
Puput menghampiri ke arah mobil yang berhenti di depan rumahnya. Via mengekori di belakang karena penasaran. Nampak seorang balita berwajah bule digendong ibunya, dan seorang bocah laki-laki berjongkok di sisi pria dewasa yang tengah memeriksa ban mobil.
"Mobilnya kenapa, mbak?" Puput menyapa dengan ramah dan tersenyum.
Yang ditanya balas tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung si kecil yang meronta ingin turun. "Sepertinya ban dalam pecah, mbak. Suami lagi cek dulu."
"Pa paa....Pa paaaa..." Si kecil yang menggemaskan itu merajuk dengan tangan terulur. Yang dipanggil sempat menoleh dan menyuruh anak yang laki-laki menghampiri si kecil yang terus memanggil.
"Adek main sama Abang ya. Papanya mau ganti ban dulu." Si Abang yang terlihat penyayang itu menggesekkan wajah di punggung si kecil yang kemudian tergelak karena kegelian.
Membuat Puput dan Via yang menyaksikan spontan senyum-senyum karena merasa gemas dengan tingkah kakak beradik itu.
"Mbak nunggunya di teras aja yuk. Kasian anak-anak kepanasan." Ajak Puput yang melihat cuaca menuju siang yang semakin panas.
"Iya, Bun. Berteduh dulu, panas. Aku mau ganti ban." Sahut pria berwajah blasteran yang baru saja mengeluarkan alat dongkrak.
Bersamaan dengan datangnya motor supra yang ditunggangi Zaky membonceng Ami. Mereka pulang dari konter untuk membeli kartu perdana. Dan Puput segera menyuruh Zaky untuk membantu kakak yang sedang membongkar ban.
"Mbak dari Bandung kah?" Tebak Puput karena melihat nomor mobil ber plat D. "Dan mau pergi kemana? Eh, maaf malah kepo." Terkekeh sambil memperhatikan dua anak yang bermain di teras.
Yang ditanya mengulas senyum. "Iya Teh, dari Bandung. Ini mau ke Pangandran. Suami ada meeting nanti sore. Ya...sekalian aja liburan."
"Hei lucu sekaleee...namanya siapa sih? Mainnya di sini yuk sama Teh Ami."
Perhatian Puput dan Via tertuju pada Ami yang mengajak bicara gadis kecil berambut pirang. Mereka juga penasaran ingin bertanya namun keduluan Ami.
"Aku Abang Dika, ini adek Mentari. Ini Bunda Rahma." Bocah laki-laki bernama Dika yang mewakili menjawab dengan berani.
"Kalau aku Teh Ami yang cantik dan imut, ehehehe." Sahut Ami sambil bergaya memiringkan kepala. Yang ditanggapi dua bocah dengan cekikikkan. Ami dan Dika cepat akrab dan bekerjasama mengawasi gadis kecil yang nyelonong masuk ke dalam rumah.
"Adek....Mentari! Mainnya disini, sayang!"
Puput seolah mengerti jika tamu yang berteduh itu merasa tidak enak hati. "Gak papa, mbak eh Teh. Namanya juga anak kecil. Lucu ih mereka..., usinya berapa ya?"
"Panggil mbak Rahma gak papa, aku aslinya orang Aceh bukan orang Sunda." Rahma tersenyum tipis. Yang mendapat anggukkan Puput dan Via. "Yang sulung usianya 5 tahun, adiknya mau 2 tahun."
Obrolan ringan tercipta sekadar mengisi waktu sambil menunggu pekerjaan memasang ban serep yang dilakukan 2 orang itu selesai. Bahkan Puput menjamu dengan menyediakan makanan ringan dan minuman. Yang tanpa sungkan dilahap dua bocah menggemaskan itu.
"Sudah beres, Pah?" Rahma menyongsong kedatangan suaminya dengan memeberi air mineral.
Yang ditanya menganggukkan kepala sambil ikut duduk di sisi istrinya itu. "Beres. Untung dibantuin sama adek ini." ujarnya menatap pada Zaky yang bergabung paling akhir.
"Oh iya, kenalin ini suami aku. Mas Mizyan."
