Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
113. Tenang, Ada Aku


__ADS_3

Minggu pagi menjelang siang rumah sepi. Zaky dan Amy pergi ke Padepokan. Sementara Aul sejak pagi buta pergi ke car freeday bersama dua temannya yang menjemput ke rumah. Ibu berkutat di dapur memberi arahan pada dua orang yang sedang memasak untuk menu Dapoer Ibu. Pengalaman yang sudah-sudah, akhir pekan selalu mendapat lonjakan pengunjung. Lebih ramai dari hari biasa. Sehingga porsi menu pun ditambah lebih banyak.


"Bu, sepertinya ada tamu. Itu....bel bunyi." Ceu Nining mematikan kompor usai memasak tutut bumbu kuning yang kuahnya sudah meletup-letup.


Ibu memasang telinga. Baru yakin ketika mendengar lagi bunyi bel. Lantas beranjak menuju ke depan.


Pintu dibuka. Dua orang tamu berdiri sambil memasang senyum. Salah satunya ia kenal.


"Pak Bagja?! Silakan masuk, Pak." Ibu tak menyangka pria yang tidak sengaja menabraknya akan datang ke rumah. Mengira urusan sudah selesai setelah perpisahan di rumah sakit. Tidak akan ada pertemuan lagi.


"Pak Bagja tau dari mana rumah saya di sini?" Ibu menatap pada tamunya yang ditemani seorang anak perempuan yang ditaksir seusia Zaky.


Pak Bagja mengulas senyum. "Saya telepon Neng Aul dulu sebelum ke sini. Katanya lagi di luar dan dia memberi shareloc. Nggak nyangka Bu Sekar punya rumah makan ya?" ujarnya dengan tatapan kagum.


"Ah, bukan rumah makan, Pak. Tapi warung nasi kecil-kecilan tempat menyalurkan hobi masak saya dan anak-anak." Sahut Ibu sambil tersenyum malu.


"Bu Sekar bisa aja merendah." Pak Bagja tak mengalihkan pandangan dari senyum manis yang sudah ia ketahui berstatus janda itu. "Ah, sampai lupa. Kenalkan ini anak bungsu saya, Revina. Anak saya dua. Yang sulung laki-laki, sudah berkeluarga dan tinggal di Bogor."


Ibu Sekar mengangguk dan tersenyum. "Neng Revina kelas berapa?" ujarnya berbasa-basi menghargai sang tamu.


"Kelas XI SMA, Tante." Sahut Revina dengan mengangguk sopan.


"Sama dengan Zaky putra saya. Tapi dia di SMK. Oh ya, mau minum apa?"


Pak Bagja menggeleng. "Tidak usah repot-repot, Bu Sekar."


"Tidak apa-apa kok. Sebentar ya, saya tinggal dulu!" Namun saat Bu Sekar akan beranjak, Aul datang sambil mengucap salam. Anak keduanya itu menyalami tamu terlebih dahulu.


"Aul, buatkan teh buat tamu ya!" Ibu urung menyuruh Ceu Nining. Ia duduk kembali menghadapi tamu yang membawa sekeranjang parcel buah. Aul mengangguk dan beranjak menuju dapur.


"Bu Sekar, besok kan jadwal kontrol ya? Maksud kedatangan saya ke sini, selain bersilaturahmi juga mau menanyakan jam berapa besok kontrol. Karena saya akan mengantar ke rumah sakit."


Ibu cukup terkejut. Kenapa Pak Bagja bisa tahu jadwal kontrolnya.


"Waktu itu sebelum Bu Sekar pulang, saya kan banyak tanya sama dokter, termasuk jadwal kontrol. Pokoknya saya masih akan bertanggung jawab sampai Bu Sekar sembuh seperti semula." Pak Bagja seolah bisa membaca raut keheranan di wajah Ibunya Aul itu.


"Tak usah lah Pak. Cukup selama kemarin membiayai rumah sakit. Untuk kontrol, ada anak saya yang akan mengantar." Tolak Ibu yang merasa tidak enak hati.


Aul datang membawa nampak berisi tiga cangkir teh panas. Menyajikan di meja dan ikut duduk bergabung di samping Ibu.


"Justru saya tidak akan nyenyak tidur, dihantui rasa bersalah, kalau belum melihat tangan Bu Sekar terlepas dari gips itu," Pak Bagja beralasan sambil menatap tangan yang berbalut gips. Namun tidak lagi memakai kain kasa yang digendong ke leher.


Ibu menatap Aul, meminta pendapat. Namun anak gadisnya itu mengangkat bahu seolah menyerahkan semua keputusan padanya.


"Gimana ya....saya merasa tidak enak dengan istri Bapak. Pak Bagja sampe mau mengantar kontrol segala. Apa nggak berlebihan?" Akhirnya Ibu mengeluarkan hal yang mengganjal di hatinya.


Pak Bagja mengulum senyum. "Ibunya anak-anak sudah meninggal dua tahun yang lalu. Jadi, tidak ada alasan menolak ya!"


