Menyuruh Cia membalurkan bumbu halus ke permukaan daging. Lalu menyuruh adik iparnya itu merebus air dalam panci untuk ungkep daging ayam.


"Serainya potong-potong dan digeprek, Cia. Kasih daun salam dua lembar." Perintah Puput saat Cia mulai memasukan semua potongan ayam berjumlah 8 potong saat air setengah panci kecil itu sudah mendidih.


"Oke, Teh." Cia menurut.


"Kalau ada air kelapa, ngungkep ayamnya lebih mantap. Tapi pakai air biasa juga nikmat asalkan bumbunya lengkap, takaran garamnya pas."


"Ayam yang udah diungkep bisa disimpan di freezer. Sampai dua minggu tetap enak. Jadi kita gorengnya bisa bertahap."


Cia menyimak sambil manggut-manggut. Sambil menunggu air rebusan ayam susut, ia beralih menyimak sang kakak ipar yang akan membuat banana cake.


"Mumpung ada pisang cavandis nganggur di meja, kita eksekusi jadi dessert." Ajak Puput yang sat set menyiapkan wadah.


...***...


Karenina tiba di sebuah apartemen temannya. Begitu masuk, melempar bokong ke sofa dengan keras, berteriak kesal.


"Napa lo datang-datang kayak orang kesurupan?" Temannya yang mengenakan hot pant ikut duduk dengan menyilang kaki.


"Gue gagal deketin tante Ratna. Gue kesel sama cewek kampung yang songong itu. Dia datang pas gue lagi bertamu ke rumah tante Ratna. Lo bisa bantu gue ngasih pelajaran sama dia?" Ucap Karenina dengan muka merah padam dengan gigi bergemelutuk.


"Maksud lo bininya si Rama?" sang teman sudah mendengar berkali-kali curhatan Karenina.


"Ya. Kita cari cara halus buat intimidasi dia. Gue pengen si cewek kampung itu hidupnya di Jakarta gak tenang. Lama-lama nyerah dan pulang kampung." Karenina mengambil sebatang rokok yang tersaji di meja bersanding dengan sebotol wine.


"Lo mau rebut si Rama?"


Karenina mengepulkan asap putih dari mulutnya dengan pikiran yang menerawang. "Ini susah. Rama sudah ilfeel sama gue. Dia kelihatan cinta mati sama si cewek kampung itu. Hubungan gue sama James kandas. Gue jadi pengen liat Rama bernasib sama dengan gue. Menderita karena patah hati," sambungnya.


Keputusannya dulu berselingkuh di belakang Rama dengan pria bule, karena silau oleh jabatan CEO dan kekayaan lebih banyak serta dimanja dengan hadiah-hadiah mewah. Seiring waktu menjalani hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan. Dijanjikan akan dinikahi suatu saat nanti. Faktanya, habis manis sepah dibuang. Pacar bulenya kini berlabuh di pelukan perempuan lain.


"Lo bisa bantu gue, kan?" Karenina kembali meminta dukungan.

__ADS_1


"Sure. Buat bestie, gue akan setia kawan." Dua gelas sloki yang masih kosong diisi dengan wine. Keduanya bersulang.


...***...


Puput berada di rumah mertuanya sampai jam dua siang. Ikut makan siang bersama dengan Mami dan Cia. Menikmati hasil karya perdana masakan Cia yang heboh saat menggoreng ayam, karena minyak di penggorengan meletup-letup.


Puput melajukan mobilnya menuju kantor Rama. Sengaja datang tanpa memberi tahu sang suami.


"Selamat siang, Bu Putri." Nova bergegas berdiri melihat kedatangan istri boss yang tiba-tiba.


Puput tersenyum dan mengangguk. "Nih, ada oleh-oleh Turki buat mbak Nova." ujarnya sambil menyerahkan paper bag kecil.


"Alhamdulillah, makasih Bu Putri." Nova tersenyum girang. Mendekap oleh-oleh di dadanya.


"Pak Rama ada di dalam?" Puput beralih menanyakan suaminya.


"Ada, Bu. Baru pulang meeting dari luar." Nova mempersilakan Puput masuk ke ruangan bossnya.


