Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
130. Masa Lalu Biarlah Masa Lalu


__ADS_3

Panji memasuki cafe tempat janjiannya dengan sang ayah. Padat jadwal kuliah dan pekerjaannya sebagai manajer butik Sundari cabang Bandung, membuatnya tidak bisa datang tepat waktu sesuai janji awal. Sudah mengkonfirmasi pada ayahnya itu apakah mau membatalkan pertemuan atau menerima pemunduran waktu menjadi jam lima sore. Nyatanya, Anjar Syahreza memilih menunggu.


Meski Panji anak tunggal, ia tidak serta merta mendapat kemudahan posisi kerja di perusahaan milik Bunda Ratih itu. Sang ibu belum memberikan jabatan tertinggi di kantor pusat yang berada di kompleks butik Sundari Ciamis. Ia harus memulai dari bawah. Bermula satu tahun menjadi staf HRD, sampai kemudian dipercaya memimpin cabang Bandung sambil melanjutkan kuliah S2.


Seorang pria paruh baya berdiri dari duduknya saat langkah Panji semakin mendekat. Senyum semringah menghiasi rupa tampan pria matang yang sabar menunggu satu jam kedatangan anaknya itu.


"Apa kabar anak Ayah?" Anjar memeluk Panji dengan sorot mata penuh rindu dan haru. Menepuk-nepuk punggung sang anak dengan segenap luapan bahagia yang memenuhi rongga dada.


"Baik, Yah. Ayah gimana?" Tak dipungkiri, Panji pun sebenarnya merasa bahagia berjumpa sang ayah yang selama ini dihindarinya. Komunikasi telepon dan pesan, masih ia terima. Namun menolak setiap sang ayah meminta bertemu. Bukan menghindari karena benci. Tapi menghargai perasaan bundanya yang terluka hati karena merasa dikhianati.


Dulu, di masa usia labilnya, Panji pun merasa marah dan benci karena ayahnya diam-diam menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan. Yang membuat Bunda Ratih menggugat cerai. Sehingga dirinya lah yang menjadi korban. Broken home.


Beruntung pondasi yang kuat, pendidikan agama sejak dini, membuat Panji yang sempat keluar jalur, masuk komunitas genk motor sebagai pelampiasan kekecewaan, bisa kembali pada haluan yang lurus dalam circle komunitas berisi orang-orang ber vibes positif.


Ia memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Tak elok rasanya terus memendam kecewa karena kelakuan ayahnya yang mendua.


Obrolan saling sapa itu berlanjut duduk saling berhadapan. Memesan menu kopi berbeda jenis.


"Nji, gimana kabarnya Bunda?"


"Bunda sehat. Panji juga bilang sama Bunda kalo akan bertemu Ayah." Panji menyandarkan punggung duduk santai sambil melipat tangan di dada. Tatapan tajam memindai wajah sang ayah yang bercambang tipis dengan rambut hitam klimis. Wajah mirip aktor dan penyanyi Thomas Jorghi itu nampak muda dari usia aslinya yang sudah kepala lima. Angannya berandai-andai. Seandainya tetap menjadi keluarga yang utuh...


"Bunda nggak melarang?!" Anjar antusias ingin tahu. Membuat lamunan Panji buyar seketika.


"Dari dulu juga Bunda nggak pernah larang. Malah suka bujuk Panji buat ketemu Ayah. Katanya tidak ada namanya mantan anak. Panji diizinkan berhubungan baik dengan keluarga baru Ayah. Coba, jarang kan ada wanita sebaik Bunda. Apa gak nyesel tuh cowok yang udah sia-siakan cewek cantik bernama Ratih Gayatri." Sindir Panji dengan tatapan berubah sinis.


"Benar, nak. Bundamu wanita baik. Makanya Ayah masih cinta sama bundamu sampai detik ini. Ayah kangen tidak hanya sama kamu, tapi sama Bunda juga." Anjar menatap serius. Berkata sungguh-sungguh. Tidak tersinggung dengan sindiran anaknya itu.


Panji tersenyum miring. "Jangan kecewain istri di rumah, Yah. Karena Ayah mengingat mantan. "


"Ayah tinggal berdua sama adikmu. Usianya sekarang sepuluh tahun. Dia kini SD kelas lima. Kapan Ayah boleh membawanya agar Panji kenal, mau menerima sebagai adik." Ucap Anjar penuh harap.


