
🎶
Hari kian begulir
Semakin dekat dirimu di hatiku
Meskipun tak terucapkan
Ku merasakan dalamnya cintamu
Jangan berhenti mencintaiku
Meski mentari berhenti bersinar
Jangan berubah sedikitpun
Di dalam cintamu ku temukan bahagia
Arya menjadi penonton paling depan yang menyaksikan persembahan sebuah lagu yang dinyanyikan sang istri tercinta. Kontak mata selalu terpaut diiringi senyum terkembang. Isi lagu milik Titi Dj itu tidak hanya ditujukan untuk sang pengantin. Tetapi juga request yang dibisikkan Arya sebelumnya. Mewakili hatinya.
Seorang tamu pria yang mengenakan jas hitam yang necis, rambut hitam yang baru dipotong model two block haircut bak artis Korea, baru lolos dari prosedur pemeriksaan. Kini terpaku di depan lengkungan dekorasi bunga yang indah. Mata sipitnya membelalak sempurna menatap deretan foto besar dan kecil yang terpajang di foto booth.
Ia datang mewakili perusahaan keluarga yang diundang sebagai relasi Adyatama Grup. Mewakili kakaknya yang menjadi direktur dan tidak bisa hadir karena sedang berada di Hongkong.
Ia masih memindai foto mesra prewed dalam berbagai gaya itu. Terutama menyoroti sang pengantin wanita yang wajahnya ia kenal. Pernah bertemu di mall, bertemu di rumah sakit. Dan terakhir bertemu di pusat kuliner Bandung, yang mematahkan asa, yang membuatnya layu sebelum berkembang.
Andreas Chong. Ia mengambil satu gelas minuman dari pelayan yang berjalan memangku nampan berisi berbagai minuman ringan. Meneguk sambil menatap ke arah pelaminan. Menyaksikan senyum bahagia sepasang pengantin yang terlihat tulus murni dari hati.
"Putri Kirana....Heartiest, congratulation on your wedding." ucap batinnya diiringi senyum tipis. Gelas kristal yang sudah kosong, disandingkan di samping sebuah pigura. Andreas melangkah lebar menuju arah pintu keluar.
Aul menyapa Kang Acil dan rekan-rekan yang duduk satu meja. Mereka baru datang dan sedang menikmati makan. Ia bergabung duduk.
"Kak Angga, nginep dimana?" Aul menatap pak polisi yang tampil gagah mengenakan jas.
"Gak akan nginep. Mau langsung pulang lagi. Besok pagi ada tugas lapangan." Sahut Anggara yang belum mengambil hidangan karena lebih dulu mencari meja yang kosong.
"Kak Angga kenapa nggak makan?" sambung Aul dengan tatapan heran.
"Belum sempat ngambil. Tadi nyari dulu meja kosong. Temenin keliling stand yuk, Aul!" Ajak Anggara yang lebih dulu berdiri. Aul mengangguk setuju.
Jangan berhenti mencintaiku
Meski mentari berhenti bersinar
Jangan berubah sedikitpun
Di dalam cintamu ku temukan bahagia
Lagu Jangan Berhenti Mencintaiku, masih mengalun merdu dengan iringan musik orkestra. Menghangatkan suasana para tamu yang saling berbincang santai diiringi gelak tawa. Untuk sebagian tamu, resepsi ini menjadi ajang reuni karena tanpa sengaja bisa dipersatukan berkumpul semua kawan dekat.
Anggara menghentikan langkah sebelum sampai ke deretan stand. Menatap Aul yang berjalan di sampingnya. "Malam ini kamu cantik banget, Aul." Ucapnya mengagumi wujud cantik dengan riasan minimalis, dalam balutan gaun berwarna salem yang kontras dengan kulit putihnya.
"Makasih." Aul tersenyum malu dengan wajah yang merona. "Kak Angga juga makin gagah. Pangling deh pakai jas gini. Aku berasa dikawal paspampres." sambungnya dengan acungan satu jempol.
Saling puji memuji itu berakhir dengan terkekeh bersama. Mereka melanjutkan menuju stand, memilih-milih menu.
"Mi."
"Ya, Kak." Ami menyahut panggilan Panji yang datang ke mejanya.
Panji lebih dulu beradu tos dengan Akbar dan Leo sebelum duduk.
"Tolong cariin Teh Aul ya, Mi. Bilangin ditunggu Kak Panji mau duet nyanyi. Ditelpon gak diangkat soalnya." Panji sudah lebih dulu melihat dari jauh ke mejanya rombongan Kang Acil. Tapi Aul dan Anggara tidak ada di sana.
"Wah, Kak Panji bisa nyanyi juga? Keren dong duet maut sama Teh Aul." Ami berbinar sambil menyuapkan sepotong dimsum ke mulutnya. "Sebentar ya Kak, ngabisin ini satu lagi." Sambungnya menunjuk pada piring dimsum.
