Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
74. Fii Amanillah


__ADS_3

Fii Amaanillah \= Semoga engkau dalam perlindungan Allah subhanahu wa Ta'ala".


***


Kesibukkan menuju acara opening Dapoer Ibu terlihat sejak hari minggu. Semua keluarga turun tangan membantu sesuai tugas masing-masing. Hari ini senin, acara syukuran akan digelar. Mengundang sebagian tetangga terdekat serta kerabat, relasi dan juga teman terpilih. Hari ini semua menu free untuk para tamu.


Hal yang tidak disangka akan adanya kiriman karangan bunga ucapan selamat, datang berturut-turut sejak jam 7 pagi. Ada tiga papan bunga. Puput tersenyum lebar begitu membaca pengirimnya. Dari manajer dan staf RPA, dari keluarga besar SILATurahmi, dari keluarga Enin Herawati.


"Teh, teteh.....ada lagi kang kurir ngirim papan bunga. Ini yang paling wuahhh." Ami melapor pada Puput yang tengah menata makanan di tempat prasmanan bersama Aul.


"Dari siapa, Mi?" Puput mendongak dengan tatapan penasaran.


"Dari fans aku dong. Hihihi----" Ami menarik tangan kakak pertamanya itu, memaksa mengajak ke luar.


"Taraaa----" Ami melebarkan kedua tangan ke arah papan bunga yang dekorasinya mencolok dari yang lain. Penuh bunga, dengan kalimat yang membuat sang kakak tersenyum simpul dengan pipi yang merona.


...Selamat & Sukses...


...Grand Opening Dapoer Ibu...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


...CALON IMAM PUTRI KIRANA...


...(RAMA ADYATAMA)...


"Uhuy dari ayang euy." Zaky yang baru datang menjemput Uwa Halim menggunakan motor, menggoda kakaknya itu.


"Teh, mau disimpan di kamar gak? Biar jadi teman bobo." Giliran Aul yang menggoda usai bergiliran menyalami Uwa Halim yang akan memimpin acara syukuran. Buru-buru menghindar saat Puput akan melayangkan tinju ke lengannya.


Acara syukuran berjalan lancar dan khidmat. Para tamu mulai antri prasmanan menikmati hidangan. Hanya keluarga Enin yang masih santai di mejanya. Ada Enin, Cia, Bibi Ratih, dan Panji.


"Enin, mau aku ambilin makan sekarang?" ujar Puput setengah merundukkan badan di samping kursi Enin.


"Nanti aja santai. Kita kan keluarga. Dahulukan tamu aja dulu." Enin mengusap-ngusap bahu Puput. Kentara sorot mata bangga terpancar dari tatapan sepuh itu. Yang sudah tahu jika Puput berperan besar mendirikan usaha kuliner ini. Tahu dari cerita Ibu Sekar yang menyampaikan dengan mata berkaca karena haru dengan pengorbanan si sulung Putri Kirana.


Puput permisi meninggalkan dulu keluarga Enin untuk menunggui meja prasmanan sambil menyapa para tamu. Cia berinisiatif mengikuti.


"Ehmm yang udah ditembak makin bersinar aja. Sinar mentari pagi aja kalah deh." Puput memgerling menatap Cia yang membantu merapihkan hidangan capcay. Kemarin pagi dengan heboh Cia menunjukkan tangan yang tersemat cincin melalui video call.


"Udah deh jangan bikin pipiku kayak udang ini." Cia menunjuk nampan berisi sate udang. Membuat Puput terkekeh.


Di balik stan es doger, Aul mengirimkan pesan kepada Panji. Setelah dilihat pria itu tengah fokus menatap layar ponsel.


"Kak Panji, bisa ke teras bentar? Aku mau balikin dompet."


Ternyata langsung di read. Tak menunggu lama muncul balasan.


"Nanti aja kalo mau pulang."


Aul menghela nafas. "Sebentar aja dulu. Aku gak tenang nyimpennya. Takut ilang. Mana isinya barang berharga."


Ditunggu sampai 5 menit tidak ada balasan. Aul mengerucutkan bibir sambil mendongak menatap ke arah meja keluarga Enin. Ternyata pandangannya bersirobok dengan Panji yang lebih dulu menatapnya sambil mengulum senyum.


