Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
58. Calon Istri?!


__ADS_3

Puput keukeuh dengan pendiriannya. Belum berani memanggil 'Ayang', dengan alasan lidahnya masih kaku. Sebenarnya ia malu dan terkesan bucin mengingat usia hubungan baru menghitung hari. Adu debat pun otomatis dimenangkan oleh Puput. Setelah panggilan dari pembawa acara yang meminta semua staf dan karyawan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan.


"Kamu ya....keras kepala ternyata." Rama terdengar mendesah kecewa. Karena ternyata tidak mudah merayu Puput.


Puput terkekeh. "Maaf, Kak. Nanti aja ya lidahnya masih kaku. Hmm, aku mau gabung dulu nih. Halal bihalal mau dimulai." Secara tidak langsung Puput ingin menyudahi pembicaraan jarak jauh itu.


"Sebentar, Neng. Aku kan belum konfirmasi tugas buat kamu."


"Oh, ada tugas apa?!" Puput balik bertanya dengan kening mengkerut heran.


"Kamu harus mewakili aku menyampaikan sambutan dalam halal bihalal. Teksnya sudah aku kirin via email. Ingat ya, harus kamu yang mewakili. Tidak boleh yang lain. Aku juga udah konfirmasi sama Pak Hendra."


"Panggilan kepada Putri Kirana. Ditunggu segera karena acara akan dimulai."


Konsentrasi Puput terpecah dua. Antara kaget dengan tugas dadakan yang diberikan sang owner RPA, juga pengumuman dari tempat acara yang memanggil namanya. Merasa tidak enak hati karena ia satu-satunya orang yang dipanggil. Itu artinya semua staf dan karyawan sudah berkumpul.


"Kak, aku dah dipanggil nih. Aduh...kenapa dadakan gini intruksinya. Coba kalau dari semalam kan aku bisa prepare. Diwakili Pak Hendra aja ya?! Aku takut gak bisa bicara lancar." Puput merasa tegang. Di saat injure time ini belum cek isi email yang dimaksud.


"Pak Hendra punya tugasnya sendiri. Aku yakin kamu pasti bisa. Hanya tinggal baca aja. Gak usah gugup, Neng. Tuh udah dipanggil lagi." Rama bisa menangkap pengumuman ulang memanggil Puput. Ia menyudahi percakapan dengan memberi semangat.


Puput menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan perlahan. Awal kerja yang tadinya riang berubah tegang karena shock teraphy yang dibuat Rama. Berusaha menetralkan rasa tegang sambil membuka file pdf yang berisi teks sambutan.


"Siput....kamu apa gak denger itu panggilan dua kali. Kirain masih teleponan. Ini malah lagi bengong." Via berinisiatif menyusul karena ia tahu jika sahabatnya itu tengah menerima telpon dari Rama.


"Gaswat, Via. Ternyata dia nelpon buat ngasih tugas. Aku disuruh mewakilinya menyampaikan sambutan. Ini teksnya aja belum aku pelajari. Haduh mules nih perut." Puput nampak was-was dan merasakan perutnya yang menjadi mulas karena tegang.


"Oh tugas negata toh. Itu artinya kamu udah dianggap nyonya boss. Ayo ah ndak usah panik. Kamu kan dah biasa naik panggung. Langsung baca aja nanti. Gak ada waktu buat mempelajari." Via tidak memberi kesempatan Puput berbicara lagi. Menarik lengan sahabatnya itu. Yang ternyata kini semua mata tertuju pada kehadiran keduanya.


"Penampilan baru malah makin banyak tingkah. Kamu siapa sih sampe mesti dipanggil-panggil sama MC, artis bukan. Jangan karena ada affair dengan Pak Hendra, kamu jadi sok orang penting." Kedatangan Puput dibarisan staf, disambut cerocosan Septi dengan wajah kesal. Yang lain pura-pura tidak mendengar omelan pedas supervisor yamg selama ini dikenal selalu sensi pada Puput itu.


