
Puput memang memberitahu Ibu tentang musibah di tol serta hilangnya Rama di bandara. Namun tak menyangka jika sang ibu akan datang ke Jakarta bersama Enin dan Bibi Ratih. Tidak ada kabar sebelumnya.
"Teteh, sabar ya!" Ibu memeluk Puput dan mengusap-ngusap bahunya lembut.
Puput wanita mandiri dan bermental kuat. Semua itu hasil didikan alamarhum ayah, tuntutan sebagai anak sulung yang harus mengayomi adik-adiknya. Ia menahan kesedihannya dalam hati, mampu mengerem desakan air mata sehingga yang luruh hanya kaca-kaca. Tapi satu kalimat ibu hari ini mampu merobohkan kekuatan mentalnya. Ia menangis tergugu bak luapan air yang jebol dari bendungan.
Akbar. Pria itu usai menyalami Krisna dan Ratna yang merasa surprise akan kedatangannya. Kini berdiri termangu menatap pemandangan dua wanita yang berada di sudut ruang, memisahkan diri dari kumpulan orang di ruang tengah. Tangis wanita yang pilu itu refleksi rasa kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Otaknya menyimpulkan, jika Putri Kirana yang sudah mengusik pikirannya itu sangat mencintai Rama. Itu artinya, rasa yang akan berkembang harus dipupus. Harus berganti empati. Karena wanita itu milik saudaranya. Bisakah? Ia menggaruk tengkuk yang tidak gatal, menghela dalam hati. Nasib.
"Puput, kenapa di depan Mami mesti nahan diri, nak?" Mami Ratna mendekati sepasang ibu dan anak yang memisahkan diri itu. "Kalau mau nangis, Mami juga bersedia memberimu pelukan. Sini, sayang." Ia meraih bahu Puput yang tengah menunduk sambil menyeka air mata di pipi. Memaklumi, jika menantunya itu mungkin merasa canggung terhadapnya. Ia mengajak besan dan sang menantu bergabung lagi di ruang tamu.
Tangis Puput menyadarkan Mami Ratna jika selama dua hari ini ia yang paling histeris menghadapi kenyataan tak mengenakkan itu. Ia yang malah ditenangkan oleh sang menantu. Sampai lupa jika Puput juga sama-sama merasa kehilangan dan butuh pelukan yang menenangkan.
Puput merasa senang dengan kedatangan Ibu. Support dari Aul dan Zaky juga tak kalah hadir lewat chat. Ini hari ketiga upaya pencarian Rama. Belum ada kabar dari pihak kepolisian. Tapi siang ini kabar baik datang dari anak buah Papi Krisna. Sopir gadungan yang menjemput Rama di bandara, sudah tertangkap.
"Semuanya, aku tinggal dulu ya!" Krisna pamit pada keluarganya yang berkumpul di ruang tengah. Ia usai berbicara dengan Akbar di ruang kerja. Anak sepupunya itu siap membantu dengan melibatkan ahli IT di perusahaannya yang juga punya skill sebagai hacker. Krisna sudah memberikan beberapa nomor kontak yang dicurigai sebagai dalang, untuk disadap. Sekarang ia akan ke markas tempat disekapnya sopir gadungan itu.
"Om, boleh aku ikut?" Akbar mengikuti Krisna yang ditemani Johan sampai ke teras. Ingin sekali mendampingi Om nya itu.
Krisna menggeleng. "Tugasmu cukup update informasi penyadapan pada Johan. Ingat, harus rapih. Jangan sampai timbul masalah baru karena ini kategori spionase!"
"Oke, Om." Akbar mengangguk patuh. Ia pun memilih pamit usai berada setengah hari di rumah Krisna. Ingin sekali ada kesempatan berbicara dengan Puput, yang awal masuk tadi nampak kaget melihat kedatangannya. Namun kesempatan belum ada, karena wanita itu selalu berkumpul bersama yang lainnya di ruang tengah.
...***...
Di dalam mobil Krisna kini berjumlah 4 orang. Dua bodyguard yang salah satunya menjadi sopir, membawa mobil ke wilayah pinggiran Jakarta menuju gudang lama.
"Ada kabar lagi dari pembantunya Zara?" Krisna menoleh pada Johan yang tengah memeriksa email laporan perusahaan. Meski kabar sebelumnya sudah dipastikan pada waktu kejadian Zara berada di rumah dengan teman-temannya, tapi Krisna masih mencurigai gadis itu. Sehingga nomor kontak anaknya Rio itu masuk pada daftar penyadapan.