Panji memicingkan mata. "Tunggu-tunggu! Ayah udah cerai? Terus pengen balikan sama Bunda, gitu?!" tebaknya.


Anjar menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Panjang ceritanya, nak. Ayah harap kamu mau mendengarkan dengan baik. Kita bicara sebagai sesama pria dewasa. Bukan sebagai ayah dan anak. Agar Ayah tidak melulu dipojokkan.


Panji diam menimang. Selama ini ia memang hanya mendengar penjelasan versi Bunda tentang penyebab perceraian. Termasuk pula desas desus keluarga besar. Semua satu suara, menyalahkan ayahnya yang berpoligami.


"PT. Panji Rajarsyah Abadi yang menaungi konveksi dan butik Sundari, itu Ayah dirikan buat Bunda. Sebagai hadiah dan tanda syukur karena kamu lahir ke dunia melengkapi kebahagiaan."


Panji menyimak sambil tercenung. Ia ingat, bundanya pernah menceritakan itu saat usia SD. Waktu itu diajak jalan-jalan keliling konveksi yang bangunannya belum sebesar sekarang.


"Panji Rajarsyah itu gabungan namamu, Bunda, dan Ayah. Ayah senang, bundamu tidak merubah nama meski kita sudah berpisah." Anjar menyesap kopi sebelum melanjutkan cerita.


"Saat kamu berusia tujuh tahun, Ayah minta sama Bunda untuk merencanakan anak kedua. Ayah anak tunggal, sudah merasakan sepinya sendiri tanpa saudara. Tapi Bunda bilang belum siap karena saat itu karir lagi menanjak. Ayah sabarin hingga umurmu 10 tahun, lama-lama pembahasan ini menjadi sumber pertengkaran kecil."


Panji diam menyimak dengan serius. Ia baru mendengar cerita sedetail ini.

__ADS_1


"Waktu kamu kelas satu SMP, Ayah tegaskan lagi soal ini. Dan bundamu menjawab tegas juga, tak ingin menambah anak. Ingin fokus membesarkanmu sama mengembangkan bisnis butiknya. Ayah sampe mengancam mau nikah lagi aja. Tapi Bunda menanggapi dengan candaan menggoda ; "Ayah yakin mau nikah lagi? Boleh tuh."


Anjar menarik nafas panjang. "Bundamu meskipun tidak berkarir, tidak akan kekurangan nafkah dari Ayah. Perusahaan Ayah lebih besar. Mau Panji dan Bunda traveling ke luar negeri tiap bulan juga gak akan bikin kartu Ayah jebol. Tapi Ayah menghargai pasion Bunda di dunia fashion. Makanya Ayah mensupport karir Bunda."


"Sayangnya Bundamu lupa dengan mimpi dan komitmen manis sebelum kami menikah. Yaitu mau punya tiga orang anak."


"Ayah akhirnya nyerah tidak lagi ngebahas itu. Karena ujung-ujungnya akan terjadi pertengkaran mulut. Lelah."


"Hingga suatu hari saat Ayah sedang meninjau proyek, Ayah ketemu dengan seorang janda yang berjualan di lokasi proyek. Dia memiliki 4 anak yatim yang masih kecil-kecil. Ayah berempati dengan memberinya sedekah."


"Sejak pertemuan itu Ayah berpikir keras sambil menimang-nimang rencana. Nji, keinginan Ayah ingin nambah anak nggak bisa dibendung. Ayah putuskan datangi rumah janda itu dan menawarkan pernikahan kontrak dengan alasan apa adanya. Seminggu kemudian Ayah baru dapat jawaban darinya yang menyetujui pernikahan kontrak sampai nanti bayi lahir."


"Dia....berarti perempuan murahan." Ucap Panji setelah sekian lama menjadi pendengar.


Anjar menggeleng. "Dia perempuan baik-baik. Berasal dari keluarga miskin. Suaminya meninggal karena kecelakaan kerja di proyek. Tapi bukan di proyek Ayah. Dia menerima tawaran Ayah karena butuh untuk biaya anak-anak. Dimana yang paling besar baru berumur 8 tahun. Ayah janjikan rumah layak huni dan kesejahteraan untuk semua anaknya. "


"Kami menikah siri di saat dia dalam masa subur. Ayah sengaja memilih waktu itu agar tidak menyentuhnya terlalu lama. Sejujurnya Ayah merasa bersalah sama Bunda karena sudah mengkhianatinya. Tapi bukankah Bunda punya andil yang menyebabkan Ayah melakukan itu?"


