Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
46. Katakan dengan Jelas!


__ADS_3

Sebuah uluran tangan di bawah tangga membuatnya mendongak. Terkesiap. Dengan mulut menganga dan mata membelalak sempurna, saat beradu tatap dengan orang yang membantunya turun.


Alarm on. Puput mengatupkan bibir. Mata masih membelalak. Menggeleng tidak percaya dengan sosok berbaju polo shirt hitam yang dilihatnya. Wajah serius tanpa senyum. Sorot mata yang tajam mengintimidasi. Seolah mengandung perintah untuk patuh. Puput menurut. Menerima uluran tangan itu. Menuruni tangga yang hanya dua titian.


Di otak Puput sudah dipenuhi banyak tanya. Siap dilontarkan. Benarkah satu almamater? Namun Rama menggenggam tangannya dengan kuat. Membawa Puput menjauh dari panggung dengan mengurai kerumunan.


"Kak, lepas! Malu dilihat orang-orang. Entar digosipin deh." Puput memohon setengah berbisik. Berusaha menarik tangan malah terasa makin erat. Aksi Rama menggenggam tangannya menjadi pusat perhatian sebagian orang.


"Kalau ada yang nanya bilang aja aku pacar kamu. Simple kan?!" Jawab Rama enteng sambil menoleh ke arah Puput yang berjalan di samping kanannya. Membawa keluar dari dalam gedung. Menjauh dari hingar bingar hiburan yang terus berlanjut.


"Jangan becanda, Kak!" Puput mengerucutkan bibirnya. Lain di bibir lain dengan apa yang dirasakan di dada. Jantungnya berdetak tak menentu saat mendengar lontaran kalimat Rama barusan. Ia menurut duduk di kursi panjang yang dipilihkan Rama. Berada di selasar gedung graha. Terpaan angin cukup memberi kesejukan pada tubuh yang tengah berkeringat.


Tidak ada balasan lagi dari Rama. Seperti angin lalu saja. Hanya tatapan yang berubah tak lagi tajam menusuk.


"Kenapa gak bilang kalau kamu alumni SD Pitaloka?!" Rama mulai menginterogasi. "Tahu gitu kita berangkat bareng. Tadi kesini pakai apa?! cecarnya dengan suasana hati yang masih kesal sehingga ucapannya terdengar bernada ketus. Ia juga tidak tahu kenapa malah tidak bisa menetralkan suasana hati. Masih terbayang Puput di atas panggung dikelilingi tiga orang cowok yang berjoget.


"Kan Kak Rama juga gak tanya. Masa iya tiba-tiba aku harus laporan." Sahut Puput dengan kening mengkerut. Merasa ada yang aneh dengan sikap bossnya itu.


"Aku kesini diantar Zaky. Sengaja gak bawa motor pasti parkiran penuh." Sambung Puput menjawab semua rasa penasaran Rama.


"Nanti kita pulang bareng ya!" Suara Rama mulai melembut mendengar alasan Puput. Berarti ada kesempatan lagi jalan berdua. Permintaannya hanya dijawab anggukan kecil oleh Puput.


"Eh, Kak. Berarti waktu Kak Rama kelas 6, aku baru kelas 1 dong." Puput tertawa. Melihat dresscode hitam tanpa minta penjelasan pun, sudah tahu jika Rama alumni 2001.


"Hemm." Hanya dijawab pendek oleh Rama. Lebih tertarik menikmati wajah semringah Puput yang tertawa renyah. Mood nya membaik setelah duduk berduaan saja tanpa gangguaan orang lain.


"Aku gak nyangka kamu jago nyanyi." Rama beralih topik memuji bakat Puput yang baru diketahuinya sekarang. "Aku sampai gak sadar mangap saking takjub," sambungnya yang semakin mengagumi gadis incarannya itu.


"Ah cuma seneng karokean aja di rumah. Kebetulan Adi, vokalis itu teman aku. Calon suaminya Novia sahabat aku." Jawab Puput merendah.


"Sahabatmu aja udah punya calon. Kamu mana?!" Rama menohok Puput dengan pertanyaan modus.