"Bu Septi, maaf. Jangan bikin gosip seenaknya. Puput itu----" Ucapan Via tergantung karena mulutnya dibekap oleh tangan Puput. Sorot mata ingin protes karena ia tidak terima dengan ucapan Septi yang memfitnah. Ingin membela sahabatnya itu.


"Maaf, Bu Septi. Aku memang salah sudah telat hadir. Sudah ya, kita kan mau maaf-maafan nih." Puput meminta Via untuk tidak memperpanjang, menahan emosi. Mengingat MC sudah memulai opening.


Pak Hendra menerima uluran mic dari MC yang merupakan salah satu karyawan di bagian kasir. Sambutan singkatnya secara garis besar menyampaikan ucapan terima kasih untuk loyalitas keluarga besar RPA. Serta kata maaf karena masih dalam momen idul fitri.


"Sebelum masuk pada acara musafahah, ada sambutan dari owner RPA, yaitu Bapak Rama Adyatama. Yang akan disampaikan oleh Teh Putri Kirana. Kepadanya dipersilakan!" MC mengundang Puput untuk tampil ke depan.


Septi nampak terhenyak. Via yang berdiri di sampingnya dapat menangkap dengan ekor mata. Membuatnya tersenyum sinis, dalam hati bersorak mengejek ; "kaget kan? kaget dong masa enggak. Syukurin deh kalau nanti dipecat karena udah ngomong seenak udel."


“Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.” Puput merapalkan do'a dalam hati saat melangkah ke depan, berdiri berdampingan dengan Pak Hendra. Tak dipungkiri rasa gugup melanda karena tidak adanya persiapan terlebih dahulu. Bahkan belum tahu isi teksnya seperti apa. Dengan berdo'a ketegangan mulai mengendur. Berani menegakkan kepala menatap rekan-rekan yang berbarìs rapih dan terfokus padanya.


Menganggukkan kepala kepada Pak Hendra sebelum memulai berucap sebagai tanda hormat. Puput mengucap basmallah dan salam.


"Saya berdiri di sini untuk menyampaikan amanah dari owner RPA, yaitu Bapak Rama Adyatama. Beliau yang rencananya akan hadir di cabang Ciamis, dengan berat hati harus membatalkan karena ada urusan yang lebih penting di Jakarta. Baik, untuk mempersingkat waktu, saya akan bacakan sambutan dari beliau." Puput menelan ludah, menjeda. Opening bisa dilakukannya dengan lancar.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Puput mulai membaca file dari ponselnya. Salamnya dijawab kompak semua orang. Meski 20 % diantaranya karyawan non muslim.


"Mukadimah mengikuti pemberi sambutan awal. Saya, Rama Adyatama melalui cal-----" Puput berusaha untuk tidak menampakkan raut terkejutnya. Bagaimana tidak terkejut dengan kalimat lanjutan yang membuat kedua pipinya merona merah. Menelan ludah dengan susah payah karena hampir saja kebablasan berucap sesuai teks. Bisa heboh seluruh pemiarsa.


"Saya ulang." Puput mengangkat kepala sejenak. "Saya, Rama Adyatama melalui Putri Kirana ingin menyampaikan salam silaturahmi, salam idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin kepada manajer, beserta seluruh staf dan karyawan RPA cabang Ciamis. Mari terus tingkatkan kinerja dan prestasi kerja. Kemajuan RPA modern building store tentunya akan berdampak pada kesejahteraan bersama. Semangat memulai hari kerja. Semangat menjadi team work yang solid dan hebat. Ingatlah bahwa PERSATUAN ADALAH KEKUATAN. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Tepuk tangan dari seluruh hadirin menggema usai menjawab salam Puput. Merasa tersulut semangat oleh motivasi yang dibacakan Puput dalam intonasi yang tegas. Terkhusus dari Pak Hendra yang mengacungkan dua jempol diiringi senyum simpul. Membuat Septi yang jelas menangkap pemandangan itu, semakin yakin ada hubungan terlarang antara manajer dan staf accounting itu.


...***...


"Put, aku pengen ngadu sama Pak Hendra. Enak aja si kanjeng ratu nuduh kamu ada affair. Biar nyaho dia, biar kena tegur." Via berkata pelan sambil berjalan bersisian menaiki tangga menuju lantai dua. Acara halal bihalal yang ditutup dengan keliling saling bersalaman baru saja bubar. Semua menuju posisi kerja masing-masing.