Jam 12 siang, perwakilan dari kantor ada yang datang dengan satu mobil. Manajer, kepala HR, dan juga Novia. Puput menyambutnya dengan sukacita dan mengarahkan mereka untuk bertemu dahulu dengan keluarga owner RPA.


"Put, Septi udah masuk kerja. Diajak ke sini nggak mau dia. Alasannya lagi tanggung memperbaiki sistem yang error." Via berbisik begitu ada kesempatan berduaan dengan Puput.


"Sayang banget. Kalo aku nggak lagi cuti pengen deh ketemu dia."

__ADS_1


...***...


Jakarta


"Nova, ke ruangan saya sekarang!" Rama memanggil sekretarisnya via telepon. Kembali melihat layar ponsel dengan senyum simpul. Berulang kali menatap foto-foto kiriman Puput. Foto bersama keluarga Enin dalam momen opening Dapoer Ibu. Ia juga sempatkan ber video call untuk menyapa semuanya serta mengucapkan selamat. Fokusnya terbuyar oleh suara ketukan di pintu.


"Nov, agenda jam 2 dicancel aja. Saya ada urusan di luar kantor. Reschedule untuk besok aja." Perintah Rama saat sang sekretaris sudah duduk di hadapannya.


"Baik, Pak. Tapi meeting nanti malam jam 7 nggak bisa dicancel. Pak Guntur sudah mengkonfirmasi jika dia sudah ada di Jakarta." Nova mengingatkan tentang klien yang berasal dari Surabaya itu.


"Oke, Nov. Kamu boleh lanjutin kerja."


Ponsel Rama berdering begitu Nova sudah meninggalkan ruangannya. Panggilan dari Mami.


"Rama, Mami ada di ruangan Papi. Kita jalan sekarang!"


"Oke, Mam." Rama menjawab singkat. Memilih membuka jas dan menyampirkannya di kursi. Cukup memakai kemeja saja dengan lengan digulung sampai sikut untuk menemani maminya shopping ke mall.


Keluar dari ruangannya, Rama lantas masuk ke ruangan Damar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Karena sudah menjadi kebiasaannya. Sepertinya Damar yang tengah duduk bertumpang kaki dan senyam-senyum dengan jempol yang bergerak lincah, tidak menyadari kedatangan Rama. Posisi kursinya tengah berputar ke arah kanan.


"Hei kang siomay, lo mau makan gaji buta? Bukannya kerja malah cengar cengir." Rama berkacak pinggang. Memasang wajah tak bersahabat.


Damar jelas terkaget dan memutar kursinya. "Galak amat boss. Ini baru juga pengang hape, lagi chatingan sama Cia. Dia ngirim foto lagi di acaranya opening Dapoer Ibu." Jelasnya sambil menghadapkan ponselnya ke muka Rama.


"Gimana rasanya jadi orang nggak waras, hahh? Bisa-bisanya lo ngeledek gue. Sekarang tahu rasa kan. Bucin-bucin lo." Rama tersenyum sinis. Pagi tadi awal masuk kantor, Damar secara serius bicara jika sahabatnya itu telah melamar Cia secara pribadi dan diterima. Tentu saja berita baik buat Rama dengan memberikan pelukan selamat. Tidak sia-sia triknya membocorkan rahasia Damar sehingga hati sang adik bisa terbuka.


Damar tersenyum menyeringai. "Iya deh gue ngaku kena karma. Tapi karma menyenangkan." ujarnya diiringi kekehan.


Lagi-lagi Rama mencebik. "Gue mau nemenin Mami ke mall belanja buat hantaran. Ada 20 berkas di ruangan gue, ganti lo yang kerjain periksa."


"Hais, ini juga kerjaan gue masih banyak." Damar mendengkus kesal. "Suruh si Nova aja lah."


"Dasar kakak ipar sableng. Lo yang mau lamaran gue yang repot kerjaan." Damar menggerutu ke arah pintu yang sudah ditutup lagi. Mengacak rambutnya asal.


Padahal Mami sudah ditemani asisten Luna, tapi tetap saja Rama harus ikut dengan alasan harus andil juga memilih barang sesuai seleranya.


