
Waktu masih pagi. Baru jam 9. Shalat sunnah 2 rakaat usai ditunaikan berjamaah. Puput menatap Rama dengan semburat malu. Menutup wajah dengan telapak tangan usai mendapat ciuman di kening.
"Aahhh, aku deg-degan." Teriak Puput tertahan karena tertutup telapak tangannya sendiri.
Rama terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Gemas jadinya. Dibukanya telapak tangan yang menutupi wajah yang memerah itu. "Dibikin enjoy, sayang. Jangan tegang. Kita akan menuju surga dunia bersama." Direngkuhnya tubuh yang masih berbalut mukena itu penuh sayang. Memberi dua kali kecupan di pipi.
Suara ketukan di pintu terdengar. Rama bangkit dengan semangat menuju pintu.
"Makasih, mbak." Rama menerima paket dari mbak Nur, ART kedua yang ada di rumah. Sekalian ia berpesan bahwa siapapun tidak boleh ada yang mengganggunya selama berada di kamar.
Pintu ditutup kembali dengan tak lupa menguncinya. Dua kali di tes memutar handle untuk memastikan pintu terkunci atau belum. Clear.
Rama mendekati Puput yang baru selesai melipat mukena. Memeluknya dari belakang.
"Menyenangkan suami itu ibadah. Dipakai ya!" Tersenyum penuh arti, diserahkannya paper bag dengan brand nama istri David Beckham.
Di dalam walk in closet, Puput menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan untuk mengusir tegang. Pantulan dirinya di cermin yang mengenakan lingerie merah, membuatnya meringis. Risih dengan kain transparan menerawang itu yang mempertontonkan aset tubuhnya.
Tapi memang tugasnya menyenangkan suami harus ditunaikan. Harus pandai memikat mata sang suami untuk selalu tertuju padanya. Di luar sana, bisa jadi banyak perempuan yang akan menggoda sang suami yang memiliki pesona fisik dan finansial.
Apalagi Rama harus berangkat ke luar negeri untuk waktu lama. Tugasnya mengenyangkan keinginan sang suami agar tetap sayang dan setia, meski jarak jauh akan memisahkan sementara.
...***...
POV Rama
Semua tirai jendela sudah aku tutup, meski tak mungkin ada yang mengintip. Tapi ingin nyaman saja, lebih privasi. Pendingin udara juga pengharum ruangan sudah dalam mode on. Sambil menunggu Puput, aku membalas pesan dari Jo, menyetujui meeting virtual besok siang. Menunggu dulu Ben tiba di New York, yang sudah terbang subuh tadi.
Aroma parfum yang tercium wangi membuat aku mendongak. Mata ini tak berkedip menatap gadis yang berdiri di depan pintu walk in closet. Logikaku masih sadar untuk segera mematikan hape. Spontan jakunku naik turun melihat pemandangan menggoda itu.
Ini momen yang aku nanti dari kemarin. Sungguh, gairahku terdorong naik ke ubub-ubun melihat seksinya Puput, istriku. Aku mendekati dia yang terlihat malu dan risih mengenakan lingerie merah itu.
"Sayang, my love, my sexy wife....." Suaraku berat. Tak bisa lagi kulukis gambaran betapa aku memujanya. Bibir dan lidahku bermain menelusuri wajah dan lehernya. Menyesap kelembutan kulitnya, menghirup harum tubuhnya.
"Aku siap menyerahkan semuanya untukmu, suamiku." Puput tersenyum manis, mengalungkan tangan di leherku.
Sungguh kalimat indah yang membuat jiwa kelakianku semakin membara. Meraup bibirnya yang ranum dan basah sudah menjadi candu. Aku merema-remas bo kongnya yang padat dengan bibir saling bertaut. Hanya perlu menarik simpul pita di kedua bahunya, lingerie itu melorot jatuh ke lantai. Aku menggendong tubuh molek itu ke ranjang.
"Aa, jangan lupa berdo'a!" Puput mengingatkan disela aktifitasku mencumbunya.
Iya. Aku memang lupa. Saking semangatnya menyentuh setiap inci tubuh istri cantikku ini. Aku menjeda beberapa detik untuk merafalkan do'a.
