
Tangan Puput lebih lebih dulu memungut ponsel yang hendak diambil Septi. Mengecek layar yang ternyata aman tidak mengalami kerusakan meski terbentur ke lantai.
"Maaf Bu....Pu put. Ini privasi saya." Dengan intonasi yang kaku, Septi meminta ponselnya dikembalikan. Ia tak lagi ketus mengingat posisinya dengan Puput tak lagi sejajar.
"Salahmu karena udah menyebut nama aku dalam percakapan. Memberi laporan sama siapa, hmm?" Puput bersikap tenang. Menilik ponsel yang harus dibuka dengan finger print.
"Bu Puput pasti salah dengar. Saya sedang mengkonfirmasi pembeli yang pesan granit hitam. Barangnya sudah ready." Septi berkilah. Satu tangannya yang berkeringat dingin meremas ujung blazer.
Puput menoleh pada Dwi yang menatap tajam ke arah Septi. "Mbak Dwi, benarkah aku salah dengar?"
"Tidak, Bu. Aku juga mendengar hal yang sama." Sahut Dwi tanpa menoleh kepada Puput. Ia mengintimidasi Septi lewat tatapan tajamnya.
"Tolong buka hape kamu! Aku hanya mau lihat log barusan. Kamu laporan sama siapa sih? Bikin aku kepo." Puput yang selama ini mengalah bahkan menghindar jika berurusan dengan Septi, kali ini punya kuasa untuk memerintah. Diulurkannya ponsel milik Septi itu.
"Ck. Lama----!" Malah Dwi yang tidak sabar melihat Septi yang diam saja. Ia mengambil ponsel dan menarik kasar jempol tangan Septi dan menekannya pada logo finger print. Dan Septi tidak berkutik untuk mengelak.
Puput menerima ponsel yang diserahkan Dwi setelah kunci layarnya terbuka. Tujuannya hanya ingin melihat log panggilan terakhir. Dan satu nama yang tertera berhasil membuatnya terkejut. Ia kembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Mbak Dwi, aku mau bicara empat mata sama dia." Puput menatap dengan sorot meminta pengertian. Dan Dwi pun mengangguk serta melangkah berpindah tempat. Namun wajah judesnya tetap mengawasi meski tak bisa mendengarkan apa isi percakapan.
Puput melipat kedua tangan di dada. Berdiri berhadapan dengan perempuan dengan rambut sebahu yang memalingkan wajah ke arah lain. "Jelaskan! Apa motif kamu dan Zara terhadap aku dan Pak Rama? Apa untungnya buat kamu? Apa aku pernah merugikanmu, menyakitimu, sehingga kamu selama ini begitu benci sama aku? Kamu gak usah lagi mengelak atau pura-pura gak tau kalau pertemuanku sama Zara waktu itu karena jebakan kamu sama Wina."
Puput menjeda ucapannya dengan melihat reaksi Septi yang terkesiap. "Itu semua pertanyaan sebenarnya ingin ditanyakan tiga minggu yang lalu. Sayangnya kamu gak masuk kerja. Sekarang jelaskan semuanya!" Suaranya pelan namun tegas dan jelas terdengar oleh Septi.
Septi meluruskan pandangan. Menatap dengan berani seolah menantang Puput. "Kamu benar, aku bekerja sama dengan Zara. Ingin tau kenapa? Karena Zara adalah korban keganasan pelakor. Pak Rama memutuskan dia karena kamu menggodanya. Padahal mereka sudah bertunangan dan akan menikah. Nasib Zara, seperti masa laluku dulu. Pacarku mencampakkan aku dan nikah dengan selingkuhannya."
"Selama ini aku benci sama kamu? IYA. Aku benci sekaligus iri karena kamu menarik perhatian semua cowok. Setiap manajer suplier yang datang selalu minta nomor kontak kamu sama aku. Dan di kantor ini pun kamu jadi staf kesayangannya Pak Hendra. Dan sekarang berhasil menikahi owner RPA. Kenapa kamu jadi cewek begitu kemaruk, hah?" Septi berapi-api dengan wajah merah padam.
