
Usai keluarga Ciamis pulang lebih dulu, berangsur yang lain pun pamit dan kini rumah menjadi lengang kembali. Petugas jasa kebersihan yang disewa telah membereskan semuanya sehingga seluruh ruangan kembali rapih di sore hari ini.
Rama bangun dari tidurannya di sofa melihat Puput keluar dari walk in closet sudah berpakaian santai. Menarik tangan istrinya itu dan menjatuhkan di atas kasur empuk.
"Aa, geli ih. Lepasin!" Puput menggelinjang sambil menahan ******* karena Rama bermain-main di ceruk lehernya. Mengendus aroma wangi sabun mandi dan parfum yang disemprotkan usai mandi sore itu. Dengan lidah yang menyapu lembut hingga ke daun telinga.
"Jangan ngambek lagi! Baru aku lepasin." Rama memberi penawaran karena gara-gara celetukan kata 'mantan', Puput berubah manyun usai seluruh keluarga bubar.
"Iya deh, maaf. Kalau lagi datang bulan mudah sensi. Kan ada perubahan hormon. Makanya Aa bicaranya dijaga. Jangan lagi ucapin kata 'mantan' yang bisa didengar istri. Bikin bete." Jelas Puput yang pasrah mendapat sentuhan jari sang suami yang kini mengarsir wajahnya.
"Maafin aku juga, sayang. Tadi tuh Akbar nanya, apa member club otosport diundang semua. Aku bilang bukan hanya relasi yang diundang tapi juga semua temen nongkrong kecuali mantan. Gitu neng ceritanya." Rama mengecup bibir Puput diakhir penjelasannya. Itu hanya awal. Selanjutnya belakang kepala sang istri diganjal oleh kedua tangannya. Memulai sesi afternoon kiss.
"Neng..."
"Hm." Puput hanya mampu berdehem karena sedang mengatur nafas, menghirup oksigen bebas usai saling memagut dengan damba.
"Berapa lama lagi?" ujar Rama yang masih mengungkung dengan wajah menelusup di ceruk leher.
"Lima hari lagi."
"Yaah, lama. Bisa dipercepat nggak?"
Puput terkekeh. Mengusap-ngusap kepala suaminya itu yang kecewa dan masih betah dalam posisinya.
"Sabar. Makanya jangan nempel-nempel kalo nggak kuat."
"Mana kuat aku jauh darimu. Pengennya nempel terus kayak perangko."
"Bisa aja."Puput mencubit pinggang Rama dengan gemas. Segera menyuruhnya salat karena adzan magrib sudah berkumandang.
...***...
Ini adalah malam pertama Rama dan Puput tidur di rumah baru. Hanya berdua mengisi rumah dua lantai itu. Rencananya besok Bi Lilis akan datang menjadi asisten rumah tangga setelah Rama memintanya pada Mami Ratna. Ia lebih nyaman dengan orang lama yang sudah diketahui sikap dan sifatnya serta loyalitasnya.
Puput membuka mata lebih dulu begitu mendengar adzan subuh berkumandang. Ia terbangun oleh rasa sesak karena Rama tidur memeluknya sejak awal menutup mata hingga subuh ini.
"Aa, sudah subuh. Bangun..." Puput menepuk pelan pipi Rama.
"Hm. Bentar lagi." Sahut Rama dengan suara serak dan mata masih terpejam. Malah mengeratkan pelukan karena udara dingin.
"Udah jam setengah enam lho." Puput iseng menjahili. Sontak membuat Rama membuka mata dan terduduk sambil mengucek mata.
Puput bangun dan terkekeh melihat Rama mengerucutkan bibir setelah memastikan melihat jam yang menempel di dinding.
Setelah Rama ke kamar mandi, Puput turun ke dapur menyiapkan menu untuk sarapan pagi. Semangatnya menggelora. Karena mulai hari ini ia bebas melayani kebutuhan suami dari bangun tidur sampai tidur kembali di rumah sendiri, dengan leluasa tanpa canggung.