"Zara keluar rumah dengan ibunya. Katanya shopping, Pak. Sampai saat ini belum ada gelagat yang mencurigakan." Lapor Johan. Yang membuat Krisna mengatupkan bibir dengan raut wajah muram.
Sampai di tempat yang dituju, gudang lembab dengan satu ventilasi itu dihuni tiga orang pria yang salah satunya merupakan sandera dengan kedua tangan diikat dan digantung di atas, serta mulut disumpal. Krisna menelisik dari atas sampai bawah. Memindai wajah yang memang sama dengan yang terlihat di rekaman kamera pengawas bandara.
"Boss, dia tidak mau buka suara." Lapor salah satu detektif kepada Krisna.
Krisna memerintahkan membuka sumpalan mulut orang yang disandera itu. "Saya nggak ingin basa basi. Katakan siapa yang menyuruhmu? Dan kamu dijamin selamat. Tidak akan dijebloskan ke penjara." Ucapnya sambil berkacak pinggang menatap wajahsopir gadungan yang mulai dihiasi lebam.
"Sumpah sa-saya tidak tahu siapa boss besarnya, Pak. Ini orderan sistem putus mata rantai." Jawab si sopir gadungan dengan wajah menunduk takut. Membuatnya mendapat hadiah tonjokan di perut.
"Jangan kotori tangan Anda, Boss! Biar bagian saya." Detektif menahan Krisna yang akan menonjok untuk yang kedua kali.
"Dia sudah menyentuh anak saya. Membius anak saya dan membawa kabur." Krisna mengeratkan gigi menahan amarah. Ingin puas, satu tinju dilayangkan ke wajah sanderanya itu. Lalu kemudian menjadi penonton introgasi penuh intimidasi itu.
"Ampuuuun, Pak." Si sandera mengerang usai wajahnya babak belur tak berbentuk. "Sa-saya membawanya sebelum pintu tol Cikampek. Di sana ganti mobil. Tidak tahu dibawa kemana. Job saya cuma sampe situ." Lalu ia pun pingsan dengan posisi tangan yang digantung.
Krisna dan detektif saling tatap. Gelengan kepala kecil sang detektif yang menandakan introgasi telah usai, membuatnya menghembuskan nafas kasar. Hanya secuil keterangan yang didapat. Kuat dugaan, ini job missing link. Benar-benar cerdik dalangnya.
Krisna memutuskan pulang dengan lunglai. Karena pasti keluarga di rumah berharap penuh padanya akan titik terang dimana keberadaan Rama. Dan sandera akan diserahkan ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
__ADS_1
...***...
"Minum obat dulu, Kak!" Cia sudah dua hari selalu menemani Damar di kantor. Kondisinya masih belum 100% pulih. Masih merasakan sedikit pusing. Namun pekerjaan yang menumpuk menjadi tanggungjawab Damar karena tidak adanya pimpinan.
"Makasih, sayang." Damar tersenyum, menatap lembut Cia yang begitu perhatian. Selalu menemani sejak di rumah sakit. Dua butir obat diminum dengan dorongan segelas air putih.
Ini sudah hari kelima. Dan pencarian Rama belum juga menemui hasil. Semua orang nampak lesu dalam asa penantian. Cia dan Damar pun kehilangan selera untuk bercanda. Bicara seperlunya saja namun saling menguatkan. Menenggelamkan diri pada pekerjaan. Setiap dering dan notif ponsel berbunyi, berharap itu kabar baik tentang Rama.
Di rumah. Puput melepas kepergian Ibu, Bibi Ratih dan Panji pulang ke Ciamis. Dimaklumi, mereka tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah. Ada kewajiban yang harus dijalankan. Sementara Enin memilih tinggal dulu di Jakarta.
"Put, hati Enin yakin Rama baik-baik saja. Penculik itu tidak akan nyakitin cucu Enin." Enin mengelus tangan Puput yang menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.
"Amiin, Enin. Aku juga selalu berdo'a seperti itu. Aa akan ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat." Sahut Puput yang juga membangun pikiran positif. Ia pamit kepada Enin untuk pergi ke kamarnya. Sementara Mami tengah beristirahat usai meminum obat karena sakit kepala.
Puput menatap langit biru dari balkon kamar. Otaknya berpikir keras, mengolah, mempertimbangkan, untuk membuat langkah. Lima hari hanya menunggu namun masih buntu. Ia ingin berbuat sesuatu.
