
Ami menyimpan oleh-oleh donat madu dan pizza di sofa yang dekat dengan posisinya berdiri. Menoleh lagi ke belakang untuk memastikan ibunya tidak ada. Karena bisa saja jika ibu datang, aksi iseng terhadap Bagja akan gugur.
"Jawabannya harus dua-duanya benar ya, Pak. Kalo salah satu, harus mengulang soal tebakan baru. Hanya ada dua kali kesempatan. Are you ready, Pak?" Seringai jahil terbit di wajah imut Ami.
"I,m ready, Neng Ami." Pak Bagja meladeni tantangan bocah yang menghalangi jalan masuk itu.
Ami menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Lalu meniup-niupnya. Sangat semangat memulai permainan isengnya itu. "Pertanyaan kesatu..... siapa orang yang tidak disukai jika ada di dalam kereta api?"
Pak Bagja mengerutkan kening. Dalam hati mengulang pertanyaan dengan tempo lambat, berulang kali, penuh konsentrasi, penuh kehati-hatian karena ini tebak-tebakan jebakan. Apalagi gestur bocah itu berbakat menyerang mental lawan.
"Nyerah aja daripada pusing, Pak. Hihihi." Ami merasa senang melihat Pak Bagja hanya diam.
Pak Bagja menggeleng, tersenyum mesem. "Jiwa prajurit sejati pantang menyerah. Bapak udah punya jawabannya."
"Apa hayo?" Ami melipat kedua tangan di dada.
"Jawabannya.....Mas sinis. Benar, kan?" Giliran Pak Bagja balas melipat kedua tangan di dada menatap Ami.
"Wow, amazing. Bapak pinter juga." Ami mengacungkan dua jempol.
"Baeklah, last question!" Sambung Ami. Dalam hati sangat berharap jawaban Pak Bagja kali ini salah.
Di area belakang Dapoer Ibu, Ibu Sekar selesai mengecek kesiapan nasi dan lauk untuk dikemas ke dalam box berjumlah 100 paket nasi timbel pesanan acara pengajian siang nanti. Ia kembali ke dalam rumah melalui pintu dapur. Merasa kaget melihat ada tamu yang sedang dihadapi Ami. Mau mendekat namun mendapat isyarat gelengan kepala dari Pak Bagja yang menatapnya sekilas.
"Binatang-binatang apa yang kalo diinjak tidak kesakitan ataupun marah." Ami tersenyum lebar. Menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan.
Bu Sekar yang memperhatikan dari ruang tengah hanya bisa mengelus dada dengan keisengan si bungsu. Apalagi melihat sang tamu kini menggaruk kepala.
"Aku hitung mundur dari lima, Pak. 5....4....3....2." Ucap Ami dengan lima jari diacungkan ke depan.
"Kera....mik." Pak Bagja menjawab sebelum Ami selesai berhitung.
Prok prok prok.
Ami bertepuk tangan perlahan. "Biasanya Ami si cantik dan imut ini tak ada lawan. Sekarang dapat lawan seimbang. Baeklah, jawara sejati tidak boleh ingkar janji. Mangga....Bapak boleh masuk dan duduk." Ami memundurkan langkah. Memberi jalan sembari merentangkan tangan kanan ke arah sofa.
Ami memutar badan. Baru menyadari sosok sang ibu sedang berdiri di ruang tengah, melipat tangan di dada. Jelas kaget. Namun tak lama cengengesan dan mendekati ibunya.
"Bu, tuh....ada Bapak Happy." Ami tersenyum miring sembari menggelayut memeluk pinggang Ibu Sekar. Gestur menyamarkan rasa bersalah. Yang tentu saja ibunya sudah tahu masing-masing watak keempat anaknya itu.
"Ami temenin Ibu!" Ibu Sekar merangkum bahu Ami mengajak lagi ke ruang tamu. Tersenyum begitu beradu tatap dengan sang tamu yang duduk tegak di sofa.
"Maaf, saya gak tau ada tamu. Lagi di belakang ngecek pesanan. Pak Bagja sudah lama?" Ucap Ibu Sekar yang duduk bersisian dengan Ami.
