Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
70. Awal Hidup Baru?


__ADS_3

"Aku mau curhat soal Kak Damar. Masih ingat nggak sama sohibnya Kak Rama itu?" Cia duduk santai dengan punggung dan kepala direbahkan di sandaran jok. Dengan kepala miring menghadap Puput meski orang yang diajak bicara lurus menatap jalanan.


"Iya ingat." Sahut Puput. Perjumpaannya dengan Damar bisa dihitung dengan jemari satu tangan. Rama pun sudah menerangkan posisi Damar bukan hanya sahabat tapi juga sebagai asistennya di perusahaan. Memberi kepercayaan penuh sebagai wakil untuk menghandle pekerjaan di kantor pusat jika Rama berada di luar kota atau di luar negeri.


"Semalam Kak Rama ngasih bocoran kalau Kak Damar selama ini sayang sama aku bukan sebagai adik tapi lebih dari itu. Seperti halnya rasa sayang Kak Rama sama kamu, Put."


"Oh ya?!" Puput menoleh sekilas dengan raut terkejut sekaligus antusias ingin mendengar kelanjutannya.


"Tadinya aku gak percaya, tapi Kak Rama meyakinkan. Meskipun katanya Kak Damar gak pernah curhat tapi Kak Rama bisa menilai. Aku sampe kepikiran, gak bisa tidur. Jadi kebayang flashback kedekatan aku selama ini. Aku jadi meraba hati...." Pandangan Cia menerawang dengan wajah berubah bersemu.


"Aku biasanya tiap pagi suka ngechat ngingetin Kak Damar sarapan dengan pikiran lempeng-lempeng aja. Pagi tadi alfa. Aku ngerasa.....gimana ya. Jadi ada rasa canggung gitu." Cia merubah posisi duduk menjadi tegak.


"Hmm, kalau boleh tahu. Perasaanmu setelah putus sama Adit gimana?" Puput sekilas menoleh untuk melihat air muka Cia.


"Aku lebih ngerasain kecewa and trauma sama kelakuan brengseknya Adit. Dia minta kesempatan kedua, aku tegas gak mau. Patah hati aku terhibur oleh Kak Damar yang kelakuannya bikin aku ketawa. Sedih aku terobati oleh support system dari keluarga termasuk keluargamu juga, Put."


"Selama di sini, tiap hari kita komunikasi. Kadang Kak Damar yang telpon atau vc, kadang aku yang mulai. Aku kira itu perhatian seorang kakak. Aku selalu seneng setiap hape bunyi dan melihat nama Kak Damar muncul di layar. Menurutmu, rasaku sama Kak Damar bisa diartikan apa?" Cia benar-benar butuh pendapat orang luar. Karena dirinya masih bingung menyikapi perasaannya sendiri.


Puput yang sedari tadi menyimak curhatan Cia, manggut-manggut. "Kalau mendengar ceritamu barusan, menurutku selama ini kadar cinta kamu sama Adit biasa saja. Dan aku menebak kamu sangat nyaman sama Kak Damar. Bisa jadi kamu juga punya rasa yang sama dengan Kak Damar. Hanya selama ini kamu gak menyadarinya."


"Sekarang gini aja....tes rasa deh. Setelah tahu perasaan Kak Damar sebenarnya, nanti kalau dia telpon, raba hati dan jantung, apa tetap biasa aja atau jadi grogi dan deg degan." Jelas Puput diiringi senyuman kecil yang tak terlihat oleh Cia. Karena saran itu sebenarnya adalah pengalamannya terhadap Rama. Yang sampai saat ini pun jantung selalu tidak aman jika tengah berdekatan.


Tiba-tiba keheningan yang baru tercipta, terusik oleh dering ponsel di dalam tas Cia.


"Hwua....panjang umur. Kak Damar vc." Cia membelalakkan mata. "Aduh gimana ini....eh beneran aku jadi grogi nrimanya. Ntar tar....ngaca dulu."


Puput terkekeh melihat kehebohan Cia yang memutar spion tengah. Berkaca menatap wajah dan merapihkan kerudung. Bersamaan dengan mobil berhenti di lampu merah pertama.


"Hai, Kak." Cia memasang senyum penuh saat menatap wajah Damar yang tengah berada di ruang kantor.


Tidak ada sahutan. Karena Damar tengah menatap dengan intens. Bahkan mendekatkan wajah seolah ingin memastikan keaslian wajah yang muncul di layarnya. "Eh beneran Cia kan ini?!"


Membuat Cia mencebikkan bibir. "Bukan. Ini sama Munaroh."


