Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
116. Bukti Cinta Rama


__ADS_3

Puput sudah rapih dengan penampilannya. Setengah jam yang lalu Rama menelepon meminta datang ke kantor sore ini. Sebentar lagi sopir akan datang menjemput ke rumah.


"Mau pergi kemana, nak?" Sapa Mami Ratna begitu berpapasan di ujung tangga.


"Aa mau ngajak lihat rumah baru, Mi. Jadi sekarang aku disuruh ke kantor biar nanti berangkat sama-sama dari sana." Puput segera turun setelah Mbak Nur mengetuk pintu kamarnya, memberi tahu jika sopir sudah datang.


"Mau sekalian makan malam di luar juga, Mi." Puput mencium tangan Mami. "Aku pergi dulu, Mi. Mumpung belum jam bubar kantor, jadi tidak macet. Sopir sudah datang menjemput."


"Iya, sayang. Hati-hati di jalan. Tegur kalau sopirnya ngebut." Mami memberikan cipika cipiki. Puput menjawab dengan anggukkan. Kemudian mengucap salam.


Perjalanan ditempuh selama 30 menit menuju kantor. Ada Nova yang sudah menunggu di lobi. Bahkan turun mendekati mobil dan membukakan pintu. Membuat Puput tersenyum geli diperlakukan seperti itu. Tidak biasa.


"Bu Putri, apa kabarnya? Sudah lama tidak berkunjung ke kantor." Nova menyapa dengan ramah sambil mengulurkan tangan.


"Alhamdulillah baik, mbak Nova." Puput menyambut jabat tangan itu. Ia beralih melakukan cipika cipiki untuk lebih mengakrabkan diri. Agar Nova tidak sungkan hanya karena statusnya sebagai nyonya direktur utama.


Jam bubar kantor masih satu jam lagi. Sedikit orang yang lalu lalang di koridor. Terlihat dari kaca ruangan, para karyawan masih bergelut dengan pekerjaannya di balik kubikel. Puput dan Nova berjalan menuju lift khusus.


Puput mengucap salam saat masuk ke ruangan Rama. Suaminya itu menatap dan tersenyum sambil mengedipkan mata. Tangan kirinya mengapit ponsel di telinga, sedang melakukan perbincangan jarak jauh.


Puput memilih menunggu di sofa sambil membuka ponsel. Mengecek beberapa pesan yang baru masuk.


[Teh, aku diajarin kak Angga nyetir]


[Padahal tadinya mau latihan ke tempat kursus]


[Tapi kak Angga keukeuh mau ngajarin. Ya sudah, diterima deh. Mayan gratis 🤭]


[Latihan pertama dan kedua di lapang. Sekarang latihan ketiga kali mau di jalan. Bentar lagi dia mau jemput]


Puput tersenyum membaca empat pesan berturut-turut dari Aul.


[Oke. Hati-hati dan harus konsentrasi]


[Aul, Anggara nggak genit, kan?]


[Tendang aja anu nya kalo macem²]


Puput membuka room chat lainnya sambil menunggu balasan dari sang adik. Grup alumni SMP lagi ramai oleh candaan. Ia hanya menyimak saja sambil tersenyum.


"Hayo, lagi lihat apa?" Tahu-tahu Rama sudah duduk di sampingnya dan memberi kecupan di pipi.


Puput menoleh dan mengulas senyum manis. "Lagi chattingan sama Aul. Dia laporan lagi belajar nyetir diajarin sama Anggara. Karena Anggara yang keukeuh menawarkan diri."


Rama terdiam sesaat. "Aul nggak pacaran sama Anggara, kan?"


Puput menggeleng. "Aul mengikuti prinsip aku dulu. Fokus tamatin kuliah. Say no pacaran."

__ADS_1


Rama manggut-manggut. "Sayang, tunggu sebentar. Aku mandi dulu." Sebelum beranjak, tak ingin terlewatkan untuk memagut dulu bibir manis yang sudah menjadi candunya itu.


...***...


Rama mengajak Puput melihat rumah baru yang siang tadi selesai direnovasi dibeberapa bagian. Serta menambahkan beberapa furnitur. Kemarin ini baru sebatas bercerita sudah membeli rumah tanpa meminta saran istrinya itu. Sengaja, ingin memberi kejutan.


