Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
159. Momen Akad


__ADS_3

Tiba-tiba ditarik Ami dengan langkah setengah berlari masuk ke dalam tenda. Membuat Akbar melongo di antara kerumunan yang didominasi ibu-ibu. Bingung apa yang harus dilakukan melihat orang-orang yang heboh mengacungkan tangan meminta lemparan sawer.


"Kak Akbar, ish...malah bengong. Tangkap uang sawer yang banyak. Kak Akbar kan tinggi. Nanti buat aku uangnya. Tuh, udah dilempar. Ayooo.... Fokus....fokus!" Ami memukul-mukul lengan Akbar dengan heboh.


"Eh, ya ya iya." Akbar baru mengerti permintaan Ami. Sigap melaksanakan perintah si centil. Berdesak-desakan di antara Ibu-ibu yang menangkap dan memungut uang sawer. Meski terbilang tertib, namun tubuhnya harus rela dipepet-pepet emak-emak dari kelompok pengajian itu.


Leo tertawa lepas tiada henti. Tak lupa mengabadikan dengan kamera, kelakuan CEO yang hobi uring-uringan jika di kantor banyak masalah. Yang biasa penuh wibawa dan tukang perintah itu kini kalah diperintah oleh seorang Ami.


Acara sawer sudah berakhir penuh keriaan. Ami menagih hasil saweran yang dipegang Akbar dengan penuh antusias. Menghitung recehan dan lembaran yang dilipat segitiga menyatu dengan permen.


"Dapat berapa, Mi?" Akbar tak kalah penasaran menyaksikan Ami yang masih menghitung. Seru juga ikut mulung sawer. Hiburan murah meriah tapi membuatnya tertawa senang.


"Hasil mulung Kak Akbar 125 ribu. Kalo aku cuma dapat 22 ribu. Hihi....lumayan lah. Makasih ya, Kak." Ami memasukkan semua uang ke dalam tas selempangnya. Ia memang selalu dapat sedikit setiap mulung sawer. Makanya selalu meminta bantuan. Biasanya Zaky yang selalu ada membantunya. Tapi hari ini kakaknya itu lagi menyebalkan.


"Kak, besok pas nikahan ada sawer lagi. Bakal lebih banyak sawerannya. Bantuin mulung lagi ya ya ya?" Sambung Ami sembari memasang wajah imut.


Akbar terkekeh dan merasa gemas. Menguyel-nguyel puncak kepala gadis remaja itu yang selalu saja berefek menghibur. "Besok pas akad Kak Akbar gak bisa hadir. Ada kerjaan dulu. Paling bisa datang malam pas resepsi. Ini aja deh buat gantinya." Ia mengeluarkan dompet dari saku belakang celana. Menarik dua lembar warna merah dan diserahkan pada Ami.


"Uwow, rejeki anak soleh ini mah. Makasih egen, Kak. I love you too." Ami mencium uang pemberian Akbar. Menggoyang-goyangkan bahunya diiringi senyum lebar.


Akbar tergelak dengan tingkah polos Ami itu. "Udah ya. Kak Akbar mau ketemu Om Krisna dan Tante Ratna dulu."


Ami mengacungkan jempol sebagai jawaban. Tamu undangan sedang mengantri prasmanan. Ia memanjangkan leher mencari sosok Padma diantara keramaian orang-orang. Mau beradu pendapatan.


"Tante, Om, Mama sama Papa bisa hadirnya di acara besok. Baru sampe di Jakarta nya nanti sore." Ucap Akbar usai menyalami Ratna dan Krisna. Orangtuanya tinggal di Singapura bersama seorang adiknya yang masih kuliah.


"Iya Akbar, gak apa-apa. Ditunggu besok kumpul keluarga besar." Krisna mewakili menjawab. Ratna tersenyum dan mengangguk.


Akbar beralih menyalami Rama, Puput, dan keluarga besar lainnya. Cia tidak kelihatan karena sedang berganti pakaian yang basah.


