
Puput tiga kali terjaga dari tidurnya karena gelisah yang tiba-tiba. Masih merasa asing dengan suasana baru tidur berdua. Apalagi sambil dipeluk erat oleh lelaki yang resmi menjadi suaminya. Ditambah rasa khawatir jika saat tidur ilernya menetes dan membasahi kaosnya Rama. Terjaga yang ketiga kalinya ini, ia bisa menggeserkan tubuh lebih renggang lepas dari rengkuhan Rama.
Puput menelisik raut wajah yang tidur miring menghadapnya itu. Wajah yang tenang dengan mata terpejam dan bibir mengatup rapat. Hidung mancung dengan hembusan nafas yang teratur. Diamati, rasanya tidak ada cela. Andainya Rama tidur mengorok, ia tidak akan serisih ini. Jadi merasa ada teman, imbang. Faktanya, suaminya itu tidur begitu damai tanpa dengkuran.
Aroma harum kopi terendus indera penciuman. Berpadu harum aroma lain yang entah apa. Namun begitu menggugah selera dan mengusik kesadaran untuk terjaga. Puput perlahan mengerjapkan mata.
"Pagi, istriku----" Pemandangan pertama saat mata terbuka adalah wajah Rama yang penuh senyum menatap sambil menyapa. Wajah yang segar dengan rambut setengah basah. Aroma kopi dan makanan yang tadi menguar berubah hembusan parfum aroma maskulin yang sudah dikenalnya. Rasanya akan menghanyutkan jika berada di pelukannya.
"Astagfirullah---" Puput bangun terduduk. Baru sadar setelah nyawa terkumpul sempurna. Ternyata di luar sudah terang. Terlihat dari jendela yang tirainya terbuka setengah.
"Maaf, aku bangun kesiangan ya?" Puput panik sambil meraba sudut bibir serta pipinya. Percaya dirinya turun melihat Rama yang terkekeh di tepi ranjang. "Ini jam berapa? Kenapa Aa gak bangunin sih?"
"Ini hampir jam 7." Rama menunjuk jam di pergelangan tangannya. "Aku udah bangunin jam 5 tadi tapi kamu cuma hmm doang. Ya udah dibiarin aja kan gak shalat ini."
Puput menahan lengan Rama yang sepertinya akan memeluk. "Ah, aku gak pede. Mau mandi dulu!" Ia tergesa turun dari ranjang. Langsung masuk ke kamar mandi. Ia menatap wajah di cermin washtafel. Barnafas lega. Apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Pipi dan sudut bibirnya bersih bebas iler. Entah kenapa bisa aman. Mungkinkah karena saat tidur mendadak terjaga sampai tiga kali. Ia mengangkat bahu.
"Adduuh---" Puput menepuk jidat. Baru ingat tidak membawa baju ganti setelahnya selesai mandi. Handuk yang panjangnya hanya setengah paha, membungkus tubuhnya yang polos.
Apa keluar aja atau pakai piyama lagi?
Puput menimang-nimang di depan cermin. Akhir haid yang tersisa flek tipis, bisa dipastikan besok keadaannya suci. Ia meraba dua tanda merah di leher dan satu di dada. Baru terlihat sekarang dari pantulan cermin. Tiba-tiba bulu-bulu halus ditubuhnya meremang. Besok, akan seperti apa Rama memperlakukannya.
"Lo berangkat duluan, Ben. Gue nyusul kamis."
"Harap maklum dong. Gue kan penganten baru."
"Oke, Ben. Take care!"
Puput melihat Rama sedang bertelpon dengan berdiri di tepi jendela membelakanginya. Sebagian percakapan ia dengar dengan jelas. Sepertinya topik pembicaraannya tentang rencana berangkat ke Amerika. Dengan berjalan mengendap, ia menuju lemari untuk mengambil baju.
"Mar, hubungi Nova. Siapkan tiket buat kamis."
"Iya, gak jadi senin. Kasian Puput. Masa baru sehari ditinggalin."
"Gue udah nyuruh Ben berangkat duluan."
Rama mengakhiri panggilan dengan Damar setelah tadi menghubungi Ben. Ponsel yang baru dinyalakan itu menampilkan ratusan pesan dari grup keluarga, teman, relasi, berisi ucapan happy wedding. Setelah semalam ia memposting foto pernikahan di story nya. Hanya membaca tanpa berniat membalas.