"Aww, sakit." Puput meringis sambil menahan kepalaku yang akan terbenam lagi.
"Maaf, sayang. Lupa..." Saking memburunya mendengar setiap de sahan dan lengu han dari bibir istriku, hisapan stempel kepemilikan yang aku buat sepertinya terlalu kasar. Aku melembutkan lagi aktifitasku.
...***...
Saat berbagi peluh dilakukan tanpa paksaan, tetapi penuh ketulusan dari hati. Menyalurkan perasaan cinta dan sayang dalam penyatuan yang diridhoi Illahi, sakit karena benda asing yang memaksa masuk itu tetap terasa. Tapi tentu saja tidak menimbulkan trauma.
Dengan kesabaran setelah dua kali percobaan yang gagal, ketiga kalinya ini, gawang sempit itu berhasil dibobol. Rama menciumi seluruh wajah Puput yang berkeringat dan meringis. Ia memberi jeda sambil mengusap sudut mata Puput yang berair.
"Sesakit itukah, sayang?" Rama menatap iba sambil membelai wajah yang mengangguk lemah.
"Tapi aku bahagia. Aku berhasil menjaganya untuk diserahkan pada suamiku." Sahut Puput dengan mata berkaca. Dalam tarikan nafas yang naik turun, di bawah kungkungan sang suami yang mengurung.
__ADS_1
Rama tersenyum. Bahagi dan bangga berpadu. Ia melanjutkan lagi setelah mendapat ijin. Membawa Puput bersama-sama meniti langkah menuju puncak kenikmatan. Kalimat puja puji terucap mengiringi setiap gerakannya. Dari lambat berubah ritme menjadi sedang dan semakin cepat. Sampai pintu surga dunia seolah terpampang nyata di depan mata. Ia tidak egois, lenguhan bersama menjadi bukti bahwa ia membawa serta bidadari surganya mencapai puncak kenikmatan tertinggi.
"Sayang..."
"Hm."
"Hanya aku yang boleh melihat semua ini." Sikap posesifnya muncul. Di balik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya, Rama memeluk Puput yang bergelung di bawah ketiaknya. Dieratkannya selimut sampai menutupi bahu seputih susu yang dipujanya itu. Ia mengusap dan merapihkan rambut panjang sang istri yang mengangguk lemah, tak berdaya dalam dekapannya.
"Sayang..."
"Hm."
"Mau ngaca, nggak?"
Sontak membuat Puput membuka mata dan mendongak. Meraba sudut bibirnya.
Rama terkekeh. "Kamu mikirnya iler ya? Kenapa jadi parno gitu sih. Biasa aja dong." Dengan gemas dicubitnya hidung Puput sampai berbekas merah.
Puput tersipu. "Terus kenapa aku harus ngaca kalau bukan ada iler." Selimut yang sampai ke leher diturunkan sampai bawah ketiak karena merasa gerah.
"Karena kamu jadi makin cantik. Shining." Karena selimut yang diturunkan itu, Rama tersenyum simpul menatap stempel maha karya yang bertebaran di leher dan dada Puput.
"Berarti Aa juga sama harus ngaca. Kamu juga makin tampan dan bersinar." Puput mengusap pipi Rama dalam binar penuh cinta.
Rama menaikkan alis. "Ya sudah gak perlu ngaca. Kita udah jadi cerminnya."
Waktu menunjukkan pukul 11 lebih 15 menit saat keduanya memilih berada di balik selimut. Rama hanya turun dari ranjang sebentar untuk mengambil air minum dari dispenser.
"Aku jadi ngantuk tapi bentar lagi Duhur." Puput menguap. Rasa lelah pertandingan silat tak seberapa dibandingkan rasa lelah usai bercinta dengan pemanasan yang panjang.
"Nggak papa tidur aja dulu. Biar ada tenaga buat nanti malam. Aku mau lagi. Jatah siang dilewat aja buat recovery." Rama mengerling penuh arti.
Ternyata Rama juga menyusul tertidur. Sampai kemudian terjaga saat Puput bergerak mengurai pelukan dan terduduk.
"Aku mau mandi." Puput menahan tangan Rama yang akan menariknya lagi untuk tidur.