"Aku sih santai aja. Percaya, jodoh akan datang tepat waktu." Puput meluruskan pandangan ke depan. Memandang asal deretan kendaraan roda empat yang terparkir rapih. Hanya untuk menormalkan kerja jantung. Karena semakin kesini jantungnya tidak baik-baik saja jika bersitatap dengan Rama.


Ponsel Rama berdering tiba-tiba memecah kebisuan. Ada panggilan masuk. Ternyata teman-teman mencari keberadaannya di dalam.


"Put, aku mau gabung lagi sebentar sama temen di dalam. Sebentar aja. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya di sini."


Puput menggeleng menolak. "Aku juga mau gabung lagi sama temen. Masih kangen." Kemudian berdiri sambil merapihkan tuniknya yang sedikit kusut karena terlipat saat duduk.


"Oke deh. Tapi kalau dah mau pulang kabari. Kita pulang bareng!" Rama mengingatkan lagi sambil berjalan bersisian memasuki gedung. Kembali dijawab Puput dengan anggukkan.


Puput berbaur lagi dengan kumpulan berbaju pink. Disambut Inal salah satu trio slengean dengan pertanyaan penuh rasa ingin tahu. "Put, itu tadi pacar kamu?!"


Alhasil semua mata geng pink tertuju pada Puput, menunggu jawaban.


Puput menggeleng kuat. "Bukan. Dia masih sodara." jawabnya spontan. Bingung, mau jujur jika Rama adalah bossnya, apa kata orang. Mengingat tadi ia berpegangan tangan. Menuruti ucapan Rama untuk bilang pacar, sama sekali gak berani. Akhirnya terpaksa berbohong mengarang sendiri.


"Boleh aku deketin dong, Put. Dia ganteng banget. Biarin dah nikah juga. Uh, pasti hot cowok cool seperti dia tuh." Selly menyahut dengan antusias dengan otak mulai travelling. Menyibakkan rambut pirang coklat dengan panjang sebahu itu. Bersiap tebar pesona.


"Oh, gak bisa, Maemunah. Dia udah punya gebetan!" Puput merasa tidak rela kalau Rama didekati Selly.


"Otak lo, Sel. Pasti travelling kan?!" Tebak Linda yang dibalas tawa oleh Selly.


Pukul dua siang acara reuni pun usai. Rama mencari sosok Puput diantara lalu lalang orang yang berangsur keluar dari gedung. Namun tidak nampak. Sudah dua kali ditelpon Puput tidak menjawabnya. Kali ketiga dicoba tetap tidak dijawab. Lalu notif pesan terdengar.

__ADS_1


"Kak, chat aja. Di mobil lagi berisik. Maaf...gak jadi pulang bareng. Aku lanjut hangout sama teman-teman."


Rama mendengus kesal mendapat pesan dari Puput. Membuat hatinya kecewa.


"Hangout dimana?!" Chat balasan dikirimkan Rama dengan cepat.


"Santika Tasik."


Rama memasukkan ponsel ke saku celana. Setengah berlari ke parkiran menuju mobilnya. Ia berniat menyusul Puput.


...***...


Via langsung menghampiri Ibu Sekar begitu sampai di rumah Puput. Rasa penasaran sudah memuncak di ubun-ubun. Ingin segera tahu siapa pria yang sudah melamar sahabatnya itu. Karena kemarin saat menebak-nebak, Ibu berlalu begitu saja bergabung lagi di ruang tengah.


"Bu, ayo mulai cerita! Kemarin udah sukses menggantung aku. Kayak jemuran gak kering deh ah." Via menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Ibu Sekar yang mengajak berbincang di meja makan.


"Sabar....nih cobain dulu. Ada yang ngirim dari tetangga." Ibu beralih menawarkan tape ketan hitam berbungkus daun jati. Rasa manisnya menyegarkan di cuaca siang yang panas ini.


Via tidak protes lagi. Menunggu sambil mencicipi satu bungkus tape ketan hitam. Mencomot dengan dua jarinya.


