
Puput merasa belum ada kesempatan yang pas untuk berbicara dengan Rama tentang kedatangan Karenina ke rumah Mami. Saat di kantor siang tadi, sang suami terlihat serius mempelajari berkas. Ada kecurigaan penyelewengan dana. Beberapa kali tertangkap sudut mata, suaminya itu memijat-mijat kening.
Di rumah pun setelah makan malam, Rama masuk ke ruang kerjanya melanjutkan pekerjaan yang belum selesai saat di kantor.
Puput memaklumi kesibukan sang suami. Ia memilih bersantai di ruang keluarga di lantai dua sambil menyalakan televisi. Membuka ponsel mengecek pesan yang masuk.
[Put, makasih oleh-olehnya dah sampe]
[Suka banget deh 😘]
[Yang buat mbak Dwi sama Pak Hendra paling besok aku bawa sekalian ke kantor ya, Put]
Puput tersenyum mendapat pesan dari Via yang pulang kerja mampir ke rumah Ibu untuk mengambil oleh-oleh. Puput membalas dengan emoji acungan jempol.
Puput beralih menghubungi sang adik, Aul. Ingin tahu kabar kegiatan adiknya itu.
"Tadi aku ke rumah Enin ngambil oleh-oleh. Tadinya Kak Panji ngabarin di jalan mau nganterin sore. Tapi aku kasihan kan pasti cape nyetir. Jadinya aku duluan datang ke rumah Enin sebelum Kak Panji datang."
"Teh, aku ke sana nyetir mobil loh. Ngetes jalan. Kan ke rumah Enin tuh nanjak terus. Alhamdulillah lancar." Sambung Aul dengan riang.
Puput sampai menegakkan punggung mendengar antusiasnya Aul menceritakan pengalaman nyetir sendiri. "Memangnya udah tamat latihan nyetirnya?"
"Kata Kak Angga udah lulus. Tinggal bikin SIM. Kak Angga mau bantuin urus. Tapi aku tolak. Gak mau ketergantungan sama orang lain selama bisa dilakukan sendiri." Sahut Aul yang sedang berada di kamarnya.
Puput tersenyum lebar. Aul seperti dirinya yang menerapkan nasihat almarhum Ayah yang selalu mengajarkan kemandirian.
"Hallo, Teh?"
"Ya. Apa?" Sesaat Puput terlena dalam nostalgia bersama ayahnya dulu.
"Besok malam aku mau dinner sama Kak Panji. Kak Panji nagih utang waktu TOD." Aul tertawa di ujung telepon.
"Eh,, kirain udah dinnernya." Puput tak kalah terkekeh. Televisi yang menyala menayangkan drama Korea sama sekali tak menarik perhatiannya.
"Belum. Lagian aku sibuk kegiatan kampus. Kak Panji juga baru datang lagi ke Ciamis. Lama di Bandung." Jelas Aul.
"Kalo Pak Bagja gimana. Apa ada datang lagi?" Puput penasaran dengan perkembangan hubungan Ibu dengan Pak Bagja.
"Sampe hari ini sih belum ada datang lagi."
"Zaky ada di rumah?" Puput beralih menanyakan kabar adik laki-laki satu-satunya itu.
"Lagi pergi sama Ibu nganterin pesanan nasi kotak ke rumah Pak Yudi. Sekalian diundang hadir di acaranya. Syukuran beli mobil baru katanya."
"Apa?! Ya ampun, masih ada aja ya orang syukuran karena mau pamer. Hadeuh...." Puput geleng-geleng kepala.
Aul tertawa lepas. "Gak aneh, Teh. Di kampung itu mah emang orang-orangnya panasan. Yang penting mah order nasi kotaknya aja sama kita."
Tak terasa obrolan santai dengan sang adik sampai satu jam lamanya. Berakhir bersamaan dengan Rama yang datang menghampiri.
"Siapa, Neng?" Rama menatap Puput yang baru mengunci layar ponsel.
"Barusan teleponan sama Aul. Ngobrol santai aja." Puput memperbaiki posisi duduknya karena Rama membaringkan badan dan menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Besok weekend pengen kemana, sayang?" Rama memejamkan mata menikmati pijatan lembut tangan Puput di kepalanya.
__ADS_1
"Kalo Aa cape, di rumah aja gak apa-apa. Paling pagi-pagi aku pengen gowes. Aa bisa temani gak?"