Saat membalikkan badan, pandangannya terkunci pada sosok berbalut handuk yang tengah mengambil baju di lemari. Rambut yang digelung ke atas, menampilkan tengkuk yang putih bersih sampai kaki itu begitu menggoda untuk disentuh. Membuatnya menelan ludah. Ia pun mendekat setelah melempar ponsel ke atas sofa.
Grep. Bahu seputih susu itu lebih dulu disergap saat Puput akan membalikkan badan.
"Sekarang udah bisa belum, hmn?" Rama menyusuri tengkuk Puput dengan bibirnya. Terlihat kemudian bulu halus di area itu berdiri tegak.
Puput menggeliat dan membalikkan badan sambil mendekap baju. "Besok subuh baru bisa. Sabar dong, sayang..." Tangannya menahan bahu Rama yang ingin mengikis jarak.
"Aku suka panggilan itu. Pengen dengar lagi, Neng!" Rama beralih mengendus leher. Memberi kecupan-kecupan kecil dan hisapan kuat.
"Aa, itu ada yang ketuk pintu." Puput menatap ke arah pintu. Membuat Rama menghentikan aktifitasnya dan menoleh. Menjadi kesempatan buat Puput melepaskan diri dan berlari masuk ke kamar mandi diiringi tawa. Lagi-lagi ia harus merasakan sensasi yang sulit dijabarkan dengan kata.
"Neng, awas ya!" Rama tak urung terkekeh karena berhasil dikelabui.
...***...
"Apa Aa suka ngopi tiap pagi?" Puput memperhatikan isi sajian di atas meja yang dipesan Rama. Ia menemani duduk di sofa usai berpakaian rapi tapi belum memakai hijab.
__ADS_1
"Iya. Kopi less sugar. Tapi kali ini pengen sarapan kamu dulu." Rama menangkup wajah Puput. Memberi kecupan singkat di bibir.
"Kita mulai lanjutin lagi project one hundred kiss." Rama tidak menunggu persetujuan. Ia mulai mendominasi melahap bibir ranum berwarna pink muda. Memulai pa gutan, melakukan ekplorasi yang memberi efek panas dan gelenyar pada masing-masing pelaku.
Ciuman lembut namun panas yang dilakukan berkali-kali itu berakhir dengan saling beradu kening dengan nafas terengah-engah.
"Ini....udah jadi candu. Pengen lagi dan lagi...." ujar Rama sambil jarinya mengusap bibir Puput yang basah. Sambil pula mengatur nafas agar normal. Puput hanya tersenyum malu.
Sarapan yang sebenarnya pun dimulai. Dua piring nasi goreng spesial mulai dipegang masing-masing. Ditemani dua gelas teh chamomile yang dituang dari poci kaca.
"Neng, makan dari punyaku dulu!" Rama menahan Puput yang akan menyendok nasi goreng. Membuat Puput menatap bingung.
"Sekarang aku punya peran baru sebagai kepala keluarga. Tugasku diantaranya memberi nafkah lahir dan batin. Dan suapan ini....menjadi nafkah lahir pertama dariku untuk istriku. Bismillah...." Rama membaca do'a sebelum makan. Lalu menyuapkan sesendok nasi ke mulut Puput.
Terkesima, kagum, bahagia, haru, berpadu menjadi satu dirasakan Puput. Tidak sanggup mengeluarkan kata. Tak menyangka jika Rama memiliki pola pikir seperti itu. Hanya senyum dan pipi yang merona merah jambu yang ditampilkan saat menerima suapan dari suaminya itu yang menatapnya lembut. Sampai tiga kali suapan, barulah makan sendiri-sendiri.
"Aku jadinya terbang hari kamis. Udah bilang sama Ben juga Damar tadi."
Puput mengangguk. Tanpa diberitahu pun sudah mendengarnya tadi.
"Aku ingin manfaatin waktu yang singkat ini buat quality time berdua. Jam 9 kita check out lalu ziarah ke makam Ayah Ramdan. Abis duhur kita berangkat ke Jakarta bareng Damar dan Cia."
Lagi, Puput mengangguk. Ia tidak akan membantah. Akan mengikuti semua apa yang sudah direncanakan Rama.
"Sebenarnya rabu kemarin aku udah ziarah sama ibu. Tapi cerita sama ayahnya mau dilamar bukan mau nikah." Puput mengingat akan monolognya di depan pusara sang ayah usai memanjatkan do'a.
"Gak papa kita ke sana lagi. Aku kan belum ketemu ayahmu." Rama meneguk teh yang hangatnya pas usai menghabiskan nasi gorengnya. Tersisa desert apple pie yang belum tersentuh.
...***...
