
Masakan ikan gabus bumbu kuah kuning sudah menguarkan aroma wangi. Perpaduan rempah yang diulek, serai, juga daun jeruk purut, tanpa santan, menciptakan sensasi rasa maknyus. Bi Lilis mengacungkan dua jempol usai didaulat mencicipi.
"Neng Puput memang top markotop. Udah geulis, pintar masak pula, tambah jago silat. Pantesan Den Rama kalau nyeritain tentang Neng Puput suka muji-muji, bangga sekali, dan keliatan klepek-klepek. Hihihi." Bi Lilis tulus memuji bukan karena di depan orangnya untuk cari muka.
Puput hanya terkekeh melihat Bi Lilis begitu semangat bercerita.
Ruang dapur modern itu menjadi lebih berwarna oleh canda tawa karena Puput betah berada di sana. Membuat Bi Lilis dan Mbak Nur sigap menjadi asisten masak sambil berbincang santai.
"Nur, angkat Nur! Neng Puput nggak boleh angkat yang berat-berat. Bisa marah nanti Den Rama sama saya." Bi Lilis memberi perintah kepada rekannya untuk memindahkan katel besar berisi gabus kuah kuning. Menu untuk makan malam semua orang selain ada menu yang lainnya. Pagi tadi Rama menitipkan Puput padanya untuk dilayani dan diperhatikan jangan sampai melakukan kegiatan berat. Kenyataannya, bukannya melayani, karena Puput malah mengajak sama-sama membuat cemilan dan masakan di dapur.
"Aku mau nyobain pudingnya ah. Kayaknya udah dingin." Puput beralih membuka kulkas besar empat pintu, usai melepas apronnya. Permukaan kulkas yang bisa dipakai untuk berkaca itu berisi penuh kebutuhan masakan dan makanan minuman stok satu bulan. Usai tidur siang ia melihat ada alpukat matang. Jadinya berinisiatif membuat puding alpukat mix coklat dan dituangkan dalam cup puding berjumlah 25 cup.
"Ya boleh atuh, Neng. Kan Neng Puput yang bikinnya juga." Sahut Bi Lilis sambil membereskan wadah kotor ke tempat cucian.
"Bi Lilis dan Mba Nur dapat jatah juga. Nanti sekalian sopir dan sekuriti dibagi juga ya, Bi!"
Tentu saja disambut keriaan oleh dua orang asisten rumah tangga itu.
"Sayang, dicariin di kamar nggak ada. Kirain kenapa-kenapa?" Rama tahu-tahu muncul di dapur dengan wajah panik.
"Eh, Aa dah pulang. Kok nggak kedengaran salamnya?" Puput menyimpan dulu puding di meja. Beralih mencium punggung tangan suaminya itu.
"Nggak keliatan ada orang. Jadinya nggak salam. Langsung naik tangga aja." Rama menarik tangan istrinya itu mengajak keluar dari dapur.
"Mau ada orang atau nggak ada orang, masuk rumah itu harus salam. Mungkin saja malaikat yang menjawab salam kita. Kan jadi berkah." Tegur Puput yang mengikuti Rama menaiki tangga. Mami Ratna yang rencananya akan pulang siang, sampai saat ini belum kembali karena Papi menahannya di kantor.
"Siap laksanakan, Nyonya." Rama menjawil dagu Puput dengan gemas. "Bawa apa itu, Neng?" sambil merangkum bahu, ia menatap apa yang dipegang di tangan kiri sang istri.
"Puding alpukat mix coklat. Tadi siang aku bikin. Aa mau? Aku ambilin dulu ya! Ini punyaku, baru mau nyicip hasil karya." Puput berhenti di depan pintu kamar.
"Nyicip punya kamu aja dulu. Nanti kalau enak, nambah." Rama menarik Puput masuk ke dalam dan mengunci kamar.
"Dijamin ketagihan pokoknya." Ujar Puput dengan penuh percaya diri.
"Percaya, sayang. Udah teruji apa yang ada pada dirimu emang bikin nagih." Rama mengerlingkan mata sambil membuka jas dan dasinya.
"Hais, otak mesum Kang panci kambuh." Puput menggelengkan kepala. Beralih menyiapkan segelas air putih dari dispenser.
Rama duduk di sofa. Menggulung lengan kemejanya sampai sikut, membuka dua kancing baju paling atas. Segelas air yang diberikan Puput, diteguk setengahnya.
"Neng, please cium di sini!" ujarnya mengarahkan telunjuk di pipi kanannya.
Puput menurut. Mencium dengan penuh rasa sayang.