Panji menghampiri meja Bunda Ratih yang sedang berbincang-bincang dengan keluarga dari Surabaya. "Bun, bisa temenin dulu Ayah bentar? Panji mau ngobrol dulu sama Mas Akbar dan Mas Leo." ucapnya berbisik di telinga sang Bunda.


Ratih menoleh mengikuti arah pandang Panji. Memang benar Anjar duduk seorang diri di meja yang ada di teras. Sementara tamu satu persatu mulai pulang dengan menenteng souvenir siraman. Ia mengangguk setuju akan permintaan anaknya itu.


"Mas Anjar sudah makan belum?" Ratih menarik kursi dan duduk saling berhadapan. Ada rasa canggung hanya duduk berdua seperti itu.


Anjar mengulas senyum. "Kalo Ratih gak keberatan, Mas pengen diambilkan makan olehmu. Apalagi mau nemenin makan bareng, Mas seneng sekali."


Ratih menautkan kedua tangan di meja. Menatap ke dalam netra hitam sang mantan suaminya itu. Aura yang memang berbeda antara dulu dan sekarang. Wajah yang tenang dan nampak agamis. Mungkin pengalaman telah mampu memberi pelajaran hidup. "Sebentar ya, aku ambilkan dulu." Ia memutuskan menuruti.


Anjar menatap punggung yang melangkah menuju meja prasmanan yang sudah lengang. Karena semua tamu undangan sudah pulang. Menyisakan keluarga besar yang masih berbincang santai penuh canda tawa. Menjadi momen silaturahmi keluarga yang datang dari berbagai kota.


Ratih datang dengan membawa dua piring makan diiringi Padma dan Ami yang membantu membawakan air minum juga menu pencuci mulut.


"Bunda mau es krim juga, gak?" Tanya Padma.


"Bunda nggak. Coba tanya Ayah." Ratih menunjuk dengan dagu pada pria yang sedang tersenyum simpul memperhatikan dirinya.


"Cukup ini aja, nak. Padma sama Ami udah makan?" Anjar menjawab tatapan Padma.

__ADS_1


"Sudah." Jawab Padma dan Ami serempak. Hingga dua anak gadis itu pun berlalu pergi dalam keriangan.


Tidak ada yang berbicara selama makan berlangsung. Baik Anjar juga Ratih larut dalam pikiran masing-masing sembari menekuri isi piring. Banyak narasi yang sudah terkumpul di dalam otak Keduanya. Namun seolah bingung harus memulai dari mana. Hingga bersamaan selesai makan dan meneguk minuman berbarengan pula.


"Ra tih." Dengan ragu, Anjar mengucap nama.


"Ya, Mas." Ratih menatap heran raut wajah yang kini berubah penuh kegusaran. Padahal sedari tadi nampak tenang.


Anjar tak lantas berucap. Hanya helaan nafas panjang yang terlihat seolah berat untuk menyampaikan maksud. Sejenak menundukkan kepala dengan mata terpejam. Kemudian mendongak lagi dan menatap lurus.


"Ratih, Mas adalah laki-laki yang pernah melakukan kesalahan besar padamu. Selama ini hanya mengadukan dosa dan kesalahan pada Allah. Kehadiran Padma menjadi penghibur, kekuatan, dan support yang membuat Mas berusaha hijrah menjadi manusia baik."


"Dan hari ini, dengan tidak tau malu Mas meminta padamu. Maukah memberi kesempatan kedua? Bersediakah menjadi istriku lagi? Dapatkah kita bersama lagi menjadi keluarga dengan dua orang anak, Panji dan Padma?" Pungkas Anjar dengan tatapan penuh kesungguhan berbalut kelembutan.


Ratih mengatupkan bibir. Kalimat panjang yang diucapkan Anjar penuh kehati-hatian, mampu menyesakkan dadanya. Sesak oleh berbagai rasa yang berpadu. Membuat seluruh tubuhnya berubah panas dingin.


"Mas hanya akan meminta sekali ini saja. Tidak akan mengulang kedua kali karna tidak ingin memaksakan jika hatimu tak sudi. Meski Mas akhirnya harus patah hati." Anjar mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Menunggu hingga tujuh menit karena Ratih tetap diam, membuatnya berkeringat dingin.


