
Pintu gerbang setinggi dua meter dibuka lebar-lebar oleh petugas keamanan. Mobil yang membawa keluarga Ibu Sekar memasuki pekarangan yang luas. Padahal ada sopir. Namun Pak Bagja mengistimewakan tamunya dengan dijemput oleh ajudan pribadi.
Meski sudah menjadi pensiun jenderal, namun rumah besar dan asri itu dijaga ketat dua petugas keamanan serta terpasang kamera pengawas di berbagai sudut.
"Ibu....Ibu, ini rumah Bapak Happy atau markas tentara?" Bisik Ami yang berjalan di samping Ibu. Melirik ke sebelah kiri ada sekumpulan tentara berbaju loreng coklat keabuan khas seragam TNI-AL.
"Ssttt, Ami jangan nyebut Bapak Happy nanti kedengeran. Ini rumahnya." Ibu Sekar menegur. Ia sendiri merasa tidak menyangka, pernah beberapa kali melewati jalan desa ini dan sering menatap kagum terhadap rumah besar bergaya minimalis modern ini. Ternyata kini disinggahi karena diundang oleh pemiliknya.
"Assalamu'alaikum." Ibu Sekar mewakili berucap salam begitu berhadapan dengan Pak Bagja yang menyahut di ambang pintu utama.
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah akhirnya rumah saya kedatangan tamu istimewa." Pak Bagja tersenyum simpul. Menerima uluran tangan anak-anak Bu Sekar yang menyalaminya. Segera mengajak masuk dan duduk di ruang tamu.
Di dalam, disambut pula oleh anak-anak Pak Bagja yang juga menyambut dengan ramah.
"Ini Galih, anak pertama yang ngikutin jejak saya. Sekarang menjadi anggota Denjaka. Itu yang di luar teman-temannya Galih. Abis ada acara di Pangandaran." Pak Bagja mulai mengenalkan anggota keluarganya.
"Ini Vena istrinya Galih. Ini si kecil Gemintang. Cucu saya baru satu, umur 5 tahun."
"Kalo sama Gina udah pernah ketemu kan ya. Pernah saya ajak ke rumah Bu Sekar." Pungkas Pak Bagja mengenalkan ulang anak bungsunya. Mengajak saling berkenalan dalam suasana kekeluargaan.
Zaky paling antusias menyalami Galih. Ia kagum dengan pria berpostur tegap itu karena anggota satuan elit TNI AL.
"Hai, Gemintang. Kamu lucu bingit. Imut seperti Ami. Hihihi." Ami mencolek pipi cucunya Pak Bagja itu. Ia memang senang dengan anak kecil.
Keluarga Pak Bagja terkekeh melihat tingkah Ami yang kemudian mudah akrab dengan si kecil Gemintang. Bahkan cucunya Pak Bagja itu mengajak ke ruang tengah bermain boneka.
Pak Bagja mengajak berpindah tempat ke ruang makan. Melanjutkan bincang ramah tamah dalam suasana kekeluargaan sembari makan malam.
"Saya tinggal di rumah dinas Jakarta Timur. Kalo anak Ibu yang pertama, tinggal di Jakarta mana, Bu?" Tanya Galih disela menikmati hidangan makan malam.
"Kalau Puput tinggal di perumahan Kemang, Jakarta Selatan." Sahut Ibu.
"Kapan-kapan boleh silaturahmi ke rumah Teh Puput, Bu? Biar Vena juga nambah teman. Maklum sering saya tinggal dinas." Galih menoleh pada istrinya yang asli Bengkulu. Sang istri mengangguk dan tersenyum, menyetujui.
"Tentu saja boleh. Nanti Ibu akan bilang sama Puput." Ibu tersenyum pada Galih. Dengan sudut mata ia bisa menangkap jika Pak Bagja yang duduk paling sisi, terus menatapnya selama berbincang dengan Galih.
Makan bersama sudah selesai. Merasa sudah cukup berbicang santai, Ibu Sekar berucap pamit. Apalagi di kolong meja, Aul sudah dua kali mencolek paha. Dari sebelum berangkat anak keduanya itu sudah mengingatkan agar jangan pulang malam karena banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan.