Tiba di mall ternama di kawasan Jakarta Pusat, Rama memisahkan diri menuju tenant salah satu brand ternama untuk membeli jam tangan, tas, dan parfum. Ia akan memilih sendiri ketiga barang tersebut. Menyesuaikan dengan kepribadian calon makmumnya itu. Untuk yang lainnya diserahkan kepada Mami.


"Saya bayar yang ini, mbak." Rama menunjuk tipe jam brand Italia itu, diantara dua pilihan yang ia bandingkan. Serta satu tas dengan brand yang sama. Kesan elegan dan simple. Menurutnya cocok untuk Puput.


"Totalnya 36 juta, Mas." Dengan tersenyum ramah kasir menerima uluran kartu platinum dari Rama.


Sambil menunggu dua barang belanjaannya dikemas, Rama memperhatikan kedatangan tiga perempuan modis dan seksi yang memasuki tenant. Nampak ketiganya tertawa-tawa penuh bahagia.


"Zara!" Rama spontan memanggil salah satunya. Membuat ketiga perempuan cantik itu menoleh bersama.


"Hai, sayang....masih ingat sama aku ternyata. Kangen ya?" Zara berseru girang, mendekat dan berupaya memeluk. Namun Rama memundurkan langkah sambil menepis pelan tangan perempuan tidak tahu malu itu.


"Gue mau bicara empat mata!" Tegas Rama dengan wajah datar dan tatapan tajam. Bisa saja langsung bicara di tempat itu juga. Namun ia tidak mau mengganggu pengunjung lain. Sudah bisa dibayangkan reaksi Zara nantinya seperti apa.


"Apa maksud lo datang ke Ciamis? Dan ngomong yang enggak-enggak sama calon istri gue." Dengan berdiri di tempat terbuka namun lengang, Rama mulai mengintrogasi. Ia tak lagi ber aku kamu dengan mantan tunangannya itu.


"Ck, aku kira kamu nyesel mutusin dan mau ngajak balikan." Zara memutar bola mata malas. "Aku memang ada urusan kesana. Siapa juga yang ngejelekin kamu. Cewek kampung itu pasti ngarang buat cari muka. Lihat saja nanti, ujung-ujungnya pasti morotin. Jangan ketipu sama kepolosannya!" ia tahu diri, tidak ada harapan lagi untuk bisa memiliki Rama. Setelah terbongkarnya kejahatan papanya.


"Puput bukan cewek hedon seperti elo. Beda kelas."


Zara melipat tangan sambil tersenyum sinis. "Jelas lah beda kelas. Bagai langit dan bumi. Aku high class, fashionable. Dia cewek kampung, penampilan kampungan lagi."


Zara menunjuk papar bag yang ditenteng Rama. "Kamu dandanin pakai barang branded sekalipun, tetep aja udik. Pasti orang akan ngira itu barang kw yang dipakenya. Turun banget sih seleramu nyari cewek." sinisnya.

__ADS_1


Rama tetap bersikap tenang tidak terpancing emosi. Dengan satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Lo dengar baik-baik, Zara."


"Dia yang lo sebut cewek kampung itu ibarat berlian. Dan lo yang ngaku cewek kota, ibarat besi loakan. Jelas kan beda kelas?"


Zara menggerutukkan gigi menahan marah.


"Gue peringatin. Jangan pernah coba-coba merusak kebahagian gue kalau tidak mau bernasib sama dengan papamu. CAMKAN BAIK-BAIK!" Rama berlalu meninggalkan Zara yang kentara wajahnya penuh amarah.


Oke, Rama. Lo kira gue takut sama gertakan lo. Liat saja nanti!


Zara menatap punggung Rama yang terus menjauh dengan seringai dan tatapan penuh kebencian.


...***...


Waktu bergulir terasa lambat bagi yang tengah menunggu. Komunikasi intens tiap hari terasa tidak cukup untuk menyalurkan rindu dan asa ingin segera bertemu di hari sabtu, malam minggu. One step, hari dimana the engagement akan digelar. Dipastikan segala persiapan 90% sudah rampung, berjalan lancar tanpa kendala.