"Aku harus bicara dengan Ibu dulu" Ucap Ratih akhirnya.


"Mau bicara apa? Anjar waktu nengok Ibu dulu udah minta restu ingin balikan sama kamu, Ratih. Anjar juga janji sama Ibu gak akan nyakitin kamu lagi. Dan Ibu udah ngasih restu. Sekarang Ratih mau bicara apa sama Ibu, hm?" Sontak saja kedatangan Enin membuat Ratih terkaget. Tak menyangka sudah ada di belakang kursinya. Tidak sendiri. Ada Panji, Ratna dan Krisna.


"Ibu....Ibu bikin kaget aku." Ratih berdiri dengan wajah pias. Lalu mengajak ibunya duduk di kursi sebelahnya.


"Jika Ratih ingin bicara sama Ibu meminta saran. Saran dari Ibu mah, sudah tutup lembaran lama. Mulai lagi lembaran baru. Dikira Ibu gak tau apa kalo kamu suka meluk pigura foto Anjar sambil nangis. Kamu umpetin foto Anjar di kolong ranjang. Masih cinta kok gengsi." Ucap Enin santai. Tidak mempedulikan Ratih yang terkesiap dan wajahnya merona merah.


"Nuduh fitnah kok pipinya kenapa kayak tomat ya." Sindir Ratna. Membuat yang lainnya terkekeh.


"Astaga. Teteh." Ratih menenggelamkan wajahnya di meja dengan disanggah lipatan tangan. Ia tak bisa lagi mengelak. Sontak menciptakan tawa bagi yang melihatnya.


"Bunda, jadi jawabannya apa? Panji jadi saksi nih." Ucap Panji dengan wajah semringah. Misi yang sedang dijalankan sepertinya akan menuai keberhasilan.


Ratih kembali duduk tegak dengan wajah yang masih merona. Ia menghela nafas untuk kemudian berucap, "Ya."


Kata Alhamdulillah kompak terucap.


Anjar tersenyum simpul dalam keharuan. "Ratih, bagaimana kalau kita menikah sekarang juga?"


"Eh, APa?!" Ratih terkaget dan menggeleng.


"Ibu setuju. Mumpung keluarga lagi ngumpul. Ayo kalian nikah sekarang!" Tegas Enin.


"Tapi, Bu...kan harus persiapan. Nanti aja di Ciamis." Sanggah Ratih.


"Tenang aja, Ratih. Semua udah aku siapin. Ustad Ali yang akan nikahin kalian. Wali Mang haji Syarif. Mahar udah disiapin Anjar juga. Calon pengantin tinggal duduk manis aja." Krisna baru bersuara setelah dari tadi menjadi penonton.


Ratih menggeleng. "Ini momennya Cia. Jangan mendahului."


"Aku ridho, Bibi. Mangga...Bibi sama Paman duluan." Sahut Cia yang datang bergabung bersama Puput dan Aul. Jadilah banyak orang mengitari mejanya Anjar dan Ratih.

__ADS_1


"Ini....kalian memang sengajakah ngerencanain?" Ratih menyapukan pandangan kepada semua orang yang mengelilinginya.


Tidak ada yang menjawab. Hanya bibir yang senyam-senyum. Itu sudah cukup menjadi jawaban. Membuat Ratih menepuk kening.


...***...


Di dalam rumah. Di ruang tengah.


"Bayi, ini sebelah mana?" Seru Akbar yang sedang memegang dua buket bunga. Ia meledek Rama dengan panggilan itu karena aroma minyak telon yang menguar dari tubuh calon Papa itu. Bersama Leo diminta membantu persiapan tempat akad Anjar dan Ratih.


"Masukin ke vas, Bro. Atau lo pegang terus juga gak papa. Bagus." Sahut Rama yang sudah menggotong satu kursi dibantu Leo. Buat Enin duduk menyaksikan acara akad nanti.


