
Rama segera berdiri, mengenakan kaos dan pakaian kerjanya dengan cepat sebelum menghubungi Puput. Mata yang berbinar, senyum yang merekah, menghiasi wajah tampannya. Rasa syukur terus terucap lirih. Pujian kepada Sang Khalik yang telah memberi amanah secepat ini.
Rama memposisikan ponselnya di meja menggunakan Phone holder. Sambungan video sudah dilakukan. Sudah tidak sabar ingin melihat wajah yang ingin dipeluknya saat ini juga. Apa daya sedang berjauhan. Tak mungkin pula menyusul sekarang juga. Meeting yang sudah terjadwal dengan investor dari Singapura, tidak bisa dibatalkan begitu saja. Pun tidak bisa diwakilkan pada Damar. Alhasil, tetap harus bersabar menunggu sore untuk bisa berangkat ke Ciamis.
"Assalamu'alaikum....Aa." Sapa Puput yang terlihat sedang berada di dalam kamar di rumah Enin. Tersenyum manis.
"Wa'alaikum salam. Neng....sayang....makasih." Ucap Rama terbata-bata. Tercekat tidak bisa melanjutkan kata. Beralih menunjukkan kertas putih dan tespek. Hanya binar mata mewakili segala rasa yang membuncah di dada.
"Alhamdulillah, akhirnya Papa Rama nemuin juga kotak itu. Harusnya Aa melihatnya kemarin pas candle light dinner." Wajah Puput berubah mencebik.
"Iya maaf, Neng. Maaaaffff....Aa ngaku salah. Kan kemarin juga udah minta maaf. Maafin lagi ya!" Rama menunjukkan wajah penuh penyesalan. Apalagi Puput mengungkitnya lagi.
"Sudahlah. Jangan minta maaf terus. Lebaran masih lama. Aa udah sarapan belum?" Puput mengalihkan tema. Merasa kasihan juga melihat wajah Rama yang dipenuhi beban penyesalan.
"Belum. Nanti bentar lagi. Jadi Neng hamil berapa bulan? Neng udah bilang sama keluarga Ciamis?" Rama lebih berselera membahas kehamilan Puput.
"Belum tahu. Aku ingin ditemani Aa ke dokter kandungannya. Keluarga belum ada yang dikasih tahu juga. Karena aku pengen Aa dulu orang kedua yang tau." Jelas Puput.
"Jadi Aa bukan orang pertama yang tau? Siapa yang pertama?" Rama menatap penuh rasa penasaran. Dalam hati ada terbersit sedikit kecewa.
"Bi Lilis. Awalnya Bi Lilis yang curiga karena udah tiga malam aku suka bangun buat makan. Lalu nanya udah telat haid belum? nah aku baru sadar udah telat dua minggu. Waktu jalan sama Cia, sekalian aja beli tespek. Pulangnya aku tes, dan hasilnya itu. Dibantu Bi Lilis, aku masak buat nyambut Papa Rama dengan surprise dinner. Surprise ambyar. " Puput mencebikkan bibir di akhir ucapan.
Rama menerima sindiran Puput yang terus diungkit itu. Masih tergambar kekesalan di wajah cantik istrinya itu. Ia tetap menatap hangat dengan wajah penuh senyum.
"Neng, Aa pengennya majuin nyusul ke Ciamis sekarang juga. Tapi jam setengah dua mau ada meeting sama investor dari Singapura. Gak bisa dipending, gak bisa diwakilin ke Damar." Keluh Rama.
"Gak papa. Aa selesaikan aja dulu kerjanya. Nanti jam 10 an aku mau main ke RPA. Mampir ke ibu juga."
Rama mengangguk. "Tapi Aa gak ngizinin Neng nyetir sendiri. Minta dianter sama Mang Yaya. Pokoknya Umma gak boleh cape-cape!"
"Iya deh, Papa. Udah dulu ya. Aku mau nemenin Enin berjemur." Puput lebih dulu mengakhiri dengan mengucap salam dan ciuman dengan memanyunkan bibir.
Rama terkekeh. Bibir yang kemarin gagal diciumnya itu membuatnya gemas ingin menggigit. Dengan semangat ia memakai jas dan menyambar tas kerja. Ingin menuntaskan kerja hari ini lebih cepat. Raga di Jakarta, tapi hati dan pikiran sedang membayangkan berada di Ciamis memeluk Puput dan tak ingin melepaskannya.
"Bi, Puput lagi hamil. Aku baru tahu pas liat kotak kado di lemari." Rama mengadukan kebahagiaannya pada Bi Lilis yang sedang menyiapkan sarapan di meja. Meski asisten rumah tangganya sudah lebih dulu tahu.
"Alhamdulillah, Den Rama mau jadi Ayah. Nanti harus sabar ya ngadepin bumil kadang ngidam aneh-aneh. Nggak tau nanti Neng Puput ngidamnya seperti apa. Karena tiap bumil beda-beda." Jelas Bi Lilis.