"Oke." Panji mengangguk.
"Kalo Ami bisa nyanyi juga?" tanya Leo.
"Kalo nggak cantik dan nggak bisa nyanyi berarti aku bukan anak Ibu Sekar." Sahut Ami santai dengan pipi menggembung.
__ADS_1
Tiga pria tampan yang mengelilinginya terkekeh bersama.
"Alasannya apa?" Akbar terpancing rasa penasaran.
"Kan Ibu dulunya sebelum nikah sama Ayah, Ibu vokalis marawis. Suka diundang ke acara hajatan atau halbil. Jadi Ayah jatuh cinta sama Ibu itu pas lihat Ibu di acara halal bihalal lebaran. Ayah tersepona sama Ibu yang cantik dan suaranya merdu." Jelas Ami sambil memiringkan wajah imutnya.
"Terpesona kali, Mi." Ralat Akbar. Ia jadi malas beranjak bertemu relasi yang dikenalnya. Betah mendengarkan celotehan Ami.
"Nah itu." Sahut Ami usai mengelap bibirnya. Ia bersiap akan mencari Teh Aul.
"Emang Ami tahu jatuh cinta itu apa?" Pertanyaan Akbar menahan Ami yang sudah berdiri.
"Ya tau lah. Kata Ibu, jatuh cinta itu laki-laki dewasa suka sama perempuan dewasa. Lalu kemudian ngajak nikah. Caranya datang pada orang tua buat minta izin ngajak nikah. Contohnya Ayah sama Ibu dulu gitu." Ami menerangkan dengan percaya diri.
"Udah atuh bestie, jangan nanya terus. Kapan aku perginya ini." Ami mengangkat telunjuk melihat Akbar yang membuka mulut. Membuat Leo dan Panji tertawa.
"Mi, nanti balik lagi kesini ya!" Pinta Leo.
"Aduh, resiko nambah fans gini amat ya. Aku jadi pusing. Iya-iya....nanti balik lagi." Ami berlalu dengan memasang wajah nelangsa. Meninggalkan tiga orang pria yang tertawa lepas karena justru ekspresi adik bungsunya Puput itu menggemaskan.
...***...
Dengan dua kali bujukan ditambah dukungan Ami, Panji berhasil mengajak Aul duet di atas panggung.
Aul pamit meninggalkan Anggara bersama rekan SILATurahmi di meja yang tadi. Ia awalnya menolak ajakan duet karena merasa gugup bernyanyi diiringi musik orkestra yang tentunya sangat berkelas.
Namun Panji meyakinkan. "Kalo nyanyinya berdua, gugup bakal hilang, Aul. Percaya deh sama aku."
Dan intro kini sedang dimainkan. Aul bersanding bersama Panji yang akan menjadi pembuka duet lagunya Ari Lasso feat Bcl. Bunda Ratih begitu antusias mendekat untuk merekam aksi keduanya.
Tiba saatnya kita saling bicara
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yang menggebu
Tentang cinta yang tak terungkap
Sudah terlalu lama kita berdiam
Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
Memenuhi mimpi-mimpi
Malam kita
Dua meja panjang sengaja disatukan atas inisiatif Ricky. Tujuh pasangan suami istri duduk saling berhadapan dalam suasana canda tawa. Sejenak melupakan pembahasan bisnis yang tidak akan ada habisnya. Semuanya larut bernostalgia dalam iringan lagu yang saat ini sedang tersaji.
"Ini semuanya memang janjian datang gak bawa anak?" Ucap Nico yang datang dengan sang istri bernama Suci. Datang paling akhir diantara rombongan Arya and the genk.
"Iya, Bro. Usulan si Mizyan tuh. Malahan dia udah bagi-bagi kopi khusus buat begadang sampe subuh." Sahut Satya sambil menyikut bule Jerman yang duduk di sisi kirinya.
"PAPAH!" Tatapan tajam Rahma mengarah pada suaminya. Mizyan yang mendapat pelototan galak istrinya itu hanya cengengesan sambil mengangkat dua jari.
Para istri yang lain menatap suami masing-masing sambil geleng-geleng kepala.
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
Perasaanmu, rindumu, s'luruh cintamu
Dan kini hanya ada aku dan dirimu
Sesaat di keabadian
Lagu Aku dan Dirimu sudah berakhir dengan iringan tepuk tangan dari beberapa orang yang menikmati.
Di mejanya, Anggara tersenyum menyambut kedatangan Aul yang kembali bergabung dengannya. "Suaramu cetar." ujarnya sambil membulatkan jempol dan telunjuknya.
"Emang ya. Anak-anaknya almarhum Kang Ramdan Wijaya berbakat semua." Kang Acil tulus memuji mengacungkan dua jempol.
Aul mengucapkan terima kasih sambil tersipu malu.