Panji mengusap wajahnya dengan kasar. Bingung untuk bersikap setelah mendengar fakta dari ayahnya. Ia memilih diam, terus menyimak.


"Ayah melakukannya di bulan itu, dua kali. Dan bulan berikutnya dia hamil. Sumpah demi Allah, Ayah tidak menyentuhnya lagi karena sampai mati pun cinta Ayah hanya untuk Bunda. Ayah hanya menunggu waktu dengan memberi nafkah lahir sampai dia melahirkan dan memberi ASI ekslusif putri ayah sampe umur satu tahun. Dan Ayah menceraikan dia sesuai perjanjian awal."


Anjar menghembuskan nafas kasar. "Pada akhirnya Ayah ketahuan juga. Disidang oleh Kakek dan Enin. Mereka sangat murka. Tapi Ayah jelasin kronologisnya. Ayah juga harus membela diri. Jangan disalahin 100%. Kakek dan Enin lama-lama reda marahnya. Tapi tidak bisa menolong saat Bunda keukeuh dengan pendiriannya menggugat cerai."


Anjar menatap Panji dengan netra sendu. "Silakan Panji simpulkan sendiri. Ayah sudah menjelaskan apa adanya. Tanpa ditambah dan dikurangi. Sejak bercerai dengan Bunda, Ayah tidak menikah lagi. Fokus membesarkan adikmu. Sambil memupuk sabar, berharap Ayah bisa menyentuh lagi hati Bunda. Ayah ingin kita bersatu lagi menjadi keluarga. Mungkinkah Panji bisa bantu Ayah?"


Panji mengikat tali sepatunya. Kebiasaan di setiap pagi harinya melakukan jogging keliling komplek. Kali ini ada yang berbeda. Tak menyangka ternyata Ayah Anjar tinggal di komplek yang sama sudah satu bulan.


"Ayah dan adikmu ingin tinggal lebih dekat sama kamu, nak. Setelah selama ini kamu selalu menghindar dari Ayah. Kami sengaja pindah dari Jogja ke Bandung demi bisa melihatmu tiap hari, nak."


Panji memulai dengan lari-lari kecil. Sambil mengingat percakapan yang berlanjut sampai malam.


"Padmavati Syahreza, nama adikmu. Ayah selalu menceritakan tentang Panji yang tampan dan pintar sama adikmu yang bulan kemarin baru mendapat penghargaan penghafal juz 29 dan 30 di sekolah Qur'an. Padma selalu bertanya kapan bisa ketemu Kakak? Padma menyimpan fotomu yang diambil dari ig, dicetak dan disimpan dalam figura 10R. Selalu dipeluk setiap mau tidur."


Panji mempercepat larinya dengan dada yang mulai sesak oleh berbagai rasa dan mata yang memanas. Benarkah adiknya sesaleha itu? Bukankah adik tiri itu suka menyebalkan?


Dengan nafas terengah-engah serta keringat yang bercucuran, Panji menghentikan langkah di sebrang rumah yang disebutkan ayahnya semalam. Pintu gerbangnya tertutup rapat. Tidak bisa melihat aktivitas di dalamnya karena tembok pilarnya pun tertutup loaster.


Sebuah tepukan di bahu membuat Panji terjengit dan menoleh. "Ayah?!" ujarnya. Tak menyangka jika ternyata ayahnya pun sedang berolahraga.


"Ayo, masuk ke rumah Ayah!" Anjar sudah tahu jika Panji sedang memperhatikan rumahnya.


Panji memasuki gerbang rumah yang kentara baru direnovasi. Menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan sepasang sepatu yang tersimpan di teras.


"Assalamu'alaikum, sayang." Ucap Anjar dengan riang.


"Wa'alaikum salam.....Ayah udahan jog___?" seorang anak gadis yang menyahut dengan riang sambil menyambut ke luar, urung melanjutkan ucapannya. Menatap Panji dengan mata yang tidak berkedip.

__ADS_1


Anjar tersenyum lebar. "Padma, kenapa diam? Kenal sama tamu Ayah, hm?" Ia mengusap puncak kepala putrinya yang berbalut hijab bersiap akan sekolah.


