
Puput duduk bersama Enin menghadapi layar televisi yang menayangkan berita malam. Sudah pukul sembilan. Menuju satu jam lagi serasa lama. Karena ia sangat menanti kedatangan Rama yang setiap jam selalu update kabar lewat chat.
"Udah sampe mana sekarang, Put?" Enin yang rebahan, menatap pada cucu mantu yang duduk di sofa sebelah kiri.
"Sudah di Ciawi, Enin. Bentar lagi sampe deh." Ucap Puput dengan wajah berbinar. Ia baru saja menerima pesan dari Rama. Ponsel selalu setia berada di pangkuannya.
Mami Ratna baru keluar dari kamar Ratih usai satu jam lamanya bicara empat mata dengan adik satu-satunya itu. Ia duduk bergabung bersama Puput dan Enin di ruang tengah. Sementara yang bermain gitar di luar pun sudah senyap. Panji dan ayahnya pergi bersama jalan-jalan ke arah kota.
"Ratih kemana?" Enin menatap Ratna yang duduk di single sofa.
"Tidur duluan. Ngantuk katanya." Sahut Ratna. Ibunya pun tidak lagi memperpanjang pertanyaan. Kembali fokus menatap berita yang menayangkan sidang kasus yang kini viral dan menjadi sorotan publik.
Sementara yang sedang dalam perjalanan menuju Ciamis terus-menerus duduk gelisah di kursi penumpang tengah. Rama menatap jalanan di depannya, beralih menatap jendela sampingnya untuk memastikan sudah sampai mana. Rasa tidak sabar ingin segera berjumpa dengan Puput.
Senyum Rama merekah setelah mobil memasuki jembatan perbatasan Tasik Ciamis yang di bawahnya mengalir sungai besar Citanduy, sebagai pemisah dua kota. Hanya tinggal menunggu hitungan menit untuk sampai. Apalagi jalanan malam sangat lengang. Membuat sopir mengemudi tanpa hambatan. Dan akhirnya mobil pun tiba di pekarangan rumah Enin.
Rama lebih dulu turun dengan tergesa. Setengah berlari menuju pintu utama. Mendorongnya dengan berucap salam dan menyerbu ke ruang tengah dimana terlihat Mami dan Enin di sana menjawab salamnya.
"Puput mana, Mam?" Rama mengedarkan pandangan usai mencium tangan dan memeluk Mami Ratna dan Enin bergantian.
"Lagi ke kamar mandi dulu. Tuh...." Mami Ratna menunjuk dengan dagu ke arah kedatangan Puput.
Rama beranjak dari duduknya di samping Enin. Ia menyongsong kedatangan Puput yang tersenyum padanya. Tanpa kata, memeluk sang istri dengan erat. Mencium puncak kepala yang berbalut hijab instan, dalam dan lama. Merefleksikan segenap rasa yang membuncah di dada. Rasa syukur dan bangga akan menyandang status baru menjadi Papa. Mami Ratna dan Enin yang menyaksikan, senyum-senyum.
Namun pelukan tak berlangsung lama. Hanya hitungan detik. Tiba-tiba Puput berontak dan mendorong dada Rama hingga pelukan terlepas. Puput membekap mulutnya sembari berlari ke arah dapur. Bukan hanya mengagetkan Rama, tetapi juga Mami dan Enin.
"Sayang, kenapa?" Teriak Rama yang masih terpaku di tempatnya berdiri karena kaget.
"Hoek....hoek."
Suara muntahan membuat Rama berlari menyusul ke dapur. Nampak Puput sedang berdiri menunduk di depan wastafel dan kembali terdengar suara khas orang muntah.
"Neng, kenapa? Masuk angin?" Rama dengan wajah cemas mengusap-ngusap punggung dan memijat tengkuk Puput. Bukannya mereda, malah membuat istrinya itu kembali ingin muntah.
Puput memegang perutnya dengan wajah meringis dan memucat. Tidak ada isi perut yang berhasil dimuntahkan. Hanya rasa ingin muntah yang begitu kuat begitu Rama memeluknya tadi. Padahal sebelumnya ia sangat baik-baik saja.