__ADS_1
MC mengumumkan acara puncak yaitu dansa. Mengundang tamu yang sudah menikah yang ingin ikut serta berdansa di bawah panggung kaca yang diperuntukkan untuk sang pengantin. Lagu Perfect dipilih untuk mengiringi sesi dansa romantis.
"Bunny, let's dance with me." Mark berdiri. Ia tak mau kalah melihat sang anak sudah menggandeng Rahma ke lantai dansa.
"Ih, nggak mau, Hubby. Nggak bisa dan malu." Tolak Fatimah dengan gelengan kuat.
"Ayolah, sayang. Kesempatan tidak datang dua kali." Mark menarik paksa. Merangkul pinggang sang istri sambil berjalan dan lanjut berbisik; "Kamu gak usah liat kiri kanan, cukup tatap mataku saja dan simpan telapak tanganmu di pundakku. Oke?!"
Tata cahaya lampu berganti redup menunjang suasana romantis. Lampu sorot mengarah pada panggung aksi sang pengantin.
Rama dan Puput sudah berada di panggung kaca yang bertuliskan inisial nama R&P. Memulai posisi dengan berdiri saling berjauhan sesuai saat latihan. Pandangan saling bertaut tanpa putus diiringi senyum manis di saat keduanya bergerak ke tengah, mengikuti intro yang mulai mengalun. Kedua tangan kanan saling bertaut di atas, dengan tangan kiri Rama memeluk pinggang Puput.
I found a love, for me
Darling, just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me
Tamu mengiringi berdansa di karpet empuk di depan panggung tak kalah menampilkan kemesraan dengan pasangan masing-masing.
"Sayang, ingat nggak lagu ini pernah aku nyanyikan buat kamu. Kapan coba?" Mizyan memeluk rapat pinggang Rahma yang menyimpan tangan di bahunya. Mulai mengenang masa lalu dalam gerak langkah seirama.
"Ingat dong. Waktu kita honeymoon ke Lombok. Papa pinjem gitarnya pengamen, kan." Rahma tersenyum dengan wajah merona. Yang kemudian mendapat hadiah kecupan di kening.
"Mofa, mesra dong. Jangan cekikikan gini." Protes Ricky berbisik di telinga istrinya itu.
"Abisnya gerakan kita paling beda. Nggak cocok kita mah romantis-romantisan. Lihat tuh di samping." Safa melirik ke arah kiri dimana Rendi dan Marisa tampak bergerak seirama. Tapi ia dan Ricky malah sering berbenturan.
Baby, I'm dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favourite song
When you said you looked a mess
I whispered underneath my breath
But you heard it
Darling, you look perfect tonight
Ami tinggal berdua dengan Akbar. Leo sedang pergi mewakili sang boss menemui relasi di pojok yang jauh dari keramaian.
Akbar dan Ami kompak menonton ke arah yang lagi berdansa. Posisi meja yang dekat membuat pandangan leluasa hanya sedikit terhalang oleh orang yang menyaksikan sambil berdiri.
"Eh-Eh....Kak Akbar ngapain?" Ami terkaget saat wajahnya di tarik masuk ke dalam ketiak.
"Sstt, diam ngumpet dulu. Ada sensor." Akbar spontan menarik Ami karena saat ending lagu ada pasangan yang beradegan ciuman bibir diakhir dansa. Ia mengenal mereka sebagai temannya Rama di Amerika.
"Sudah. Aman sekarang."Akbar melepas Ami dari ketiaknya.
"Ish, kenapa aku harus ngumpet di ketiak sih. Kan kerudungku rusak." Ami mengerutkan bibir. "Untung aja ketiak Kak Akbar nggak bau. Tapi wangi." Ami beralih cekikikan.
Akbar menyentil kening Ami dengan gemas. "Sini aku bantuin betulin kerudungnya." Ia merapihkan bagian depan kerudung Ami yang melorot di bagian sisi kiri.
"Wah-wah. Tidak-tidak! Belum waktunya, Bro." Leo yang tiba-tiba datang memekik kaget dengan wajah serius.
"Lo mikir apa sih?!" Akbar mendelik sambil mendengkus kesal. Setelah dijelaskan barulah Leo tertawa cengengesan.
Pesta telah usai. Tamu sudah bubar di jam 10 malam. Menyisakan keluarga yang beristirahat di kamar masing-masing.
Begitu pula Rama dan Puput yang sudah berada di kamar pengantin. Kini merebahkan badan di perpaduan usai salat isya berjama'ah. Berbaring telentang dengan tangan saling bertaut.
"Neng, cape nggak?" Rama beralih memiringkan badan memeluk Puput.
"Mau bilang cape juga pasti Aa ngajak anu." Puput mengusap rambut Rama yang kini terbenam di dadanya.
__ADS_1
"Hehe udah kebaca ya modusku." Rama menurunkan tali lingerie coklat dari bahu Puput. Bisikan Mizyan saat tadi terbayang dan tergambar untuk dipraktekan.