Pak Bagja tersenyum simpul bersitatap dengan Ami. Baru beralih menatap wanita yang masih terlihat cantik di usia kepala lima itu. "Baru datang kok. Sengaja kesini pengen ketemu sama yang udah pulang dari pondok. Tadi gak sengaja berpapasan sama Zaky di lampu merah. Katanya mau ke pesantren jemput Ami." Jelasnya.
Ibu manggut-manggut. Beralih menoleh ke arah Ami. "Ami, bikin teh buat Pak Bagja ya!"
Tanpa perlu disuruh dua kali, Ami beranjak ke dapur.
"Maafin sikap Ami jika tidak sopan, Pak." Bu Sekar mengatupkan kedua tangan di dada. Merasa tidak enak hati.
"Hehe, Ami anak yang cerdas dan menyenangkan. Tadi tuh Ami ngajak tebak-tebakan dulu sebelum masuk. Alhamdulillah bisa ngobrol panjang sama bodyguardnya Bu Sekar. Butuh kesabaran untuk mendapat restu nih. Saya akan lakukan pendekatan persuasif. Demi ibunya Ami yang baru mau berkata iya jika dapat izin dari anak-anak, kan?" Pak Bagja menyindir halus diiringi tersenyum simpul.
Bu Sekar memalingkan wajah. Tak nyaman dengan kondisi hatinya jika bertatapan lama. Ia memang sudah memberi jawaban pada pensiunan TNI di hadapannya itu. Akan menerima jika keempat anaknya memberi restu.
Ami datang membawa nampan berisi dua gelas teh yang masih mengepulkan uap panas. Duduk lagi di samping ibunya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ami." Ucap Pak Bagja usai Ami mempersilakan untuk minum.
"Bu Sekar, saya kesini sekalian mau mengundang Ibu dan anak-anak makan malam di rumah saya. Tadi saya bilang lebih dulu sama Ami. Dan Ami udah setuju." Sambung Pak Bagja. Ia menatap penuh arti pada anak gadis yang juga memperhatikannya itu.
Ibu menoleh ke samping kanannya. Dan Ami menganggukkan kepala.
"Kapan, Pak?" Bu Sekar masih tidak percaya kalau Ami mau menyetujui.
"Malam ini. Mumpung anak-anak saya juga lagi ngumpul. Jam tujuh ajudan saya akan menjemput ya!"
...***...
Pak Bagja hampir satu jam bertamu, kini sudah pulang. Ami baru bisa menyentuh lagi ponselnya usai siaga menjadi pendengar obrolan Ibu dan tamu.
[Hola....Selimut comeback. Cung yang kangen Ami 🤸]
Ami sudah mengirim update status. Dua dus sesajen berada didekatnya. Mulutnya mengunyah penuh donat madu topping kacang coklat. Jempol mulai mengetikkan pesan pada seseorang.
[Bestie, aku udah libur nih]
[Kalo lagi santai, vc kuy]
Dua menit kemudian pesannya centang biru. Panggilan video mulai terhubung.
"Amiiiii."
"Padmaaaa."
Kedua anak gadis itu sama-sama memekik girang. Saling melambaikan tangan dengan senyum merekah.
"Ami, masih inget aja sama Selimut. Hihihi." Padma membahas dulu soal status yang dipasang Ami.
"Makanya punya makanan tuh tawarin..." Padma meledek Ami yang tersedak.
"Sini atuh kita makan donat and pizza bareng. Ada yang daftar pengen jadi fans baru tapi udah tua. Hihihi." Ami menunjukkan dua dus sesajennya.
"Jauuh, Mi. Padma mau telepon Kak Panji aja minta dibeliin pulang kantor. Ami hebat punya fans segala. Kayak artis aja. Hihihi."
"Ya begitulah, Padma. Pesona anak Bu Sekar gak ada lawan. Yang jadi fans aku udah ada yang naik kelas jadi kakak ipar. Yaitu Kak Rama. Bentar lagi dua fans aku mau nikah, Kak Cia sama Kak Damar. Jadi berkurang fans yang single deh."
"Terus Ami mau nikah sama fans yang mana? Hihihi."
"Heh, masih jauh bestie. Aku mau jadi jawara dulu kayak teh Puput. Bir kalo ada cowok yang kurang ajar, aku tendang sampe nyungsep."
"Wuah, atut. Ami galak juga." Padma memeluk bonekanya dengan erat.
