
Aul tersenyum mesem saat saling bertatapan dengan pria berseragam
polisi yang duduk di dekat kolam air mancur. Melangkah mendekat saat dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
"Pantesan pulang dinas pengen mampir kesini. Rupanya cafe kedatangan tamu istimewa, Aulia Maharani." Ucap Anggara menyambut Aul yang baru saja duduk di kursi di hadapannya.
"Hm, jadi cafe ini milik Pak Pol?!" Aul memicingkan mata menatap Anggara yang terkekeh. Tidak ada makanan di meja. Hanya segelas cappucino panas dengan bentuk love di permukaannya. Belum disentuh.
"Ya, begitulah. Aul baru pertama kesini ya?" Anggara bertanya balik.
"Iya, Kak. Di rekomendasiin sama Farah, genk aku tuh." Tunjuk Aul dengan dagunya ke arah teman-teman yang sedang berswafoto di depan tembok bergambar tiga dimensi.
"Kenapa Kak Angga gak pernah cerita punya cafe ini. Ini udah lama apa baru, Kak? Aku jarang lewat jalan ini sih." Sambung Aul. Sejak tadi masuk, ia sudah merasa takjub memandang cafe dua lantai dengan interior yang cozy. Menyasar pangsa pasar anak muda.
"Udah jalan setahun lebih dua bulan. Emang sengaja gak dikasih tau biar nanti tau sendiri aja." Ucap Anggara yang kemudian mulai menyeruput kopinya.
"Idih, Kak Angga gak asyik." Aul mencebikkan bibir.
Anggara tertawa. "Aku mah emang gini orangnya. Siapa pun yang mau berteman dekat denganku harus tulus apa adanya jangan karena ada apanya."
"Baru pakai seragam coklat aja, banyak cewek yang ngejar-ngejar. Apalagi kalau tahu punya cafe sebanyak ini." Pungkas Anggara sambil mengacungkan tiga jari.
"Wow. Tiga cafe?! Dimana aja tuh?" Aul menjadi penasaran. Menatap Anggara dengan takjub.
"Selain ini, ada satu di Garut sama di Lembang. Cek mbah aja alamatnya ada kok." Anggara menawarkan kopi pada Aul. Namun Aul menggelengkan kepala karena sudah kenyang.
"Aku udah follow ig nya, Kak. Aku salut deh sama Kak Angga. Diam-diam ternyata seorang pengusaha juga." Aul menyimpan ponselnya di meja usai mengikuti akun medsos cafe tersebut. Diiringi acungan dua jempol.
Anggara tersenyum. "Buat masa depan, Aul. Biar kalau udah punya keluarga kecil, ekonomi lancar sejahtera. Tahu sendiri lah gaji polisi berapa. Jadi harus punya usaha sampingan agar tidak menghalalkan segala cara. Aku mau jadi aparat yang bersih." Ujarnya. Karena sudah menjadi rahasia umum ada perilaku oknum-oknum polisi yang tidak baik.
"Ah, Kak Angga emang terbaik deh." Aul geleng-geleng kepala. Bingung mau memuji bagaimana lagi. Anggara hanya terkekeh.
Keempat teman Aul datang menghampiri. Sepertinya sudah bersiap pulang. Benar saja. Farah mewakili bicara, mengajak pulang.
Aul mengangguk setuju. "Kak Angga, kenalin ini semua bestie aku," ujarnya. Dan masing-masing menyebutkan nama saat bersalaman dengan Anggara yang menyambut dengan senyum ramah sambil menyebutkan namanya juga.
"Aul, mau pulang sekarang? Gimana kalau nanti aja aku anterin ya." Tawar Anggara.
"Pulang sekarang aja, Kak. Soalnya Farah sama Selvy mau ke rumahku dulu." Aul memakai tas punggungnya. "Makasih ya Kak buat free nya." Ia tersenyum tulus.
Anggara mengangguk dan tersenyum. "Nanti kalau kesini lagi bilangin sama kasir; Aulia temannya Anggara. Biar dapat free lagi."
"Wah, kalau kayak gini mah kapok ah. Nggak akan datang lagi." Aul menggelengkan kepalanya.
"Kok gitu?!" Anggara menaikkan satu alisnya.
"Aku nggak mau aji mumpung, Kak. Cukup sekali ini free nya. Rugi dong nanti Kak Angga soalnya aku selalu bawa pasukan." Ucap Aul sambil menoleh pada teman-teman di belakangnya. Farah dan Selvy terciduk sedang senyum-senyum menatap Anggara.
Anggara terkekeh. Ia mengalah. "Oke deh bayar normal seperti tamu lainnya. Datang lagi ya kalian semuanya." ucapnya menatap semua teman Aul itu.
__ADS_1
"Siap, Kak." Kompak keempat teman Aul itu.