Puput dan Via menganggukkan kepala diiringi senyum ramah sambil pula memperkenalkan diri.
"Bun, temenku yang di Jakarta ada yang nikah sama orang Ciamis lho. Masih pengantin baru dia..." Pria blasteran itu menatap sang istri.
"Oh ya? Siapa namanya, Pa? Kali aja teteh-teteh ini ada yang tahu." Rahma pun merasa penasaran.
Pria blasteran itu tak lantas menjawab karena si kecil menghambur ke pelukannya dan bergelayut manja.
"Put....mungkinkah Kak Ram yang dimaksud?" Via berbisik. Namun mendapat balasan sikutan dan gelengan samar dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Liat di storynya dia malam minggu kemarin. Aku complain kenapa gak ngundang, bilangnya baru akad. Nanti mau ngundang pas resepsi di Jakarta. Namanya Rama." Jelas Mizyan sambil mengecup puncak kepala si kecil yang nemplok di dadanya. Sementara Dika anteng duduk di sofa ruang tamu mendengarkan Ami yang entah bercerita apa tapi begitu ekspresif.
"Aduuhh!" Puput memekik tertahan karena Via mencubit pingganggnya dengan keras. Menoleh dan menatap dengan mata mendelik.
"Wuahh, Mas. Bisa berlabuh di tempat yang pas begini ya." Via tidak mempedulikan kekesalan Puput karena cubitan spontan barusan. Ia menatap dua tamu dengan wajah semringah. "Ini nih Mas, mbak,....ini istrinya Kak Rama. Baru datang dari Jakarta nih karena nganterin suaminya yang harus terbang ke New York. Kasian ya....pengantin baru udah harus ldr an." Kali ini ia yang mendapat cubitan dari Puput sampai mengaduh. Membuat sepasang suami istri itu terkekeh.
"Alhamdulillah, gak nyangka bisa bertemu istrinya Rama. Kami ini rekan bisnis juga teman di komunitas otomotif dan moge. Salamnya sama Rama ya." Mizyan tulus merasa senang dengan pertemuan tak sengaja ini.
"Pa, makan dulu di sini ya! Kata Teh Puput ada menu pepes. Pas banget aku lagi puasa goreng-gorengan." Rahma menatap mesra sang suami yang membalas dengan senyum manis dan anggukkan persetujuan.
...***...
Sore ini Puput berada di rumah Enin bersama Aul. Perjumpaan dengan keluarga kecil dari Bandung siang tadi itu berakhir dengan saling bertukar nomor kontak dengan Rahma. Juga berfoto bersama untuk dikirimkan kepada Rama. Merasa senang bertambah teman baru yang kesan pertama terlihat tulus dan menyenangkan.
Di samping datang untuk mengambil Pajero untuk dipakai ke kantor besok, Puput juga menyampaikan titipan untuk Enin dan Bibi Ratih dari Mami Ratna. Ia menurut saat Enin menahannya sampai nanti makan malam bersama.
"Aul, ada salam nih dari Panji." Bibi Ratih mengulurkan ponselnya yang berisi chattingan dengan anak semata wayangnya itu yang di akhir pesan berisi, "Bunda, titip salam sama Aul."
Aul membacanya dan tersenyum simpul. "Wa'alaikum salam." ujarnya.
"Balas pakai voice note aja! Biar Panji yakin kalo Bunda udah sampein pesannya."
"Eh----" Aul tergeragap karena ibunya Panji itu memaksa memberikan ponsel. Ia pun menurut. Mengirimkan pesan suara dengan wajah tersipu malu.
.
.
Wajah yang dirindukannya hadir di layar saat mejelang tidur. Sebelumnya Puput lebih dulu mengirimkan foto jepretan tadi siang.
Puput menjelaskan kronologisnya sekaligus menyampaikan titipan salam. Yang membuat Rama manggut-manggut dan membenarkan jika Mizyan itu salah satu teman baiknya.
"Aa, udah makan siang?" Alih Puput memberi perhatian. Karena di negeri Paman Sam masih pukul satu siang. Ia sengaja menggulung tinggi rambutnya. Karena itu hal yang disukai sang suami yang senang mengekspos lehernya yang jenjang dan putih.
