
Via menangkap kegalauan tingkat akut tergambar di wajah Puput. Heran sekaligus salut. Bisa-bisanya selama latihan nampak santai seperti tidak punya beban. Kini berbeda. Kusut masam suasana hati tergambar jelas.
"Via, aku gak nyangka. Ternyata aku sama Karam satu almamater. Kemarin ketemu di reunian." Puput mulai membuka sesi curhatnya. "Beda 5 tahun!" Mengangkat tangan kanannya dengan kelima jari terentang.
"Wow! Kan-kan.....kalau jodoh gak akan kemana." Via berseru penuh keterkejutan. Girang sendiri berbeda dengan Puput yang lesu. Sama sekali tidak membalas dengan melotot ataupun mendelik seperti biasanya. Ia melipat kedua tangan di meja penuh atensi. Menunggu kelanjutan obrolan.
"Aku sama teman seangkatan lanjut hangout ke Santika. Ngopi sambil karokean. Pas sore sebagian udah pulang. Tinggal aku berempat yang masih stay. Eh, gak tahunya si Miller, Roy, sama Selly party "minuman"." Puput mengangkat tangan memberi tanda kutip.
Via menyimak tanpa menyela.
"Gak nyangka pergaulan mereka....sampe kebawa arus gitu. Apalagi si Selly dulu anak pendiam, pake jilbab. Sekarang rambut diicat pirang, dandan menor, ah pokoknya..." Puput menggelengkan kepala. Menggantungkan ucapan karena tidak mau lagi mengghibah.
"Tahu gak yang paling bikin aku kaget?!"
Via menautkan kedua alis ikut penasaran. Terpotong oleh kedatangan waiter yang menyajikan dua piring dimsum sesuai pesanan.
"Emang ada apa, Put?! Cepet ih...jadi aku yang tegang." Via menepuk-nepuk meja. Tidak sabar melihat Puput menjeda dengan menyeruput lagi jus mangga.
"Keluar dari toilet aku ketemu Karam. Dia marah karena gak nurutin pulang bareng. Dia marah karena memgawasiku sampai 3 jam lamanya. Dia marah karena aku bodoh dalam bergaul. Si Selly katanya nyampurin serbuk ke minuman aku pas aku ke toilet."
"Aku terlalu polos ya, Via. Percaya aja kalau mereka itu teman baik." Puput mendesah kecewa. Menyesali diri sendiri yang ceroboh.
"Kalau gak ada Karam entah apa yang akan terjadi sama aku. Aku bakal mabuk sama kayak mereka , selanjutnya....." Puput bergidik. Ngeri membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya.
"Huss ah....amit-amit." Via mengibaskan tangan. "Alhamdulillah Allah masih melindungi kamu lewat Karam."
"Via, ini seperti...apa ya disebutnya." Puput nampak bingung memberi perumpamaan. "Dulu aku yang nolongin Cia. Sekarang Karam yang nolongin aku. Aku juga jadi merasa hutang budi." sambungnya sambil mengingat saat kedatangan Rama dan Enin dulu. Betapa mereka penuh syukur dan sangat berterima kasih karena pertolongannya. Ia pun kini merasakan hal yang sama kepada Rama.
"Put, Karam bela-belain nyusul kamu, nunggu sampe berjam-jam lamanya demi untuk memastikan keadaanmu, melindungimu. Jika orang biasa, tanpa punya rasa, mana sudi ngelakuin itu semua. Apalagi dia itu seorang boss. Untuk apa mesti seperhatian itu sama bawahannya."
Puput sudah menancapkan garpu pada dimsum terakhir. Siap dimasukkan ke mulut. Namun urung begitu mendengar ucapan panjang sahabatnya itu. Terpekur.
"Jawab jujur, Put. Apa kamu sudah bisa merasakan jika perhatian Karam itu istimewa? Marahnya dia bukan karena benci taoi karena sayang. Dia menyukaimu, cinta sama kamu, Put. Aku yakin itu. Kamu peka dong!" Via berkata serius yang membuat Puput melongo tanpa kedip 10 detik lamanya.