Berkutat sendiri di dapur modern tidak membuatnya repot dan kaku. Dulu, ia terbiasa membantu Ibu. Rambut panjangnya digulung ke atas. Masih mengenakan baju tidur tanpa lengan dengan panjang selutut. Puput hanya cuci muka dan gosok gigi. Bebas berbusana. Karena di rumah hanya berdua.
Lauk sisa acara kemarin masih ada, tinggal dipanaskan ke dalam microwave. Ia hanya menambah membuat tumisan sayuran untuk penyeimbang serat.
"Pagi, sayang." Rama tahu-tahu sudah ada di belakangnya. Melingkarkan tangan di perut Puput. Lalu iseng bergerilya setelah tahu sang istri belum memakai bra.
__ADS_1
"Awas dulu! Aa ganggu aku lagi masak." Puput menegur tingkah Rama yang tangannya nakal bermain-main di area dada.
"Aku kan bantu pijat biar kamu nggak cape." Rama beralasan.
"Bantu apa? Yang ada malah ganggu konsentrasi. Badanku jadi ser seran gini. Lutut jadi meleyot." Ucap Puput apa adanya tentang sensasi yang dirasakan.
Rama terkekeh. Mengecup pipi Puput sebelum melepasnya.
"Neng, kalau Bi Lilis diundur dulu ke sininya jangan hari ini nggak apa-apa?" Rama yang beralih duduk di kursi sambil meneguk segelas air putih, menatap Puput dengan intens.
"Memangnya ada apa?" Puput menoleh sambil tes rasa masakannya.
"Aku betah melihatmu berpakaian begini. Hanya untuk aku. Orang lain nggak boleh lihat."
Puput mematikan kompor. Mendekat sambil tersipu malu. "Iya, gak papa kalau itu alasannya."
Rama menarik tangan hingga Puput terduduk di pangkuannya. "Nanti aja disuruh ke sininya pas kita honeymoon. Kira-kira Neng bakal cape gak ngurus pekerjaan rumah sendirian seminggu ini? ujarnya sambil menggesek-gesekkan hidung di belahan dada yang terpampang menggoda itu.
"Aman, Aa. Semua alat rumah tangga serba modern. Cuma sapu dan pel aja yang manual. Aku gak akan cape. Udah biasa pekerjaan rumah mah." Puput melingkarkan tangan di leher Rama. Sedikit melenguh saat suaminya itu membuat sebuah stempel.
"Oke. Aku akan konfirmasi ke Mami. Sekarang mau nge gym dulu ya." Rama memberi satu kecupan di bibir ranum kekasih halalnya itu.
Puput mengangguk. Turun dari pangkuan Rama. Ia juga harus ke kamar menyiapkan pakaian kerja sang suami sekalian mandi.
Menjelang waktunya berangkat ke kantor, sopir yang masih tinggal di kediaman Papi Krisna datang menjemput.
Rama sudah siap berangkat dengan perut yang sudah terisi sarapan lezat buatan sang istri.
Puput tertawa geli. "Atuh kenapa mau aku bantuin malah nggak mau." Ia merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana sengaja ditekankan oleh Rama.
"Nggak mau, ah. Sayang kalo dibuang percuma. Hm, empat hari lagi kan sekarang? Nanti buka puasanya sehari tiga kali ya. Persiapkan tenaga!" Rama mengerling nakal.
"Itu mah aturan minum obat." Puput geleng-geleng kepala. Ia berjalan bersisian mengantar Rama sampai teras.
"Nanti sopir akan jemput. Aku berangkat dulu, sayang." Rama mengecup kening usai istrinya itu mencium punggung tangannya. Puput dipinta menyusul ke kantor nanti siang dengan membawakan bekal makan siang.
"Aa, hati-hati di jalan. Awas hatinya jangan jalan-jalan!" Puput mengedipkan sebelah mata.
Rama tertawa. "Nggak akan, sayang. Aku udah kena peletnya mojang Ciamis." ujarnya balas mengedipkan mata.
Ia berangkat ke kantor dengan suasana hati riang diiringi lambaian tangan Puput. Semangat kerjanya semakin meningkat karena bisikan kata cinta sang istri di ruang tamu tadi. Tiba di kantor, ia langsung meminta Nova masuk ke ruangannya.
