
Kala terkejut melihat bangunan di depannya. Sebuah rumah mewah tiga lantai yang cat luarnya didominasi warna putih dan cokelat. Arsitekturnya sangat rumit dan terasa seperti bangunan yang ada pada film-film bertemakan pahlawan. Bangunan khas museum.
" Ayo masuk," Kevin mempersilahkan semuanya masuk. Termasuk Dian sebagai mantan istrinya.
Kala dan Cinta diam saja. Mereka mengekor di belakang keduanya sambil melihat setiap sudut ruangan yang luar biasa menarik. Pintu depannya saja sangat lebar, di tengah-tengah bangunan dan berwarna cokelat pekat. Ada ukiran-ukiran bunga di setiap sisi yang berbentuk persegi empat. Jendalanya juga lebar. Dua di sebelah kiri pintu dan dua di sebelah kanan pintu. Kayunya di cat warna serupa dengan pintu di tengah-tengah. Ada tanaman hias yang terawat di ujung halaman depan, ada satu set kursi kursi kayu dan meja di dekat jendela sebelah kiri, yang warna cokelat ua juga senada.
Melewati pintu, Kala terkejut dengan ruangan depannya yang seluas kontrakannya jika tak disekat-sekat. Langit-langitnya tinggi sehingga tanpa pendingin ruangan pun, ruangan ini akan terasa sejuk. Terdapat satu sofa panjang bermotif macan tutul. Sofa itu memiliki warna dasar cokelat tua, krem dan moka. Di depan sofa terdapat meja berbahan kayu. Sofa dan meja itu menghadap smart tv yang menempel di dinding. Di bawah smart tv terdapat bufet panjang yang isinya seperti barang-barang berbahan keramik dan poselen. Setiap sisi bufet terdapat guci yang berisi bunga-bunga artifisial setinggi dada orang dewasa.
" Istri kamu ada di dalam?" Dian berusaha membuka pembicaraan. Agar suasana tak terlalu hening.
" Gita lagi liburan dengan anak-anak ke Bali."
Kala tak terlalu mendengarkan percakapan mereka. Mata Kala masih melihat-lihat. Ia melihat foto-foto yang dipajang di atas sofa. Foto pernikahan Kevin dan perempuan yang tak Kala kenal. Sepertinya istri Kevin yang sekarang bukan artis. Namun, jelas perempuan di foto jauh terlihat lebih muda daripada Dian Miranti. Foto itu dicetak sangat besar dan terletak di antara dua foto yang lebih kecil. Foto di sebelah kanan foto pernikahan menunjukkan Kevin dan istrinya, namun di antara keduanya tampak anak perempuan yang sangat menggemaskan. Lalu, foto di sebelah kiri foto pernikahan, Kevin masih bersama istrinya, ada seorang gadis yang kira-kira berusia belasan tahun dan seorang anak lelaki yang sangat gemuk dan lucu.
" Itu anak istri dan anak-anak saya. Adik-adik kamu," Kevin tampak menyadari apa yang sedang Kala perhatikan.
Kala terkejut, dan melirik Dian sekilas. Siapa tahu mendengar Kevin mengakui istrinya yang lain, aktis itu merasa kecewa. Namun, Dian sepertinya baik-baik saja. Tak tampak ada sesuatu yang membuatnya kecewa atau apa.
" Namanya Gina. Anak perempuan pertama saya...Olivia dan adik laki-laki kamu Danil."
Kala mengangguk paham. Dia punya empat orang adik sekarang. Tiga perempuan dan satu laki-laki.
" Ayo, ngobrolnya di ruang tengah saja," Kevin kembali mempersilahkan semua orang untuk menuju ruang tengah. Di ruangan ini, rupanya lebih luas lagi. Ada lemari-lemari besar, patung, guci besar, meja kayu persegi dengan ukuran lumayan besar dan dikelilingi tujuh kursi di setiap sisinnya, guci-guci, lukisan-lukisan dan beberapa benda estetik lainnya.
__ADS_1
" Di sini saja ya ngobrolnya, mari duduk," lagi Kevin tak pernah bosan mempersilahkan.
" Sejak kapan kamu punya patung?" Dian bertanya. Matanya tak lepas dari patung harimau yang terbuat dari kayu.
" Itu Gita yang beli. Taulah, dia kan senang sekali dengan hal-hal yang berbau seni."
Dian mengangguk paham. Namun ia tak bertanya lagi.