Puput yang mendengar, menahan tawa. Malah terdengar Damar tertawa lepas.


"Cantik banget Neng pakai kerudung. Mau ke pengajian ya?" Kira Damar. Karena melihat Cia tengah duduk di dalam mobil.


Cia menggeleng. "Mulai hari ini aku lagi belajar hijrah, Kak. Ini sama Puput mau shopping beli baju baru." Sejenak ponselnya diarahkan kepada Puput yang merespon dengan melambaikan tangan.


"Alhamdulillah....aku suka." Damar mengacungkan jempol dan senyuman merekah. "Tadi pagi hampa karena gak ada yang bawel ngingetin sarapan. Kirain kamu sakit. Makanya nyempetin dulu vc sebelum meeting nih."


Cia mendadak gugup untuk memberi alasan. "Maaf tadi nemenin Enin joging nggak bawa hape," ujarnya sambil tersenyum meringis.


"It's oke. Yang penting kamu baik-baik aja, aku tenang. Udah dulu ya, klien udah datang. Have fun kalian." Damar bersiap mengakhiri sambungan karena terdengar ketukan di pintu.


"Eh satu lagi. Sabtu besok aku ke Ciamis. Pengen liat langsung wajah baru Cia aku. Bye---!"


Sambungan video yang tergesa-gesa itu sudah berakhir. Tidak ada kesempatan Cia untuk menjawab. Masih terkesima dengan kalimat terakhir Damar.


"Ehemm....Cia aku, mingkem! Ada lalat tuh." Godaan Puput menyadarkan Cia dari aksi mematungnya. Mengatupkan bibir yang spontan menganga karena baru saja terkesima. Berakhir dengan pipi yang bersemu merah.


"Ya Allah. Kak Damar mau datang. Aduuuh kenapa jantungku jadi nggak karuan." Cia meraba dadanya yang terasa degupnya sangat kencang.


"Fixed. Kamu cinta sama Kak Damar, Cia." Puput menoleh dan tersenyum simpul. Ia leluasa menggoda Cia karena mobil kembali berhenti di lampu merah kedua. "Semoga jodoh ya. Pasti semua ngedukung kamu karena udah pada mengenal Kak Damar."

__ADS_1


Membuat wajah Cia kembali merona dan tersenyum meringis malu.


"Eh, Put. Itu polisinya ganteng ya!" Cia beralih fokus dan topik. Menatap jalan di depannya yang tengah ada rajia. Nampak seorang polisi muda di depan taman kota Tasik, mencegat pemotor yang berboncengan tanpa menggunakan helm.


"Aeh-aeh....Kak Damar mau dikemanain?" Puput geleng-geleng kepala melihat antusisme Cia memandangi Polantas itu.


"Hehe...cuci mata ini mah. Siang-siang biar nggak ngantuk." Cia berkilah diiringi cekikikkan.


Puput melajukan mobil setelah melewati lampu merah ketiga, dengan perlahan. Sengaja berhenti di samping polisi yang sudah mengarahkan pemotor yang kena tilang itu ke pos. Lalu menurunkan kaca jendela sampai bawah. "Pak, saya mau ditilang dong!"


Cia membelalakkan mata mendengar ucapan Puput. Sang polisi tampan menatap pengemudi dengan kening mengkerut, lalu....


"Haiss kirain siapa. Ternyata jawara Putri Kirana." Sang polisi dengan tulisan nama di dada "Anggara", berubah tersenyum semringah. Meminta Puput menepikan mobil lebih ke pinggir agar tidak menghalangi pengguna jalan lain.


"Berdua aja nih. Mau pada kemana?" Anggara menyempatkan melongok ke arah dalam.


"Lagi ngukur jalan sampe ke ujung HZ." Jawaban iseng Puput membuat sang polantas tertawa menampakkan kedua lesung pipi.


Ughh....manise bang.


Cia yang menjadi penonton canda Puput dan Anggara, senyam senyum.


"Met shopping, Jawara tercantik. Sorry ya, aku nggak hadir pas pertandingan. Bentrok sama tugas lapangan." Anggara faham yang dimaksud ujung Hz. Pasti mau ke mall teramai di kawasan Tasik.


"Gak papa. Tapi aktif ngobrol dong di grup. Jangan ngintip doang. Intel bukan. Yang ada ntar bintitan." Lagi, Anggara tertawa lepas mendengar ucapan penuh keakraban itu.


