Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
119. Lamaran CiDa


__ADS_3

Prosesi acara lamaran Damar dan Cia dipandu MC berpengalaman, mulai berlangsung dengan khidmat. Para tamu undangan serta keluarga duduk rapih memenuhi kursi berbungkus kain putih berhias pita ungu.


Damar duduk diapit orangtuanya dibarisan kursi sebelah kiri. Sementara Cia diapit orangtuanya dibarisan kursi sebelah kanan.


Usai pembukaan dilanjut pembacaan ayat suci Al Qur'an, kini tiba saatnya perwakilan dari pihak keluarga laki-laki akan memberikan sambutan. Seorang pria yang mengenakan jas warna abu melangkah menuju pelaminan.


Diawali dengan berucap salam. Kakak dari ayahnya Damar itu memulai mukadimah.


"Puji syukur hanya kepada Allah SWT yang telah begitu banyak memberikan rahmat, hidayah, serta nikmat kepada kita semua sehingga kita dapat bertemu, berkumpul dan saling bersilaturahmi pada hari yang berbahagia ini dalam keadaan sehat wal’afiat."


"Selamat malam Bapak Krisna Adyatama dan Ibu Ratna Gayatri serta segenap keluarga yang kami hormati. Terima kasih kami ucapkan telah berkenan menerima kami sekeluarga dengan baik. Perkenankanlah saya untuk menyampaikan tutur kata untuk secara resmi menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ini."


"Pada hari ini, kami hadir di tengah-tengah keluarga Bapak dan Ibu, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal satu sama lain dengan lebih dekat. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan maksud dari anak kami yang sudah cukup lama mengenal putri Bapak dan Ibu. Maka dari itu, izinkan kami mewakili Damar Bratajaya untuk menyampaikan niat baik yang tulus untuk melamar putri Bapak/ Ibu sebagai wujud keseriusan kami."


"Mudah-mudahan Bapak dan Ibu berkenan untuk meridho’i niat anak kami dengan menerima lamaran ini. Hanya inilah yang dapat kami utarakan kepada Bapak dan Ibu, tak lupa kami sekeluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat tutur kata yang kurang berkenan dalam menyampaikan maksud dan tujuan yang mulia ini. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


Semua hadirin menjawab salam dengan kompak. Giliran perwakilan dari pihak keluarga perempuan yang dipanggil oleh bung MC.


Rama yang duduk bersisian dengan Puput mendekatkan wajah untuk berbisik. "Sayang, maaf ya. Kita jadi melewatkan prosesi lamaran. Jadi nggak ada momen lamaran yang bisa dikenang." keluhnya dengan wajah sedih.


Puput menoleh sambil menangkup tangan Rama dan menautkan jemarinya. "Jangan nyesel gitu. Aku nggak apa-apa. Yang penting kita udah halal." Ujarnya sambil mengulas senyum manis dan mengusap rahang suaminya itu.


"Makasih, sayang. Aku janji menggantinya dengan resepsi yang mewah dan romantis." Rama tanpa malu menunjukkan kemesraan dengan merengkuh bahu Puput dan memberi ciuman di kepala istrinya itu.


Acara sambutan penerimaan sedang berlangsung dengan mukadimah. Diwakili oleh kakaknya Papi Krisna. Kemudian terdengar memasuki pada inti sambutan.


"Pertama, kami mengucapkan rasa terimakasih dan bersyukur atas berkenan-nya bapak Sandika Bratajaya dan Ibu Meri Rania beserta keluarga untuk bersilaturahmi."


"Yang kedua, terkait dengan maksud dan tujuan dari bapak Sandika dan keluarga besar untuk menanyakan apakah putri kami yang bernama Citra Adyatama sudah ada yang melamar atau belum, ini yang bisa menjawab adalah putri kami."


"Nak Cia, sini dulu nak deket pakde." Yusuf, yang merupakan kakaknya Krisna melambaikan tangan.


Malu-malu, Cia menuruti melangkah ke depan didampingi Aul yang diberi tugas menggandengnya. Lalu Aul memundurkan badan memberi ruang pada Cia untuk berhadapan dengan pakdenya.


"Cia, ini keluarga Damar mau melamar. Apa Cia sudah ada yang punya atau sudah ada yang meminang belum?"

__ADS_1


Cia mengangkat wajahnya yang memerah. "Belum." ujarnya sambil tersenyum malu.


"Cia mau nggak menerima lamarannya Damar Bratajaya yang Pakde lihat dari jauh wajahnya tampan, badannya gagah, seperti Arjuna. Tidak tahu kalau dilihat dari dekat."


Gerrr suara tawa menggema karena Pakde Yusuf pandai menggoda.


"Insyaa Allah, aku mau." Jawab Cia masih dengan wajah yang merona.


"Nah, Nak Damar sudah dengar kan jawabannya. Duh, lihat....seneng sekali wajahnya." Pakde Yusuf mengarahkan pandangan pada Damar yang sedang senyum-senyum. Sontak membuat hadirin tertawa karena dua insan itu digoda terus.


Cia pun kembali ke tempat duduknya usai sesi tanya jawab itu.


"Baik, bapak/ibu yang saya hormati. Setelah kita mendengarkan langsung jawaban dari anak kami Citra yang lebih dipanggil Cia sebagai nama kesayangan. Bahwa anak kami bersedia dan mau dilamar oleh Ananda Damar Bratajaya. Maka kita sebagai orang tua hanya bisa meridho’i apa yang telah menjadi niat baik dari anak kami Cia dan niat tulus dari Damar putra dari bapak Sandika."