"Aku....aku belum yakin." Puput menggeleng lemah. "Aku kemarin sempat minta penjelasan sama dia pas sebelum turun dari mobil. Aku tanya apa arti perhatiannya itu. Aku gak mau ke ge er an."
"Terus?!" Via menyahut dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Terus ambyar. Si Ami ngagetin dari luar pintu pas Karam mau ngomong."
"Haiss...kenapa dia gak dikandangin dulu. Udah tahu tuh anak centil kalau liat cogan. Yaaah....penonton kecewa." Keluh Via sambil menepuk kening.
Puput sudah biasa dengan bahasa candaan Via yang cepals ceplos itu. Merubah duduk dengan merebahkan punggung ke belakang, ke sandaran kursi. Meng scrol puluhan chat digrup komunitas pendekar silat yang antusias menyambut dan akan menonton pertandingan pencak silat nanti.
"Sekarang aku mau tanya. Apa kamu menyukai Karam?! Jawab jujur, Put. Jangan beralasan belum siap, belum waktunya untuk cinta, bla bla bla...." Via sudah hafal di luar kepala alasan-alasan yang dilontarkan Puput setiap kali ada pria yang mendekatinya. "Jangan menafikan rasa, jangan membohongi diri sendiri. Jawab sesuai apa kata hati!" sambungnya tegas dan lugas sambil mengacungkan garpu ke arah dada sahabatnya itu.
Pupur menyimpan lagi ponselnya di meja. "Ck, galak amat si emak. Biasa aja atuh." Ia memutar kedua bola mata mendapat ancaman garpu. Lidahnya kelu memikirkan alasan karena sudah diborong, didahului semuanya oleh Via.
"Buru ih! Kalau mikir lama berarti bener ya, kamu udah kena pesonanya kakang Rama. Kamu jatuh cinta kan sama dia?!" Selidik Via dengan gemas karena Puput malah santai mengunyah dimsum terakhir dan menyeruput jus mangga sampai habis.
"Anu....itu. Emang bener kok, sekarang ini belum waktunya untuk cinta Aku lagi fokus merilis usaha kuliner Ibu." Sahut Puput tanpa mau menatap Via. Mengusap bibir dengan selembar tisu dan memasukkan ponsel ke dalam tas bersiap-siap beranjak.
"Aku tanya. Apa kamu menyukai Karam?! Jawab hanya Yes or no. Bukan una anu! Aku cekek lho ya kalau jawabnya lain lagi!" Via sudah dipuncak kegeraman dengan kesantuyan sahabatnya itu. Memgangkat kedua tangan ke depan seolah mau menerkam.
Puput menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat seolah tengah mengumpulkan keberanian.
"Yes." Sahutnya sambil lalu menuju kasir. Meninggalkan Via yang masih duduk menyunggingkan senyum tipis.
...***...
"Mami yakin ini rumahnya?!" Rama ingin memastikan. Karena situasi sekeliling rumah nampak sepi. Pintu tertutup rapat.
"Iya. Mami masih ingat itu...ada pohon pete." Menunjuk pada pohon petai di samping kiri yang tengah berbuah lebat.
Ratna berinisiatif mengetuk pintu. Membiarkan Rama berjalan-jalan memperhatikan seluruh pekarangan yang ditanami apotek hidup yang subur terawat.
"Assalamu'alaikum, Bi Ipah kan?!" Ratna menyapa dengan raut semringah. Wanita paruh baya yang membukakan pintu itu mengernyitkan dahi seolah tengah mengingat-ngingat wajah cantik yang masih awet muda di usia lebih dari setengah abad itu.
"Ma sha Allah....ini bu haji Ratna kan ya?!" Bi Ipah jelas terkaget campir senang saat mendapat anggukkan kepala sang tamu.
"Ya Alloh...ngimpen naon sawengi (mimpi apa semalam)." Bi Ipah dengan sopan sekaligus grogi menyalami. Bahkan tak menyangka mendapat pelukan cipika cipiki dari mantan majikan suaminya itu. "Alhamdulillah...rumah didatangi tamu agung." sambungnya bangga dan mempersilakan Ratna masuk.
