Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
105. Fatigue


__ADS_3

Kala Cinta Menggoda, musim kedua.


...----------------...


Suasana UGD rumah sakit swasta Tasik Hospital, disibukkan oleh persiapan kedatangan pasien spesial service. Tiga orang dokter sudah siaga bersama perawat. Mulai dokter umum sampai dokter spesialis bedah juga spesialis dalam, siaga menunggu. Karena sebuah perintah mengingat informasi yang diterima jika calon pasien adalah korban penusukkan dan mengalami pendarahan banyak. Sehingga harus siaga satu. Direktur utama rumah sakit mendapat telepon langsung dari pihak rumah sakit kolega di Bandung. Di balik semua itu, Johan lah sang asisten Krisna yang memberi perintah.


Dua mobil yang dikawal polisi berhenti di depan lobi UGD. Dalam gerak cepat, pasien yang tidak sadarkan diri di dalam mobil pajero itu dipindahkan ke atas blankar.


"Maaf, Bapak tunggu di luar!" Perawat menahan Rama yang ingin masuk ke ruang tindakan.


"Kamu tunggu di sini, Nak. Biarkan dokter memberi tindakan pada Puput." Krisna turun tangan menenangkan sang anak yang memaksa ingin menemani ke dalam.


"Tapi, Pi. Gimana kalo Puput kenapa-kenapa?" Rama nampak kacau pada penampilan dan perasaannya.


"Papi udah intruksikan minta servis terbaik. Kita tunggu dan do'akan. Istrimu orang yang kuat." Krisna mengajak sang anak duduk di kursi tunggu. Ia pun sudah mendapat kabar jika Ratna dan Cia serta Damar tengah dalam perjalanan dari Jakarta menuju Ciamis.


Di pojok tembok, Zaky terduduk memeluk lutut. Satu tangannya menopang kening. Matanya memerah menahan tangis. Ia menyaksikan sendiri pertarungan sengit antara sang kakak dengan Leo. Melihat Leo yang terkapar kalah, mengira pertarungan sudah usai. Ternyata hanya pura-pura pingsan. Dan saat Puput hendak berlari menyusul Rama,tanpa diduga Leo menyabetkan pisau dan mengenai perut kakaknya itu. Dengan penuh kemarahan, Zaky melayangkan tendangan ke perut dan menonjok wajah bertubi-tubi. Membuat Leo tak sadarkan diri.


"Sabar. Puput pasti baik-baik saja." Kang Aris dan Sony menghampiri Zaky dan mengusap bahu pemuda tanggung itu. Zaky mengangguk lemah.


Selang 15 menit, seorang dokter keluar. Rama yang ditemani pula oleh Akbar, berdiri dan mendekat. "Dok, gimana keadaan istri saya?" wajahnya masih tegang.


"Pasien kehilangan banyak darah. Harus transfusi darah segera. Golongan darahnya AB. Ada keluarga yang bisa jadi pendonor? Stok di bank darah kosong," jelas dokter dengan tetap bersikap tenang.


Rama menatap Krisna meminta solusi. Pikirannya bertambah kalut. Ia memiliki golongan darah yang berbeda.


"Saya AB, dok." Akbar tunjuk tangan dan mendekat.


"Saya juga AB." Zaky yang mendengarkan dari tempatnya duduk, ikut menghampiri.


Dokter mengangguk. "Dua orang cukup. Silakan ikuti petugas untuk dicek dulu." Sang dokter pun masuk lagi setelah memberi sedikit penjelasan kepada Rama dan Krisna jika pasien masih diobservasi kedalaman luka tusuk pisau di perut sebelah kiri.


Akbar dan Zaky mengikuti langkah seorang petugas menuju ruangan lain. Setelah melakukan tes darah, keduanya dinyatakan bisa menjadi pendonor.


Dua jam kemudian, Ratna dan rombongan tiba di rumah sakit. Pertemuan penuh haru pun terjadi. Ia memeluk Rama dalam deraian air mata. Bahagia dan sedih mengaduk perasaan. Bahagia berjumpa sang anak meski terlihat berantakan. Sedih mengetahui kabar jika sang menantu terluka dan mendapat 20 jahitan. Sempat sadar sebentar usai mendapat transfusi darah. Namun kemudian kembali tak sadarkan diri. Sampai saat ini belum bisa dijenguk oleh siapapun juga. Dokter tengah melakukan observasi menyeluruh penyebab pasien pingsan lama.