Rama pergi berdua tanpa sopir. Mobilnya tiba di depan pintu gerbang berwarna hitam yang berada di kawasan perumahan elit. Tanpa turun, ia menekan remot control yang dirogoh dari saku jasnya. Pintu gerbang pun bergerak, bergeser ke kanan.


Pintu utama rumah dua lantai itu dibuka. Dengan satu kali tepukan tangan, semua lampu menyala. Puput sesaat mematung, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Takjub dengan sajian pemandangan interior bergaya minimalis modern. Dengan dominasi warna putih mutiara.


"MasyaAllah, bagus sekali, Aa." Puput menatap sang suami penuh binar keriaan.


Rama tersenyum. "Menurutmu sayang, bagian mana tempat paling pavorit di rumah?"


"Dapur." Puput menjawab dan mengangguk pasti.


"Sudah kuduga." Rama menjawil hidung Puput dengan gemas. Ia sudah bisa membaca karakter istrinya itu. "Ayo kita lihat!"


Dapur dengan fasilitas serba modern tersaji di depan mata. Kulkas empat pintu side by side, kompor gas tanam, kompor listrik, microwave, dan alat masak lainnya terlihat mengkilap karena baru. Lagi-lagi Puput dibuat takjub. Menyusuri setiap inci kitchen set dengan raut bahagia.


"Ya Allah, ini sih super bagus. Aku baru lihat model dapur seperti ini," ucapnya jujur. "Makasih, sayang. Gini mah aku bakalan betah tinggal di dapur." Sebuah hadiah kecupan dilayangkan ke pipi. Tapi Rama menoleh sehingga kecupan itu mengenai bibir.


Puput memekik saat Rama mengangkat tubuhnya sehingga terduduk di meja marmer tempat mengolah bahan masakan.


"Ngasih hadiahnya yang bener!" Rama merajuk dengan tatapan mendamba.


"Eh, tunggu!" Puput menegakkan punggung. Urung memulai ciuman padahal Rama sudah memejamkan mata.


"Jangan di sini, Aa. Ada CCTV." Puput menunjuk dengan dagu. Tanpa sengaja matanya menatap sudut atas saat baru saja mendekatkan bibir.


"Semua ruang sudah terpasang CCTV kecuali kamar tidur. Dan terhubung ke hape aku. Jadi jangan takut orang lain lihat aksi kita." Kali ini Rama tak mau lagi menunggu. Lebih dulu menyosor, membungkam bibir Puput yang hendak bersuara lagi.


Kamar utama berada di lantai dua. Sama luasnya dengan kamar yang berada di rumah Papi Krisna. Hanya interior yang berbeda. Puput membuka jendela balkon usai berkeliling sampai sudut kamar mandi. Rama menyusul dengan membawa sebuah map di tangan, berdiri di sampingnya.


"Apa ini?" Puput mengernyit menerima uluran map.


"Buka aja, sayang." Rama beralih berdiri di belakang Puput. Memeluknya dengan tangan membelit perut. Sambil menyandarkan dagu di bahu istrinya itu.


"Aa, ini....." Puput membelalak membacanya. Sertifikat Hak Milik, dan namanya jelas tertera.


"Iya, sayang. Rumah ini atas nama Putri Kirana. Ini bukti cinta pada istriku." Rama mengecup pipi dengan penuh perasaan.


"Tapi...."Puput berusaha memutar tubuh. Tapi Rama menahannya. Lagi nyaman dengan posisi itu.


"Kamu layak menerimanya. Karena kamu begitu berharga bagiku." Rama mengeratkan pelukan tanpa menyakiti. Memberi lagi satu kecupan mesra di telinga yang terbalut hijab.


"Sayang, masih ingat peristiwa di hutan pinus? Aku hampir saja kehilangan nyawa kalau kamu terlambat datang. Padahal kamu lagi terluka. Pengorbanan istriku ini tak akan aku lupa seumur hidup. Aku sangat bersyukur masih bisa memelukmu seperti ini." Rama memejamkan mata dengan wajah menelusup di ceruk leher Puput. Sejenak meresapi aroma harum tubuh sang istri. Sesaat menikmati rasa hangat yang membuncah di dada.