"Kenapa buru-buru, Bu Sekar? Ini masih sore, belum jam sembilan." Ucap Pak Bagja. Ada raut kecewa tersirat.
"Bukannya tidak betah, Pak. Tapi Aul lagi banyak tugas kuliah. Keburu malam malah ngantuk." Ibu beralasan sejujurnya.
Usai berpamitan dengan semua penghuni rumah, Ibu Sekar diantar oleh Pak Bagja menuju mobil yang tadi menjemput.
Zaky, Aul, dan Ami sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil Alphard yang menjemput tadi. Sudah dibukakan pintunya oleh ajudan. Ibu Sekar tertinggal karena berjalan santai dengan Pak Bagja. Keduanya masih melanjutkan berbincang. Entah apa yang sedang dibicarakan. Namun Ami melihatnya dari dalam mobil dengan bibir mengerucut.
"Ibu lama, ih. Ngobrol kok gak kelar-kelar...." Ami akhirnya mengeluh protes. Namun kemudian Zaky membekap mulutnya dan berbisik; "Jangan protes nanti ditenggelamkan ke laut."
"Aa ih, merusak kecantikan adikmu yang imut ini." Ami melepas dengan kasar tangan Zaky di mulutnya. Mendelik dengan memasang wajah ketus serta mengusap-ngusap sekitaran bibirnya. Paling tidak suka jika Zaky membekap mulutnya.
"Dih imut dari mananya. Amit-amit sih iya." Zaky memeletkan lidah. Ketagihan menggoda adik narsis nya itu.
"Iri bilang boss." Ami mendecih sembari memalingkan wajah ke arah berlawanan.
Aul menahan tawa mendengar percakapan di jok belakang itu. Ia sedang mengabadikan dua orang yang masih di luar mobil dengan kamera ponsel sebagai oleh-oleh untuk Puput.
"Bu Sekar."
__ADS_1
"Iya." Bu Sekar memutar badan lagi kembali berhadapan dengan Pak Bagja. Padahal sudah berterima kasih dan berpamitan ulang, bersiap masuk ke dalam mobil yang pintu slidingnya sudah bergeser terbuka.
"Hanya mau bilang, kamu cantik sekali malam ini." Pak Bagja menatap hangat meski wajah penuh wibawa tetap kentara.
Bu Sekar mengerjapkan mata dan menelan ludah. Salah tingkah. "Assalamu'alaikum." ucapnya tersenyum dan mengangguk. Segera masuk ke dalam mobil. Jangan sampai wajah yang merona terbaca oleh sang jenderal.
Pak Bagja tersenyum simpul. "Wa'alaikum salam. Kapan-kapan ke sini lagi ya!" Ucapnya sembari membalas lambaian tangan Aul, Zaky, dan Ami.
Pintu sliding tertutup otomatis. Mengakhiri pandangan Pak Bagja yang tidak bisa lagi melihat wajah bersemu merah. Kaca mobil yang hitam pekat menjadi sekat.
...***...
Jakarta
Mobil travel yang membawa Ami dan Zaky tiba di depan rumah Puput jam delapan malam. Ami paling antusias ingin menghabiskan libur semester di rumah kakak pertamanya itu. Yang sudah diberitahu Ibu jika sang kakak sedang mengandung.
"Ibu sama Teh Aul kenapa gak ikut, Mi?" Ucap Rama yang menyambut girang kedatangan dua adik iparnya itu.
"Nanti kamis siang berangkatnya, Kak. Teh Aul masih ngampus sampai kamis." Sahut Ami yang duduk sembari bergelayut di lengan Puput. Sebagai bentuk kerinduannya.
"Kak Rama masuk angin ya?" Sambung Ami.
"Nggak. Kenapa emang?" Rama menaikkan satu alisnya.
"Kirain masuk angin. Soalnya Kak Rama wangi minyak telon. Kayak bayi aja. Hihihi." Ami tanpa canggung meledek Rama.
"Tuh....calon keponakan Ami tuh yang jahil." Rama menunjuk ke arah perut Puput dengan dagunya.
"Teteh bakal mual muntah kalo Papa nya si utun gak pake telon." Puput menjawab kebingungan yang tersirat di wajah Ami.