"Ami gitu lho. Hihihi." Ami memasang wajah imut dengan mata mengerjap-ngerjap.
Dua anak gadis itu masih betah saling becanda.
"Mi....Padma juga udah libur, Mi. Ami sini liburan di Bandung aja."
"Liburan di rumah teh Puput aja. Kan Kak Cia sabtu besok nikah. Ayo kita kemon ke Jakarta, Padma!"
"Kapan berangkatnya?" Padma melepas boneka yang didekapnya.
"Gimana kalo besok?"
__ADS_1
Obrolan seru dua anak gadis terus berlangsung penuh tawa. Ami mengabaikan beberapa pesan masuk juga panggilan tunggu. Lagi seru saling bertukar cerita dengan Padma.
Baru selesai video call dengan Padma, nama Teh Puput tampil di layar. Dengan girang ia berceloteh jika ingin ke Jakarta besok. Sudah janjian dengan Padma. Tentu saja kakaknya itu menyetujui dan akan menelepon Ibu untuk mengatur berangkatnya.
Usai bertelepon dengan kakak sulungnya, Ami beralih membuka pesan.
Kak Akbar : [Hai, Ami. Kangen ceriwis Ami deh. Tapi kakak lagi di Singapore]
[Nanti ke Jakarta kan?]
[Kita ketemu di nikahan nya Kak Cia ya, Mi]
[See you, Ami]
Ami senyum-senyum membaca balasan status dari Akbar. Ia segera mengetik balasan mumpung orangnya sedang online.
[Ke Pasar Baru naik onta...]
Kak Akbar: [Terus?]
Ami : [Hoax. Mana ada onta di Indo, wkwkwk]
Kak Akbar: [Haiss, kirain mau pantun. Jadi pengen jitak kalo deket 🙄]
Ami : [kabooor]
Ami beralih membaca balasan status dari kakak iparnya.
Kak Arya: [Ami, kakak tunggu di Jakarta! Udah libur, kan?]
Ami membalasnya ; [Ashiaap kak. InsyaAllah besok cuss]
...***...
Aul berbicara setengah berbisik dengan ponsel yang melekat di telinga. Berada di kamarnya, ia sedang berbicara dengan Puput melaporkan kabar soal undangan makan malam dari Pak Bagja.
"Tadi teteh ngobrol lama sama Ibu. Ngebahas soal Ami yang keputusannya besok jadinya berangkat pakai travel sama Zaky. Ibu sama sekali gak bahas soal ajakan dinner. Ih ibu kok jadi maen rahasia-rahasiaan sama teteh." Terdengar suara Puput mendesah kecewa.
"Belum kali, Teh. Mungkin pengen nanti cerita langsung sama teteh, nanti di Jakarta." Ucap Aul. Ia sudah selesai berdandan usai sholat magrib.
"Hm, mungkin juga. Aul, nanti cerita ya oleh-oleh dinner seperti apa." Suara Puput kembali terdengar antusias.
"Okay. Udah dulu ya, Teh. Ibu manggil." Aul memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang. Keluar kamar karena mendengar suara ibu mengetuk pintu.
"Aul, Ibu bingung harus pake baju yang mana." Ibu Sekar berdiri di depan pintu masih mengenakan daster.
Aul melebarkan mata. Ibu kenapa jadi aneh. Tak biasanya galau dalam urusan berbusana.
"Cepetan bantuin pilih baju keburu ada yang jemput."
Aul mengekori langkah ibu menuju kamar. Tersenyum samar menyembunyikan rasa geli dengan tingkah ibunya.
Lemari gantung dua pintu dibuka lebar-lebar oleh ibu. Menatap deretan baju yang memenuhi lemari. "Yang mana, Aul?" Ia menoleh dengan wajah bingung.
"Gamis yang ini aja, Bu. Cocok buat acara santai tapi tetap anggun." Aul menarik gantungan gamis warna abu muda dengan asesoris bordir di bagian lengan.
"Pilihin kerudungnya juga, nak. Ibu ganti baju dulu."
__ADS_1
Aul menaikkan kedua alisnya sembari mengulum senyum memilih koleksi kerudung Ibu. Bakalan ketawa kalau nanti diceritakan kepada Puput.