"No problem. Aku akan jadi suami siaga." Rama berkata yakin.
Tiba di kantor, Rama tidak bisa menyembunyikan hati bahagianya yang terpancar dari wajah yang semringah. Berpapasan dengan karyawan pun selalu melempar senyum.
"Kemarin uring-uringan sekarang senyam-senyum. Mood swing banget sih lo." Selidik Damar yang masuk bersamaan di dalam lift khusus pejabat tinggi. Hanya mereka berdua di dalam lift itu.
"Lo bener. Dan gue dah dapat jawabannya. Mood swing gue ternyata bawaan baby. You know, Puput lagi hamil. Dia ngasih surprise hasil tespek di lemari. Gue baru nemuin tadi. Huft, udah gak sabar pengen buru-buru nyusul ke Ciamis." Jelas Rama begitu bersemangat dengan mata berbinar.
Damar menaikkan kedua alisnya. Turut senang mendengarnya. Tak lupa mengucapkan selamat sembari berpelukan ala laki.
"Pagi, Nova." Rama lebih dulu menyapa sekretaris saat akan memasuki ruang kerjanya. Langsung membuka pintu, tidak menunggu jawaban.
"Pagi, Pak Rama." Nova menjawab delay. Karena terkaget bossnya menyapa lebih dulu dengan wajah penuh senyum. Berbeda dengan seharian kemarin yang uring-uringan.
__ADS_1
"Kaget ya?" Damar menyentak Nova yang terbengong menatap pintu bossnya yang terbuka lebar.
"Astaga. Pak Damar bikin kaget aja." Nova yang terjengit, mengusap dadanya.
"Bossmu mau jadi Ayah. Makanya hari ini cerah ceria." Damar memberi bocoran. Ia kemudian melenggang menyusul masuk ke ruangan Rama setelah mendengar Nova berucap syukur.
"Neng, nanti kita kalau punya anak, panggilannya mau apa?"
"Aku pengen dipanggil Umma, ah. Kayak kartun Nusa Rara. Umma.....Umma. Hihi....lucu kedengerannya."
"Kalo Aa?"
"Hm, Aa pengen dipanggil Papa. Papa Rama. Wuih keren kedengerannya."
"Eh-eh, mau apa pake gendong-gendong segala?"
"Ssttt. Kita harus rajin bikin adonan RamPut junior."
Rama senyam-senyum mengingat percakapan saat malam terakhir di Istanbul. Puput ternyata mengingatnya juga. Papa dan Umma. Senyumnya makin merekah dalam luapan bahagia sembari menatap berkas yang dipegangnya.
"Jadi apakah Pak Rama setuju dengan ide yang kami usulkan ini?" Direktur pemasaran mengakhiri presentasi.
Damar menoleh karena sekian detik tidak ada jawaban yang terdengar. Pantas saja. Ternyata Rama sedang senyum-senyum meski terlihat sedang menatap berkas. Ia memperhatikan wajah-wajah peserta rapat internal perusahaan yang satu pandangan mengarah pada sang direktur. Nova sendiri menundukkan kepala, menahan senyum.
"Pak Rama. Gimana keputusannya?" Damar menepuk lengan Rama dengan gaya formal.
Rama terkaget. Baru tersadar dari lamunan. Ia memperbaiki sikap duduknya dan berdehem. "Jadi idenya seperti apa? Jelasin dengan detail ya, Pak!" ucapnya dengan menatap wajah sang direktur pemasaran penuh wibawa.
"Semuanya. Coffee break 15 menit!" Sambung Damar. Ia menepuk bahu Rama untuk keluar dari ruang rapat itu.
"Lo kenapa lagi sih? Kenapa gak fokus rapat?" Hardik Damar yang berjalan membawa Rama ke ruangannya selama break.
"Hehe, sorry. Gue inget Puput." Rama nyengir kuda.
...***...
Ciamis
"Udah cukup jalan-jalannya, Put." Ucap Enin meminta Puput berbalik arah pulang. Joging paginya terasa menyenangkan karena ditemani anak pertamanya dan cucu menantu.
"Ibu kalo capek, aku suruh mang Yaya jemput aja, gimana?" Ratna menatap khawatir kalau saja ibunya kelelahan.
"Segini mah gak cape. Lagian kan enggak lari-lari." Enin menolak dengan mengibaskan tangan.
Tiba di rumah sudah ada Ratih menunggu di teras. Di meja tersaji minuman dan makanan non gorengan. Seperti biasanya Enin duduk di kursi goyang.
"Ibu sekarang udah gak pusing?" Ucap Ratih sembari memberikan segelas air putih hangat.
"Gak ada. Hanya masih lemes aja." Enin meneguk perlahan air minumnya setelah berucap bismillah.
"Bu, ada yang mau nengok Ibu nanti siang abis jumatan." Ratih nampak serba salah menyampaikannya.