"Selanjutnya, berhubung sudah ada kecocokan antara putri kami Citra dan Damar, maka kami selaku orang tua dan keluarga besar MENERIMA sepenuhnya lamaran dari Damar Bratajaya."


"Kami sebagai orang tua hanya berpesan, walaupun antara Citra dan Damar sudah menjalin ikatan cinta dalam bentuk lamaran atau pinangan ini, mohon untuk tetap menjaga martabat dan nama baik keluarga serta agama kita. Kami mohon untuk bisa saling mengingatkan dan menjaga pergaulan anak kami sesuai dengan norma agama, adat serta budaya yang berlaku."


"Untuk pembicaraan lebih lanjut tentang waktu pernikahan antara Cia dan Damar, kami dari keluarga besar bapak Krisna akan memusyawarahkan terlebih dulu dan akan kami informasikan kepada bapak Sandika."


"Demikian sambutan dari kami selaku wakil dari bapak Krisna dan segenap keluarga besar. Apabila ada tutur kata dan tindakan kami dalam menyambut kehadiran bapak Sandika dan keluarga besar yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga niat baik kita semua mendapat ridho dari Allah SWT sehingga apa yang kita musyawarahkan pada malam hari ini tidak ada aral meintang sampai hari pernikahan nanti. Aamiin…"


"Kenape lo?" Leo menyikut Akbar yang kini sedang mengurut kening.


"Mengsad. Gue kapan ya lamaran kayak gini." Akbar kembali mengarahkan pandangan ke depan. Dimana Damar dan Cia saling berhadapan didampingi ibunya masing-masing.


"Jangan mewek di sini. Entar pulangnya gue anter ke jembatan Ancol deh."


"Sialan lo!" Akbar menginjak kaki Leo dengan keras sampai asistennya itu mengaduh.


Mama Mery lebih dulu menyematkan cincin di jari manis Cia. Kemudian Mami Ratna melakukan hal serupa terhadap Damar. Kebahagiaan menghiasi wajah dua insan sambil memamerkan cincin yang tersemat di jari manis.


...***...


"Calon istriku makin cantik aja." Damar baru ada kesempatan berbisik saat tamu yang antri menyalami mulai berkurang. Dan keduanya kini duduk satu meja menikmati hidangan. Cia menanggapi dengan tersipu malu.

__ADS_1


"Yang, pengen nikah kapan?" Lanjut Damar menatap Cia dengan serius.


"Hm, Kak Damar siapnya kapan? Kalo aku sih udah siap lahir batin." Cia menundukkan wajah karena Damar menatapnya dengan senyuman penuh arti.


Di sudut lain. Panji menepuk bahu Akbar yang sedang berdiri di sudut Vas bunga besar. Membuat pria yang mengenakan jas hitam itu sedikit terkaget karena sedang fokus menatap seseorang.


"Jangan pindai yang itu. Cewek itu udah gue tandai." Panji menatap tajam.


"Maksud lo siapa, Nji?" Akbar mengerutkan kening.


"Mas Akbar anteng banget natap Aul. Jangan naksir dia, udah gue tandai. Butuh waktu 2 tahun lagi buat bisa nembak dia. Cari cewek lain aja, oke!" Panji pergi setelah menepuk bahu Akbar.


Leo tertawa tanpa suara melihat Akbar menggaruk tengkuk sambil meringis. "Dua kali mengsad, boss." ledeknya.


"Hei, Mas Akbar, Mas Leo, kenapa pada ngumpet di sini?" Puput yang baru kembali dari toilet, pandangannya tak sengaja melihat ke arah pojok. "Sudah pada makan, belum?" Sambungnya.


"Barusan nerima telpon dulu." Sahut Akbar beralasan.


"Iya, jadinya kita belum makan. Telponannya baru beres." Leo berusaha menahan senyum.


"Gabung sama aku sama Aa juga yuk! Meja kami masih kosong kok." ajak Puput sambil menunjuk posisi mejanya.


"Oke, Put. Duluan aja, nanti kita nyusul." sahut Akbar.


Puput mengangguk dan berlalu pergi usai mengulas senyum.


"Kenapa istri orang makin cantik aja sih?" Gumam Akbar yang mampu didengar Leo.


"Jangan nyari penyakit!" Sarkas Leo memperingati.


"Cuma kagum doang. Gue juga tau diri." Akbar mendengkus kesal.


"Yang itu aja tuh, cantik dan imut." Leo menunjuk dengan dagu ke arah gadis remaja tanggung yang sedang tersenyum lebar duduk di samping Cia.


"Itu adiknya Puput yang bungsu. Masih bocah SMP tau." Akbar menoyor kepala Leo dengan telunjuknya.

__ADS_1


"Tapi nanti 10 tahun lagi bakal menjelma jadi gadis yang mempesona. Gue bisa ramal." Ucap Leo yakin.


"Dan10 tahun lagi gue udah tua." Akbar mengeplak lengan Leo dengan jengkel. "Lo yang bener kalau mau nyariin cewek." Sambungnya sambil mendengkus karena dari tadi asistennya itu terus mengerjai. Ia berlalu dari tempat itu menuju meja Rama sambil membawa segelas minuman.


__ADS_2