"Aa, awas! Aa bau bikin mual. Hoek....." Puput menepis tangan Rama dari punggungnya. Meminta menjauh sejauh-jauhnya. Karena lagi-lagi perutnya serasa diaduk.
"Aa bau apa, Neng?" Rama tak urung memundurkan langkah dengan raut bingung. Ia mengendus ketiak dan bajunya. Tak ada yang bau. Malah wangi parfum favoritnya.
"Puput, minum dulu, nak!" Mami Ratna membawa segelas air hangat melewati Rama yang menggaruk-garuk kepala. Ia bersikap tenang sembari mengusap-ngusap punggung Puput.
__ADS_1
"Sudah enakan sekarang?" Tanya Mami Ratna memperhatikan wajah Puput yang pias. Cia dan Enin juga datang menyusul ke dapur ingin tahu apa yang terjadi.
Puput hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Tenggorokannya terasa pahit.
"Puput kenapa jadi mual muntah? Seharian ini Mami perhatikan baik-baik aja. Malah doyan makan." Mami mulai mengintrogasi penyebab sang menantu mual muntah.
"Itu....gara-gara dipeluk Aa bikin perut enek. Aa jadi bau...." Puput menatap Rama dengan memasang wajah tidak enak hati. Hidungnya lalu ditutup dengan ujung jilbab karena jarak dua meter pun masih merasakan aroma suaminya itu terendus.
"Cia coba cium. Beneran bau gak." Rama meminta Cia mendekat.
Cia dengan hidung kembang kempis mulai mengendus baju Rama sampai memutari tubuh kakaknya itu. "Iya. Beneran bau." ucapnya sungguh-sungguh.
"Cia, serius!" Rama menjitak kepala Cia dengan gemas.
"Bener ih bau. Kakak bau kejahatan karena udah sunat uang jajan aku sama gaji Kak Damar. Mana kita udah deket waktu mau nikah. Bukannya naikin malah motong. Tuh baby juga protes sama kelakuan bapaknya. Jadinya gak mau dideketin. PUAS." Cia memeletkan lidah. Lalu bersembunyi di belakang punggung Enin karena mendapat pelototan Rama.
"Beneran itu, Rama?!" Mami menatap tajam Rama.
"Yaaa...mereka rese, Mam. Cia ngadu sama Papi. Terus pada ngetawain tadi di mobil." Rama membela diri.
"Cia ngadu apa sama Papi?" Mami Ratna beralih menatap Cia. Membuat Rama menepuk jidat, merasa keceplosan membuka jalan Maminya tahu juga.
"Itu, Mam. Waktu malam kamis itu Kakak lagi ngambek sama Teh Puput. Mengira teh Puput selingkuh karena kakak dapat kiriman foto. Di foto itu teh Puput lagi ketawa happy sama cowok di mall. Padahal itu temennya teh Puput yang ngasih undangan wedding. Kan aku juga ada di sana. Tapi pas ada yang moto, aku lagi ke toilet." Jelas Cia yang menahan tawa melihat Rama yang menunduk pasrah.
Rama menggeleng tidak setuju. "Ini bohong ya. Mami sama Puput ngeprank aku, kan?" ujarnya sembari mendekati Puput dan menggenggam tangan istrinya itu.
"Hoek.....hoek."
Mami Ratna mengeplak lengan Rama sembari menatap tajam. "Kamu itu ngeyel ya. Puput beneran gak mau deke-deket sama kamu."
"Iya, Rama. Beri waktu Puput selesai melewati masa ngidamnya. Sabar." Enin mulai bersuara setelah dari tadi menjadi pendengar.
"Berapa lama, Nin?" Rama bertanya dengan lesu.
"Yaa paling lama sembilan bulan." Jawab Enin enteng.
"Hahaha...." Cia mentertawakan Rama yang melotot dan menganga. Mami Ratna menahan tawa dan membawa Puput keluar dari dapur setelah meminta Rama mundur sampai ke pojok.
[Aa, maaf. Aku beneran mual deket Aa]
[Sabar, ya. Semoga tidak lama. Jangan sedih Papa đ]
__ADS_1
Rama sedikit terobati rasa nelangsanya setelah mendapat dua pesan dari Puput. Betapa tidak, ekspektasi dari Jakarta akan memeluk Puput dan tidur bersama sembari mengusap-ngusap perut. Faktanya kini malah tidur sekasur bersama Damar.
