Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
51. Dinner


__ADS_3

Menyusul masuk paling akhir, Puput disambut Ibu dengan menyuruh mengupas mangga oleh-oleh dari Rama untuk disuguhkan kembali. Kening mengernyit melihat kerintilan kantong kresek yang tergeletak di karpet berjumlah enam. Yang dibawa Rama dan Ami sampai tiga balikan. Padahal jika disatukan dalam kantong kresek besar, cukup ditenteng oleh satu orang dewasa, beres.


Dasar kurang kerjaan.


Puput membatin sambil membawa semua kerintilan ke dapur dengan kedua tangan penuh. Mencuci mangga, anggur, apel, pear, jeruk, dalam kucuran air kran agar lepas semua pestisida yang menempel di kulit buah.


"Perlu bantuan?!" Puput terkaget. Tidak menyangka Rama menyusulnya ke dapur. Mengambil posisi berdiri di sisi kanan dan memperhatikannya. Mendadak rasa grogi melanda.


Puput menggeleng. "Kak Rama tunggu aja di dalam. Ini mau dilap kering dulu." sahutnya menunjuk semua buah-buahan yang masih basah dalam baskom besar.


"Kamu kan mau kupas mangga. Ini biar sama aku aja!" Rama menarik lap yang dipegang Puput. "Apa dulu nih yang dilap?!" lanjutnya mengabaikan Puput yang melongo karena ulahnya menarik lap tanpa permisi.


Puput segera mingkem. Mengalah. Menugaskan Rama mengelap dulu apel, lanjut yang lainnya, sampai yang terakhir jeruk. Ia pun mulai mengupas mangga harumanis yang tercium wangi khas, terbayang buahnya pasti manis.


"Harus berurutan apa boleh random?" Rama mengikuti perintah Puput menyimpan apel yang sudah kering ke nampan tempat buah.


"Boleh random juga. Asal tetap jeruk paling akhir. Soalnya jeruk paling banyak pestisida atau obat kimia yang menempel dikulitnya. Nih lihat putih-putih abu gini...." Puput menunjukkan tekstru kulit jeruk yang meski sudah dicuci tapi masih ada kotoran yang menempel. "Kalau jeruk duluan maka lapnya jadi kotor dan bisa nempel lagi di buah yang lain. Percuma dong dicuci. Apalagi kalau jeruknya gak dicuci dulu, pas kita kupas...itu senyawa kimia nempel di tangan. Terus bisa nempel juga ke jeruk yang kita makan."


Rama manggut-manggut mengerti dengan penjelasan Puput. Suka dengan cerminan gaya hidup sehat itu. Melanjutkan mengelap pear berjumlah lima buah.


"Tamu tadi, yang kemarin joget di panggung kan? Yang party di Santika kan?" tanya Rama bernada interogasi tanpa menoleh. Masih dengan pekerjaannya mengelap, beralih menepuk-nepuk ranggeuyan anggur secara perlahan agar bulirnya tidak berjatuhan.


Puput menghentikan sejenak mengupas mangga. Menoleh memperhatikan wajah Rama yang nampak datar.


"Iya. Mereka kesini buat minta maaf soal kemarin. Menyesal katanya."


"Tadi kedengarannya ngajak lagi reuni ya? Eh, maksudku tadi gak sengaja denger pas lewat. Bukan kepo." Rama yang merasa keceplosan, segera membuat pembelaan.


"Iya. Minta tahun depan ngadain reuni seangkatan. Mereka janji akan berubah. Aku sih gimana kesepakatan bersama aja. Nanti dibahas di grup."


"Owh---" Rama menyahut pendek. "Kamu hati-hati ya memilih teman. Harus punya prinsip, jangan sampe kebawa arus."


"Iya, Kak." Nasehat Rama diterima dengan baik. Karena memang benar adanya.


"Ini udah. Apa lagi?! Rama memperlihatkan baskom buah-buahan yang sudah berpindah ke nampan bulat tapi masih acak-acakan tidak ditata.


"Udah cukup. Kak Rama tunggu di dalam aja. Nanti aku tata dulu baru dianter." Keberadaan Rama hanya membuat grogi saat memotong-motong mangga. Lebih baik sendirian di dapur.