"Biarin aja. Biarin nanti dia bakalan malu sendiri. Sudah jangan diambil pusing. Ada yang lebih penting dari ini. Nanti pulang kerja aku bocorin." Puput menyahut tak kalah pelan. Sampi tiba di depan kubikelnya.


"Tuh kan...kan. Kamu paling bisa bikin aku kepo akut. Bilang sekarang aja, Siput! Kalau nggak, aku bakalan umumin status kamu. Hayoh!" Via menaik turunkan alisnya. Mengancam demi bisa mengorek topik sekarang juga.


"Silakan kalau berani." Puput menanggapi santai. Memasukkan tas ke dalam lemari meja kerjanya. Bersamaan dengan telepon di mejanya berdering.


Puput masuk ke dalam ruangan sang manajer yang menelponnya barusan. "Ada apa, Pak?" Menarik kursi sehingga duduk segaris dengan Pak Hendra.


Pak Hendra tersenyum simpul. Melipat kedua tangan di meja. Indra penglihatan yang dibingkai kacamata dengan lensa minus itu menambah kharisma. "Pertama saya mau ucapin selamat. Selamat untuk penampilan barunya. Makin cantik. Pantas doi sampe klepek-klepek." terkekeh diakhir ucapan.


"Doi siapa?! Jangan ngarang deh, Pak." Dalam hati Puput tegang. Mungkinkah Pak Hendra sudah tahu hubungannya dengan Rama. Kalau iya, tahu dari siapa.


"Doi yang ngasih cincin berlian pastinya."


Membuat Pak Hendra tertawa. Setelah puas, kembali memasang wajah serius tapi santai. "Kenapa tadi bacain teks sambutan Pak Rama ada yang di cut?!"


Sontak Puput membelalakkan mata. "Kok tau?! Ups---" Beralih menutup mulut karena keceplosan. Sama saja dengan membenarkan ucapan sang manajer.


Pak Hendra mengulum senyum diiringi geleng-geleng kepala. "Pak Rama juga ngirim email yang sama ke saya. Dan saya disuruh mastiin kalau kamu membaca sesuai teks."


Puput terjengit sampai berdiri. "Pak, jangan bilang kalau---"


"Yes, bu boss. Pak Rama telepon saya tadi saat mau berangkat. Malah nitipin jangan sampai ada cowok yang coba-coba deketin." Selanjutnya Pak Hendra tertawa lepas menyaksikan Puput melorotkan tubuh ke bawah meja sambil menutup muka. Wajah cantik berkulit putih itu jelas sangat merona seperti kepiting rebus.


"Pak, biasa aja ya. Jangan heboh. Gak semua orang di kantor ini suka sama aku." Permintaan Puput dengan wajah serius sebelum pamit keluar ruangan.


"Emang ada yang gak suka sama kamu? Siapa?" Pak Hendra menautkan kedua alis.


"Ada lah, Pak. Tapi biarin aja. Aku mah santai orangnya. Gak pernah dimasukin ke hati."


...***...


"Ada kabar apa?!" Septi langsung menodong Yola dan Tina, dua karyawan pramuniaga yang usai beristirahat.

__ADS_1


"Saya dengar obrolan Puput dan Novia di teras mushola. Katanya Pak Hendra sudah dikasih tahu Pak Rama kalau----------." Dibalik rak yang mendisplay berbagai model loster, Tina berkata pelan memberi laporan. Setengah berbisik karena ini rahasia yang bisa menghebohkan jagat RPA. Berdua dengan temannya mendapat mandat dari Septi untuk menjadi mata-mata.


"Apaaa?? Jangan ngelindur deh. Atau kupingmu salah denger?" Kedua bola mata Septi nyaris loncat. Ia sebenarnya tengah mengumpulkan bukti dan saksi untuk dilaporkan ke pimpinan pusat. Tentang kecurigannya sejak lama. Dugaan adanya affair antara Pak Hendra dan Puput. Tentunya agar mendapat sanksi. Kalau perlu dimutasi, syukur-syukur dipecat dengan tidak hormat karena sudah melanggar rules perusahaan.


