Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
59. Tentang Dia...Bidadari Tak Bersayap


__ADS_3

Jakarta


Entah kali keberapa Rama memutar ulang rekaman video dengan menggunakan headset, saat Puput memberikan sambutan mewakili dirinya. Sejak awal ia yakin dengan mentalitas Puput. Di balik sikap cuek, bisa menilai jika sang kekasih sebenarnya memiliki kemampuan public speaking, bisa berdiri tegak di depan audience. Terbukti dari rekaman video kiriman Pak Hendra yang bisa diandalkan. Direkam dengan angle yang pas sosok gadis cantik berjilbab hitam. Yang berbicara dengan tenang dan percaya diri. Sayangnya, ada kalimat yang di skip. Meski ia sudah memprediksi jika hal itu akan terjadi.


Puput...Puput. It's oke...biar aku aja yang bucin duluan.


Bibir Rama melengkungkan senyum kecil. Beralih menatap foto selfie saat di alun-alun. Merasakan rindu menyeruak ingin segera kembali ke Ciamis.


"Pulang, woy! Bukan cengar cengir kayak kesambet jin." Damar mendengus sebal. Masuk ke ruangan Rama malah disuguhi pemandangan orang yang lagi kena virus cinta.


Rama bersiap membuka mulut untuk membalas, namun ponselnya berdering. Mami.


"Rama, cepet pulang! Keluarganya Adit akan datang ke rumah nanti jam tujuh an." Telepon singkat dari Mami Ratna dijawab singkat pula oleh Rama.


"Lo mau ikut ke rumah gue?! Keluarga Adit mau datang. Kita akan sidang." Rama menatap sejenak Damar yang telentang di sofa. Lanjut membereskan berkas di meja. Memasukkan laptopnya ke dalam tas. Bersiap pulang.


Damar berpikir sejenak. "Gue ikut. Tapi untuk nemenin Cia. Gak minat ikutan sidang. Bisa emosi gue, apalagi kalau si breng sek itu ada juga." Kabar yang didengarnya, Adit dilarikan ke rumah sakit karena harus mendapatkan perawatan.


"Gue nyusul aja, bro. Mau pulang dulu ke apartemen. Mandi, makan." Sambung Damar saat sampai di basemen menuju mobil masing-masing.


Rama menunda untuk menghubungi Puput meski jempolnya sudah gatal ingin menyentuh tombol telepon. Butuh keleluasaan waktu agar bisa mengobrol banyak. Sementara Bi Lilis sudah mengetuk pintu kamarnya. Mengabari jika tamu sudah datang.


Keluar kamar berpapasan dengan Cia yang sepertinya mau menemuinya. "Kak, aku gak mau ketemu Adit. Gak mau ketemu ortunya juga. Pokoknya gak mau lagi berurusan sama mereka. PUTUS!" Ujar Cia sedikit emosi. Sorot mata berbalut luka dan kecewa bisa tertangkap dengan jelas.


"Iya, kamu tenang aja. Tapi jangan ngurung terus di kamar. Rebahan di sana aja sambil nonton tv. Nanti juga Damar mau ke sini nemenin kamu." Rama menunjuk dengan dagu ke arah sofa ruang keluarga. Mengusap kepala sang adik sebelum berlalu menuruni tangga.


"Aku minta maaf."


"Aku khilaf."


"Semua terjadi karena aku menonton film dewasa."


"Aku amat sangat menyesal."


Rama menatap tajam ke arah Adit yang kini menundukkan kepala. Bekas lebam masih nampak di banyak bagian wajahnya. Juga hidung yang berbalut plester. Ada Mami, Papi, juga Enin yang turut serta menerima kedatangan tiga orang tamu itu. Belum ada satu orang pun yang menanggapi. Masih mengatupkan bibir.


"Om, Tante, ijinkan aku ketemu Cia. Aku ingin minta maaf langsung." Adit menatap penuh permohonan. Tidak mempedulikan rasa sakit dan perih di sudut bibir saat membuka mulut.


"TIDAK!" Rama berkata tegas. "Kamu tidak perlu lagi menemui Cia mulai detik ini. Kami sudah punya keputusan untuk nasib hubungan kalian." Ia pun menolehkan wajah kepada Papi Krisna. Memberi kesempatan sang ayah menyampaikannya.