"Semoga saja Aul khilaf traktir kita lagi." Celetuk Reno. Yang dimainkan teman lainnya.
Aul hanya menanggapi dengan memutar bola matanya. Ia pun mengulang pamit kepada Anggara.
...***...
Bandung
Panji mengendarai mobilnya memasuki parkiran SDIT yang menerapkan sistem full day school. Masih ada waktu lima menit lagi sebelum bel jam empat sore berbunyi. Ia pulang kantor lebih awal untuk menjemput Padma.
"Kakak!"
Teriakan riang Padma terdengar saat Panji duduk di bangku panjang di bawah pohon, tempat biasa menunggu. Sang adik yang datang dengan berlari, langsung duduk di sampingnya. Menggelayut manja di lengannya.
"Mau langsung pulang atau mau main dulu?" Panji membiarkan sang adik yang betah bersandar sambil memain-mainkan jam tangan yang dikenakannya.
"Pulang, Kak. Nanti Ayah marah. Boleh main tapi harus pulang dulu. Mandi, ganti baju, baru boleh jalan-jalan sore." Ucap Padma.
Panji tersenyum. Seiring waktu membersamai Padma, semakin tahu pola didik sang ayah yang disiplin. Salah satu tips keberhasilan Padma menghafal Al Qur'an karena sang ayah selalu membiasakan menperdengarkan murotal sejak balita di setiap menjelang tidur.
Panji melajukan mobilnya dengan santai. Menjadi pendengar sang adik yang berceloteh menceritakan pelajaran hari ini.
"Padma betah sekolah di sini?" Panji menoleh sekilas pada Padma yang duduk sambil mengayun-ngayunkan kaki.
"Terus Zia teman sebangku Padma bilang kalau Fadlan takut sama belalang. Tadi jam istirahat, Padma nangkap tiga ekor belalang di taman. Padma masukin deh ke wadah pensilnya Fadlan yang ada di kolong meja pas semuanya masih di luar."
"Tau nggak Kak, pas mau mulai pelajaran Bu Eva, tiba-tiba Fadlan heboh menjerit-jerit. Belalang pada loncat ke bajunya sama ke pipinya Fadlan. Nangis deh. Hi hi hi....." Padma terkikik-kikik sambil memegangi perut.
Panji ikut tertawa. Keisengan Padma seperti de javu masa kecilnya dulu.
"Bagus harus dikasih pelajaran begitu, Padma. Auto kapok ya nanti Fadlan nya." Panji mendukung dan tidak akan ikut campur selama kenakalan temannya sang adik masih di batas wajar.
"Iya, Kak. Pasti Fadlan kapok. Tadi waktu bubar, Padma sama Zia ke mejanya Fadlan dulu. Padma bilang kalo masih rese nanti akan dibawain belalang satu toples. Fadlan langsung minta maaf dan janji gak akan rese lagi katanya."
Panji menanggapi cerita sang adik dengan acungan jempol.
Malam ini giliran Panji yang menginap di rumah sang ayah untuk pertama kalinya. Besok mulai libur panjang tiga hari. Long weekend yang tentu saja disambut antusias oleh semua orang, pelajar maupun pekerja.
"Ayah, kalau besok Padma ikut Kakak ke Ciamis, Ayah sama siapa?" Ucap Padma yang kini bersantai di ruang tengah bersama Ayah Anjar dan Kak Panji. Ia merasa risau.
Ayah Anjar tersenyum. Mengecup puncak kepala anak gadisnya yang menggelayut di lengannya. Selama ini memang tak pernah berpisah jauh. Kalau pun harus ke luar kota, Padma selalu diajak. Jadi wajar jika Padma merasa berat berpisah.
"Ayah juga besok mau ke Jakarta. Ada urusan kerja. Padma jangan khawatir sama Ayah. Main yang puas di sana sama Kak Panji ya. Mau ke Pangandaran juga, kan? Nanti naik perahu ke pasir putih. Pasti seru deh." Anjar menyemangati.
"Nanti di sana Padma akan Kakak kenalin sama Ami. Pasti Padma seneng deh main sama Ami." sahut Panji yang sudah mendapat kabar dari Aul, jika Ami juga akan pulang dari pondok jum'at pagi.
"Ami itu siapa, Kak?" Padma beralih berpindah duduk di samping kakaknya. Menatap dengan penuh keingin tahuan.
__ADS_1
...***...
Padma sudah masuk ke kamarnya usai mengobrol santai mendengarkan cerita Panji tentang Ami, juga tentang Ciamis yang belum pernah dikunjunginya itu. Tidur memeluk guling sambil mendengarkan murotal yang distel dengan volume rendah. Bibirnya komat kamit mengikuti alunan merdu suara ustad Hanan Attaki melantunkan surat dari juz ke 29 sampai juz 30.