"Ngomong-ngomong, beda ya jawara mah tongkrongannya juga garang bukan feminim." Anggara memuji mobil yang dipakai Puput. Ia sendiri mengagumi. "Mana makin geulis aja kamu, Put. Glowing in and out. Kayaknya kalo ada kompetisi duel di ring buat dapetin kamu, bakal banyak cowok yang daftar nih." Anggara terkekeh sambil melipat tangan di dada. Ia masih berdiri di samping pintu kemudi.


"Ehmm." Cia berdehem.


"Ini bukan mobil aku. Tapi mobil kakaknya ini nih." Puput menepuk-nepuk bahu Cia. Tetap dengan gayanya yang santai dan tenang.


"Angga, ayo kenalin dulu...." Puput tersenyum. Mengerti akan maksud Cia berdehem barusan.


"Hai, aku Cia. CALON ADIK IPARNYA PUPUT." Cia berkata penuh tekanan. Mengatupkan tangan di dada diiringi senyum ramah.


"Anggara." Sang polisi berlesung pipi itu mengangguk tak kalah ramah. "Maaf ya mbak, aku hanya becanda barusan. Puput ini my best friend." sambungnya, mengklarifikasi ucapannya tadi. Ditanggapi Cia dengan anggukkan penuh senyum.


"Put, awas kalau nikah gak ngundang!" Ancam Anggara saat Puput menyalakan lagi mesin mobil bersiap melanjutkan perjalanan.


"Minggu depan Puput akan lamaran sama kakak aku. Nanti kami undang, pak polisi." Cia yang menyambar menjawab. Puput tersenyum simpul diiringi gelengan kecil. Calon adik ipar 11 12 posesifnya dengan calon suami.


"Siap. Ditunggu!" Anggara memberi hormat. Diujung perjumpaan ia meminta foto selfie yang akan dikirim ke grup "SILATurahmi".


Setelah mobil bergerak memasuki jalanan HZ, Cia buka suara. "Put, Anggara teman sekolah?" tanyanya penasaran.


"Bukan. Dia teman di komunitas silat. Asli Tasik. Dulu pernah berguru di padepokan Kang Acil. Katanya butuh ilmu beladiri buat menunjang profesinya yang sering turun ke jalan."


Cia manggut-manggut. Sampai mobil tiba di parkiran mall, tak disangka ketemu lagi pemuda tampan yang mengenal Puput. Sama-sama parkir bersisian. Saling sapa dan bertanya kabar. Cia pun dikenalkan dengan pria berpostur tinggi atletis itu. Yang ternyata seorang atlet basket.


"Put, kayaknya temen kamu banyakkan cowok ya? Mana keren-keren lagi." Cia mensejajari langkah Puput yang berjalan menuju pintu masuk.


Puput terkekeh. "Bisa dibilang iya. Tapi temen cewek juga gak kalah banyak. Hanya saja lebih supel sama cowok. Kalo temen cewek tuh ribet suka jaim dan gengsian. Kecuali sahabat aku si Novia. Kita kompak, bersikap apa adanya."


"Kalo si Billy barusan, aku kenalnya waktu SMA, sama-sama ikut PORDA. Aku wakil silat, dia wakil basket. Sekarang dia masih aktif membela klub Bandung."

__ADS_1


Cia manggut-manggut. Bersama Puput, ia bisa lepas dari rasa takut bertemu orang-orang baru. Malah berbinar riang, merasa mengenal dunia baru, dunia pertemanan Puput yang unik menurutnya.


Masuk ke dalam mall, tentu saja membuat lapar mata. Cia memborong apa yang diinginkan. Memaksa Puput untuk membeli barang banyak sepertinya. Harus terus dipaksa, karena Puput nampak sungkan menggunakan kartu debit bekal dari Rama itu.


"Baju sehari-hari udah, gamis udah, sepatu udah, tasnya gak ada yang branded ya. Nanti aja kita beli di Jakarta." Cia mengabsen tentengan miliknya juga milik Puput.


"Pilih baju ngantor, Put! Kamu kan bakal jadi leader. Harus tampil keren." Cia mendorong punggung Puput yang menolak belanja lagi. Membantu memilihkan beberapa stel karena Puput banyak melongo melihat bandrol harga.


...***...


POV Puput


Entah sudah berapa juta uang yang dihabiskan buat belanja. Aku nolak dan udah lemas. Bukan lemas karena pegal kaki tapi lemas dengan brandol harga. Aku biasa belanja mengukur kecocokkan harga dan isi dompet. Ini kebalik. Bersama Cia, prioritaskan suka dulu, harga nomer dua. Tak dilirik malah harganya. Langsung kasih ke pramuniaga saat sudah dicoba dan puas. Jadinya aku pasrah aja, biar Cia yang memilihkan.