Damar dan Cia bergantian memeluk Rama serta memberi support. Mereka berada di ruang tunggu khusus yang lebih privasi tidak terganggu lalu lalang orang lain. Ditambah kini ada awak media yang berkerumun berburu berita terkini mengenai kabar tertangkapnya pelaku penculikan. Kasus penculikan Rama memang viral dalam seminggu ini.


"Kak, bersihkan diri dulu. Ganti baju!" Cia menyerahkan tas yang dibawakan. Ia miris melihat sang kakak yang wajahnya menjadi tirus.


Rama menurut. Juga memberikan satu kaosnya pada Zaky yang masih bergeming tidak mau pulang. Menunggu Puput siuman sampai boleh dijenguk. Sementara rekan Puput yang lain pamit dulu pulang dan siap membantu memberi kesaksian jika nanti dipanggil polisi.


"Pi,kabar Bu Sekar gimana? Sudah tahu belum dengan keadaan Puput?" Ratna menghela nafas panjang mengingat musibah yang menimpa besan dan menantunya.


"Zaky tadi sudah telepon Aul. Nggak tau apakah Bu Sekar langsung dikasih tau atau tidak," sahut Krisna.


...***...


Sebuah motor sport datang beriringan dengan mobil CRV memasuki parkiran rumah sakit. Dua pemuda yang melangkah bersamaan menuju lobi rumah sakit dan saling tatap.


"Mau ketemu Aul?" Anggara menyapa lebih dulu.


"Iya. Aul telepon aku karena sedih kakaknya terluka dan dirawat di beda rumah sakit." Panji menjawab sambil melangkah menuju lift.


"Sama. Aul juga ngabarin aku. Alhamdulillah ya semua pelaku sudah tertangkap. Kolaborasi kejahatan yang terobsesi menginginkan Puput dan Rama." Anggara ikut masuk ke dalam lift yang terbuka menuju lantai empat. Selanjutnya keduanya sama-sama diam karena ada dua orang yang ikut pula masuk.


Di dalam ruang perawatan Ibu Sekar, Aul berusaha bersikap normal. Duduk di kursi yang ada di balkon memandang langit senja. Beruntung Ibu tengah mengobrol dengan kerabat yang menjenguk. Sehingga tidak sempat menjawab saat tadi ibu menanyakan kabar Puput karena belum datang lagi.


"Aul, dipanggil Ibu!" Aul menoleh. Uwa nya memanggil dari ambang pintu.


Baru saja menyeka sudut mata yang berair karena kabar dari Zaky mengatakan jika Puput belum juga sadarkan diri. Aul menghela nafas panjang untuk menormalkan raut wajahnya.

__ADS_1


Keluarga uwa nya pamit pulang. Kini tinggal berdua di dalam kamar. Aul menyibukkan diri membereskan gelas air mineral sisa minum tamu dengan kepala menunduk.


"Aul, coba telepon Teteh! Kenapa perasaan ibu nggak enak gini dari tadi keinget Puput." Ibu berucap istighfar dengan lirih.


Tubuh Aul menegang dengan rasa serba salah antara bercerita atau tidak. Mengingat ibunya belum pulih benar.


"Aul?"


"Iya, Bu." Aul tak urung mendekati bed. Dari jarak dekat, ibunya menatap penuh selidik.


"Aul abis nangis?"


Aul menggeleng lemah. Ia memalingkan wajahnya sambil memperbaiki selimut Ibu yang melorot.


"Ibu nggak pernah ngajarin anak-anak berbohong." Ibu menatap Aul yang kini menunduk dan menjalin jemari.


Aul mendongakkan kepala balas menatap sang ibu. "Bu, Kak Rama udah ketemu dan selamat."


"Alhamdulillah ___" Ibu nampak berwajah semringah penuh syukur.


"Dan yang nolong Kak Rama yaitu Teteh dan rekan senior di grup SILATurahmi. Termasuk Zaky juga ikutan." Aul menangkap reaksi Ibu yang terkejut. "Mereka berhasil melumpuhkan para penjahatnya. Tapi.....Teteh terluka perutnya kena sambutan pisau. Sekarang dirawat di rumahsakit Tasik Hospital."