"Bisa saya bantu, Pak?" Nova duduk di depan meja kerja Rama.
"Nova, agenda minggu depan alihkan ke minggu ini. Soalnya senin depan akan cuti honeymoon selama seminggu."
"Baik, Pak. Akan saya susun ulang agendanya. Paspor dan visa Bu Putri juga nanti siang beres, Pak."
"Bagus." Rama mengangguk puas. "Oh ya, udah ada data undangan yang akan hadir di resepsi?" sambungnya. Undangan cetak dan digital sudah disebarkan. Berikut link konfirmasi kehadiran yang harus diisi oleh calon tamu undangan di acara resepsi yang akan digelar malam senin nanti.
"Sampai pagi ini 50% sudah mengkonfirmasi akan hadir. Saya akan update lagi besok ke Pak Rama."
__ADS_1
"Aku pengen tau yang dari Bandung siapa saja yang sudah confirm."
Nova mengangguk. "Baik, Pak. Saya cek dulu." Ia membuka tab yang dibawanya untuk melihat data. Lalu mengabsen satu persatu. "Roby Syahputra, Arya Syahputra, Satya Utomo, Nico Melviano, Muamar Bahir, Ridwan Munir, Mizyan Abdillah,...." Ia mengabsen sampai 20 nama.
"Ini baru data sementara, Pak. Saya akan update tiap harinya." Pungkas Nova.
Rama manggut-manggut. "Ada beberapa nama yang nggak aku kenal. Sepertinya itu relasi Papi ya."
"Sepertinya begitu, Pak. Undanganya Pak Krisna paling banyak yang sudah mengkonfirmasi akan hadir dari Jakarta dan Surabaya. Dari Bogor baru satu orang." Sahut Nova.
"Dari Bogor siapa?"Rama tergelitik ingin tahu.
Nova membuka lagi tabnya. Karena ia lupa akan nama yang sekilas tadi terbaca. "Namanya Mark Cornelius."
"Oke. Makasih infonya. Kamu boleh lanjutkan kerja."
Nova mengangguk sopan dan pamit meninggalkan ruang kerja Rama sambil menutupkan pintunya.
Ponsel Rama yang tersimpan di meja berdering dengan menampilkan nama Hadi, SH. Merupakan pengacara yang menangani kasusnya dengan Zara.
[Assalamu'alaikum....selamat pagi, Pak Rama]
Rama menjawab salam pengacaranya itu.
[Saya mau menyampaikan kabar jika rabu besok Bu Putri dijadwalkan pihak penyidik untuk pemeriksaan sebagai saksi. Dan Pak Rama dijadwalkan kamisnya]
[Saya minta hari yang sama dengan istri saya, Pak Hadi. Jangan terpisah] pinta Rama dengan tegas.
[ Sebentar, Pak Rama. Izinkan saya berbicara sampai selesai dulu]
[Oke, maaf. Silakan lanjutkan]
[Itu tadi konfirmasi yang saya terima dari pihak kepolisian setengah jam yang lalu]
Rama menyimak dengan penuh konsentrasi.
[Dan baru saja 5 menit yang lalu ada kabar susulan jika Zara ditemukan gantung diri di selnya]
[APA?!] Sontak Rama berdiri dengan mata membulat sempurna, penuh rasa kaget. [Gimana kondisinya?]
[Tidak tertolong, Pak Rama]
[Innalillahi.....] Rama menghela nafas kasar. Sejenak memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
[Berarti case closed untuk kasusnya Zara. Yang berlanjut di BAP adalah para pelaku anak buahnya Zara. Kesaksian Bu Putri dan Pak Rama tetap dibutuhkan dan saya akan ajukan pemeriksaan dalam hari yang sama]
[Oke, Pak Hadi. Tolong bantu kondisikan. H-4 resepsi pernikahan kami, saya ingin hal yang berhubungan dengan kami selesai. Besok jadi kesaksian terakhir. Tidak mau lagi berurusan dengan kasus yang menjerat anak buah Zara]
[Baik, Pak Rama. Saya akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian]
Percakapan lewat sambungan telepon seluler itu berakhir dengan ucap salam.
__ADS_1