"Kalau boleh tau, Ayah meninggal karena apa?" Rama beralih menuntun Puput saat melewati tepi kolam ikan yang jalannya licin dan lembab.
"Ayah sakit mendadak. Awalnya mengeluh sesak nafas lalu batuk-batuk mengeluarkan darah." Keluar dari gang, Puput mengajak Rama duduk di pos ronda sebelum menaiki mobil. Ia pun melanjutkan cerita. "Ayah tadinya nggak mau dirawat. Tapi aku sama Ibu maksa soalnya cemas liat kondisi Ayah. Hasil rangkaian pemeriksaan, dokter memvonis Ayah kena kanker paru stadium 3. Kita semua kaget."
Rama menggenggam tangan Puput yang tatapannya menerawang ke depan.
"Gimana bisa? Ayah bukan perokok. Gaya hidupnya juga sehat. Dokter memastikan ayah adalah perokok pasif. Dan memang ayah mengakui. Di kantornya hampir tiap hari biasa menghirup asap rokok berasal dari teman-temannya."
"Ayah seminggu dirawat. Dua jam sebelum jadwal kemo pertama, Allah lebih dulu memanggilnya." Puput mendongakkan wajah karena matanya berkaca.
Rama merengkuhnya. "Maaf sayang, udah bikin kamu sedih lagi. Maaf---" Ia mengecup puncak kepala dan mengusap-ngusapnya. Merasa bersalah sudah mengungkit duka lama.
"Padahal malamnya aku berbincang santai sama ayah yang kelihatan lebih segar. Aku senang melihatnya sepertinya ayah akan sembuh." Puput melanjutkan cerita dengan kepala bersandar di dada Rama.
"Tapi ayah setelah salat subuh berwasiat ; Teteh, kalau ayah pergi, titip Ibu dan adek-adek. Karena ayah percaya teteh perempuan mandiri dan tangguh. Lalu ayah tertidur tenang sambil ibu mengusap-ngusap tangannya. Ternyata ayah tidur panjang...."
Puput menegakkan duduk dengan kepala menunduk. Buliran air mata jatuh tak bisa dicegah. Terkenang saat-saat terakhir mendampingi ayah yang selama sakit tak pernah sekalipun meninggalkan salat.
"Ssttt, jangan nangis. Aku jadi makin bersalah." Rama mengangkat dagu Puput dan menyeka pipi yang basah.
"Aku hanya lagi kangen. Ayah adalah sosok suami dan bapak yang aku idolakan." Mata Puput yang sesaat meredup kembali berbinar sorot penuh bangga.
"Mulai sekarang, aku yang beralih menjadi tulang punggung. Karena kamu beralih menjadi tulang rusukku." Rama mengulas senyum manis sambil mencolek hidung Puput agar kembali tersenyum. Keduanya beranjak menaiki mobil. Pulang.
...***...
__ADS_1
"Teteeeh...." Kedatangan Puput disambut Ami yang berlari memeluknya dengan riang.
"Kak Rama...." Ami beralih mencium punggung tangan kakak iparnya. Lalu kembali bergelayut di lengan Puput sambil masuk ke dalam rumah. Rama mengulas senyum melihat kedekatan Ami dengan Puput itu.
Di ruang tamu semua orang berkumpul. Rama menceritakan kepada Ibu perihal akan berangkat ke Jakarta siang ini dengan membawa Puput. Ibu tentu saja tidak melarang karena kewajiban sang anak mengikuti langkah suaminya.
"Teteh, aku gimana kalo teteh pergi ke Jakarta. Aku mau diantar ke pesantrennya sama teteh." Protes Ami dengan wajah memberengut.
"Iya tenang....pasti teteh anter. Teteh keburu pulang kok. Kan masih lama 2 minggu lagi ke pesantrennya." Puput mendekap si bungsu yang tak mau jauh darinya.
"Nanti kalau aku udah berangkat ke Amerika, aku mau titipkan lagi Puput sama Ibu." Rama menatap Ibu Sekar. Tentunya disetujui Ibu dengan senang hati.
Selesai obrolan santai itu, Puput mengajak Rama ke kamarnya karena harus bersiap packing baju. Di dalam kamar, kotak hantaran berjajar rapih belum dibuka. Ia mulai membuka satu persatu membereskannya. Memilih mana yang akan dibawa dan ditinggalkan. Mengabaikan Rama yang sedang mengamati foto-foto dirinya yang terpajang di dinding.
