Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
135. Tamu Di Rumah Mertua


__ADS_3

Puput menuruni tangga menyambut kepulangan Rama. Sang suami sudah mengabari jika akan pulang bersama Panji yang akan ikut menginap.


Kamar tamu di lantai bawah sudah disiapkan untuk Panji. Yang kini masuk ke kamar untuk mandi setelah ngobrol santai sebentar.


Rama merangkum bahu Puput menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Neng, Aa mau magrib di masjid mumpung ada teman." Rama membuka jas dan dasinya. Membuka kancing kemeja satu persatu dengan cepat karena jam sudah menunjukkan pukul setengah enam.


"Iya. Lagian Aa udah harus membiasakan sholat di masjid. Jangan nunggu ada teman dulu baru semangat." Ucap Puput sambil menyiapkan setelan koko dan celana.


"Siap, Neng. Pelan-pelan mau dibiasakan." Rama mengecup pipi Puput sambil berlalu ke kamar mandi.


Puput geleng-geleng kepala. Rama tanpa malu mempreteli semua pakaian di depannya. Setelah bertelanjang bulat, baru masuk ke kamar mandi.


Selepas magrib, Puput menata menu makan malam sambil menunggu Rama dan Panji pulang dari masjid. Yang ditunggu tunggu pun muncul dengan raut wajah semangat ingin segera menyantap karena sudah lapar.


"Panji, nanti pulangnya ke Bandung atau ke Ciamis?" Puput membawa buah potong ke ruang tengah, tempat berkumpul setelah makan. Ia duduk di samping Rama.


"Ke Ciamis, Teh. Udah lama gak nengok Enin. Panji mau pulang besok pagi." Sahut Panji.


"Kenapa buru-buru pulangnya, Nji? Santai aja dulu di sini. Maksudku kalau pulangnya ke Ciamis, nanti mau nitip oleh-oleh Turki buat Enin dan Bunda, sama Ibu. Tadinya besok mau dipaketin. Buat Panji juga ada. Udah dipacking satu dus sama punya Bunda dan Enin. " jelas Puput.


"Asyik kebagian." Panji berbinar sambil mengambil buah potong pada piring kecil. "Panji harus bagi-bagi waktu, Teh. Apalagi sekarang punya seseorang di Bandung yang harus diperhatikan."


Puput dan Rama sama-sama menatap Panji dengan sorot mata penuh keingin tahuan.


"Seseorang siapa, Nji?" Rama begitu penasaran melihat gestur Panji yang santai.


Panji membuka layar ponselnya. Menyerahkan pada Rama.


"Namanya Padma Syahreza. Dia....adik Panji." Panji menjelaskan tentang siapa Padma selama Rama dan Puput memperhatikan tiga foto selfienya berdua dengan sang adik. Menceritakan garis besar tentang ayah Anjar serta harapannya ingin orangtua bisa rujuk kembali.


"Kak Rama, Teh Puput, kapan-kapan boleh nggak Panji ajak Padma nginep di sini?" Tatapan Panji penuh harap kehadiran Padma bisa diterima oleh keluarga besarnya. Dimulai dari Rama, sepupu yang akrab dengannya.


"Muka lo jangan worry gitu. Padma adik kandung lo, berarti sepupu gue juga. Pintu rumah ini terbuka lebar. Kapanpun mau datang tinggal kabari aja dulu, kalau-kalau kita lagi di luar." Rama membawa obrolan dalam suasana santai. Agar Panji tidak lagi gusar memikirkan keadaan keluarganya yang tidak utuh itu.


"Untuk misi nanti, Panji juga bakalan butuh bantuan kalian."


"Apapun akan kita bantu, Nji. Bahagia harus jadi milik semua orang." Tegas Rama.


"Ucapan lo sama kayak Om Krisna. Copas banget." Panji mencebik.


"Lah, kan Papi murid gue. Pasti nurun lah ilmunya." Ucap Rama yang lalu menyandarkan kepala di bahu Puput.


"Kebalik atuh. Mau juga Aa yang muridnya Papi." Ralat Puput sambil menahan tangan Rama yang lalu menggelitik pinggang.


"Aa, diem! Geli tau..." Puput menggeser tubuhnya karena Rama masih saja iseng menggelitik pinggang.