Dengan mengucap bismillah, ia akan ikhtiar dengan caranya. Sebuah foto close up Rama dikirimkan ke grup SILAT-turahmi dengan keterangan;
"Suamiku bernama Rama Adyatama, sudah lima hari hilang diduga diculik di bandara sepulang dari US. Mohon bantuannya, Baraya dimanapun berada. Barangkali ada yang melihatnya, tolong hubungi saya! Terima kasih."
Tidak butuh waktu lama, balasan dari member komunitas silat itu bermunculan. Memberi motivasi, do'a dan juga kesiapan membantu. Setelah setengah jam, Puput mengecek sesiapa saja yang sudah membaca kirimannya. Dari 100 orang anggota, 80 orang sudah menyimak, dan 15 orang menjadi silent reader. Puput menandai dalam ingatan sesiapa silent reader itu.
Ponselnya kemudian berdering. Nama Kang Acil tertera di layar. Puput menjawabnya dengan mengucap salam.
"Puput, kenapa baru ngasih kabar sekarang?" Tegur Kang Acil usai membalas salam Puput.
"Ah, aku malas nonton tv. Biasanya berita politik dan korupsi yang bikin enek." Kang Acil beralasan. "Tenang, Put. Aku akan bantu kerahkan anak-anak buat nyari suamimu."
Puput tersenyum lega meski itu tak akan terlihat oleh sang ketua grup. "Alhamdulillah, Kang. Makasih sebelumnya. Jika Akang butuh dana operasional, bilang aja sama aku."
Puput menyimpan ponsel di samping tempatnya duduk usai mengakhiri percakapan dengan support yang diberikan Kang Acil.
Hari mulai beranjak siang. Tapi cuaca sangat bersahabat. Tidak panas tetapi juga tidak mendung. Puput masih betah berada di balkon. Membiarkan angin menerpa wajah. Ia memutar-mutar cincin yang melekat di jari manisnya, kemudian mengusap lembut penuh perasaan. Lalu menciumnya dalam dan lama diiringi sesak yang menghimpit dada karena satu kata. RINDU.
...***...
Sejauh mata memandang, hanyalah jajaran pohon pinus yang tinggi menjulang dan hampir rata tingginya. Tak pernah merasakan panas teriknya matahari karena sinarnya tidak tembus, terhalang rimbunnya hutan pinus. Nyanyian alam biasa terdengar setiap hari berasal dari kicauan aneka burung, dan binatang kecil lainnya. Pun terdengar gemuruh air terjun yang jika ditaksir jaraknya sekitar 500 meter dari bangunan villa yang ada di puncak bukit.
Suasana sepi, sejuk, dan dingin seperti ini cocok bagi siapapun yang berniat healing. Namun bagi seorang pria yang sudah terpenjara selama lima hari itu, malah membuatnya frustasi dan stress.
Berada di sebuah ruang kamar berukuran 4x4 meter dengan kamar mandi di dalam, namun pintu kamar berbahan kayu itu berlapis pintu teralis besi, begitu juga jendelanya. Rama, pria itu. Ia hanya menerima makan dan minum dari dua orang pria yang bergantian menyodorkan nampan lewat sela kecil pintu teralis, dua kali sehari. Tak ada percakapan. Setiap kali ditanya siapa dalang yang menyekapnya di tengah hutan itu, sama sekali tidak didengar. Dua orang itu berlalu pergi begitu saja setelah meninggalkan makanan.
Rama menatap jam di pergelangan tangannya. Melihat waktu dan juga tanggal yang tertera. Ia mendesah frustasi. Menengok ke luar jendela, sama sekali tidak ada orang yang lewat selama 5 hari berada di pengasingan itu. Sepi. Dan jika malam tiba, akan terdengar suara burung hantu disusul lolongan anjing. Berubah mencekam. Meski bangunan itu bagus layaknya villa, namun dirinya terpenjara.
Otaknya buntu. Siapa yang menculiknya? Apa motifnya? Sementara ia sama sekali tidak mendapat perlakuan kekerasan. Sampai saat ini belum terpecahkan. Pusing sendiri.
Pintu kamar model geser itu bergerek terbuka. Rama menoleh dari posisinya berdiri di depan jendela berteralis kokoh. Ia memicingkan menatap sosok yang tengah menatapnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Ia mendekat.