"Wow, jawara dari kecil ternyata..." Rama bergumam kagum mengamati foto gadis kecil dalam pose menendang tinggi. Lalu beberapa foto Puput berkalung medali emas dan memegang tropi sambil tersenyum lebar. Ia pun mengeluarkan ponsel dan menjepret dua foto yang menurutnya menggemaskan.
Puput hanya menoleh sebentar dan tersenyum tipis. Memilih melanjutkan lagi mengisi koper dengan beberapa baju baru serta perlengkapan lainnya.
"Eh, mau apa?" Puput terjerembab di ranjang karena Rama menarik pinggangnya. Sehingga tubuhnya menimpa tubuh Rama yang tengah telentang.
Rama membalikkan posisi Puput berbalik menghadapnya. "Aku mau kita tiduran dulu di ranjangmu ini. Sekalian melanjutkan project...." ujarnya sambil menaik turunkan alis. "Udah berapa ya tadi?"
"Udah 90...." Puput ingin memberontak tapi kuncian tangan Rama begitu kuat. Untung bantal gulingnya sudah diganti baru bebas pulau, juga seprai baru. Sehingga ia percaya diri berada di ranjangnya itu.
"Boong 90. Paling juga 25." Rama dengan gemas menjawil hidung Puput yang terkekeh.
"Udah 30an....itupun banyak yang lose hitungan. Karena aku terhipnotis oleh caramu menciumku." Puput menutup wajah karena malu.
Rama terkekeh. Sikap Puput malah membuat gemas. Diurainya tangan penutup wajah merona itu. Tanpa basa basi menyergap penuh damba pada bibir yang sudah menjadi candu itu. Bukan sekali, tapi berkali-kali.
Waktu terasa begitu cepat bergerak bagi dua insan yang bermesraan dan saling canda di dalam kamar bernuansa cat putih itu. Mobil Pajero meninggalkan rumah Ibu usai makan siang bersama menuju rumah Enin.
Di pekarangan rumah Enin mobil berjajar sesuai pemiliknya. Rama memasuki pintu utama yang terbuka sambil berpegangan tangan dan berucap salam.
"Yaelah...kayak mau nyebrang aja." Cia meledek kedatangan pengantin baru itu. Yang berbuah jitakan di kepalanya oleh Rama.
"Kakak ipar...mulai sekarang aku manggilnya Teh Puput dong." Cia paling akhir memeluk Puput sambil cipika cipiki. Semua orang sedang berkumpul di ruang tengah. Karena Cia dan Damar pun sudah bersiap berangkat.
"Mami sama Papi pulangnya besok. Damar, hati-hati bawa mobilnya!" ujar Mami mengingatkan.
"Pasti, tante. Aku kan bawa penumpang pengantin baru yang mau honeymoon. Sampe jadwal terbang ke Amerika juga diundurin kamis."
Sepertinya menggoda pengantin baru menjadi hal biasa dilakukan oleh siapapun. Disaat semua orang mentertawakan, Enin bahkan terkekeh-kekeh. Rama hanya mesem saja. Berbeda dengan Puput yang pipinya sudah merah matang.
"Neng, ke sana dulu yuk!" Rama menarik lembut tangan Puput. Menghindar dari keluarganya yang terus-menerus menggoda.
"Kemana?!"
Tak ada jawaban. Tapi langkah mengarah ke rumah pohon menjadi jawabannya. Dengan meniti tangga sambil berpegangan, keduanya sampai di dalam rumah pohon yang selalu bersih terawat. Rama membuka jendela yang mengarah pada panorama gunung syawal.
"Ini kedua kalinya kita duduk di sini. Dulu...aku ingin sekali menciummu. Apa daya....pasti aku kena tonjok sang jawara."
Puput terkekeh mendengar penjelasan Rama. Keduanya duduk bersisian sambil menurunkan kaki menjuntai ke bawah. Semilir angin siang yang tidak terlalu panas itu menyejukkan tubuh yang bergelora gejolak cinta.
Pandangan saling mengunci dengan netra yang sayu mendamba. Tatapan penuh cinta itu kini halal dilakukan dan diekspresikan. Tanpa perlu lagi meminta dan menjelaskan, kedua bibir saling bertaut. Terpagut pelan dan lembut agar setiap sensasi yang mengaliri darah terserap dan menancap di sanubari.
__ADS_1
Mengecap manis dan romantisnya status pacaran setelah menikah. Mereka abaikan cuitan riang sepasang burung pipit yang hinggap di ranting daun. Seolah ikut terbawa suasana romantisme sepasang manusia yang berburu nikmat dengan mata terpejam.