Ami ber oh ria dengan bibir yang membulat. Ia kemudian diajak Puput ke kamar yang sudah disiapkan. Menyimpan tasnya. Meninggalkan Rama dan Zaky yang melanjutkan berbincang ringan.
"Ya gitu deh. Sebenarnya kepaksa." Ami membuka tasnya. Mengambil baju tidur.
"Kok kepaksa? Jelasin sama teteh, Mi!" Puput memasang wajah penuh penasaran.
Ami duduk di tepi ranjang. Mengayun-ngayunkan kaki dengan santai. "Tapi teteh janji ini rahasia kita!"
"Okay." Puput mengangkat dua jari sembari menahan senyum melihat Ami yang berekspresi serius.
"Jadi gini..." Ami memulai cerita dari awal membukakan pintu saat bel rumah berbunyi. Hingga berakhir Pak Bagja bisa menjawab dua pertanyaan tebak-tebakan.
Puput manggut-manggut. "Menurut Ami, Pak Bagja baik nggak?"
"Pak Happy baik. Pernah ngasih uang jajan waktu ke Pangandaran sama Padma. Ngasih udang. Kemarin ngasih donat madu sama pizza. Kayaknya pengen dilantik jadi fans aku. Tapi gimana ya....udah tua. Hihihi." Ami terkikik sembari menjatuhkan punggung ke kasur.
Puput tertawa lepas. Ami memang paling bisa menghidupkan suasana. "Emang sih gak cocok jadi fans Ami. Cocoknya jadi teman hidup Ibu."
Ami bangun dan duduk lagi. "Maksudnya teman hidup itu berteman selagi hidup, gitu teh?" ujarnya belum paham.
"Ya kurang lebih begitu. Sudah, nanti lagi ngobrolnya. Kalo mau mandi pake air hangat. Nanti makan."
"Sholat isya dulu baru makan." Ami meralat sebelum masuk ke kamar mandi.
Pagi menjelang. Ami tidak sabar menunggu kedatangan Padma yang berubah jadwal berangkat menjadi rabu jam 6 pagi. Karena sekalian dengan kegiatan kakaknya yang akan kunjungan kerja ke butik cabang Jakarta.
"Ami...I miss you. Ke rumah Kak Cia sekarang ya. Dijemput sopir ya!" Seru Cia di ujung telepon.
__ADS_1
"Miss you too, Kak Cia. Nanti ya Kak. Nunggu dulu bestie aku datang. Padma, adiknya Kak Panji." Sahut Ami tak kalah girang. "Boleh ke rumah Kak Cia nya ngajak Padma, Kak?" sambungnya.
"Ya boleh dong. Jadi makin rame. Oke deh Kak Cia tunggu ya! Daahh."
"Babay, Kak." Panggilan selesai. Ami beralih menghubungi Padma. Memantau sudah sampai mana.
Jam sepuluh, Padma datang bersama Panji. Dua anak gadis saling adu tos dan adu pingnggul sembari cekikikan karena masing-masing menjadi oleng hampir jatuh.
Kelakuan absurd Ami dan Padma membuat Puput dan Panji geleng-geleng kepala dan tertawa geli.
"Kak Rama ke kantor, Teh?" Tanya Panji yang mengikuti langkah Puput yang memasuki rumah. Meninggalkan dua anak gadis yangbberfoto ria di taman mini.
"Iya. Bakalan lembur katanya. Lagi numpuk kerjaan. Apalagi Damar mulai besok mau cuti." Puput menawarkan Panji makan. Namun Panji memilih beristirahat dulu.
...***...
Sehari lagi menuju acara siraman. Kamis siang, Enin dan Bunda Ratih sudah tiba di Jakarta. Tidak bisa berangkat bersama dengan Ibu Sekar karena harus menunggu Aul pulang dari kampus. Sehingga berangkat lebih dulu karena Enin menginginkan perjalanan pagi. Meskipun demikian, mobil untuk Ibu Sekar sudah disiapkan.
Di dalam rumah Mami Ratna sudah selesai dihias dengan dekorasi bunga-bunga artifisial yang cantik. Juga pekarangan rumah sudah dipasang tenda. Pengajian berlanjut acara siraman jumat besok akan digelar.