Puput mengetuk pintu. Terdengar sahutan dari dalam menyuruh masuk. Tapi ia sengaja diam saja. Memasang telunjuk di bibir saat Nova menatap heran. Ia mengulang mengetuk pintu sambil menahan tawa.


Rama mendongak. Konsentrasinya memeriksa berkas terusik oleh suara ketukan kedua kali di pintu. Padahal ia sudah memerintahkan sang sekretaris masuk. Tidak ada janji temu dengan klien di siang sampai sore hari ini. Mengira jika yang mengetuk pintu adalah Nova.


Rama dengan mendengkus kesal memundurkan kursinya. Melangkah ke arah pintu dan siap menyemprot sekretarisnya itu.


"Saya bilang mas....." Ucapan kesalnya tergantung di udara menyadari siapa orang yang berdiri di depan pintu. Yang sedang tersenyum lebar.


"Sayang..." Rama melebarkan mata diiringi tersenyum lebar. Menarik tangan Puput yang kini tertawa renyah.


"Kamu nakal ya udah ngeprank Aa." Rama mengunci pintu. Memepet Puput berdiri rapat di pintu. "Kirain si Nova. Bikin kesel aja ketuk-ketuk pintu terus. Ini sih harus dihukum." ujarnya dengan tatapan gemas.


Rama membungkam bibir Puput yang masih tertawa-tawa. Ciuman sepihak itu berganti saling memagut, saling menyesap, penuh perasaan. Puput mengalungkan kedua tangan di leher Rama saat tautan bibir semakin diperdalam.


"Kenapa gak bilang dulu kalo mau ke sini, hm? Katanya mau di rumah Mami sampai sore." Ucap Rama saat kening saling beradu untuk menghirup oksigen bebas.


"Gak kuat. Ternyata keburu Dilan." Sahut Puput sambil jarinya terulur mengusap bibir Rama yang terkena noda lipstik.


"Dilan?!" Rama mengerutkan kening dengan sorot bingung. Menaikkan satu alisnya.


"Rindu." Jelas Puput sambil telunjuknya mengarsir rahang Rama dengan tatapan mendamba dan menggoda.


"Jangan mancing-mancing, Neng." Rama menarik tubuh Puput dan memeluknya erat. Harum lembut tubuh istrinya itu membangkitkan gairah kelakiannya. Ia menuntun sang istri ke kursi kebesarannya.


"Aku bawa bolu pisang nih. Tadi jadi mentor Cia masak ayam goreng sama bikin bolu pisang ini." Puput mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Aroma harum perpaduan pisang dan butter serta vanila menguar saat tutup kotak dibuka.


"Wah, Aa suka lihat kalian kompak. Kakak ipar yang baik and terbaik." Rama tulus memuji. Menarik pingggang Puput duduk di pangkuannya dengan perasaan membuncah.


Puput mengulas senyum malu. Beralih duduk dengan posisi miring untuk menyuapi Rama dengan sesendok bolu pisang yang sudah dipotong.


"Aa lagi sibuk ya?" Puput mengamati beberapa dokumen yang terhampar di meja. Beberapa ada yang ditandai dengan cakra dan coretan serta tulisan yang tak terbaca artinya. Seperti tulisan resep dokter


"Iya, Neng. Ada beberapa masalah. Ada kejanggalan di laporan keuangan. Aa udah nyuruh Damar nyari bantuan tim audit eksternal buat memeriksa." Wajah Rama berubah serius dan mulai nampak tersirat beban.


"Aa lanjutin aja kerjanya. Aku duduk di sofa nungguin Aa sampai pulang." Puput menyuapkan lagi potongan bolu pisang.


"Aa bisa kerja sambil meluk Neng geulis." Rama menerima suapan dengan senang hati. Mulutnya mengunyah, kedua tangannya bergerilya.

__ADS_1


Puput menggeleng. "Gak percaya ah. Yang ada malah gak akan konsen." Ia memaksa turun setelah Rama menghabiskan dua iris bolu pisang dengan memuji rasa yang enak dan tidak terlalu manis. Manis yang pas sesuai selera suaminya itu.


__ADS_2