[Iya, Umma. Demi anak kita, Papa ngalah deh âšī¸]
Rama menyimpan ponsel di nakas. Melirik Damar yang baru keluar dari kamar mandi bersiap tidur.
"Tadi sekilas gue nonton felem ikan terbang. Judulnya, Karma Potong Gaji, Didemo Calon Anak." Damar merebahkan badan sembari tersenyum sangat lebar.
"Nyindir lo!" Rama mendengkus kesal.
"Eh, ada yang tersindir toh." Damar melirik dan tersenyum miring. "Lo harus tobat, minta maaf sama gue. Cabut lagi tuh fatwa sunat gaji. Biar besok bisa ikut nemenin Teh Puput ke dokter." Ia mendengar percakapan Mami Ratna yang meminta pengertian Rama jika besok pagi tidak boleh ikut ke dokter mengantar Puput.
Rama diam. Sepertinya sedang meresapi ucapan Damar. Terlihat dari kening yang bergaris. "Sorry, Bro. Gue cabut lagi ucapan tadi." ujarnya tanpa menatap Damar yang telentang di samping kirinya.
Damar tertawa tanpa suara penuh kemenangan. "Nadanya gak ikhlas. Tapi it's oke. Hatur nuhun calon Papa yang baik hatinya. Awas ya gak bisa diralat lagi apapun kenyataannya besok."
Rama menoleh dengan kedua alis bertaut. "Maksud lo masih belum pasti Puput bisa gue deketin? Wah lo udah ngerjain gue," ujarnya sembari menoyor lengan Damar.
"Gambling lah. Berdoa aja yang kenceng biar besok gak ngidam bau lo lagi." Damar menarik selimut dan beralih membelakangi Rama. Tidurnya damai karena tidak jadi dipotong gaji.
Rama tidur gelisah. Sama sekali belum bisa memejamkan mata. Terbayang Puput yang kini tidur bersama Cia. Ia bangun dan keluar menuju kamar tidur di sebelah kanan. Mengetuk pintu dengan pelan.
Pintu yang terkunci, dibuka dari dalam. Cia melongokkan wajah bantalnya dengan mulut menguap. "Apa sih Kak. Baru aja tidur dah ganggu," protesnya.
"Ssttt, Puput dah tidur belum?" Ucap Rama pelan.
"Udah. Cape dia....abis muntah-muntah jadi lemas katanya."
"Kakak pengen peluk Puput bentar aja." Rama hendak mendorong pintu namun ditahan Cia.
"Nanti kalo bangun gimana. Kasian teh Puput kalo hoek-hoek lagi." Cia menggeleng tidak mengizinkan masuk.
"Kakak cek dulu. Puput itu kalo tidurnya mangap, garansi gak akan keganggu. Gak akan bangun." Rama mengangguk pasti. Dan Cia pun mengalah melepas handle pintu yang dipegangnya.
Rama mendekati ranjang dengan langkah tanpa suara. Tersenyum simpul melihat Puput yang mangap dengan mata terpejam rapat. Dengan leluasa mendekatkan tubuh. Memberi pelukan hangat enam puluh detik lamanya. Ingin lebih lama, namun takut istrinya itu terjaga.
Rama menyudahi pelukannya. Beralih mencium kedua pipi dan mengecup kening Puput. Tidak berani mengecup bibir karena khawatir kelakuannya terciduk. Terakhir sebelum turun, ia menyusupkan tangan ke dalam selimut. Mengusap-ngusap perut sang istri yang masih rata.
Besok akan USG untuk mengetahui usia kehamilan dan kondisi janin. Rama berharap Puput mau ditemani ke dokter spesialis kandungan.
"Cia, masuk lagi gih." Rama menggoyangkan lengan sang adik yang tertidur di sofa.
__ADS_1
"Udah?" Tanya Cia dengan suara serak khas bangun tidur. Dijawab Rama dengan anggukkan.
Rama merasa lebih tenang sudah bisa mencuri kesempatan memeluk Puput. Ia pun bisa tidur nyenyak menyusul Damar yang sudah mendengkur halus.