"Lagi, sayang. Sampai tujuh kali!"
__ADS_1
"Hah?" Puput terkaget dengan mulut terbuka.
"Tadi aku dicium Damar. Rasanya masih nempel deh sampe sekarang. Geli, jijik." Rama bergidik lagi mengingat kejadian tadi pagi di kantor. Diceritakan semuanya kronologis sampai kemudian terciduk Nova.
"Hihihi___" Puput menutup mulutnya dengan telapak tangan. Merasa lucu. Berbanding terbalik dengan Rama yang tidak senang ditertawakan.
"Ayo sayang, bersihin sampai 7 kali! Cuma rasa bibirmu yang boleh tertinggal di seluruh tubuhku." Rama memejamkan mata, mendekatkan pipinya.
Puput tersenyum malu mendengar kalimat yang diucapkan Rama dengan serius. Untung suaminyaitu tidak melihat karena sedang memejamkan mata. "Berarti 6 kali lagi ya?"
"Tetap 7 kali, Neng. Yang tadi tidak dihitung."
"Hm, bisa aja deh." Tak urung Puput menurut. Setiap ciuman yang diberikan dilakukan dengan lembut. Sementara Rama tersenyum tipis, menikmati dengan mata terpejam.
...***...
"Mi, nambah nasi sama ikan!" Krisna mendorong piringnya yang licin. Buliran keringat mengembun di dahi karena sensasi pedas ikan gabus bumbu kuning.
Ratna mengerutkan kening. Tumben suaminya itu makan malam dengan porsi banyak.
"Sayang, ikannya lagi!" Rama tak kalah berselera dengan lauk buatan istrinya itu. Keningnya pun berembun keringat. Rasa pedas, gurih dan wangi aroma rempah, membuat lidahnya ingin terus mengecap.
"Waduh-waduh, alamat siap-siap perut Papi dan Kak Rama balapan maju tiga senti." Cia meledek sambil memperhatikan cara makan keduanya yang cepat.
"Iya, Papi tumben-tumbenan makan porsi jumbo gini. Kalau Puput sering masakkin menu gini, bisa jadi Papi buncit deh." Ratna tak kalah meledek diiringi kekehan.
"Sama-sama, Papi." Puput tersenyum simpul. Ia membawa ikan gabus yang dibekukan dari Ciamis karena disuruh Ibu. Agar dimasak bertahap untuk membantu mempercepat pengeringan luka. Namun tadi ia memutuskan memasak untuk semua orang sehingga tak ada lagi stok.
Semuanya beralih mencicipi dessert, puding alpukat mix coklat. Puding lembut dengan rasa alpukat yang kuat dan gurih susu serta manisnya sedang, terasa pas di lidah.
"Mami pernah beli di luar, rasanya ada sedikit pahit. Tapi buatanmu ini nggak ada. Enak banget malah." Puji Ratna yang sudah menghabiskan satu cup.
"Rasa pahit itu biasanya dari alpukat. Bisa jadi belum matang sempurna atau gimana jenis alpukatnya. Yang bagus tuh pakai alpukat mentega. Yang seperti aku pakai ini, Mih." Jelas Puput.
"Aku harus belajar sama Teh Puput nih. Biar makin disayang Kak Damar." Cia tersenyum malu mengucapkannya.
Perbincangan ringan di meja makan terjeda oleh kedatangan Bi Lilis yang mengabari ada Damar datang.
Dan kedatangan Damar malam itu seorang diri menghadap kepada Krisna dan Ratna, mengutarakan maksudnya untuk meminta restu akan membawa orangtua dan keluarga untuk melamar kekasihnya, Citra Adyatama.
Tentu saja selaku orang tua sudah mengenal Damar sejak lama. Krisna tidak ragu memberikan restunya pada pemuda bernama Damar Bratajaya.
"Kak, kenapa mendesak waktunya? Hadeuh hanya 5 hari persiapannya. Apa mungkin?" Cia menatap panik. Meminta waktu bicara empat mata dengan Damar di teras, yang baru saja berbicara di depan Papi dan Mami bahwa akan melamar di malam minggu besok.
Damar tersenyum santai. "Aku menjawab tantanganmu lho, Yang. Juga tantangan kakakmu. Pria sejati harus sat set. Ini aku buktikan."
__ADS_1
"Iya sih. Tapi...." sahut Cia yang terlihat kalut. Antara senang dan panik. Apakah persiapannya akan cukup.
"Jangan panik, Ayang." Damar menjawil dagu Cia. Kamu kan udah prepare konsepnya. Hanya tinggal bicarakan dengan WO. Biarkan orang lain yang bekerja."