"Belum. Ini baru mau keluar dari kantor polisi. Nunggu pengacara masih di dalam. Nanti makan di kantor sekalian salat."
Sejenak tidak ada lagi kata yang terucap. Hanya saling tatap dan saling melempar senyum manis. Cukup mata yang berbicara jika rindu itu nyata menggelora.
"Sayang, stempelnya udah mulai pudar." Rama menyentuh leher sebagai isyarat.
"Iya. Mungkin 2-3 hari lagi bakalan lenyap tak berbekas. Gak papa, Aa, biarin stempel kepemilikan pudar. Yang penting lahir batin aku hanya milikmu seorang. Dan cinta aku tidak akan pudar malah makin kokoh." Ucap Puput diakhiri menggigit bibir dengan wajah merona.
Rama menghela nafas panjang. "Sayang, kalau besok-besok aku jarang VC harap maklum ya! Karena aku akan kerja keras agar perusahaan ini bebas dan bersih dari tuduhan terafiliasi web jaringan *******. Karena aku ingin segera pulang. Ingin makan istriku yang jadi pinter ngegombal." ujarnya dengan menggeram karena tersulut gairah.
Puput terkekeh. "Yang penting Aa harus jaga kesehatan. Aku di sini akan selalu mendo'akan biar segala urusan Aa lancar dan selamat."
"Love you, my sexy wife." Rama mendesah berat. Memberi kecupan dan kedipan mata. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, sayang." Puput balas memberi kecupan dan melambaikan tangan.
...***...
Senin. Hari pertama ke kantor setelah menikah. Puput mendapat sambutan yang berbeda dari rekan kerjanya. Semua mengangguk hormat dan terkesan formal. Apalagi ia berjalan didampingi asisten yang berwajah judes. Kalau saja kemarin belum mengenalnya, mungkin ia akan sepemikiran dengan orang-orang jika asistennya itu orang yang galak.
__ADS_1
"Welcome back, Bu Puput." Hendra menyambut dengan membukakan pintu ruang kerja yang dulunya dipakai Rama.
"Biasa aja, Pak Hendra. Aku tetap Puput yang dulu. Nggak usah panggil Bu segala." Protes Puput yang kemudian mengamati ruangan yang memiliki kenangan itu. Tidak ada penataan yang berubah. Hanya kerapihan dan kebersihan yang terjaga dengan wangi pengharum ruangan aroma strawbery kesukaannya.
"Jelas beda dong. Anda atasan saya sekarang!" Keukeuh sang manajer yang membuat Puput berpasrah.
Briefing setiap hari senin itu tetap menjadi tugas Pak Hendra. Puput hanya melengkapi memberi sambutan dengan menekankan kata LOYALITAS kepada seluruh staf yang berdiri di luar kubikel. Selesai itu, Puput mengajak sang manajer ke ruangannya.
"Pak Hen, selama ini aku penasaran dengan divisi gudang. Ini sektor yang vital menyangkut kelangsungan hidup toko. Mulai hari ini aku ingin fokus mereformasi sistem gudang. Jadi mohon bantuannya ya, Pak. Kita lakukan reformasi ini bareng-bareng." Puput berkata dengan hati-hati karena khawatir menyinggung perasaan sang manajer. Ia tidak menuduh kinerja Hendra kurang cermat. Namum waktu dulu mendampingi Rama sidak gudang, pandangannya menangkap pada dua staf yang berdiri di pojokan berbicara penuh kepanikan.
"Siap, Bu Puput. Apa yang bisa saya bantu?" Pak Hendra sigap mendukung.
"Aku minta semua data tentang divisi gudang!" Lugas Puput. Dengan gerak pasti, Pak Hendra menuju ruangannya untuk mengambil beberapa berkas yang dibutuhkan.
Hari-hari Puput dipenuhi dengan kesibukan menganalisis divisi gudang. Benar saja, keberadaan Dwi sangat membantunya. Ia apresiasi kemampuan sang asisten yang jeli melihat adanya beberapa kejanggalan pada laporan tertulis yang ternyata tidak sesuai dengan fakta stok di dalam gudang seluas lapangan futsal itu. Banyak item yang bernilai mahal hilang tanpa adanya bukti faktur pengeluaran barang ataupun surat jalan. Di hari jum'at ini kesimpulan akhir bisa didapat.