Panji memutuskan maju melihat Padma yang mematung seolah syok. "Hai, aku Panji. Aku kakaknya adek Padma." ujarnya mengangguk dan tersenyum sambil menatap wajah cantik yang memiliki garis wajah yang sama dengannya.


Padma menoleh dan mendongak pada ayahnya. Yang kemudian mendapat anggukkan Anjar.


"Kakak. Huhuhu...." Padma memeluk Panji. Menangis terisak tanpa bisa membendung air mata yang mengalir deras. Selama ini menyalurkan rindu hanya dengan memeluk foto. Kini sang kakak ada nyata di hadapannya.


Panji balas memeluk dengan erat. Roboh sudah pertahanan egonya. Serasa mimpi jika dirinya memiliki adik yang hampir setinggi dadanya. Dan ada rasa hangat memenuhi hati. Tiba-tiba timbul rasa sayang yang tidak bisa dicegah.


Sejak pertemuan pagi itu dengan sang adik, Panji meluangkan waktu pulang kerja singgah di kediaman ayahnya. Baru merasakan momen bahagia memiliki adik. Ia menemani Padma belajar dan main bersama. Melihat kamar sang adik yang benar saja ada beberapa foto dirinya terpajang. Ia tersenyum haru. Tak mengira selama ini ia yang abai, ternyata Ayah dan adiknya itu begitu peduli dan menyayangi.


Hari ketiga, Panji mengajak Padma menginap di rumahnya. Ia ingin menikmati kebersamaan yang sekian tahun tidak pernah terbayangkan. Ia sendiri menjemput dengan berjalan kaki karena tak terlalu jauh. Hanya berbeda blok.


Keduanya riang berjalan sambil mengayun-ngayunkan tangan yang bertautan. Tiba di dalam rumah, Padma menatap sekeliling karena masih asing.


"Ayo kakak tunjukkan kamar Padma!" Panji menuntun sang adik menaiki tangga. Ia sudah meminta ART mengganti sprei di kamar sampingnya dengan warna pink bergambar barbie.


Adzan magrib berkumandang saat Panji dan Padma asyik bermain game di kamar bernuansa pink itu.


"Kalo denger adzan harus udahan mainnya, Kak. Ayah suka marah." Padma menyimpan stik PS di karpet.


"Wah, adekku penurut sama Ayah ya." Panji mengacungkan jempol karena bangga.


"Padma sayang sama Ayah. Nggak mau lihat Ayah sedih. Ayah kadang suka melamun." Adunya dengan wajah berubah sendu. Membuat Panji mengatupkan bibir.


"Kita salat berjama'ah, mau?" Panji memecah kebisuan. Ajakannya disambut anggukkan kuat sang adik.


Panji menuruni tangga sambil becanda dengan Padma. Tawa renyah sang adik memecah keheningan dalam rumah yang setiap harinya selalu sepi. Usai salat, mengaji bersama, kini keduanya bersiap untuk makan malam.


"Bunda?!" Panji mendadak menghentikan langkah di tiga titian terakhir. Kaget, Bunda Ratih tiba-tiba muncul di ujung tangga sambil tersenyum lebar.


"Bunda kok datang nggak ngabarin dulu?!" Panji menutup rasa gusarnya dengan mencium tangan dan memeluk ibunya itu penuh sayang.


"Sengaja surprise, sayang." Ucap Bunda sambil mengusap punggung anak kesayangannya itu.


"Hai adek cantik, siapa namanya?" Bunda Ratih menatap anak gadis yang berdiri di samping Panji. Tatapannya beralih ke arah Panji dengan satu alis terangkat.


"Namaku Padma, Tante." ucap Padma sambil mengulurkan tangan, mencium punggung tangan dengan takzim.


Panji menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Bagaimana menjelaskannya.


"MasyaAllah, udah cantik, sopan lagi." Bunda Ratih mengusap puncak kepala Padma diiringi senyum dan tatapan hangat.


"Anaknya siapa ini? Kok Bunda baru lihat." Bunda Ratih beralih menatap Panji. Sejak tadi ia menunggu penjelasan sang anak.


...****************...

__ADS_1


Besties, mohon sabar. Next bab baru membahas yang lagi honeymoon ya. Jangan demo akuuuu. Karena ending cerita berlaku untuk semua pemeran KCM.


__ADS_2