"Aku kira dengan mengajak kerjasama Wina buat mempertemukan kamu sama Zara, bisa bikin kamu sadar dan mundur dari kehidupan Pak Rama. Zara sangat terpukul dan syoknkarena tiba-tiba diputuskan Pak Rama. Aku kira kamu bakal berempati dan mengalah untuk kebahagiaan orang lain." Septi menggelengkan kepala dengan sorot kecewa dan senyuman sinis.
Puput tetap tenang, tetap melipat tangan di dada selama menyimak semua ucapan Septi yang diliputi amarah itu. "Apa kamu pernah baca quote yang sering di share di medos berupa kalimat hikmah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Bahwa, jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. DAN YANG MEMBENCIMU TIDAK PERCAYA ITU."
"Jadi percuma juga aku ngomong panjang lebar sama. Aku hanya menyayangkan, kamu langsung percaya dengan ucapan dari satu pihak. Harusnya cari tau dulu kebenarannya dari kedua belah pihak. Dan satu lagi, kamu gak akan bisa menerima kebaikan dan kelebihan orang lain selama di hatimu ada iri dengki. Semoga kamu masih bekerja dengan profesional setelah ini."
Puput menurunkan tangannya. Hendak berlalu namun baru dua langkah kembali memutar badan ke sebelah kiri menatap Septi. "Oh ya, kabar Nabila sekarang gimana? Sudah sehat?" ujarnya sambil mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
Membuat Septi membulatkan mata dengan raut terkejut. Tapi kemudian berusaha bersikap normal. "Ma maksud kamu siapa?" Tak urung bicaranya menjadi tergeragap.
Puput tersenyum tipis. "Andai aku mau balas jahatnya kamu sama aku, gampang...aku punya senjatanya. Tapi kalau aku lakuin itu, apa bedanya aku sama kamu." ujarnya dengan menggelengkan kepala. Kemudian berlalu.
Puput mengajak Dwi berkeliling sebentar, sesuai rencananya memantau situasi pengunjung toko di sore hari. Apa yang barusan terjadi dianggap angin lalu.
"Bu Putri sebaiknya pecat supervisor itu." Dwi mensejajari langkah Puput yang berjalan ke arah depan.
"Kenapa aku harus pecat dia?!" Puput menghentikan langkah dan menatap sang asisten.
"Karena aku menilai dia tipe pembangkang. Tidak menyukai Bu Putri sebagai leader di sini. Lepas dari apakah dilatar belakangi masalah pribadi atau tidak, karakter seperti dia akan menghambat kemajuan perusahaan. Gimana bisa dulunya dia diterima kerja di sini? Kalau melamar di kantor pusat, dia tidak akan lulus. Seleksinya ketat. Ada tes psikologinya untuk menilai karakter."
Puput terdiam. Masalahnya ia tidak setega itu memecat orang. Mengingat Septi seorang single parent yang hanya ia yang tahu. Berharap Septi mau berubah. "Aku masih memberi kesempatan." Akhirnya kalimat bijak itu lolos dari bibirnya.
...***...
Sabtu subuh. Ponsel Puput berdering. Setengah loncat ia naik ke atas ranjang usai membuka mukena tanpa sempat melipatnya. Demi segera menerima panggilan video dari Rama. Ia lebih dulu mengucap salam saat wajah suaminya itu memenuhi layar.
"Seger banget istriku. Aku malah keliatan cape, baru mau tidur." Ucap Rama usai menjawab salam sang istri. Tak urung senyum manis tersungging di wajah lelahnya yang baru pulang lembur dari kantor.
"Kan baru mandi, solat, ngaji. Makanya jadi seger. Dan makin seger karena bisa vc an lagi sama Aa." Puput terkekeh di ujung kalimat.
"Hmm. Manissss. Jadi pengen gigit." Rama menggeram menahan hasrat. "Sayang, buka!"