Rama menyusul masuk dengan berucap salam. Membuat Bi Ipah molohok (melongo) melihat sosok jangkung yang tersenyum, mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Ini Rama, Bi. Udah lupa ya?!" Ratna tersenyum geli melihat Bi Ipah mengerjap-ngerjapkan mata dengan mulut menganga.
__ADS_1
"Gusti....Den Rama geuning. Kirain artis sinetron. Pangling....makin ganteng, makin tinggi." Bi Ipah geleng-geleng kepala dengan kepala mendongak karena badan tambunnya tak sampai dada Rama. Merasa tersanjung karena keluarga kaya itu tidak berubah. Tetap rendah hati dan ramah.
Obrolan ringan saling bertanya kabar mengalir santai. Mang Ade yang ditanyakan, tengah pergi ke pasar mengantarkan mentimun hasil panen.
"Bi Ipah, boleh saya bertemu dengan Kartika?!" Ratna mulai menjurus pada tujuan utama. "Jangan khawatir, Bi. Saya hanya ingin tahu aja." sambungnya mematahkan rasa ragu dan kaget yang nampak di wajah Bi Ipah.
"Assalamu'alaikum----"
Semua mata tertuju ke arah pintu begitu mendengar ucap salam seorang wanita.
"Itu Kartika." pelan, Bi Ipah berkata kepada Ratna usai menjawab salam.
"Oh, punten....kirain gak ada tamu." Kartika mengatupkan kedua tangan di dada. Tak mengira jika dua pasang alas kaki yang ada di teras adalah milik tamu dari kota.
"Tika....kenalkan ini Bu Haji Ratna, istrinya Pak Haji Krisna." Bi Ipah memperkenalkan dengan tubuh yang mendadak tegang dan berkeringat. Khawatir terjadi keributan melihat mantan majikan berdiri dan menatap tajam ke arah Kartika yang mengulurkan tangan.
Perjalanan pulang dari rumah Mang Ade dilalui dengan kebisuan. Rama sesekali melirik, memperhatikan raut wajah sang ibu yang diam terpekur.
"Mami, baik-baik saja kan?!" Rama ingin memastikan. Ia mengungsi di kursi teras elama tadi Mami dan Kartika berbicara empat mata di ruang tamu. Waspada jikalau situasi memanas. Tapi selama hampir satu jam pebincangan yang tidak terdengar olehnya itu, aman terkendali.
"Tentu saja. Mami merasa plong udah ketemu dia." Ratna tidak menceritakan isi percakapan. Rama pun tidak memaksa ingin tahu selama tidak menimbulkan masalah untuk keharmonisan kedua orangtuanya itu.
"Nak, kita mampir dulu ke rumah Puput. Mami kangen pengen ketemu semuanya." Pinta Ratna saat mobil sudah memasuki kawasan simpang lima.
Tentu saja ajakan yang menggiurkan. Tidak akan ditolak meski sudah seharian ini bepergian. Perjalanan paling lama ke rumah mang Ade ditempuh totaln3 jam pulang pergi. Kini akan lanjut berlabuh ke rumah Puput. Cape pun mendadak menguap.
"Bentar...beli oleh-oleh dulu, Mam." Rama menepikan mobil ke bahu jalan saat melihat ada kios buah-buahan.
...***...
Bestie....hanya mengingatkan. Kalo abis baca jan lupa jempol LIKE nya. Sayang banget banyak yg lewatkan itu. Dukungan murah n gratis tapi bermakna buat para penulis.
"Tau dari mana thor?"
Setiap author punya statistik pembaca baik jumlah pembaca, hadiah poin, juga tips coin. Karya KCM ini dibaca rata-rata 10rb x per hari nya. Tapi yg ngasih like hanya sampe 3rb an. 😢😢😢
Bukan hanya Mput yg galau, otor juga galau ngelanjutin nulisnya.
__ADS_1
Sok nya...semua yg baca usap jempol LIKE.
Terima kasih ❤