Semringah di wajah Ibu berlangsung memudar berganti tatapan membelalak dengan wajah membeku. "Innalillahi....Teteh." Gemetar suara Ibu. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.


Ucap salam terdengar seiring pintu didorong dari luar. Aul yang menjawab lirih menatap kedatangan Panji dan Anggara. Ia menggenggam tangan Ibu yang tengah terisak.


"Ibu kenapa? Ada yang sakit?" Anggara mendekat dengan wajah cemas. Diikuti pula oleh Panji yang berdiri di samping Aul.


"Aku baru ngasih tau soal Teh Puput. Karena Ibu nanyain keinget terus sama teteh." Aul menatap Ibu dengan sorot menyesal sudah membuat Ibu sedih.


"Aul, Ibu pengen liat Teteh. Antar Ibu ke sana!" Ibu beringsut ingin turun. Namun ditahan oleh Aul sambil menggelengkan kepala.


"Ibu bakal tambah sakit kalo tetap ada di sini. Sementara pikiran cemas mikirin Teteh." Ibu keukeuh dengan pendiriannya ingin keluar dari rumah sakit sekarang juga.


Mendengar perdebatan Aul dan Ibu, Panji buka suara. "Ehm, gini deh Bu. Panji akan temui dokter dulu. Soalnya kesehatan Ibu juga penting. Kalau dokter kasih ijin, Panji akan antar Ibu."


Ibu sempat tercenung sesaat, lalu mengangguk dengan ragu.


Panji keluar kamar dan di lorong berpapasan dengan Pak Bagja, pria paruh baya yang menabrak Ibu Sekar. Sudah pernah bertemu sebelumnya, Panji pun menceritakan tentang keinginan Ibu Sekar.


"Saya ikut. Kalau dokter ngijinin, sekalian mau urus administrasi." Pak Bagja membuat keputusan. Ia awalnya datang untuk menjenguk lagi wanita yang tertabrak olehnya itu.


Penjelasan dokter, seharusnya Ibu Sekar dirawat satu hari lagi dan selanjutnya kontrol rutin untuk kesembuhan tangan yang digips. Namun mendengar alasan yang diutarakan Panji, dokter mengizinkan pasien pulang dengan beberapa catatan yang harus diperhatikan.


Selepas magrib, Aul dibantu Anggara membereskan barang-barang. Kabar terbaru dari Zaky mengatakan jika Puput sudah siuman. Kabar yang cukup melegakan perasaan yang tadinya resah dan gelisah.


"Bu Sekar naik mobil saya saja ya!" Tawar Pak Bagja disaat semuanya siap meninggalkan kamar. Sudah disiapkan kursi roda untuk dipakai Ibu Sekar sampai ke lobi.


"Terima kasih Pak, biar saya ikut nak Panji saja. Makasih banyak sudah membiayai sepenuhnya. Semoga rejeki yang dikeluarkan, Allah ganti dengan yang berlipat ganda." Ibu tersenyum dan mengangguk.


Pak Bagja tersenyum tipis. Tersirat kecewa yang hanya dirinya saja yang merasakan. Ia mengalah tidak bisa memaksakan kehendak.


Sampai di lobi, Anggara membantu memasukkan barang bawaan ke bagasi mobil Panji. Pak Bagja pun berdiri mengantar. Ibu dituntun Aul masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan terimakasih kepada Pak Bagja juga Anggara.


"Kak Angga, mau ikut nengok Teteh?" Aul menatap polantas ganteng itu sebelum masuk ke dalam mobil.


"Aku besok sore aja bareng Kang Aris. Tadi udah janjian." Anggara mengangguk dan penuh senyum saat Aul berkaitan usai mengucapkan terimakasih padanya.


"Bro, aku cabut dulu!" Panji mengulurkan tinjunya untuk adu tos. Yang disambut Anggara dengan mengadukan kepalan tinju diiringi senyuman fair.


...***...