"Kita mandi bareng!"
"Tapi...."
"Jangan nolak! Kita udah saling lihat. Jadi nggak perlu malu." Rama tidak mau menerima protes. Ia menggendong tubuh Puput menuju kamar mandi.
Puput merasakan perih pada inti saat duduk di closet untuk buang air kecil. Sambil menunggu Rama yang mengisi air di bathtub dalam sekat yang berbeda. Keduanya berendam dalam wangi aromaterapi dengan suhu air yang hangat. Bergantian saling menggosok badan. Saling mencubit dan menggigit diiringi tawa manja.
Guyuran di bawah shower menjadi sesi terakhir acara mandi. Rama memanfaatkannya sambil tangannya bergerilya ke segala arah. Mengabaikan Puput yang memberengut manja karena acara mandinya makin lama.
...***...
Pukul lima sore. Cia baru pulang dari kantornya. Tentunya dengan dikawal Damar. Karena dirinya masih takut jika tiba-tiba bertemu Adit.
"Mbak Nur, Kak Rama sama Teh Puput kemana? Kok sepi." Cia menatap Mbak Nur yang membawakan dua jus alpukat sesuai permintaannya. Damar tengah menerima telpon. Terdengar membahas pekerjaan dengan raut serius.
"Den Rama sama Neng Puput dari pagi sampai sekarang belum keluar dari kamar. Katanya jangan ada yang mengganggu. Makan siang juga dianterin ke atas." ART berusia 35 tahun itu tersenyum simpul. Ia permisi kembali ke dapur.
"Astaga! Apa nggak bosen seharian di kamar." Cia geleng-geleng kepala. Terdengar oleh Damar yang baru selesai bertelpon.
__ADS_1
"Maklumin....namanya juga pengantin baru. Mungkin nanti juga kita seperti itu." Damar menatap Cia yang nampak tersipu. Yang buru-buru menyeruput jusnya untuk menyamarkan salah tingkah.
"Aku akan melamarmu setelah Rama balik dari Amrik. Mau ya, sayang?" Damar menatap lembut.
Jantung Cia berdegup kencang. Semburat merah jambu terbit di pipinya. Sambil menggigit sedotan, ia mengangguk malu-malu.
Setelah Damar memghabiskan jusnya, ia pamit pulang. Cia mengantar sampai teras diiringi lambaian tangan dan senyum manis. Dengan dada yang membuncah keriaan, anak bungsu Papi Krisna itu menaiki tangga menuju kamarnya sambil senyum- senyum.
Selesai mandi dan turun lagi ke ruang tengah, sudah ada Rama dan Puput duduk di sofa dengan televisi yang menyala. Cia bergabung duduk dengan pemandangan kakaknya yang tiduran di pangkuan Puput.
"Ah, lupa. Sebentar!" Cia beranjak lagi dan berlari menuju tangga. Membuat Rama dan Puput saling tatap dengan menautkan alis.
"Aa, Via kan minggu depan nikah. Aku sekeluarga akan ke Banyumas nginep semalam. Aku baiknya ngado apa?" Puput memijat-mijat pelan kepala Rama, sesuai permintaan suaminya itu.
"Kasih kado terbaik. Via kan sahabat kamu. Kalau dia udah punya rumah, beliin furnitur misal kasur atau apa terserah. Budgetnya 10juta. Pokoknya beliin kenang-kenangan dari kita yang bermanfaat." Rama masih terpejam menikmati bermanja sore di pangkuan Puput.
Puput jelas terpana dengan besarnya budget yang diijinkan Rama. Tapi di satu sisi merasa senang karena Via mendapat berkah dari pernikahannya itu. "Nanti aku tanya Via aja maunya dibeliin apa. Biar pas manfaatnya ya." Dan hanya dijawab Rama dengan anggukkan.
Cia datang lagi dengan membawa paper bag kecil warna putih berlogo CA Store. "Teh Put, ini kado dari aku. Maaf ya telat. Abisnya kalian mendadak nikahnya."
"Eh, ini apa?" Puput menerima dengan ekkspresi kaget sekaligus senang.