"Hm, boleh juga. Pulang dari Turki belum sempat olahraga lagi. Udah kecanduan sama olahraga malam." tangan Rama mulai terulur membuka kancing piyama Puput. Mulai bersenang-senang di area dada.
Lagi-lagi Puput belum ada kesempatan membicarakan tentang Karenina. Khawatir mood Rama yang kini on fire berubah buruk. Ia pasrah dituntun suaminya itu berpindah ke kamar dan menguncinya.
...***...
Ciamis
Panji bersiap ke rumah Ibu Sekar. Malam minggu ini akhirnya berkesempatan makan malam dengan Aul. Pamit pada Bunda dan Enin yang sedang duduk bersama di ruang makan. Jujur mengatakan akan makan malam di luar bersama Aul. Tidak ada larangan. Yang ada malah dukungan.
"Kita makan dimana, Aul?" Ucap Panji saat sama-sama sudah masuk ke dalam mobil. Ibu Sekar mewanti-wanti agar jangan pulang larut malam.
"Terserah Kak Panji aja." Aul mengangkat bahu. Sama sekali tidak punya opsi.
"Di cafe yang dekat taman kota aja gimana? Pernah sekali ke sana. Tempatnya cozy."
"Oke, Kak." Aul mengangguk setuju.
Malam mingguan bukan sebagai pasangan kekasih. Tapi tak apa. Panji memanfaatkan momen kebersamaan ini dengan berbagi cerita keseharian masing-masing. Sambil menunggu pesanan, ia menunjukkan foto yang ada di layar ponselnya.
"Ini siapa, Kak?" Aul mengamati foto selfie Panji dengan anak gadis cantik yang mengenakan jilbab krem.
"Itu adik aku. Namanya Padma. Duo P. Panji dan Padma." Ucapnya bangga.
"Adik?!" Aul bertanya dengan nada heran. Menatap Panji dengan sorot mata mengharapkan penjelasan.
"Aku punya satu adik, beda ibu. Selama ini tinggal di Jogja berdua dengan Ayah. Kini mereka pindah ke Bandung. Tinggal satu komplek dengan aku."
Aul menyimak sambil menatap Panji dengan serius.
"Dan sekarang aku sedang membuktikan diri sebagai kakak yang baik. Tiap pagi aku selalu mengantar Padma ke sekolah. Dia juga sudah dua kali tidur di rumahku. Ini sungguh pengalaman baru yang excited."
"Aku sayang sama Padma. Aku kagum sama Ayah yang bisa mendidik Padma jadi hafiz Qur'an. Padma sudah hafal juz 29 dan 30." Pungkas Panji dengan senyum semringah.
"MasyaAllah. Padma kelas berapa, Kak?" Aul takjub. Menatap ulang foto Padma di ponsel Panji.
"Kelas lima. Usianya 10 tahun."
Aul manggut-manggut. "Ajak ke Ciamis dong Kak. Aku pengen kenal deh." ujarnya sungguh-sungguh.
"Iya nanti. InsyaAllah bulan depan kan ada jum'at tanggal merah. Jadi libur panjang aku akan ajak ke Ciamis. Tapi Padma nginep di rumah Aul boleh gak? Bunda memang sudah pernah ketemu sama Padma. Tapi aku takut Padma belum bisa diterima di rumah Bunda."
"Boleh, Kak. Nanti Padma bisa tidur di kamarku. Ibu juga gak akan keberatan." Aul berkata yakin. "Tadi Kak Panji bilang Padma tinggal berdua sama Ayah. Kalau boleh tahu. ibunya dimana?"
Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan. Membuat obrolan terjeda sejenak.
"Ada kisah masa lalu yang menyebabkan Bunda menggugat cerai Ayah." Panji menyambung lagi percakapan. Tidak segan berbicara terbuka kepada Aul. Menceritakan semuanya, apa yang menjadi bagian dari kehidupannya yang harus diketahui oleh gadis yang diharapkan kelak menjadi pasangannya itu.
"Padma tanpa Ibu. Aku tanpa Ayah. Kita sama-sama korban. Dan aku berharap kisah masa lalu itu ditutup. Berganti lembaran baru. Ayah sama Bunda bersatu lagi." Pungkas Panji mengakhiri ceritanya.
"Semoga, Kak. Aku dukung niat baik Kak Panji. Kalau perlu bantuan aku, bilang aja ya!" Aul menatap lembut.
Panji mengangguk dan tersenyum. Senang sekali mendapat dukungan dari Aul.
__ADS_1
...***...