"Neng Aul, besok jam berapa jadwal kontrol Ibu? Saya akan datang menjemput." Pak Bagja beralih menatap Aul. Meski sekilas dapat menangkap raut keterkejutan di wajah Bu Sekar.


"Jam 10, Om." Sahut Aul singkat.


"Baiklah. saya akan datang lebih awal agar tidak terlambat ke rumah sakitnya." Pungkas Pak Bagja yang kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


Ucap salam terdengar riang. Ami nyelonong masuk dengan wajah berkeringat. Dibuntuti Zaky di belakangnya. Keduanya baru pulang dari Padepokan berboncengan naik motor sport.


"Ups, kirain tidak ada tamu." Ami menutup mulut dengan raut malu. Ia menyalami kedua tamu. Begitu juga Zaky. Kebiasaan yang selalu diajarkan ibunya tentang tata krama.


"Ini si bungsu yang baru masuk Tsanawiyah sambil mondok." Ibu memperkenalkan Ami pada tamunya. Kalau dengan Zaky sudah pernah bertemu saat di rumah sakit.


"Wah, hebat sekolah sambil mondok." Pak Bagja memuji diiringi acungan jempol.


Ami duduk menggantikan posisi Aul yang berlalu ke dalam. Bibirnya dilipat dengan tatapan tajam yang memindai sosok pria paruh baya yang selalu menatap Ibu.


...***...


Ami melipat kedua tangan di dada dengan bibir dimanyunkan 5 cm. Dua orang tamu itu baru saja pamit pulang. Dan ia mendengar ibunya akan dijemput besok.


"Ibu janjian sama bapak itu? Ibu mau kemana sama bapak itu?" Ami langsung mengintrogasi dengan muka ditekuk.


Aul yang sedang membereskan gelas ke dalam nampan, tertawa lepas. "Iya, Mi. Yang barusan itu namanya Pak Bagja. Nih...oleh-olehnya. Boleh ya Ibu nikah lagi." ujarnya sambil mengangkat parcel buah. Namun Ami menggelengkan kepala tidak mau menerima.


"Aul!" Ibu menatap tajam. Jelas saja Ami semakin menekuk wajahnya mengira ucapan Aul serius.


"Ami, Teh Aul cuma becanda. Yang barusan itu yang nabrak Ibu. Beliau bertanggung jawab mengobati Ibu sampai sembuh. Besok mau ngantar ke rumah sakit karena jadwalnya kontrol. Ibu pergi ditemani Teh Aul kok." Ibu membelai lembut kepala si bungsu yang masih merajuk.


"Ibu nggak bohong, kan?" Ami menyipitkan mata.


"Astagfirullah....kapan Ibu ngajarin bohong, hm?" Ibu masih saja bersikap lembut meski merasa gemas dengan sikap si bungsu yang tidak mau punya ayah tiri.


Ami yang masih rindu memegang ponsel seolah sedang berpuas-puas dulu sebelum berangkat. Untuk kemudian akan dimatikan dan dititipkan ke Ibu.


Ami terlonjak dari duduknya menuju Aul yang sedang membuka macbook di meja makan. "Teh, Kak Angga mau ke sini bawain oleh-oleh dari Pangandaran. Katanya sekalian mau ikut nganterin aku ke pesantren. Yes yes yes!"


Aul beralih menatap adiknya yang berjoget-joget centil. "Ami yang minta Kak Angga nganterin ke pesantren ya!" Tuduhnya dengan tatapan menyipit.


"Ish, nggak atuh, Teh. Aku cuma bilang jam 2 mau berangkat lagi ke pesantren dianterin teh Aul. Eh, terusnya Kak Angga balas, mau ikut nganterin katanya." Ami berkilah.


Aul sudah mengangkat tangan untuk menjitak kepala adiknya itu. Namun suara ucap salam terdengar jelas karena pintu utama terbuka lebar. Anggara datang. Dan Ami lebih dulu menyambut.


"Ini oleh-oleh Pangandaran buat Ami dan Aul." Anggara yang dipersilakan duduk, memberikan satu paper bag besar kepada Ami.


"Terima kasih, Kak. Kak Angga baik sekali." Ami berbinar menerimanya. Dan minta izin untuk mengeluarkan isinya.


"Kak Angga, kenapa dianggap ucapan Ami. Kan aku jadi nggak enak." Aul terkaget melihat dua dus sepatu yang dikeluarkan Ami. Serta ada satu kantong ikan asin terlapis koran.


Anggara terkekeh. "Aku ke Pangandaran bukan ke pantainya saja tapi juga jalan-jalan di kotanya. Makanya bisa beli sepatu. Kalau ikan asin kan emang dari pantai." Jawabnya santai.


"Sepatu punyaku mau disimpen buat nanti kalau libur lagi. Buat jalan-jalan ke mall lagi nanti." Ami bergegas beranjak membawa sepatutnya ke kamar Ibu. Meninggalkan Aul dan Anggara berdua.