Ami dan Padma sejak pagi sudah berada di rumah Mami Ratna. Penghuni rumah yang welcome, membuat Padma yang awalnya malu-malu dan kikuk, lama-lama mencair. Apalagi ada Ami sumber penghangat yang mencairkan suasana.
Brug.
Padma yang setengah berlari menuju dapur untuk mencuci tangan yang lengket bekas makan es krim, bertubrukan badan dengan Bunda Ratih. Menyebabkan minuman dalam gelas Bunda Ratih tumpah setengahnya.
Padma terkesiap dengan wajah yang memucat. "Tante, maaf.....Pad ma gak sengaja." Dengan gemetar karena takut dimarahi, Padma mengelap lengan Bunda Ratih yang basah dengan ujung jilbab instannya. Menunduk, bahu mengkerut, tidak berani beradu tatap.
Bunda Ratih menarik tangannya yang dilap. Beralih memegang kedua bahu Padma setelah menyimpan gelas di bawah. Membuat Padma mendongak dengan mata berkaca-kaca. Takut terkena marah.
"Padma, jangan panggil tante. Panggil Bunda. Sama seperti Kak Panji ya!" Ucapnya dengan tatapan lembut dan senyum tulus. Saat menginap dulu, Padma memang tak sekalipun berucap panggilan padanya. Nampak sungkan dan malu-malu juga irit bicara.
"Hiks." Mata yang penuh kaca-kaca karena takut dimarahi itu, luruh dengan sendirinya membasahi kedua pipi tanpa bisa dibendung. Padma terisak dengan menundukkan kepala.
"Lho kok Padma nangis." Giliran Bunda Ratih yang terkesiap. Ia memeluk Padma dan mengusap-ngusap belakang kepala anak gadis itu. Menenangkannya. Namun Padma semakin tersedu-sedu di dalam rengkuhannya.
Hal itu mengundang perhatian Mami Ratna, Cia, Enin, juga Ami, yang datang mendekat. Semua wajah penuh tanya dan berharap penjelasan.
Padma kemudian berhenti menangis. Menyisakan isakan kecil sembari menyeka air mata dengan punggung tangan. Cia spontan memberikan air minum.
"Padma kenapa nangis, hm? Bunda gak akan marahin kok. Namanya juga nggak sengaja." Bunda Ratih bertanya dengan hati-hati dan menatap lembut.
Padma mendongak dengan tatapan sayu. Menghela nafas sebelum berucap. Karena perasaannya dipenuhi emosional paduan berbagai rasa. Sulit untuk dijabarkan tapi terasa melegakan. "Padma....Padma seneng. Padma sekarang jadi punya Bunda. Hiks" Lagi, air matanya luruh.
Bunda Ratih kembali memeluk Padma. Memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang. Karena haru menyeruak, menyesak dan memenuhi dada. Inikah buah dari keegoisan para orang dewasa dulu. Merasa masing-masing benar dengan pendiriannya, dengan keputusannya. Tidak memikirkan dampak dikemudian hari, siapa yang jadi korban.
"Iya, nak. Bunda Kak Panji, Bunda Padma juga. Karena Kak Panji dan Padma itu adik kakak." Ucap Ratih dengan suara serak. Ia mengurai pelukan. Menyeka air mata yang membasahi pipi halus Padma. Memberi kecupan dalam dan lama keningnya.
Enin dan semua yang menyaksikan menatap haru dengan wajah semringah. Tanpa disadari semua orang, sejak tujuh menit yang lalu, ada dua sosok pria yang baru datang dan berdiri di ambang pintu sedang tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca.
...****************...
Begitu syulit menulis ini. Karna akupun menangis (bacanya pakai nada ya 😀)
Bestie, mohon dengan sangat beri rate bintang 5 (jika suka dengan karya ini) juga ulasannya. Sebagai kenang-kenangan menuju detik-detik perpisahan KCM.
Ulasan karya selalu muncul di akhir bab jika belum diisi.
__ADS_1
Yang suka baca tapi masih pelit like, semoga dibukakan pintu hatinya. Sekadar menghargai karya dengan jempol gratis itu tidaklah syulit lho.
Last, terima kasih banyak untuk pembaca setia dengan segala pengorbanan yang sudah diberikan. Like, gift, vote, serta komen positif. I love you ❤️