"Nanti aja ah, bareng." Rama bergeming. Memilih memperhatikan kegiatan Puput sambil bersandar ke tembok dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


Fokus, Put....fokus. Awas pisau kepeleset!


Puput mensugesti diri. Rasa grogi diawasi membuat tubuhnya menegang dan berkeringat. Pandangan serasa mengganda butuh kacamata. Berusaha memusatkan konsentrasi memotong buah mangga ketiga.


"Astagfirulloh---" Puput memekik kaget. Menyimpan mangga yang baru terkupas setengah, saat pisau tajam terpeleset menyentuh ujung jari tengah. Darah segar mberebes.


"Kenapa, Put?!" Rama ikut terkaget. Memperhatikan Puput yang mencuci tangan dikucuran air kran. Sontak meraih tangan itu. Melihat jari tengah yang terluka dan berdarah.


"Hati-hati dong, Neng!" Rama berubah raut khawatir.


"Gak papa cuma luka kec---" Ucapannya tergantung di udara. Beralih terkesiap dan melongo saat Rama mengisap jarinya yang terluka. Bibir yang lembut, kenyal dan hangat itu seolah mengalirkan listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya. Wajahnya memanas, memerah seperti tomat.


...***...


Kejadian di dapur membuat Puput lebih banyak diam selama berkumpul di ruang tengah. Ia malu, jantungnya masih berdebar tak menentu. Bibir yang kenyal dan hangat itu terasa masih menempel di ujung jari yang sudah berhenti berdarah. Berbeda dengan Rama yang nampak biasa saja. Menikmati kebersamaan keluarga dengan sajian buah-buahan di tengah. Becanda dengan Ami, mengobrol dengan Zaky dan Aul menanyakan soal study.


"Nanti hari minggu kita pergi makan siang di luar ya. Pengen ada kenang-kenangan sebelum Mami pulang ke Jakarta." Ratna menyebut diri "Mami" yang wajib diikuti oleh semua anak-anak Ibu Sekar.

__ADS_1


"Asiap, Mami. Nanti aku akan puasa setengah hari agar semua makanan bisa masuk ke perut karet ini." Ami menepuk-nepuk perutnya yang sudah keras karena terus-terusan menggiling. Badannya padat berisi, bukan gemuk. Bobot normal untuk usianya yang masih masa pertumbuhan serta aktif kegiatan olahraga dan pencak silat. Pembawaan tomboynya menurun dari kakaknya yang sulung.


"Ami ih, jangan malu-maluin!" Puput barulah bersuara. Menegur si bungsu yang selalu narsis .


"Santuy atu teteh. Malu bertanya sesat dijalan. Malu bicara, nanti kelaperan. Ehehehe---" Ami mengangkat dua jari membentuk simbol V.


Berada di rumah Puput untuk kali pertama, membuat Mami Ratna betah. Diantaranya terhibur oleh kekonyolan Ami. Sayangnya, harus segera pulang. Papi Krisna menelpon karena sudah seharian ditinggalkan.


"Jangan lupa. Jam 7, on time!" Puput hanya mengangguk saat mengantar sampai teras. Bisikkan Rama mengingatkan, membuat bulu kuduknya merinding.


Menatap jam dinding, masih ada waktu 2,5 jam menuju on time. Puput malu-malu menghampiri Ibu untuk bilang soal ajakan Rama. Yang ada malah dibuat terkejut. Ibu menanggapi santai karena ternyata Rama sudah meminta izin lebih dulu.


Puput naik ke kamarnya. Membuka lemari pakaian untuk memilih baju apa yang pantas dikenakan. Sudah 15 menit mengamati belum ada yang sreg. Menjadi tidak percaya diri takut salah kostum.


"Bakpia, kamu lagi santai kan?!" Puput memutuskan melakukan panggilan video untuk meminta saran sahabatnya itu.


"Iya. Baru beres teleponan sama Adi. Kenapa emang?!"


"Tadi Karam sama ibunya main kesini. Tahu nggak, Karam ngajak aku dinner. Jam 7 mau jemput." Puput memulai sesi curhat.