"Kak Angga. Makasih oleh-olehnya. Lain kali jangan repot-repot ya. Jangan dengerin Ami." Aul masih saja merasa tidak enak hati.


"Santai aja, Aul. Kan emang aku yang ngasih. Ikhlas tidak dipaksa. Oh ya, berangkat jam 2 kan? Bentar lagi nih. Aku sengaja bawa mobil buat nganterin Ami." Anggara menatap jam di tangannya.


Ibu dan Ami muncul. Sudah bersiap akan berangkat. Zaky mengikuti di belakang sambil menenteng dua tas milik si bungsu.

__ADS_1


"Nak Angga kan baru datang. Nggak usah nganterin Ami, biar Ami sama Zaky aja." Ibu sudah mendengar cerita si bungsu tadi di kamar.


"Biar sama saya aja, Bu. Kan dekat ini jaraknya. Nanti pulang dari pesantren kan ke sini lagi." Anggara keukeuh dengan niatnya untuk mengantar Ami. Karena Aul pun akan ikut.


Ibu mengalah. Melepas kepergian si bungsu sampai teras dengan pelukan hangat.


"Ibu awas ya, jangan diam-diam nikah lagi. Nanti aku mau mogok mondoknya." Ujar Ami sambil menggelayut di lengan kiri Ibunya.


Zaky dan Aul tertawa. Ibu mencubit hidung Ami dengan gemas. Malas untuk menjawab lagi karena sejak tadi terus diulang seperti kaset kusut.


...***...


Perjalanan menuju pondok pesantren modern tempat Ami menimba ilmu hanya ditempuh 30 menit perjalanan. Sampai di parkiran yang luas, Anggara membantu menurunkan bagasi milik Ami.


"Kak Angga, makasih udah nganterin aku." Ami mencium punggung tangan pak polisi yang terlihat cool mengenakan polos shirt hitam dan celana jeans biru. "Sementara hape ku off ya, Kak. Karena mondok nggak boleh bawa hape. Kalo kangen hubungi teh Aul aja ya, hihihi." Sambungnya. Ia menggendong satu tasnya. Sementara satu tas lagi ditenteng Aul.


"Ami, ihh____" Aul mendecak kesal. Anggara hanya tertawa dan memberi tanda hormat pada Ami.


"Kak Angga, nggak papa nunggu? Aku mau nganterin dulu Ami ke dalam." Aul beralih menatap Anggara yang dipujinya dalam hati, lebih tampan tanpa seragam.


"Santai aja. Aku nunggu di sana." Tunjuknya pada kantin yang sedang ramai oleh anak-anak santri.


Selang 20 menit Aul datang dengan langkah cepat. Usai menasihati dulu adiknya agar selalu rapih menata baju dalam lemari di kamar yang dihuni 6 orang santri itu.


"Lama, ya?"ujarnya dengan tersenyum meringis.


"Nggak berasa malah. Soalnya aku dari tadi chattingan di grup SILATurahmi." Panji mematikan layar ponselnya. Membayar teh botol yang diminumnya. Aul ditawari jajan tidak mau.


"Sekarang kita lanjut ke mana?" Anggara menoleh saat mobil hendak berbelok keluar dari gerbang.


"Pulang aja, Kak."


Anggara mengangguk. Mobil melaju pelan meninggalkan komplek pesantren. "Aul, bisa nyetir nggak? ujarnya memecah kebisuan.


"Belum bisa, Kak. Rencana sih minggu depan mau kursus. Mumpung masih libur kuliah. Nggak ada Teh Puput jadi dituntut harus bisa nih. Soalnya suka repot kalau harus nganterin order nasi kotak yang banyak untuk jam makan siang kantor. Nunggu Zaky dulu nggak mungkin, dia pulang sekolahnya jam 2 kadang sore," jelasnya.


"Eh, kita mau kemana, Kak?" Aul terkaget karena Anggara membelokkan mobil ke luar jalur arah pulang.


"Nanti juga tau." Anggara tersenyum penuh arti.


Aul mendecak karena jawaban temannya Puput itu misterius. Mobil melaju di jalan desa yang menanjak. Meski ia orang Ciamis, tapi belum pernah melewati jalan itu.


"Kak? Maksudnya?" Aul menyipitkan mata begitu mobil berhenti di tepi lapangan bola rakyat.


"Ya. Aku akan ajari kamu menyetir. Ayo tukeran tempa duduk!"


Aul ingin protes. Tapi Anggara sudah turun dan melangkah memutar membuka pintu sebelah kiri.


"Ah, aku deg dengan, Kak. Takut nabrak." Aul bergeming di tempat duduknya. Tidak tahu jika wajah merajuknya itu malah membuat Anggara gemas.


"Nabrak apa di sini, hm? Paling nabrak angin." Anggara terkekeh. Ia kemudian merunduk sehingga bersitatap lurus dengan Aul.


"Tenang....ada aku yang menjaga." Anggara mengulurkan tangannya agar Aul mau turun.

__ADS_1


__ADS_2