"Entar lo lempar satu. Kali aja ada cewek yang nangkap biar jadi jodoh lo." Leo tersenyum menyeringai meledek Akbar.


"Nggak ada yang single kayaknya. Semua dah pada punya gandengan. Yang udah nandain juga ada. Dilarang ditikung, katanya." Ucap Akbar sembari melaksanakan tugasnya memasukkan buket bunga pada dua vas setinggi satu meter.


Rama mentertawakan keluhan sang Jones. "Heran gue. Kenapa kau tak laku-laku?" ujarnya memasang wajah prihatin.


"Eh, ralat ya. Gue bukan gak laku. Cewek tuh antri. Dari yang nawarin ONS sampe yang ortunya ngelobi ke nyokap gue. Cuma belum ketemu cinta yang tulus." Jelas Akbar yang selama ini memang menyeleksi calon pacar dengan caranya. Dan belum ada yang lulus sesuai harapannya.


"Kakak-kakak guanteng, kata Mami udah siap belom?" Ami datang dengan nafas ngos-ngosan karena berlari sejak dari luar. Memutus obrolan tiga pria yang kini duduk selonjoran di karpet.


Kedatangan Ami membuat Leo melebarkan mata. Beralih menyikut Akbar dan berbisik, "Tandai noh!" Hanya dijawab Akbar dengan delikkan mata.


"Udah, Mi. Silakan semuanya masuk gitu." Ucap Rama.


"Asiap. Berangkaaat!" Ami memutar tubuh dan berlari lagi ke luar. Tanpa tahu jika Akbar tersenyum samar karena merasa lucu dengan tingkahnya itu.


Sore selepas ashar. Ikrar ijab kabul dilakukan Anjar yang duduk bersisian dengan Ratih. Sebuah gelang emas cantik bertabur empat butir berlian yang menjadi mahar, dipasangkan Padma dipergelangan tangan wanita yang bersedia menjadi bundanya itu. Gelang emas itu dipilih Anjar sebagai simbol pengikat empat orang menjadi satu ikatan keluarga utuh.


"Makasih, nak." Ratih memeluk Padma dengan mata berkaca-kaca.


"Anjar, cium dong! Udah halalan thoyiban." Celutuk Krisna. Gerrr semua orang tertawa lepas.


Anjar memberi tatapan membunuh pada Krisna yang iseng menggodanya itu. Ia kasihan melihat Ratih yang wajahnya memerah seperti tomat. Wanita yang sudah sah kembali menjadi istrinya itu baru saja mencium tangannya usai disematkan gelang. Ia mendadak grogi harus apa. Malah mendapat guyonan seperti itu.


"Iya Ayah, cium dulu kening Bunda." Panji juga mendukung ucapan Om nya.


Akhirnya Anjar menurut. Ia berdiri berhadapan dengan Ratih. Mulai mengikuti arahan Rama.


"Paman tangkap kedua sisi wajah Bibi. Ya, seperti itu....." Rama berlaku seolah pengarah gaya. Fotografer pun sudah bersiap.


"Oke, sekarang cium kening Bibi. Jangan dulu dilepas sebelum disuruh." Sambung Rama. Tentu saja ia sengaja iseng mengerjai sepasang pengantin lama rasa baru itu. Sengaja menjadi tontonan dulu.


Momen penuh haru tentunya. Semua orang tersenyum melihat famili potret kini sedang berlangsung. Fotografer mengabadikan kebersamaan satu keluarga, Anjar dan Ratih serta Panji dan Padma dalam berbagai pose dengan warna baju yang sama.


Famili potret juga berlangsung dengan mengapit Enin. Sepuh satu-satunya yang masih ada dan masih sehat bugar. Serta berakhir dengan foto formasi seluruh keluarga yang hadir.


"Kalo ada yang nikah, makan-makan lagi, kan?" Celetuk Ami dengan polosnya. Saat bersiap pengambilan foto. Alhasil semua yang sudah memasang wajah on action camera menjadi ambyar karena tertawa-tawa.

__ADS_1


__ADS_2