Kevin menekan sesuatu di bawah meja. Membuat Kala sadar jika di antara dua kursi pasti ada benjolan yang warnanya dua tingkat lebih gelap dari warna keseluruhan meja kayu ini. Tak lama dua orang berseragam datang menghampiri dan memberi hormat pada Kevin.
" Tolong siapkan makan malam untuk kami berempat."
Selesai Kevin bicara, dua orang tersebut mengangguk dan pergi. Melihat hal demikian membuat Kala dan Cinta saling berpandangan. Kala tahu jika Ayah kandungnya adalah orang yang sangat kaya. Namun, ia dan Cinta tetap tak berkomentar apa-apa.
" Kala... bersikap nyamanlah di rumah Papa," Kevin tersenyum dan melanjutkan, " Niat Papa dan Mama mengajak kamu kemari karena ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting."
" Papa dan Mama mau menawarkan tempat tinggal untuk kamu."
" Maksudnya?"
Dian buru-buru bicara sebelum Kevin bicara duluan, " jadi maksud Papa kamu begini. Kami kan sudah bercerai, kamu sebagai anak mau tinggal dengan Mama atau dengan Papa?"
Kala sama sekali tak menyangka jika ia akan ditawari tinggal di tempat seperti ini. Mimpi saja tidak pernah, dan sekarang ia harus memilih. Ia melirik Cinta dan berbisik, " gimana?"
__ADS_1
" Terserah kamu."
Itu bukan jawaban. Kala benci jika Cinta mengatakan terserah. Jika boleh memilih, Kala ingin tinggal di rumah yang tak sebesar ini. Tapi, ia juga tak mau tinggal di kontrakan yang pengap dan panas.
" Jadi, kamu mau tinggal dengan Mama atau Papa?" Dian bertanya lagi.
" Kamu udah pernah ke rumahnya Dian Miranti?" Cinta tiba-tiba berbisik.
Belum. Kala menjawab dalam hati. Ia bahkan baru menginjakkan kakinya di kantor penyalur artis milik Dian Miranti sekali. Apalagi ke rumahnya. Kala agak sungkan tinggal di rumah Kevin karena banyak sekali penghuninya. Meski dari foto adik-adiknya tampak masih kecil-kecil, namun Kala merasa tak enak dengan Ibu Tirinya. Sedangkan jika ia memilih tinggal bersama Dian, ia sendiri tidak tahu di rumah Dian ada siapa selain dirinya. Bagi Kala ini pilihan yang membingungkan.
" Coba dulu aja beberapa hari tinggal di rumah Kevin dan beberapa kali tinggal di rumah Dian. Habis itu kamu putusin deh," Cinta berbisik di telinga kirinya, jika di sinetron-sinetron ini akan terlihat seperti ada setan yang berusaha membujuk manusia agar melakukan hal yang dilarang agama. Namun, Cinta sama sekali bukan setan dan ucapannya ada benarnya juga. Jika ia mencoba, paling tidak ia akan tahu lebih nyaman tinggal di mana.
" Kala," Kevin tampak tidak sabar.
Kala mengulas senyum dan mematangkan apa yang akan ia ucapkan, " karena saya belum terlalu mengenal Om... Eh, maksud saya Papa dan Mama, jadi saya putuskan untuk coba seminggu tinggal di sini dan seminggu tinggal di rumah Mama."
Kala lega. Akhirnya ia mengucapkannya juga. Namun, ia tidak tahu apakah ia melakukan hal yang benar atau malah sebaliknya.
Suasana hening. Kevin dan Dian saling pandang, seperti berpikir atau berinteraksi menggunakan telepati atau mereka dapat berkomunikasi dalam hati?
" Baiklah, kalau itu keputusan kamu," Kevin akhirnya mengiyakan.
Makanan tiba. Harumnya membuat perut Kala keroncongan. Di sebelahnya, Cinta terlihat sumringah melihat makanan yang sangat banyak dan bermacam-macam yang disajikan di atas meja. Ada ikan kuah kuning, Ayam goreng, Sop Kambing, lalapan, sambal, capcai, tumis kangkung, gorengan, buah-buahan, minuman soda, jus buah berwarna merah dan hijau serta air putih. Kala melihatnya sudah kenyang. Ia sampai bingung mau makan yang mana. Karena semuanya kelihatannya enak.
__ADS_1
" Ayo, makan dulu."
***