"Ibu Ratna melamar Puput untuk anaknya." Ibu membuka percakapan serius tapi santai itu. Sudah meminta Ami dan Aul agar tidak ikut nimbrung selama berbicara empat mata dengan Via.


"Anaknya Ibu Ratna namanya siapa? Aku kenal gak ya?!" Padahal Via kemarin sempat menduga dan berharap boss RPA lah yang melamar sahabatnya itu.


"Namanya Rama Adyatama."


Uhuk-uhuk


Via tersedak tape ketan hitam yang tiba-tiba memasuki rongga hidung. Terbatuk berkali-kali saking kagetnya. Ibu buru-buru menuangkan air putih ke dalam gelas yang tersedia di meja.


"Tapi yang melamar baru ibunya. Rama sendiri tidak tahu. Kata Bu Ratna, Rama sudah bilang jika dia menyukai Puput."


Via mencerna penuh konsentrasi. Makin tidak sabar menunggu kelanjutan cerita Ibu.


"Ibu terus terang menerima lamaran Ibu Ratna itu. Bukan karena Rama orang kaya atau atasannya Puput. Tapi menilai dari akhlak. Ibu lihat dia lelaki yang baik, sopan. Ibu juga bisa membaca kalau dia berusaha mendekati Puput."


"Kamu tahu sendiri, Via. Puput pengkuh dengan pendiriannya. Belum memikirkan menikah. Fokusnya memikirkan Ibu dan masa depan ketiga adiknya." Wajah Ibu berubah sendu karena haru akan niat mulia si sulung.


"Kamu dan Puput sangat dekat kan?! Suka saling curhat. Ibu mau minta tolong sama Via. Korek isi hatinya yang sebenarnya. Bantu luluhkan hati Puput ya, Via!"


"Tenang, Bu. Aku dengan senang hati siap bantu. Siput memang lelet sih. Aku aja bisa nebak kalau Param suka sama Puput." Sahut Via dengan semangat 86 siap membuat rencana. Kini berbangga diri karena ternyata ramalannya menjodohkan Puput dengan boss RPA hampir terwujud. Merasa senang jika gosip yang dibiarkannya merebak di kantor akan menjadi kenyataan.


...***...


"Pesan apapun yang kalian mau. Gue yang traktir sekenyangnya." Miller yang memberi ide mengajak 10 orang yang tersisa yang mau ikut hangout ke Tasik. Mereka duduk bersama dengan menyatukan dua meja di coffe shop.


Semua memesan minuman sesuai selera masing-masing. Sambil menunggu, sebagian bergiliran ke musholla untuk melaksanakan shalat ashar. Ada juga yang lempeng saja, melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Sepertinya topik pembicaraan pun tidak ada habisnya sejak dari tempat reuni sampai di coffe shop ini. Tawa berderai, foto bersama, lanjut berkaraoke ria. Puput kali ini hanya jadi penonton dan sesekali ikut nyanyi bersama.


Tak terasa waktu semakin sore. Satu persatu mulai pamit menyisakan 4 orang. Puput sudah berkali-kali mengajak Selly untuk pulang. Mengingat tadi ia ikut bareng di mobilnya Selly.


"Bentar lagi, Put 15 menit lagi, oke!" Selly menawar. "Mil, mana keluarin. Aku minta." Ia beralih menatap Miller penuh arti.


"Oke, girl." Miller membuka waist bagnya. Mengeluarkan sebotol minuman berukuran 750 ml dengan tulisan Vodka serta gelas sloki.


"Hei...kalian mau minum?!" Puput silih berganti menatap ke arah tiga temanya. Miller dengan santai menuangkan minuman ke dalam sloki. Selly dan Roy menunggu dengan wajah berbinar. Kaget. Tidak menyangka tiga orang teman SD nya itu punya hobi mabuk.

__ADS_1


"Dikit aja, Put. Sebagai salam perpisahan aja." ujar Selly tanpa malu. "Kamu duduk aja liatin Gak usah ikutan ustadzah mah." sambungnya sambil meneguk habis sloki pertama.


Puput geleng-geleng kepala. Tidak menyangka dengan dunia pergaulan Selly yang dulunya pendiam dan berkerudung. Kini setelah bekerja dan tinggal di Batam, gaya hidupnya berubah. Ia memilih melipir dengan alasan mau ke toilet.