"Saya juga dengar seperti itu. Sumpah." Yola mengangkat kedua jari dengan mimik serius. Menguatkan cerita temannya.


Septi menghembuskan nafas kasar. Mengusir dengan kibasan tangan agar kedua pramuniaga itu kembali ke posnya masing-masing. Kedua alis tebal hasil guratan pensil itu nyaris beradu. Dengan otak berpikir keras.


Puput pacarnya Pak Rama?


Sejak kapan?


Gak mungkin...


Spontan kepalanya menggeleng. Tidak percaya. Namun laporan dua orang mata-matanya berkata yakin. "Ck---" makin kesal rasa hati karena ia terus terkalahkan oleh pesona Puput.


Brukk


"Aduh, maaf bu maaf....saya gak sengaja." Septi yang berjalan mundur dua langkah lalu berbalik badan, tidak tahu jika ada orang di belakangnya. Ia mengusap-ngusap bahu seorang wanita yang disenggolnya yang mengenakan masker. Yang sorot matanya menyiratkan marah, tidak terima.


"Sekali lagi saya mohon maaf ya, Bu. Mundur gak lihat-lihat. Saya supervisor di sini. Barangkali bisa saya bantu? Ibu lagi nyari apa?" Septi berkata sopan dengan iringan senyum ramah. Menunggu jawaban sang pengunjung toko yang malah terpaku menatap ke arah name tag nya.


Jam 5 sore waktunya bubar kantor. Puput menyuruh Via mampir ke alun-alun Ciamis. Mencari tempat duduk yang berada dekat masjid agung, di bawah pohon rindang. Dua buah minuman thai tea yang dibeli dari pedagang di trotoar alun-alun, menjadi pelengkap nongkrong santai keduanya.


"Jadi kamu mau bahas apa nih sampe gak mau diceritain pas ishoma." Jiwa kepo Via sudah sangat meronta-ronta.


Puput tidak menjawab. Mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Menyerahkannya pada Via.


"Baca nih teks sambutan dari Karam yang sebenarnya." Puput menyeruput santai minumannya. Mengacuhkan kening Via yang mengkerut bingung. "Bacain dengan volume level 2!"


Bagaikan kerbau dicocok hidung, Via menurut. Menatap layar ponsel, menyentuh file pdf.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya, Rama Adyatama. Melalui calon istri yang bernama Putri Kirana ingin menyampaikan salam silaturahmi, salam idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin kepada manajer, beserta seluruh staf dan karyawan RPA cabang Ciamis. Mari terus tingkatkan kinerja dan prestasi kerja. Kemajuan RPA modern building store tentunya akan berdampak pada kesejahteraan bersama. Semangat memulai hari kerja. Semangat menjadi team work yang solid dan hebat. Ingatlah bahwa PERSATUAN ADALAH KEKUATAN. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Aw-aw-awwww Siput. Hadeuhhh adek yang meleleh bang." Via berteriak, loncat-loncat kemudian terduduk di hamparan paving block.


"Kenapa aku yang melehoy. Aduhhhh Siput...lutut aku lemes. Haaahh." Via masih merasakn euforia sendiri. Mengipas-ngipaskan tangan ke wajah yang berkeringat. Mengacuhkan Puput yang mentertawakannya sampai memegang perut. Mengabaikan tatapan orang-orang yang memandang aneh.


"Tunggu!" Via berdiri. Menepuk-nepuk bo kong yang tertempel dedaunan kering. Duduk lagi di bangku beton di samping Puput. "Kenapa tadi malah disensor?"


...***...


🌹🌹🌹


“Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.”

__ADS_1


Artinya: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha ayat 25-28).


Adalah do'a Nabi Musa As, sebagai permohonan untuk kemudahan dan kefasihan bicaranya sehingga Nabi Musa dapat berhadapan langsung dengan Firaun dan berbicara dengan lancar bahkan sangat lantang. Do'a yang patut kita amalkan.


__ADS_2