Krisna menghela nafas panjang. Menyapukan pandangan menatap ketiga tamu yang duduk dalam satu sofa panjang. "Pak Yongki, Ibu Hilda, saya selaku orangtuanya Cia sangat marah. Marah besar dan kecewa dengan kelakuan putra kalian. Kami salah mengira kalau selama ini Adit pemuda terpelajar yang baik budi pekerti. Nyatanya----" ia menggelengkan kepala.


Tak ada sahutan dari orangtuanya Adit yang setia menyimak. Bahkan Yongki mencekal lengan Adit yang ingin menjawab, agar menahan diri.


"Beruntung kamu tidak saya laporkan ke polisi." Krisna fokus menatap tajam Aditya. "Saya masih menjaga nama baik orangtuamu selaku dosen. Tapi konsekuensinya, mulai malam ini juga hubungan Citra Adyatama dengan Aditya Batara, PUTUS."


"Jangan, Om!" Adit berdiri. Beranjak ke depan Krisna dan duduk bersimpuh. "Ijinkan aku memperbaiki diri. Aku sangat cinta sama Cia." Tangannya menyentuh kedua lutut ayahnya Cia itu dengan tatapan permohonan.


Krisna bergeming. Tak menghiraukan Adit yang memelas di depannya. Meminta Rama mengambilkan berkas di ruang kerjanya.


"Baca! Kalau sudah, cepet tanda tangani ini!" Sarkas Rama. Menyimpan berkas di meja dengan membukanya.


Hilda menarik anaknya agar duduk. Karena sudah jelas keputusan keluarga Cia tidak bisa diganggu gugat. Ia pun tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan ataupun melanjutkan hubungam sang anak. Di rumah ia sudah kenyang mengomel akan kebodohan perilaku anak keduanya itu.


"Saya selaku orangtuanya Adit meminta maaf yang sebesar-besarnya." Yongki baru membuka suara. Sejenak menatap anak istrinya yang tengah fokus membaca surat perjanjian dengan materai 10 ribu itu. "Saya selaku orangtuanya juga sangat kecewa. Mau menampar, tapi wajah anak saya sudah babak belur. Kami tulus meminta maaf kepada keluarga besar Cia," Pungkasnya dengan mengatupkan kedua tangan di dada. Legowo menerima keputusan.

__ADS_1


"Baiklah, kami maafkan. Tapi pastikan anakmu itu tidak coba-coba mendekati Cia lagi!" Krisna tegas mengultimatum. Sementara mami Ratna dan Enin diam menyimak saja.


"Aku gak mau tanda tangani perjanjian ini. Aku masih mau ketemu Cia." Adit menutup berkas dan menyimpannya di meja. Isi secara garis besar adalah larangan menemui Cia mulai radius 3 meter, apalagi sampai melakukan kontak fisik. Jika melanggar ada poin-poin sanksi yang harus diterima sesuai jenis pelanggaran.


"Terserah. Opsi kedua, kamu saya laporkan ke polisi dengan tuduhan percobaan pemerkosaan. Dan siap-siap keluargamu menanggung malu akan sanksi sosial. Terutama dari warganet." Krisna dengan tenang memberikan pilihan.


...***...


Di lantai atas, Damar menemani Cia duduk santai di sofa. Televisi yang menyala hanya sebagai pengusir sepi. Sama sekali tidak berminat untuk ditonton. Ia datang saat Krisna tengah berbicara di ruang tamu. Ia yang masuk lewat pintu samping, sempat bersitatap sejenak dengan Rama sebelum ia menaiki tangga sambil menenteng satu dus pizza.


"Dimakan mumpung masih hangat!" Damar membukanya dan menyimpan dus pizza di pangkuan Cia.


"Nanti ah masih kenyang." Cia menggeleng. Bersiap menyimpan dus pizza ke meja. Namun ditahan Damar.


"Kenyang dari mana? Aku barusan tanya bi Lilis, katanya makanmu gak pernah habis. Aku suapin!" Damar mengambil sepotong pizza. Mendekatkan ke depan mulut Cia.


Cia menggeleng. "Nanti aku ambil sendiri."


Namun Damar keukeuh. Bahkan ujung pizza sudah menyentuh bibir Cia. Membuat gadis itu mengalah membuka mulut.