"Plis deh, Kak. Jangan ngebucin depan gue." Panji mendecak melihat Rama kini menyuapi Puput dengan sebutir strawberi. Sisa gigitan Puput dimakan Rama dengan tatapan mesra.


"Gak kuat lambaikan tangan ke kamera." Sahut Rama cuek.

__ADS_1


"Mending kabur aja." Panji beranjak dari duduknya. Berpindah tempat menuju kamar.


"Aa sih, gak liat sikon." Puput mengeplak lengan suaminya itu yang hanya dibalas dengan cengengesan.


"Kita juga kabur ke kamar yuk ah." Rama menarik tangan Puput diiringi kedipan mata.


...***...


Rama lebih dulu bangun sebelum adzan subuh. Melaksanakan mandi besar setelah lelah dan nikmat usai percintaan semalam.


Beralih menuju ranjang usai memakai baju koko, bersiap ke masjid. Ia melihat Puput masih pulas bergelung dalam selimut. Senyum simpulnya terbit. Merasa menang dan senang sudah membuat sang istri terpuaskan.


"Neng." Rama meniup-niup mata Puput yang terpejam rapat. Membuat istri itu mengerjap-ngerjap.


"Bangun, sayang. Aa ke masjid dulu ya."


"Iya." Jawab Puput dengan serak. Matanya masih terpejam sambil mengumpulkan kesadaran.


Rama menuruni tangga. Mengetuk pintu kamar Panji dengan keras sambil memanggil namanya.


"Apa?" Panji menyembulkan kepala dengan muka dan rambut yang masih kusut.


"Kita ke masjid. Aku tunggu lima menit. Keburu adzan, cepet." Titah Rama.


Panji menutup mulut yang menguap panjang. Mata masih ingin terpejam. Godaan subuh memang berat. "Iya tungguin."


Bukan hanya Rama yang pagi ini bersiap ke kantor. Tapi juga Panji yang bersiap pulang ke Ciamis. Tiga dus oleh-oleh Turki untuk dibagikan di Ciamis sudah dimasukkan ke bagasi.


"Neng, yakin berani nyetir sendiri?" Rama memastikan lagi rencana Puput untuk berkunjung ke rumah Mami dengan mengendarai Pajero.


Puput mengangguk kuat. "Sekarang aku udah hafal jalanan Jakarta. Kan udah sering juga bolak balik dari sini ke rumah Mami. Nggak akan salah belok."


"Oke, deh. Hati-hati bawa mobilnya." Rama memeluk Puput dari belakang yang sedang merapihkan jilbab. Sama-sama akan pergi.


Rama sudah waktunya bersiap-siap. Sopir sudah memanaskan mobil yang akan mengantarnya ke kantor. Cium tangan berbalas cium kening menjadi ritual pagi sepasang suami istri itu.


Tiba di kantor, Rama memanggil Damar untuk ke ruangannya. Sang asisten nyelonong masuk tanpa permisi.


"Nih, dari Puput." Rama lebih dulu menyerahkan paper bag.


Apa ini?" Damar penasaran mengintip isinya.


"Puput ternyata perhatian. Inget buat ngasih oleh-oleh sama lo." Ucap Rama dengan perhatiannya tertuju pada dokumen yang kini dibukanya.


Damar berdecak senang mengeluarkan isi paper bag yang ternyata Cezve dan kopi khas Turki. Cezve adalah panci tembaga tempat membuat seduhan kopi ala Turki.


"Ah, kalian emang the best partner kakak ipar. Pecinta kopi kudu punya alat tradisional gini. Jadi pengen cium deh." Damar dengan sengaja berdiri, memajukan bibirnya lima senti melewati meja.


Membuat Rama mendongak. Sigap memundurkan kursinya. "Njir, jijik gue. Mending disosor soang." ujarnya sambil bergidik.


"Alah...sok jaim si Aa. Buruan cium gue!" Damar dengan sengaja semakin menantang.

__ADS_1


"Ehmm." Suara deheman membuat Rama dan Damar bersamaan menoleh ke arah pintu yang terbuka.


"Selamat pagi, Pak Rama dan Pak Damar." Nova tersenyum kaku sambil mendekap Tab di dadanya.


"Nova, kamu harus hapus dulu piktor di otakmu!" Rama menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi ulah Damar terciduk sang sekretaris untuk kedua kalinya.