__ADS_1
Puput dan Ratna mendengarkan sembari mencicipi ubi bakar Cilembu.
"Siapa?!" Enin lebih tertarik memakan singkong rebus yang masih hangat.
"Ayahnya Panji, Bu. Kalo Ibu izinkan, katanya mau berangkat dari Bandung sama Panji. Kalo Ibu gak ngizinin, Ratih mau telepon Panji sekarang juga." Hatinya mendadak gundah saat lima belas menit yang lalu mendapat telepon dari nomer tidak dikenal. Yang diawal ucap salam, dadanya terkesiap mendengar suara yang masih dikenalnya itu. Anjar Syahreza.
"Masa iya Ibu nolak orang yang niat baik mau nengok. Ratih suruh Cucu masak buat ngejamu tamu."
Ratih mengangguk. Tanpa diperjelas juga sudah jelas jika ibunya welcome dengan kedatangan ayahnya Panji. Ia pun berlalu ke dalam rumah.
Giliran Puput sekarang yang akan menyampaikan kabar. Ia memberi kesempatan pada Enin dan Mami Ratna yang membahas tentang ayahnya Panji. Ia hanya menjadi pendengar saja. Dimana Enin menyampaikan harapan pada Mami Ratna. Berharap Bunda Ratih mau menjalin hubungan baik, menjalin lagi silaturahmi, minimal menjadi teman, demi kebahagian anak-anak.
"Mami, Enin, dua hari yang lalu aku tespek dan hasilnya garis dua pekat." Ucap Puput saat obrolan Enin dan Mami Ratna berakhir.
Mami Ratna urung mengambil singkong rebus. Menatap Puput dengan kaget campur senang. Ia segera memeluk menantunya itu diiringi ucap syukur.
"Ratna ini gimana. Puput hamil muda malah diajak perjalanan jauh." Enin yang juga berucap syukur, beralih menegur anak pertamanya itu.
Ratna yang sedang bersukacita, mendadak diam dengan wajah pias. Baru menyadari jika ucapan ibunya benar adanya.
"Lagi bahas apa ini, serius sekali." Ucap Ratih yang baru datang bergabung lagi.
"Puput hamil. Ibu jadi khawatir kandungannya kenapa-kenapa karena udah perjalanan jauh." Sahut Enin yang menoleh sekilas kepada Ratih. Beralih menatap Puput yang nampak salah tingkah.
"Mami gak salah kok. Emang akunya yang gak bilang. Tapi insyaallah kandunganku baik-baik saja, Nin. Aku gak mabok. Malah lapar melulu bawaannya." Jelas Puput meluruskan.
"Apa Rama udah tau, nak? Udah ke dokter?" Cecar Mami Ratna menatap Puput. Ia jadi merasa bersalah sudah mengajak Puput pergi ke Ciamis.
"Aa baru tau tadi, Mi. Aku ngasih surprise tespek di laci pas Aa mau ngambil kaos dalaman. Harusnya surprisenya malam kamis, terus kamis paginya bisa cek ke dokter . Tapi gagal. Jadinya ya belum ke dokter." Puput tersenyum meringis.
Mami Ratna mengerutkan kening. Mencermati ucapan Puput dengan seksama.
Malam kamis kan waktu Rama ke rumah. Numpang makan tapi diusir Papi. Jadi malam surprise itu gagal karena Rama sama Puput bermasalah.
Tanpa sadar Mami Ratna geleng-geleng kepala.
"Puput, sebaiknya periksa ke dokter sekarang. Mami yang akan antar. Mami jadi khawatir sama kandunganmu, nak."
"Kalo besok gimana, Mi? Nunggu Aa datang. Aa udah excited pengen nemenin ke dokter."
Mami Ratna mengalah. Meski punya rumah sakit sendiri di Bandung dan Jakarta, tapi kondisi darurat begini mengharuskan Puput cek ke dokter spesialis kandungan yang ada di Ciamis.
"Puput jangan kemana-mana hari ini. Diam di rumah, jangan sentuh pekerjaan rumah. Mami belum tenang sebelum tau hasil USG nanti."
"Tadinya mau main ke RPA, boleh Mi? Aku gak akan nyetir. Mau minta anter Mang Yaya. Aa juga udah ngizinin." Puput berusaha melobi.
"Nggak-nggak. Mami gak ngizinin. Puput lagi hamil muda. Belum tau lemah apa kuat kandungannya. Tunggu hasil USG dulu." Tegas Mami Ratna.
"Benar itu, Put. Hamil muda itu rawan. Lebih baik mencegah daripada terjadi yang tidak diharapkan." Bunda Ratih turut mendukung.
Meski Puput percaya diri dengan kondisinya. Namun ia menurut, mengalah. Ia akan menelepon Via untuk datang sepulang kerja. Kangen bertemu fisik dengan bestie nya itu.
__ADS_1