"Apa kamu masih trauma keluar rumah?" Damar menatap Cia yang mengunyah pizza tanpa semangat.


Cia mengangguk. "Tadi siang diajak Mami ke mall katanya biar gak bosen di rumah. Tanganku malah berkeringat dingin dan ketakutan pas liat cowok. Halusinasi aku, mereka seperti mau menangkapku. Aku sampe menjerit tutup muka. Jadinya kita pulang lagi."


Damar menatap kasihan. Dipaksa lagi Cia makan pizza dari tangannya.


"Kamu harus keluar dari rasa trauma. Jadi Ciaku yang bawel lagi, gak murung gini." Damar mengerling jenaka. "Nanti aku yang temani jalan-jalan. Atau mau healing ke mana? Pantai?" sambungnya sambil memakan pizza bekas gigitan Cia.


"Kak, ih. Itu kan bekas aku." Cia malah mengomentari kelakuan Damar. Terkaget.


"Gembel eh gombal deh." Cia mencubit lengan Damar sambil mencebikkan bibir. Tak urung wajahnya berubah riang merasa terhibur dengan sikap Damar yang menurutnya konyol.


"Ah aku jadi lapar." Cia akan mengambil sepotong pizza yang baru. Namun lebih dulu dusnya dijauhkan Damar.


"Aku yang suapi lagi!" Damar antusias mendekatkan sepotong pizza ke depan mulut Cia.


Cia menggeleng. "Sekarang Kak Damar dulu yang makan. Baru aku."


"Eh serius mau makan bekas gigitan aku?!" Damar nampak terkejut namun wajahnya semringah.


Cia mengangguk. "Mau ngetes juga. Apa bener rasanya lebih enak?" ujarnya tersenyum sambil menaikkan turunkan kedua alisnya.


Damar menuruti. Tentunya dengan dada yang penuh oleh keriaan. Menggigit besar pizza yang dipegangnya. Tanpa diduga tangan Cia menarik lengannya, mengarahkan pizza ke mulut gadis yang kini tidak murung lagi.


"Hemmm hmmm---" Cia mengunyahnya dengan ekspresi merem melek.


"Gimana rasanya?!" Damar menunggu komentar Cia dengan mimik gemas.


"Delizioso." Cia membulatkan dua jari. Mengatakan lezat dalam bahasa Italia.


"Lebaaayy---" Damar tertawa. Lalu mengoleskan lelehan keju mozarela ke pipi Cia.


Membuat gadis itu mengerucutkan bibir. Membalas mencolek lelehan keju mozarela ke pipi Damar. Akhirnya terjadi balas membalas dan saling tangkis dalam suasana canda tawa dengan suara tertahan. Takut terdengar ke lantai bawah dimana tamu belum pulang.


...***...

__ADS_1


Semalam tamu pulang jam 9. Semua orang di rumah tidak lantas tidur. Berbincang sampai menjelang pukul 11 malam bersama Damar dan Cia yang ingin tahu hasil sidang keluarga. Alhasil, Rama tidak sempat menghubungi sang kekasih. Menundanya, menunggu pagi.


Dua kali menghubungi nomer Puput. Tersambung namun tidak diangkat. Membuat Rama bertanya-tanya karena jam menunjukkan pukul enam pagi. Harusnya Puput sudah bangun.


"Assalamu'alaikum---" Kali ketiga ada sahutan dari sebrang sana. Suara yang dirindukan itu membuat bibirnya melukiskan senyum.


"Dari mana, Neng. Aku dari tadi telponin." ujarnya usai menjawab salam. Mengapit ponsel di sela telinga dan bahunya sambil melangkah ke walk in closet. Memilih outfit yang akan dikenakannya ke kantor pagi ini.


"Maaf, Kak. Baru pulang lari pagi. Ini aja masih ngos-ngosan." Terdengar suara Puput yang tengah mengatur nafas. Dan Rama percaya.


"Wah-wah calon istriku rajin amat olahraganya. Kirain cuma tiap minggu aja. Kalah deh aku." Rama tulus memuji.


Puput terdengar terkekeh. "Lagi prepare fisik buat pertandingan hari minggu, Kak."