Rama membuka mata mendengar percakapan adik dan istrinya itu. "Buka, sayang. Paling juga sabun cair. Karena Cia tau kita bakal sering mandi."
Puput spontan membekap mulut Rama. Wajahnya memerah apalagi Cia kini mentertawakannya dengan keras.
"Oh oh kamu ketauan.....🎤. Pantesan seharian betah di kamar. Hmmm....." Cia semakin sengaja menggoda pengantin baru itu.
"Apa sih, Cia. Kita cuma quality time aja. Dua hari lagi kan kakakmu ini mau pergi." Puput berkilah. Ia tetap membekap mulut Rama yang meronta ingin bersuara.
"Oh...begitu. Jadi seharian main barbie sama main game aja ya." Cia tersenyum mesem. "Eh, bukan. Mungkin main dokter-dokteran ya." sambungnya diiringi tawa lagi.
"Eh, ini aku buka sekarang, boleh?" Puput mengalihkan tema yang membuat wajahnya sudah sangat masak. Ia menatap tajam Rama saat bekapannya dibuka. Ancaman agar tidak ceplas ceplos bicara.
"Bocor atau malam gak ada jatah!" Puput sempatkan berbisik di telinga Rama saat Cia lengah mengambil jeruk di meja. Membuat Rama mengangkat tangan ke depan telinga. Memberi hormat.
"Masyaa Allah, kado mahal ini. Makasih ya, Cia." Puput terbelalak memegang kotak berlogo apel somplak. Ponsel tipe terbaru.
"Sama-sama, kakak iparku." Cia tersenyum lebar. Bahagia pula hadiahnya diterima dengan antusias.
"Awas kw, sayang!" ujar Rama dengan santai setelah mendongak melihat tipe ponsel yang sama dengannya. Padahal rencananya ia akan membelikan besok. Tentu saja dari konternya Cia. Namun keduluan sang adik memberi kado.
"SEMBARANGAN!" Cia melempar bantal sofa menimpa perut kakaknya itu. "Daganganku semua ori."
Waktu terus bergulir. Chanel berita tv mengumandangkan adzan magrib. Rama bersiap pergi ke masjid komplek yang jaraknya 200 meter. Ia memilih mengayuh sepeda menuju masjid. Sementara Puput dan Cia shalat di musholla rumah. Bersama Cia pula, Puput melakukan home tour karena seharian ini dunianya hanya seluas kamar.
Mami dan Papi tiba di rumah pukul 9 malam. Disaat pengantin baru sudah memasuki kamar, menutup rapat pintu dan menguncinya.
"Pih, panggilin Kakak sama Teh Puput, jangan?" tanya balik Cia karena Papi menanyakan keberadaan mereka.
"Jangan-jangan! Biarin kakakmu jangan diganggu. Dia butuh bekal." Papi dengan cepat melarang si bungsu yang siap berbalik badan.
"Bekal apa?!" Cia menyipitkan mata. Menuntut jawaban papinya itu.
"Cia, udah. Bawain koper Mami ke kamar!" Mami Ratna menjegal tanya jawab keduanya. Melotot ke arah Papi yang tertawa cengengesan. "Papi, Cia belum ngerti." Tegurnya begitu anak gadisnya itu berlalu menarik koper. Menuju kamar yang letaknya di lantai bawah dengan jendela yang menghadap taman dan air mancur.
__ADS_1
Papi Krisna merangkum bahu Mami, berjalan menyusul menuju kamar. "Iya deh, cuma Mami aja yang ngerti. Jadi, malam ini Papi juga pengen dibekali ya? Lusa kan harus ke Surabaya," bisiknya sambil mengecup pipi istrinya itu dengan mesra.
"Astaga! Ampun dah. Mataku terus-terusan ternoda dari kemarin." Cia menepuk jidat. Baru keluar dari kamar, malah memergoki kemesraan orangtuanya itu. Meski sebenarnya ia bersyukur dan bangga, nasibnya baik. Berada di tengah-tengah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Orangtua yang tidak pernah memperlihatkan pertengkaran di depan anak-anaknya. Padahal sejatinya masalah selalu ada. Hanya saja diselesaikan dengan rapih penuh kedewasaan, di belakang anak-anaknya.