__ADS_1


Rama lebih dulu berlari begitu perawat mengabari jika Puput sudah siuman dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan kelas VVIP seperti yang sebelumnya dipesan. Membuka pintu dengan gerak kasar membuat seorang dokter dan dua orang suster yang tengah membenahi posisi tidur Puput menoleh bersamaan.


Rama abaikan senyum dan keramahan dua suster itu. Pandangannya terpaut dengan Puput yang tersenyum tipis namun nampak masih lemas.


"Sayang___" Netra penuh kerinduan itu menyala lagi, terpancar kuat. Rama menggenggam tangan kanan Puput yang bebas dari jarum infus, dan menciuminya penuh perasaan. Ia acuh dengan dua suster yang senyum-senyum oleh karena sikapnya itu.


"Pak, Bu Putri belum boleh diajak ngobrol banyak ya. Beliau baru sadar dan mengalami fatigue. Yaitu sebuah kondisi kelelahan berat makanya mengalami pingsan lama. Juga belum boleh banyak gerak karena luka jahitan perut masih basah. Yang jenguk dibatasi waktunya maksimal 10 menit. Bu Putri harus banyak istirahat."


Rama mengangguk paham akan penjelasan dokter. Yang kemudian bersama suster pamit meninggalkan kamar.


Rama merubah posisi berdiri dan beralih mencium kening Puput. Raut lelah di wajah cantik istrinya yang sudah berganti dengan pakaian pasien, jelas kentara.


"Aa___"


"Ya, sayang." Rama menatap lekat dan hangat.


"Kangen___" Puput tersenyum lemah seperti lemahnya badan yang sekarang serasa tak bertulang. Namun binar matanya menyiratkan bahagia.


"Aku lebih kangen, sayang." Rama duduk di tepi bed yang lebar itu. Menyimpan tangan Puput ke pipinya.


"Jangan pergi. Tidur di sini!" Rengek Puput dengan suara serak. Matanya menunjuk pada ruang kosong di sampingnya.


Rama tersenyum lebar dan menatap mesra. "Aku nggak akan kemana-mana, sayang. Akan di sini sampai kamu bisa pulang. Aku tidurnya sambil duduk di kursi aja ya!"


"Ah lupa. Aku bau keringat!" Keluh Puput sambil memanyunkan bibir.


Membuat Rama terkekeh. "Bukan itu, sayang. Kalau aku tidur samping kamu, nanti pengen meluk. Bisa-bisa kena perutmu,"jelasnya sambil mencolek hidung istrinya itu karena gemas.


Pintu kamar didorong dari luar. Zaky dan keluarga Rama masuk bersamaan. Membuat Rama bergegas menahan dan memberi penjelasan sesuai perintah dokter tadi. Jadinya Zaky dan Papi Krisna yang masuk lebih dulu.


"Teteh___" Zaky tidak mampu berkata. Haru biru tiba-tiba menyeruak di dada. Ia berdiri di samping bed sebelah kiri.


"Zaky, makasih udah nyelamatin Teteh. Kamu udah melaksanakan amanah Ayah." Puput menatap sang adik. Tersenyum kecil penuh bangga. Yang dibalas Zaky dengan balas tersenyum dengan mata berkaca. Ia menganggap pengorbanannya tak seberapa dibanding sang kakak.


Puput beralih menatap Papi Krisna. "Pi, kabar Zara dan komplotannya gimana?"


"Puput jangan banyak pikiran. Biar cepat sehat ya. Nanti ada waktunya bahas tentang mereka. Yang pasti sudah diamankan polisi." Jelas Papi Krisna.


Melihat kondisi Puput yang terantuk-antuk, Zaky dan Papi memilih keluar. Diiringi langkah Rama sambil memberi penjelasan tentang diagnosis fatigue yang diidap Puput saat ini. Akhirnya, rencana giliran Mami dan Cia yang akan masuk, mesti diundur besok.


...****************...


Hmmm, pada nungguin juga pengumuman pemenang GA, ya? wkwkwk.


Selamat kepada 5 orang terbanyak mengirimkan kopi. 5 buah tas etnik akan meluncurrrr.



Cu pang \= 261


Lare Ayu \= 216


Wita \= 174


Ira Muneey \= 160


Nurma \= 135



Silakan kirim alamat lengkapnya kepada admin Imas Perwati.

__ADS_1


__ADS_2