"Sudah, Cia. Nanti kakakmu marah gimana? Dikira aku yang boros, matre. Aduhhh gawat. Bukan aku banget ini." Aku menepuk jidat. Cia malah tertawa.


"Put, yang kita beli brand lokal. Nominal segini baru seujung kuku. Kak Rama mana mungkin marah. Tadi aja bilangnya SEPUASNYA. Nanti deh aku ajak belanja di Jakarta beli brand luar, jangan pingsan ya." Cia tertawa lepas. Sepertinya ia senang sekali dari tadi mentertawakan aku yang pias setiap lihat price tag.


"Beli apalagi ya?" Cia nampak berpikir setelah memilihkan baju-baju kantor buat aku.


"Udah, Cia. Ini udah sore. Kita shalat ashar dulu dan pulang!" Tegas aku.


"Ya nanti dulu dong. Shalat terus makan, terus beli oleh-oleh. Baru pulang." Ralat Cia. Aku menurut. Sama-sama menenteng barang belanjaan yang memenuhi kedua tangan untuk disimpan di mobil. Karena mobil terparkir dekat masjid.


"Gesek dulu uang cash, Put. Buat makan dan beli oleh-oleh." Cia menggandeng lenganku kembali masuk ke dalam mall.


Aku mengangguk menurut. "Ngambil berapa?"


"Enam juta aja. Tadi aku liat ada jam tangan sport bagus deh. Beli lah buat Zaky biar tambah macho. Buat Aul kan udah sepatu sama baju. Ami sama Ibu beli apa ya?" Malah Cia yang dari tadi sibuk memikirkan keluargaku.


"Ami sama ibu mah beli pizza aja." Tapi pendapatku malah didebat Cia.


"Ya beda dong. Itu kan oleh-oleh makanan. Harus beli juga oleh-oleh barang."


Aku pasrah saja. Terserah Cia. Masuk ke ATM Center, aku menggesek uang sesuai yang dipinta calon adik ipar itu. Tiga kali penarikan. Penasaran saat penarikan ketiga, jantungku berdebar kencang menunggu struk keluar.


"Put, udah?" Suara Cia yang menunggu di luar pintu ATM Center, mengagetkanku yang tengah melotot dan menganga. Bagaimana tidak, aku tengah mengeja cara baca saldo yang ekornya panjang. Akhirnya, aku masukkan saja dalam tas buat nanti dipelajari di rumah. Keluar dari ATM Center dengan tangan berkeringat dingin.


Aku mau menyerahkan uang 6 juta itu, tapi Cia menggeleng. "Kamu aja yang pegang," ujarnya.


"Wah, ada juga disini produk perawatan kesukaanku." Cia semringah menunjuk counter The Loly Shop. Aku tahu merek itu. Meski tak mampu beli tapi tidak kudet informasi. Produk perawatan tubuh berbahan pure organik. Yang mana satu lulur kemasan kecil saja harganya 300 ribu. Belum lagi lotion, sabun, dan yang lainnya.


"Buat kamu kan, bukan buat aku?" Aku sudah pasang kuda-kuda di awal.


"Ya buat kamu lah. Buat perawatan tubuh menjelang lamaran. Nanti lain waktu, kamu aku antar ke klinik skin care. Biar makin canciiik." Enteng sekali Cia bicara. Aku malah semaput. Apalagi setelah ditotal harga, dua juta tiga ratus ribu. Aku seret menelan ludah.


"Cia, padahal beli di bawah aja di supermarket. Lulur merek nama kamu, cuma 20 ribuan." Cia malah tertawa dan menggandeng tangan aku yang menenteng paper bag perawatan tubuh lengkap. Kami menuju cafetaria buat makan sambil menunggu pesanan pizza beres.


Aku lagi-lagi harus harus menghela nafas perlahan. Usai makan, Cia mengajak balik lagi ke gerai pakaian. Membeli gamis dan tas buat Ibu. Juga Baju dan sepatu buat Ami. Karena setelah keliling tidak menemukan barang lain yang cocok.


"Ah, senangnya hari ini aku...." Cia begitu tanpa beban mengekspresikan diri begitu duduk di dalam mobil.


Kalau aku hanya membatin melihat tumpukan belanjaan yang memenuhi jok baris tengah dan belakang.


Inikah awal hidup baru aku?

__ADS_1


__ADS_2