Panji yang menemani mempersiapkan kebiasaan Padma itu, segera keluar usai mengecup kening sang adik. Sebetulnya masih betah menemani. Namun ayah Anjar bilang, Padma harus ditinggalkan sendiri agar fokus mendengarkan hingga terlelap dengan sendirinya.
"Nji, sini!" Ayah Anjar mengajak Panji yang baru menutup pintu kamar Padma, ke teras depan. Ada dua buah kursi rotan sintetis di teras, yang cocok untuk bersantai.
"Ada apa, Yah?" Panji menatap sang ayah yang masih betah mengenakan sarung.
"Padma nanti mau diajak tinggal dimana di Ciamis nya? Apa di rumah Enin atau bukan?" Ayah Anjar butuh kepastian. Mengingat sikap Ratih sang mantan istri, masih terlihat kaku.
"Ayah tenang aja. Panji punya rumah kedua untuk tempat tinggal Padma. Panji memang belum bisa mengajak Padma tinggal di rumah Enin. Butuh waktu, Yah. Menunggu Bunda sendiri yang mengajak."
"Padma akan tinggal di rumah Bu Sekar. Bu Sekar itu mertuanya Kak Rama. Di rumahnya ada anak-anaknya Bu Sekar yang masih kuliah dan sekolah. Namanya Aul, Zaky, dan Ami. Pokoknya semuanya baik. Panji udah akrab sama semuanya. Panji juga udah minta izin sama Bu Sekar. Semuanya welcome, Yah." Jelas Panji.
Ayah Anjar manggut-manggut. Ia beralih menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Bundamu....apa selama ini ada laki-laki yang mendekati Bunda, Nji?" Tatapannya tetap lurus ke depan. Menerawang angkasa yang pekat tanpa hiasan bintang karena tertutup awan hitam.
"Setahu Panji, dulu....dari kalangan relasi ada dua orang yang datang ke rumah. Tapi Bunda bergeming. Menolak dengan halus. Tidak berniat menikah lagi." Sahut Panji. Beralih menatap raut wajah sang ayah yang jambangnya sudah lebat belum dicukur. Tapi justru menambah kharisma dan gagah pria berusia setengah abad itu.
Tak ada yang berbicara untuk sesaat. Ayah dan anak itu larut dengan pikiran masing-masing. Hanyalah suara Jangkrik yang bersahutan memecah kesunyian jam sembilan malam.
"Ayah serius pengen rujuk dengan Bunda?" Panji menatap tajam. Menunggu jawaban sang ayah yang kini mengatupkan bibir dengan rapat.
"Ada peluang nggak, Nji?" Intonasi Ayah Anjar terdengar ragu.
"Panji juga bingung. Sejujurnya punya ekspektasi Ayah sama Bunda rujuk. Demi Panji dan Padma agar kita jadi satu keluarga utuh. Tapi Panji nggak akan neken Bunda. Panji mau coba secara halus sesuai saran Om Krisna."
Ayah Anjar memiringkan badan. Nampak antusias ingin tahu. "Cara halus gimana, Nji?"
"Ada deh. Ayah ikuti skenario aja. Jangan lupa sentuh hati Bunda lewat sepertiga malam." Panji menarik sudut bibirnya. Berdiri lebih dulu dan pamit ke kamarnya. Meninggalkan sang Ayah yang masih diliputi penasaran.
Pagi datang menyapa. Cerah dan hangat oleh sinar mentari pagi yang mulai terbit di ufuk timur. Secerah suasana hati Padma yang menunggu sang kakak datang menjemput usai subuh tadi pulang dulu ke rumahnya.
Yang ditunggu akhirnya datang. Panji turun dari mobil dengan outfit casual, kaos hitam dan celana jeans selutut.
"Kakak udah sarapan belum?" Padma menyambut sang kakak di teras dengan berbinar.
"Udah barusan. Tadinya mau sarapan di sini tapi bibi udah masakin." Panji menenteng travel bag milik Padma. Bersiap berangkat ke Ciamis jam tujuh pagi ini.
"Jangan ngebut, Nji! Kabari Ayah kalau sudah sampe Ciamis." Ucap Ayah Anjar setelah berpelukan dengan Panji.
"Siap, Yah."
"Ayah, Padma berangkat dulu." Giliran Padma mencium tangan sang ayah lalu berpelukan pula.
"Happy holiday, saleha. Nanti Ayah tunggu cerita seru liburannya Padma di Ciamis." Ayah Anjar mengecup puncak kepala Padma yang berbalut hijab instan.
Dengan berucap doa, diiringi lambaian tangan sang Ayah dan Mbok, mobil CRV yang membawa kakak beradik itu mulai meninggalkan komplek perumahan menuju kota dengan ciri khas Galendo.
__ADS_1