Hari terus bergulir. Seminggu telah berlalu. Aktifitas terus berjalan sesuai dengan rutinitas masing-masing.
Aul baru saja keluar meninggalkan kampus bersama empat kawannya dengan membawa motor masing-masing. Tujuannya adalah sebuah cafe yang direkomendasikan oleh Farah. Beriringan motor memasuki kawasan parkiran cafe.
"Pesen apa kita?" Selvy lebih dulu melihat buku daftar menu yang tersimpan di meja.
"Harga yang sesuai dengan dompet anak kosan lah. Mie rebus pake telor ada?" Ucap Reno tanpa beban. Sontak mendapat toyoran Hamish yang duduk di sampingnya.
"Bikin malu aja lo. Ini cafe keren gini disamain sama warteg." Hamish mendelik. Membuat trio gadis mentertawakan tingkah mereka.
"Hari ini spesial aku yang traktir kalian. Makan sekenyangnya tapi maksimal 70 ribu per orang ya. Jangan lupa tujuan utama kita ngebahas project." Aul menengahi pertikaian Reno dan Hamish yang masih saling ejek dan saling toyor.
"Terbaik bestie kita ini." Kompak Reno dan Hamish sambil mengacungkan dua jempol.
"Aseeek. Beda nih yang abis dapat order 500 box nasi kotak dari kapolsek. Kita kecipratan rejeki." Sahut Farah tak kalah senang.
"Hehe. Alhamdulillah. Tapi ini mah rejeki dari yang lain. Kemarin dikasih uang jajan sama Enin." Aul tersipu malu. Kemarin sore ia menginap. Menemani Enin karena Bunda Ratih berangkat ke Jakarta untuk urusan kerja. Bisa dibilang setiap Bunda Ratih ke luar kota. Maka ia akan menemani neneknya Panji itu.
"Enin yang mana? Kamu kan udah gak punya nenek dari ayah ibu." Ujar Reno menatap dengan rasa ingin tahu.
"Enin ketemu gede ini mah. Neneknya Kak Rama itu, kan?" Selvy paling tahu karena dia pernah diajak Aul mampir main ke rumah Enin. Dijawab Aul dengan anggukkan.
"Sudah-sudah, simpen hapenya. Kita mulai bagi-bagi tugas buat di festival kuliner." Aul mengajak semuanya serius. Mereka berlima sepakat akan ikut serta berjualan di festival kuliner dalam satu brand hasil kolaborasi. Mengusung tema jajanan angkringan.
Aul menuju kasir setelah satu setengah jam lamanya berdiskusi sambil menikmati makan.
"Nomer 25. Berapa semuanya, Teh?" Aul mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.
"Atas nama Aulia?" Tanya kasir memastikan.
Aul mengangguk. "Iya."
"Free, Teh. Tidak usah bayar." Petugas kasir tersenyum.
"Loh. Kenapa free? Cafe lagi ultah?" Aul beralih menatap sekeliling. Tapi ia sama sekali tidak menemukan atribut tema ulang tahun.
"Bukan, Teh. Ini free dari boss." Jelas petugas kasir tersenyum ramah.
Aul mengerutkan kening. Ia baru pertama mengunjungi cafe yang berada di wilayah Tasik ini. Juga tidak tahu siapa pemiliknya. "Nama bossnya siapa, Teh?"
"Itu.....di meja dekat air mancur."
Aul mengikuti arah pandangan petugas kasir yang menunjuk dengan dagu.
...****************...
Ada beberapa komen. Cerita RamPut sekarang garing, gak dapat feelnya, jadi kayak sinetron, makin ngaco, lebih menarik cerita pigurannya.
Saya baru jawab sekarang dan sengaja disini agar dibaca semua orang. Ini KCM sudah musim kedua, semoga pembaca tidak lupa. Roller coaster RamPut udah lewat. Sekarang masa manis-manisnya awal pernikahan. Dan waktunya cerita semua piguran muncul dan diselesaikan. Dan semua clue ini udah saya umumkan di bab-bab terdahulu.
Saya tetap bertanggung jawab menyelesaikan cerita KCM. Meskipun merasa terusik konsentrasi dengan adanya komen seperti itu. Harap sabar jika update melambat karena inspirasi menuju akhir cerita itu makin sulit.
Last but not least, terima kasih untuk semua pembaca yang masih setia membersamai KCM dengan segala bentuk dukungannya.
__ADS_1
Big hug and love 🤗 ❤️