"Wow...wow...wow! Si Akang gercep euy. Aku yakin dia ngajak dinner mau nembak kamu. Selamat bestie...." Malah Via yang melonjak-lonjak kegirangan.


"Jangan sok tahu deh. Bisa jadi cuma makan malam biasa." Puput tidak mau baper. Karena mengharap bisa menimbulkan kecewa.


"Mending sekarang bantu aku pilihin baju, Via. Aku kok jadi gak pede. Takut salah kostum." Lanjut Puput sambil memposisikan ponsel dengan benar agar lemari bajunya terakses oleh Via. Mengingat ini adalah kencan pertama. Eh, kencankah ini?!


"Oke, Siput. Mana-mana...liat bajunya!"


Baju pertama ditunjukkan, Via menggeleng.


Baju kedua diperlihatkan. "Jangan itu. Kayak mau ngantor." protes Via.


"Aku gak punya rok. Tahu sendiri kan gimana aku." Puput mendecak prustasi karena belum ada juga outfit yang pas. Kesehariannya yang tomboy menjadi tidak terpikirkan untuk membeli rok. Ranjangnya sudah acak-acakkan oleh gundukan baju yang dilempar karena tidak terpilih.


"Paket....pakeeet. Ada Kang paket." Teriakan Ami dari luar pintu terdengar keras diiringi ketukan.


Puput tak kalah berteriak menyuruh masuk.


"Ya ampun teteh....ini kamar apa kapal pecah?!" Ami geleng-geleng kepala melihat pemandangan tak biasa itu. Tumben. Biasanya selalu rapih.


"Ami ada apa?! Cepet keluar lagi! Teteh lagi sibuk." Puput memperhatikan paper bag yang dibawa Ami. Tidak menaggapi omelan adiknya itu.


"Ini ada paket buah teteh. Mamang gojek yang anter. Teteh beli baju baru lagi?!" Ami menyerahkan paper bag dengan logo Butik Sundari, sambil penasaran ingin tahu isinya.


"Enggak kok. Salah alamat kali, Mi." Puput terheran-heran. Melongok isi paper bag yang ternyata kotak kado warna hitam berhias pita gold.


"Cek aja, Siput. Kali aja Karam yang ngirim gaun." Via turut bersuara dan meminta Puput membukanya di depan layar ponsel.


Mendadak berdebar saat Puput bersiap membuka tutup kotak. Bahkan Ami melongokkan kepala begitu dekat. Sebuah kartu tersemat dipermukaan baju.


...Putri Kirana, dipakai ya!...


...Aku akan menjemputmu jam 7, on time!...


...Rama...


...***...

__ADS_1


Puput berkaca. Memastikan lagi penampilannya dengan terus-terusan melempar senyum untuk meminimalisir rasa gugup. Setelan atasan berwarna putih dan rok tutu motif manik berwarna dusty pink, begitu pas membalut tubuhnya. Dipadu kerudung voal warna senada rok yang adem. Memuji selera Rama. Bisa-bisanya pintar memilihkan outfit yang bisa menambah aura cantik yang memakainya.


Bahkan Via tadi semakin heboh saat melihat isi kotak kado. Begitu juga Ami yang menggoda dengan cie-cie. Ingin sekali Puput masuk ke dalam cangkang, menyembunyikan wajahnya yang merona malu.


"Wit wiw...yang mau ngedate." Zaky menyambut kedatangan Puput yang turun dari tangga dengan menggodanya. Membuat semua yang ada di meja makan menoleh.


"Cie-cie....cancik sekalee tetehku." Ami tulus memuji dengan mengacungkan dua jempol. Aul berdehem-dehem. Ibu tersenyum kecil dalam rona bahagia. Apalagi setelah mendapat info telepon dari Via tadi sore.


"Maaf gak punya receh. Yang lembaran belum digunting." Puput sebenarnya malu dengan godaan ketiga adiknya yang tengah makan malam itu. Mencoba menetralisir dengan menanggapi cuek.


Ting tong.