"Nova, ganggu aja ritual pagi kita. Ketok pintu dulu kek mau masuk tuh." Damar sengaja membuat drama. Membuat Rama memberi tatapan membunuh.


"Maaf, Pak. Pintunya terbuka. Saya kira tidak sedang anu." Nova meringiskan wajah.


"Anu apa? Si Damar lagi becanda." Rama menatap galak pada Nova yang masih terpaku di tempatnya. "Sini mana bacakan jadwal saya hari ini!" ujarnya menurunkan tensi suaranya. Meminta Nova mendekat.


Nova memperlihatkan isi tab nya. Ia menerangkan agenda rapat dan janji temu hari ini selama sang boss menskroll dari atas sampai bawah.


"Nov, ini rahasia kita bertiga ya. Jangan bilang-bilang." Damar menaik turunkan alisnya. Masih saja iseng melanjutkan drama.


"Mar, beneran lo minta dicancel jadi adik ipar ya. Gue akan bilang sama Cia kalo calon lakinya AC DC." Rama melempar pulpen yang sigap ditangkap Damar sambil cengengesan.


"Pak Ramanharusnya bersyukur punya istri yang cantik juga baik hati. Pak Damar juga sama. Mana bentar lagi mau nikah. Ini ganteng-ganteng malah...." Nova geleng-geleng kepala, tidak melanjutkan ucapannya. Bersiap kembali ke mejanya.


"Ganteng-ganteng serigala, Nov?! Itu sih judul sinetron." Damar terkekeh.


"Sudah-sudah, ngapain jadi bahas unfaedah." Rama mendengkus. "Nov, sana lanjutin kerja. Saya ini cowok tulen. Kalau si Damar emang diragukan. Kadang keluar malam berubah jadi Marimar."


Nova terkekeh sambil lalu. Giliran Damar yang mendengkus sambil protes.


"Mar, kita harus discuss rencana investasi di perusahaan Satya." Rama mulai serius beralih topik. Damar menegakkan duduknya. Bersiap membuka ulang proposal yang ada di tengah meja.


...***...


Puput keluar dari rumah jam sembilan pagi. Sengaja menunggu perjalanan yang tidak padat. Tidak bentrok dengan macet kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengarah menuju tempat kerja.


Tiba di depan gerbang rumah sang mertua bersamaan dengan mobil sedan putih yang parkir di sisinya. Tidak mengira jika mobil yang sudah terlihat dari spion sejak berbelok ke gerbang perumahan, ternyata menuju ke rumah yang sama.


Tergopoh-gopoh sekuriti keluar dari pos jaga. Mendekat untuk memastikan siapa pengemudi mobil milik anak majikannya itu. "Selamat pagi Non Putri." Ia pun menyapa ramah melihat dari kaca jendela yang diturunkan Puput.


Puput mengangguk dan tersenyum. Ia lalu memperhatikan sekuriti berjalan cepat ke arah mobil sedan putih. Dari samping ia tidak bisa melihat siapa pengemudinya. Memilih menatap ke depan menunggu pintu gerbang dibuka.


Pintu gerbang pun terbuka lebar. Puput spontan menginjak rem karena sedan putih menyalip mendahului masuk. Ia hanya geleng-geleng kepala. Siapa sih?


Puput masih bergeming. Melihat dulu siapa pengemudi di balik mobil keluaran Jerman itu yang kini parkir di pekarangan.


"Karenina?! Ngapain dia ke sini?" gumam Puput dengan kening mengkerut.


"Non Putri, kenapa belum masuk?!" Suara sang penjaga membuyarkan fokus Puput yang menatap langkah gemulai sang model memasuki pintu utama.


"Pak, kenal sama yang di mobil itu?" Puput penasaran.


"Hm, iya Non. Dulu sering ke sini. Saya persilakan masuk karena sudah ada pada daftar nama tamu yang mau bertemu Ibu Ratna."


Puput melihat gelagat sungkan di wajah sekuriti yang sudah lama mengabdi di kediaman mertuanya itu. Ia tak mau bertanya panjang lebar. Masa lalu biarlah masa lalu. Ia memang datang tanpa konfirmasi. Sengaja ingin memberi kejutan. Tapi dirinya lebih dulu terkejut karena kedatangan mantan si Aa.

__ADS_1


__ADS_2