__ADS_1


Puput tersenyum penuh haru. Menatap senja yang kian surut dengan mata berkaca-kaca. Kumandang adzan magrib mulai terdengar. Ia mengusap-ngusap lengan Rama yang berada di perutnya. Batinnya berdoa di pergantian waktu siang menuju malam ini. Berharap tidak ada lagi ujian berat yang akan menerpa bahtera rumah tangganya.


...***...


Usai melaksanakan salat magrib di rumah baru, yang sepakat akan mulai ditempati lusa. Dengan pertimbangan mumpung keluarga dari Ciamis besok datang. Sekalian akan mengadakan syukuran di rumah baru itu. Rama melajukan mobilnya menuju restoran untuk makan malam.


Playlist lagu romantis diputar dengan volume sedang. Rama mengemudi dengan satu tangan di lalu lintas yang padat merayap. Tangan kirinya saling bertautan dengan tangan Puput. Sesekali mengangkatnya untuk dikecup. Sekilas saling menatap hangat sambil melempar senyum.


Restoran menu Turki menjadi tujuan. Setelah sebelumnya melakukan reservasi dulu untuk mendapatkan private room.


"Aa, sering makan di sini ya?" Puput menatap kagum interior dengan ciri khas Turki yang sangat kental. Seolah sedang berada di negaranya.


"Baru sekali. Itupun udah lama banget. Sengaja milih tempat ini, pemanasan sebelum berangkat ke Turki buat honeymoon." Rama mengedipkan mata. Membuat Puput tersenyum malu dengan pipi yang merona.


Beberapa menu andalan dipesan. Puput mencoba sultan platter, iskender kebab, dan minuman Apple tea. Rama memesan menu berbeda agar nantinya bisa saling mencicipi. Red peper, soup khas Turki, serta chiken kebab. Tak lupa pula memesan ice cream sebagai hidangan penutup.


Satu jam menikmati makan malam romantis. Saling menyuapi diselingi canda tawa. Tak akan ada yang terganggu karena berada di private room. Hanya kebahagiaan mewarnai dua insan yang menikmati pacaran halal.


"Sayang, mau pergi kemana lagi?" Rama memeluk bahu Puput keluar dari pintu restoran.


"RAMA!"


Puput urung menjawab karena mendengar suara perempuan yang memanggil nama suaminya itu. Langkahnya terhenti, menatap perempuan berjalan dengan anggun mendekatinya. Melirik ke samping, nampak Rama yang masih erat memeluk bahunya, berubah masam.


"Rama, apa kabar?" Perempuan cantik berambut panjang terurai itu mengulurkan tangan. Wajahnya nampak semringah.


"Baik." Rama menjawab datar dan bergeming memeluk Puput. Membiarkan tangan mantannya itu menggantung di udara.


"Permisi. Kami mau pulang." Rama akan melanjutkan langkah, namun jalannya dijegal.


"Tunggu!" Perempuan itu beralih menatap Puput. Memindai dari atas sampai bawah dengan sorot mata menyipit yang tidak terbaca maksudnya.


"Aku Karenina. Aku____"


"Oh, mantannya suami aku ya?!" Puput memotong ucapan dengan raut tenang.


"Su-suami?!" Perempuan bernama Karenina yang baru seminggu kembali ke tanah air, jelas terkejut. "Rama, kamu kapan nikah? Kenapa nggak ngabarin?" ujarnya beralih menatap Rama.


"Bukan urusanmu." Jawab Rama ketus. Mood bahagia malam ini menjadi rusak oleh pertemuan dengan mantan yang tak terduga.


"Sayang, nggak boleh gitu." Puput mengusap lembut rahang Rama diiringi senyum manis. Sengaja memamerkan kemesraan di depan mantan tunangan Rama yang menyaksikan dengan mata mendelik. "Mumpung ketemu, sekalian aja undang dia ke resepsi kita, sayang."


Bukannya menjawab. Rama beralih menarik tangan Puput dan berjalan melewati Karenina menuju mobil.


"Rama, tunggu. Aku ingin bicara sebentar saja. Please!" Karenina mengejar dan menahan pintu mobil yang akan dibuka.


Membuat Puput urung masuk dan berdiri di samping pintu menatap Karenina yang sempat mencekal lengan Rama. Namun segera ditepis suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2