Usai urusan kamar mandi, Puput memperbaiki kerudungnya di cermin wastafel. Memutuskan akan pulang sendiri memesan taksi online. Ikut dengan Selly yang pastinya mabuk, sangat membahayakan.


Puput terjengit di luar pintu toilet wanita. Begitu menatap sosok pria jangkung berbaju hitam menghadang jalannya dengan raut wajah datar.


"Kak Rama, kok bisa ada disini?!" Puput bertanya dengan polos sambil mengusap dada karena terkaget.


"Kenapa gak nurut. Aku bilang kita pulang bareng. Malah ke sini. Aku khawatir sama kamu, Put." Rama nampak menekan intonasi agar tidak marah dihadapan Puput.


"Aku bisa jaga diri, Kak."


"Aku tahu kamu jago silat. Tapi aku lebih jago dalam urusan pergaulan." Tegas Rama dengan mimik serius.


Puput mengerutkan kening. Belum faham maksud pembicaraan Rama.


"Jago silatmu akan sia-sia saat kamu mabuk, saat kamu hilang kesadaran. Yang ada kamu bakal celaka dan menyesal." Rama kini menampakkan kekesalannya karena Puput tidak menuruti ajakannya.


"Maksud Kak Rama?!"


"Temanmu yang cewek itu masukkin serbuk ke dalam minuman saat kamu pergi ke toilet. Biar kamu ikut fly. Dan selanjutnya....bayangin aja sendiri apa yang akan terjadi kalau cewek dan cowok sudah mabuk." Jelas Rama masih dalam mode kesal.


Puput menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Terkaget dan merinding membayangkannya. Sontak memejamkan mata dan beristighfar.


"Ayo kita pulang!" Puput pasrah saat Rama menarik tangannya sedikit kasar. Ia menerima salah. Menoleh sekilas saat melewati kaca jendela coffee shop. Nampak tiga orang temannya tertawa-tawa dalam slow motion. Membuatnya bergidik.


Sepanjang jalan dilalui dalam kebisuan. Puput dengan berani sesekali menoleh ke arah Rama yang mengemudi dengan pandangan lurus ke depan. Wajah sang driver nampak mengeras dengan bibir terkatup rapat, membuat Puput takut memulai percakapan.


"Sudah sampai." Rama membuyarkan lamunan Puput yang tengah memilah-milih kosakata yang pantas untuk diucapkan. Puput baru sadar jika mobil sudah berhenti di depan rumah.


"Kak Rama, mau mampir dulu?!" Puput memberanikan diri bertanya. Padahal sebelumnya tidak pernah menawarkan diri. Malahan Rama yang tanpa canggung turun lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Dijawab Rama dengan gelengan tanpa menoleh sedikitpun.


"Kak Rama, marah sama aku?!" Ada perih mengiris kalbu karena mendapat perlakuan acuh.


"Masih harus dijelasin?!" Kali ini Rama menoleh, menatap Puput dengan sorot mata tajam.


"Maaf---" Puput menundukkan wajah. Takut tajamnya tatapan itu mengoyak jantungnya. "Iya...aku memang salah."


"Tapi kenapa semarah itu?!" Puput memberanikan diri membalas tatapan Rama.


Rama menghela nafas panjang. Harus menekan rasa kesal dan gemas karena Puput sangat tidak peka dengan banyak kode yang sudah diberikannya.


"Aku bela-belain ngikutin kamu. Duduk di pojok mengawasi sampai 3 jam lamanya. Takut terjadi sesuatu sama kamu."


"Aku mencemaskanmu, Putri Kirana."


"Masih perlu dijelasin lagi kenapa aku mencemaskanmu?!" Tantang Rama.


"Katakan dengan jelas, Kak!" Sorot mata Puput penuh permohonan.


"Aku takut...aku takut salah mengartikan perhatianmu itu." Suara Puput bergetar. Menelan saliva dengan susah payah serta tubuh yang menegang.

__ADS_1


__ADS_2