"Ada pertandingan apa?" Rama serius ingin tahu. Menyimpan dulu baju yang akan dipakainya. Menatap pantulan diri di cermin yang masih bertelanjang dada dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Mau tanding silat di Banjar. Bukan pertandingan resmi sih. Tapi hadiahnya menggiurkan. Aduh aku salit perut nih mau ke kamar mandi dulu. Udah dulu ya, Kak!"


"Eh tunggu dulu, Neng!" Bahkan tujuan semula mau menegur Puput soal naskah yang di skip belum tersampaikan. Kini terkaget dan penasaran dengan ucapan 'bukan pertandingan resmi' . Butuh penjelasan. Puput malah menutup sepihak karena kebelet ke kamar mandi.


"Puput....kamu malah bikin aku khawatir." Rama bergumam menatap ponselnya. Seolah sedang mengomeli langsung orangnya.


Urusan Cia selesai. Namun kesibukan di kantor pusat malah meningkat. Ada saja meeting setiap harinya dengan berbagai vendor dan perusahaan supplier. Meeting intern perusahaan membahas strategi marketing untuk diaplikasikan ke semua cabang RPA. Hingga kamis malam Rama harus pulang lewat jam 9. Jadwalnya sengaja dipadatkan agar segera bisa pergi ke Ciamis.


Komunikasi dengan Puput via chat ataupun telepon setiap hari tidak pernah absen. Namun Puput enggan membahas lagi soal pertandingan silat.


"Hanya pertandingan lawan teman aja, Kak. Gak usah khawatir."


Namun justru jawaban itu belum memuaskan dahaga keingintahuannya. Memutuskan bertanya dengan menelpon Zaky siang tadi saat jam istirahat sekolah. Dan jawaban dari Zaky cukup mengobati rasa penasarannya. Ia menjadi tenang.


Notif pesan berbunyi saat Rama mengeringkan rambut usai mandi air hangat. Besok jum'at, hari terakhir berkantor di Jakarta. Tugas di hari berikutnya akan dihandle oleh Damar. Karena sabtu akan terbang ke Tasik bersama Enin dan Cia yang ingin healing lagi di Ciamis.


Rama semringah membuka pesan kiriman dari sang kekasih.


"Kak, maaf. Kemarin-kemarin sering telat balas chat karena sibuk di rumah dan di kantor. Tapi mulai besok sudah longgar. Met istirahat ya, Aa 😢"


Rama tersenyum membacanya. Apalagi ditambah emot itu membuatnya terkekeh.


Aa?! Boleh lah daripada kakak emang aku kakaknya.


Monolog Rama dalam hatinya. Menyetujui panggilan Aa. Karena dipaksa harus manggil Ayang, Puput keukeuh menjawab malu.


"Btw, Aa kapan ke Ciamis? Kan Eneng sono atuhπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ"


Rama tergelak membaca chat terakhir. Aslinya, kalau deket pengen sekali memeluk mojang Ciamis itu. Puput mulai berani mengungkapkan perasaan meski masih terkesan malu-malu. Kan jadi gemes. Tapi pastinya wanita seperti Puput tidak akan mau melepas rindu dengan pelukan. Malah menghardik galak. Seperti saat ia mengujinya dua hari yang lalu lewat chat ;


"Neng, nanti kalo ketemuan boleh peluk ya? Kan biar kangennya tersalurkan."


"Sebelum tangan Kak Rama sampe, bogem aku yang masuk ke perutmu duluan πŸ‘Š."


Ia meletakkan ponsel di nakas tanpa berniat membalas pesan Puput. Sengaja ingin membuat kejutan. Tunggu aku sehari lagi!


Rama beralih menjatuhkan tubuh ke ranjang. Tenang...shalat isya sudah dikerjakan di kantor. Sekarang waktunya tidur. Dengan kepala berbantalkan kedua tangan, angannya menerawang dulu. Membayangkan kilas balik saat menjemput Puput ke rumahnya di hari lebaran. Termangu? Ya. Senyum manis bidadari tak bersayap dalam balutan gaun pemberiannya itu masih melekat di ingatan sampai sekarang. Amat sangat manis.


Huft....sabar....sabar.....rindu memang berat.

__ADS_1


Rama memejamkan mata. Berharap mimpi indah bisa memeluk sang bidadari. Biarlah dalam mimpi dulu. Karena ia pun tengah mempersiapkan rencana untuk segera menghalalkan sang Putri Kirana.


__ADS_2