Sudah kali ke berapa Puput masuk ke dalam mobil Pajero milik bossnya itu. Biasa saja. Malah dalam hati selalu mengagumi dan bercita-cita ingin memiliki tunggangan jenis SUV itu. Tapi aura kali ini beda. Sangat nervous dengan telapak tangan yang terasa dingin. Rama masuk ke rumah hanya sebentar untuk izin kepada Ibu. Kini sudah duduk berdampingan di dalam mobil. Dengan atasan yang sama. Putih.


Kalau boleh jujur. Ingin sekali memuji penampilan Rama yang semakin cool dengan outfit yang dikenakan malam ini. Sederhana tapi elegan. Kemeja putih slimfit lengan pendek dipadu celana panjang chino warna moka. Semerbak parfumnya memenuhi ruang mobil. Style rambut pomade belah pinggir yang klimis. Membuat wajah tampqnnya semakin fresh.


Astaga kenapa aku bisa sedetil itu memperhatikannya.


Puput merutuk dalam hati. Semua tentang Rama yang yang ia lihat saat membukakan pintu, tergambar di dalam kepala.


"Kita dinner dimana ya? Kamu ada ide?!" Rama memecah kebisuan saat mobil baru melaju 500 meter ke arah kota. Ajakan dinner memang dilakukannya spontan tanpa rencana sebelumnya. Termasuk mendadak menghubungi Bibi Ratih di butik. Minta diperlihatkan koleksi terbaru untuk dikirim ke rumah Puput.


"Terserah Kak Rama aja." Sahut Puput tanpa berani menoleh.


"Di hotel T aja yang deket. Gimana?!" Rama menatap sekilas wajah ayu bersinar yang pas terkena sorot lampu PJU.


"Aku ngikut aja." Puput menoleh bersamaan dengan Rama melakukan hal yang sama. Keduanya saling melempar senyum.


Tiba di restoran hotel, suasananya cukup ramai pengunjung. Masih ada 5 meja tersisa. Rama memilih meja yang posisinya di dekat kaca jendela. Bisa menatap pemandangan jalan raya dan tidak terganggu lalu lalang orang. Menu makan sudah dipesan. Menunggu diantar.


"Puput---" Rama menatap mojang Ciamis di hadapannya dengan sorot mata berbinar. Hanya orang yang tengah jatuh cinta yang mampu menangkap banyaknya kupu-kupu beterbangan pada manik hitam itu.


"Iya?!" Puput balas menatap dengan kedua alis bertaut.


"Kamu makin cantik aja." Rama mengerjapkan mata sekali, senyum manis nan tulus tersungging di bibir tegasnya.


"Ini karena bajunya yang cantik. Aku sampe lupa ucapin makasih." Puput menahan rasa agar hidung tidak mengembang. "Makasih ya Kak, untuk bajunya," sambungnya sambil berpaling ke arah jendela. Tidak kuat bertatapan lama-lama.


"Kamu tuh kalau dipuji selalu aja merendah." Rama geleng-geleng kepala merasa gemas. Padahal jelas terlihat kedua pipi yang putih bersih itu tengah merona. Hanya dibalas Puput dengan kekehan.


"Oh ya, aku mau nyambung pembicaraan yang kemarin."


Rama menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


Puput mencerna dan menunggu dengan jantung yang sudah tenang kembali berdegup kencang.


"To the point aja. Takut ada yang gangguin lagi." ujarnya serius sambil merogoh saku celana. Menyimpan sebuah kotak kecil warna hitam ke hadapan tangan Puput yang terlipat di meja.


"Puput....malam ini aku mau membuat kejujuran."


"Aku suka sama kamu sejak pertama kali bertemu. Seiring waktu, dengan sendirinya, tanpa bisa ditahan, rasa suka berubah menjadi cinta."


"Aku mencintaimu Putri Kirana. Bersediakah kamu menjadi pendamping hidup seorang Rama Adyatama?!"


"Jawab hanya dengan ini!" Rama membuka kotak kecil berisi cincin putih bertahtakan dua butir diamond. Sangat indah berkilau.


"Jika diterima, pakailah!"

__ADS_1


"Jika kamu menolak, tutup kembali kotaknya!"


__ADS_2