"Buka apa?" Puput menautkan kedua alis. Namun isyarat Rama yang menunjuk dada barulah membuatnya mengerti. "Tunggu sebentar ya!" Ia beranjak turun dari ranjang. Kamarnya tidak memiliki walk in closet. Dengan berjalan dua langkah, sudah sampai di depan lemari baju.
Berselang 5 menit Puput sudah berada di depan layar ponselnya dengan penampilan baru. Hanya memakai kemeja putih milik Rama yang menampakkan putih dan mulusnya paha.
"Hmm, sayang---" Rama men de sah. "Kamu seksi, aku suka. Buka kancingnya, Neng!"
Puput menurut. Tiga kancing teratas dibukanya. Kemejanya sedikit diturunkan. Sehingga menonjolkan pula bahu putihnya sampai bagian dada pun terpampang menantang. Menjadi pemandangan yang ingin selalu dilihat Rama saat hasrat melanda.
"Aa, nanti siang aku sekeluarga berangkat ke Banyumas ya?" Puput meminta ijin untuk yang kedua kalinya setelah kemarin memberi kabar yang sama.
Rama yang menatap dengan tatapan memuja pemandangan kesukaannya, menganggukkan kepala. "Minta diantar sopirnya Enin ya? Aku khawatir, sayang."
__ADS_1
"Aa gak usah cemas. Aku udah 6 kali nyetir pulang pergi Banyumas. Malah pakai mobil carry yang tanpa Ac. Sekarang pakai Pajero lebih nyaman. Yang penting ada ijin nyetir darimu, aku akan tenang perginya." Puput meyakinkan. Akhirnya Rama pun mengangguk dan meminta mengabari lagi jika sudah sampai Banyumas.
"Sayang, geser lebih deket lagi!"
Puput beringsut lebih dekat ke layar ponsel yang terpasang di tripod. Selanjutnya terserah Rama...
...***...
Puput sekeluarga berangkat ke Banyumas selepas Duhur. Menitipkan rumah dan warung nasi pada Ceu Nining yang sudah dipercaya. Sang jawara menyetir sendiri Pajero hitam yang tampak garang itu. Memasuki kawasan perbatasan Jawa Tengah dengan simbol patung kuda Pangeran Diponegoro, akan melalui kawasan kebun karet dan hutan kayu yang jika malam hari terasa mencekam.
Perjalanan selama tiga jam itu tiba di Sokaraja, Banyumas. Tempat kelahiran Novia. Sebelum menuju rumah tempat beristirahat yang sudah disediakan sang sahabat, Puput mengajak keluarganya singgah dulu menikmati kuliner Soto Sokaraja.
"Yes, jajan...." Ami memekik girang saat turun dari mobil.
"Makan dulu, bukan jajan." Zaky memiting leher Ami dan mengajaknya duduk sambil menunggu pesanan soto datang. Sampai Ibu memperingati karena dua anaknya itu malah becanda sampai menjatuhkan asbak rokok.
Sementara Puput dan Aul menuju toilet untuk buang air kecil. Keduanya keluar secara bersamaan.
"Puput, Aulia?!"
Puput dan Aul menghentikan langkah dan menoleh ke arah pintu masuk.
"Eh....Pak Pol Anggara?! Kok bisa ada di sini?" Puput menyambut dengan senyum semringah. Tak menyangka bisa bertemu temannya di Banyumas.
"Sebentar, kamu sama Aulia bersaudara?" Anggara lebih tergelitik ingin mengetahui hubungan dua wanita cantik di depannya itu yang memang ada kemiripan.
"Iya. Aul adik aku. Kenapa emang?" Puput menatap Anggara yang tersenyum lebar.
"Kebetulan yang pas." Anggara menjentikkan jari. Ia menoleh pada tiga orang yang menyusul masuk di belakangnya.
"Puput, Aulia. Kenalin, ini Mama, Papa dan adik aku." sambungnya dengan bersemangat memperkenalkan keluarganya.
tbc
...***...
__ADS_1
Maaf Besties....aku sakit kepala, gak bisa lanjut. Insya Allah besok disambung lagi.