Cia menatap Damar yang santai tanpa beban itu. "Hm, baiklah. Tantangan diterima." ujarnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Damar terkekeh dan geleng-geleng kepala. "Kamu kayak anak kecil. Padahal udah matang buat bikin anak." Ledeknya. Tak urung menautkan jari kelingkingnya sebagai tanda persetujuan.
...***...
"APA?!" Ratih terkejut menerima telepon malam-malam dari kakaknya. "Hais, kalian itu kebiasaan ya kalau bikin acara dadakan mlulu."
Ratna terkekeh-kekeh mendengar adiknya yang sewot. "Emang Damar barusan bicaranya. Dan Cia menyetujui. Pokoknya semua kostum untuk keluarga inti, Teteh percayakan sama kamu. Yang cowok pakai jas. Jadi Ratih cuma bikin gaunnya aja. Nggak perlu fitting. Ukuran masih sama seperti gaun waktu acaranya Rama. Dresscode warna greentea, ingat ya! Dan sabtu pagi keluarga Ciamis harus udah datang ke Jakarta." Jelasnya.
"Astaga, Teteh. Semua baju berarti harus beres jum'at dong. Ini mah harga mesti dua kali lipat." Ratih mendecak.
"Nggak masalah gratis juga." Ratna tertawa. Ia senang menggoda adiknya yang masih sewot itu. "Setelah acaranya Cia, bikin lagi gaun untuk di resepsi Rama. Jaga kesehatan ya. Teteh ingin semuanya hadir berbagi kebahagiaan. Besok pagi Teteh telepon Ibu lagi," pungkasnya mengakhiri panggilan dengan sang adik. Belum sempat bicara dengan Enin nya anak-anak, karena sudah tidur.
Waktu bergulir, hari berganti. Cia dan Mami Ratna terlihat paling sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk hari H. Venue sudah ditetapkan di ballroom hotel bintang lima dikawasan Jakarta Timur. Undangan digital sudah disebarkan. Sehari lagi, acara lamaran Damar dan Cia siap digelar.
Rama dan Puput juga disibukkan dengan foto studio untuk acara resepsinya. Acara akan lebih mewah di hotel bintang lima yang berbeda. Dengan mengundang tamu lebih banyak. Gaun pengantin dipesan dari butik Sundari, satunya lagi dari rumah mode langganan para selebritis.
Jarak lamaran Cia Damar ke resepsi Rama Puput hanya 10 hari. Rumah untuk tempat tinggal baru pun sudah dibeli. Sudah lengkap dengan furniturnya. Hanya tinggal menunggu hari pas untuk pindahan.
Dokter keluarga datang ke rumah untuk mengecek kondisi luka jahit Puput. Jum'at ini Rama sengaja berangkat ke kantor lebih siang, menemani dulu sang istri diperiksa.
"Sudah bagus, Bu. Udah nutup lebih cepat karena rajin mengoleskan salep ya. Hanya tinggal memudarkan bekas garisnya saja. Saya bawakan salep terbaik. Perut Bu Putri akan kembali mulus dalam waktu 4 minggu." Ujar dokter Petra dengan tersenyum ramah.
"Dok, kalau mau bercinta berarti dah aman, kan?" Rama bertanya tanpa malu. Sementara wajah Puput memerah dibuatnya.
Dokter Petra tersenyum simpul. "Boleh. Tapi pelan-pelan saja. Terutama Bu Putri nya, jangan banyak gerak."
"Good news, dok. Makasih." Rama tersenyum semringah. Mengantar sang dokter sampai ambang pintu kamar.
"Aa, ih. Malu-maluin pertanyaannya." Puput geleng-geleng kepala dengan pipi yang masih merona.
"Kenapa mesti malu. Pertanyaan penting itu, Neng. Lagian bertanya pada orang yang kompeten kok," sahutnya tanpa beban. Kemudian senyum-senyum sambil menangkup wajah Puput. "Yes. Malam ini kita anu." Matanya berkedip nakal.
Puput menggeleng. "Belum bisa. Aa harus tetap puasa. Seminggu lagi baru boleh."
"Aku akan pelan-pelan, Neng." Rama mulai mengecup bibir Puput.
"Akunya datang bulan, Aa."
Sontak Rama menghentikan aksi tangan yang sedang menggurita. "Becanda kan, sayang?"
__ADS_1
Puput menggeleng. "Baru pagi ini mulainya." Ia menahan tawa karena Rama melorotkan tubuh sampai terjengkang ke sofa. Lunglai kehilangan tenaga.