__ADS_1
"Kamu---?!" Rama menatap dengan kedua alis nyaris bertaut. Berpikir keras mengingat-ngingat. Pria yang terhalang sekat pintu teralis itu tersenyum menyeringai.
"Kenapa? Kenal sama saya?!" Pria itu menaikkan kedua alis dengan menyunggingkan senyum sinis. "Coba ingat-ingat aja sampe rambut lo rontok."
"Betah kan di sini? Orang-orang kota yang stress sangat suka dengan suasana seperti ini. Cocok buat sembunyi dari kejaran yang nagih utang." Lanjutnya diiringi tawa lepas.
"Lo, siapa? Mau lo apa?" Rama masih belum bisa menerka. Wajah orang itu pernah dilihatnya. Tapi dimana, ia lupa.
"Lo mau bebas? Gue kasih penawaran!" Orang itu mengindahkan pertanyaan Rama. "Berikan Puput buat gue! Lo bebas pergi dari sini. Diantar balik sampe depan rumah."
Mata Rama membulat sempurna. "Hei bangsat, lo kenal istri gue?"
"Siapa yang tidak kenal sama mojang Ciamis multi talent itu. Si jawara cantik. Aku sering berfantasi menyentuh tubuh ramping yag pastinya seksi jika tanpa baju. Membayangkan bermain-main di setiap inci kulit putihnya. Hmm pasti halus, bikin berdesir.....Huhhhh" Pria itu dengan sengaja berekspresi memuja. Menjilat bibir dengan lidah khas orang yang tergiur. Namun terlihat menjijikkan bagi Rama.
Membuat wajah Rama merah padam karena marah. Tidak rela sang istri dijadikan objek fantasi liar. "Bang sat lo! kurang ajar. Keluarin gue dari kamar ini!" Ia menggoyang-goyangkan dengan sekuat tenaga jeruji besi itu. Namun sama sekali tidak goyah.
"Gue akan keluarin lo, asal Puput buat gue. Gue pengen fantasi ini jadi nyata. Deal?!" Pria itu menarik sudut bibirnya.
Rama meludah sampai mengenai pipi kiri pria itu. Sengaja memancing emosi. "Na jis! Sampai kapanpun gue gak akan sudi menerima penawaran orang gila macam lo."
Pria itu memang terpancing emosi karena aksi Rama meludahinya. Mengeratkan gigi menahan marah. "Selamat membusuk di hutan ini." Ujarnya dengan seringai dan tatapan nyalang. Kemudian berlalu pergi usai menutupkan pintu dan menguncinya.
Rama meremas rambutnya. Memejamkan mata merasakan kepala yang berdenyut. Mencoba memecahkan teka teki siapa pria lumayan tampan yang memiliki postur seperti olahragawan itu. Bahkan terlihat sangat mengenal Puput.
Malam menjelang. Tidur Rama seperti biasanya selalu gelisah, teringat sang istri dan keluarga. Pasti mereka sangat cemas. Ia melaksanakan salat hanya dengan melihat waktu di jam tangannya. Karena sama sekali tidak pernah terdengar adzan. Menandakan tempatnya jauh dari pemukiman penduduk.
"Sayang---" Rama bergumam lemah. Memutar-mutar cincin perak yang melingkar di jari manisnya. Rindu yang awalnya siap ditumpahkan itu tertunda. Menyisakan sesak di dada. Hanya bisa menciumi cincin pernikahan itu sebagai pelampiasan rindu yang menggunung dan menggebu. Ia tidak tahu ponsel dan kopernya ada dimana. Hanya mendapatkan isi koper berupa baju ganti.
Pagi telah pergi 🎵🎵🎵
mentari tak bersinar lagi
entah sampai kapan
ku mengingat tentang dirimu
Rama terperanjat bangun dari tidurannya. Samar telinganya mendengar suara nyanyian dengan petikan gitar di jam 9 malam ini. Ia menegakkan telinganya untuk memastikan suara yang tertiup angin itu.
Rama beranjak menuju jendela, membukanya lebar-lebar. Sejauh mata memandang hanyalah warna pekat malam. Namun ada titik cahaya di kejauhan dan suara bernyanyi lebih dari satu orang diiringi petikan gitar.
🎵🎵🎵
Ku hanya diam, menggenggam menahan
segala kerinduan, memanggil namamu
di setiap malam ingin engkau datang
__ADS_1
dan hadir di mimpiku, rindu