Jum'at sore ini Rama bersiap berangkat lagi ke Ciamis menumpang mobil Damar. Mami dan Papi sudah berangkat lebih dulu kamis kemarin dengan membawa penuh barang hantaran. Mami begitu antusias menyiapkan segala sesuatunya sesempurna mungkin. Papi lebih ke support dalam bentuk restu. Bagaimana tidak, restu untuk sang anak full 100%. Karena calon menantu sudah sesuai dengan kriteria yang diharapkan.


Rama masih berada di kamarnya. Sudah berpakaian rapih siap berangkat. Namun menunggu dahulu panggilan video tersambung.


Rama menjawab salam sang kekasih dengan iringan penuh senyum.


"Aku berangkat sekarang, Neng. Do'ain ya!" ujarnya menatap lekat wajah cantik yang makin bersinar itu.


"Iya, Aa. Awas jangan ngebut. Mas Damar aja yang nyetirnya ya! Kalau capek jangan maksain. Istirahat aja. Ingat, orang-orang tersayang menanti kedatangan kalian di sini dalam keadaan selamat."


Rama mengangguk. "Give me a kiss, please!" mendekatkan wajah ke layar dengan tatapan merajuk.


"Ish, nggak mau. Belum halal. Aya-aya wae ah (ada-ada saja)" Puput mengerucutkan bibir sebagai bentuk protes.


"Ini kan virtual. Ayolah sayang, sekali aja. Please. Biar jadi booster selama di jalan." Rama masih tetap memasang wajah merajuk sambil memanyunkan bibirnya semakin dekat ke layar.


"Astaga----" Puput geleng-geleng kepala. Tapi Rama tetap dalam posisinya mencondongkan bibir.


"Mmuach---" Puput mengalah menuruti Rama yang keukeuh. Ujung-ujungnya malu sendiri, menangkup wajah.


"Makasih, sayang." Rama tersenyum lebar. Sejenak tidak ada yang berucap. Saling diam merasakan getaran dan luapan yang memenuhi sanubari.


"Aku tutup ya! Mau jalan sekarang." Rama memecah keheningan.


Puput mengangguk. "Fii amanillah. Aa jangan lupa berdoa. Jangan lupa beri kabar selama di jalan. I Love you---" Puput mengulum senyum dengan wajah merona saat mengucapkan kalimat terakhir.


Rama tersenyum merekah. Ini adalah ungkapan kata cinta pertama dari Puput. Dan ia sangat bahagia. "So much love you, sayang. Assalamu'alaikum." Rasanya berat untuk mengakhiri. Namun waktu terus merambat. Jangan sampai terlalu malam sampai di Ciamis.


"Wa'alaikum salam."


Rama menuruni tangga dengan menenteng travel bag kecil. Menghampiri Damar yang tengah meminum kopi di meja makan.


Tergopoh-gopoh Bi Lilis menghampiri. Yang merupakan asisten terlama di rumahnya itu. Yang mengasuh Rama sejak TK. "Den Rama, selamat ya udah mau tunangan. Bibi doakan lancar selamat di perjalanan, lancar juga acaranya. Kalo liat wajah aden seperti ini, pasti den Rama ini sangat cinta ya sama Neng Puput."


Rama mengangguk membenarkan. "Amiin, Bi. Nanti aku akan bawa ke sini dikenalin sama Bibi." Ia memang sudah menunjukkan foto Puput dan sedikit bercerita pada Bi Lilis.


"Bi, kasih selamat juga sama Damar. Dia udah jadian sama Cia. Bentar lagi mau nyusul lamaran." Rama menunjuk orang yang tengah anteng menikmati kopi.


"Owalah...Alhamdulillah. Jodohnya Neng Cia yang ini mah Bibi juga setuju daripada si anu itu." Jawaban polos Bi Lilis membuat Rama tertawa lepas. Damar hanya mesem-mesem.


Perjalanan darat estimasi 6 jam dimulai. Bi Lilis melepas kepergian anak majikannya itu dengan lambaian tangan serta iringan do'a.

__ADS_1


Bi Lilis adalah saksi. Sudah lama sekali tidak melihat keceriaan di wajah Rama setelahnya gagal menikah dengan Karenina. Tertekan oleh perjodohan dengan Zara. Kini kebahagiaan selalu menghiasi wajah tampan pemuda yang menganggapnya sebagai anggota keluarga.


__ADS_2