"Kita sudah kecolongan, Pak Hen." Puput menghela nafas berat. Di ruangannya hanya ada Dwi dan Hendra yang sejak senin berjibaku membantu menganalisis.
"Maafkan saya, Bu Puput. Saya sudah lengah." Hendra menatap dengan raut penyesalan.
Puput menggeleng. "Pak Hendra tidak salah. Tanggung jawab Bapak selama ini sangat banyak tanpa bantuan asisten. Mulai sekarang kita perbaiki semuanya. Aku tunggu laporan besarnya kerugian sebelum kita ambil tindakan tegas!"
Nama-nama staf gudang yang dicurigai sudah dikantongi. Operator kamera pengawas sudah melaporkan beberapa rekaman yang memperkuat bukti.
Puput meregangkan tangan. Pak Hendra sudah keluar dari ruangannya. Dwi tengah serius dengan laptop membuat skema baru susunan kepengurusan gudang sesuai yang dipintanya. Ia menatap figura berukuran 5R di meja. Foto usai akad, saat sama-sama tersenyum memerkan cincin pernikahan. Foto yang menjadi moodboster selama bekerja sepenuh hati menyelamatkan dan memajukan aset usaha milik suaminya itu.
Rama tidak diberitahu akan adanya kebocoran ini. ia tidak ingin membebani sang suami yang juga tengah berjuang di negeri orang memulihkan perusahaan yang merugi akibat kasus yang masih dalam proses pemeriksaan. Seminggu sudah menjadi pejuang LDR. Komunikasi tetap terjalin dengan baik.
...***...
Puput dan asistennya hanya bekerja senin sampai jum'at. Besok sabtu siang ia akan ke Banyumas bersama keluarga. Akan menyaksikan sahabat yang akan menikah hari minggunya. Novia dan Adi sudah memutuskan meminta kado 10 juta itu dalam bentuk uang jangan barang. Karena akan dipakai untuk menambah uang muka kredit rumah dengan akad syariah. Akan memulai lembaran dengan hidup mandiri sebagai pasangan halal, sebagai keluarga baru.
Masih ada waktu satu jam sebelum jam pulang. Puput beranjak dari kursinya.
"Mau kemana, Bu Putri?"
Puput menahan tangan yang akan memutar haandle pintu. Mengulum senyum, merasa geli sendiri. Baginya Dwi ibarat gantungan kunci yang selalu mengikuti kemanapun pergi. Meski makan siang dengan Via pun, asistennya itu tetap mendampinginya. Dengan dalih itu tugas wajib dari Pak Rama, katanya.
"Aku mau ke bawah. Mau ngecek pengunjung masih rame nggak. Mba Dwi gak usah ikut. Lanjutin aja pekerjaannya." Puput menahan dengan isyarat tangan pada sang asisten yang bangkit dari duduknya.
"Sudah beres kok. Ini lagi shut down."
Jadilah Puput keluar ruangan diiringi Dwi. Ia sempat menepuk bahu Via saat melewati kubikelnya. Yang dibalas acungan jempol dan senyum sang sahabat.
Meniti tangga terakhir dan hendak berbelok ke arah kanan, Puput menahan langkah Dwi. Juga memasang telunjuk di bibirnya diiringi gelengan kepala samar. Bahkan memundurkan langkah agar keberadaannya terhalang oleh rak yang memajang loster keramik.
"Maaf, saya gak bisa bantu. Itu terlalu beresiko. Saya bisa dipecat."
"Puput besok libur. Sebagai direktur, dia hanya kerja sampe jum'at. Sepertinya dia akan ke Banyumas. Sahabatnya mau nikah."
Hening.
"Ehemm." Puput berdehem.
__ADS_1
Membuat orang yang baru selesai berbicara lewat telpon itu memutar badan dan terkejut. Sampai ponselnya terlepas jatuh dari genggaman.