Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
134. Best Bro Forever


__ADS_3

Krisna mengendorkan dasinya, berjalan didampingi asisten Johan menuju ruang kerjanya lagi. Baru selesai meeting dengan direksi hampir dua jam lamanya.


Ponsel Krisna berdering saat baru saja menyimpannya di meja. Menampilkan nama Panji. Percakapan jarak jauh itu berakhir dengan kesepakatan bertemu satu jam lagi di ruangannya.


Krisna termenung dengan kening mengkerut. Jarang-jarang Panji ingin bertemu di kantornya. Apalagi yang akan dibahas adalah masalah keluarga, katanya. Berapa kali memeras otak pun ia tidak bisa menebak masalah apa. Rasanya keadaan keluarga besar baik-baik saja tidak ada masalah.


"Johan, kabari Dila. Kalau datang Panji langsung suruh masuk aja!" Ucap Krisna saat Johan akan keluar dari ruangannya. Dila adalah sekretaris Krisna.


"Baik, Pak." Johan mengangguk patuh.


Krisna merebahkan punggung ke sandaran kursi kebesarannya. Melirik figura dua sekat yang selalu setia terpajang di meja sebelah kanannya. Yang menjadi moodboster utama dikala mumetnya menghadapi masalah pekerjaan. Sekat kiri adalah fotonya dengan sang istri. Sekat kanan adalah foto keluarga saat liburan di Jerman. Wajah anak istri yang semuanya tersenyum itu adalah aset yang paling berharga dalam hidupnya. Melebihi apapun.


Menghitung hari menuju Desember, Krisna akan menjadi wali nikah untuk putri satu-satunya, Citra Adyatama. Ah, belum apa-apa, masih jauh waktu, namun keharuan mendesak di dada, matanya sudah berkaca-kaca. Ia menarik sudut bibirnya.


Kilas balik mengingat akad nikah Rama dan Puput. Mengingat Zaky yang tegang saat akan menjadi wali nikah. Mengingat bagaimana tatkala Puput dan Zaky berpelukan penuh derai air mata. Prosesi sungkeman yang mengharu biru karena teringat akan almarhum ayah mereka.


Krisna menghela dan menghembuskan nafas panjang. Hari esok adalah misteri. Namun ia berharap, memohon pada Yang Kuasa, merendahkan diri di setiap sujud terakhir. Berharap masih dipanjangkan umur. Ingin bisa menyaksikan dan menjadi wali nikah untuk sang putri tersayang. Melaksanakan tugas terakhirnya sebagai seorang ayah. Karena tanggung jawabnya nanti akan berpindah pada Damar.


Krisna mengusap wajah. Suasana syahdu yang diciptakannya malah membuat hati sesak oleh keharuan. Ia meneguk segelas air putih sampai tandas.


Masih ada berkas yang harus diperiksa. Namun mood nya sedang turun. Sejenak ia abaikan. Waktu pulang masih dua jam lagi. Lebih baik menunggu waktu kedatangan Panji dengan menghubungi istri tercintanya.


"Mih, lagi dimana?" Krisna mengerutkan kening mendengar suara gemericik air di ujung telepon.


"Mami lagi spa. Tadi abis dari rumah Bu Retno, diundang ke aqiqah cucunya. Terus badan Mami agak pegal-pegal gitu. Jadinya mampir dulu ke spa. Ini lagi berendam abis dipijat." Jelas Ratna.


"Nanti malam giliran Papi yang Mami pijat ya!" Seringai penuh arti terbit di wajah Krisna.


"Jangan nanti malam lah, Pih. Kalau abis spa tuh bawaannya pengen males-malesan." Sahut Ratna.


"Oh, ya udah. Papi dipijat di spa aja kalo gitu. Pulang kantor Papi mau mampir dulu ke Heaven Spa. Papi bakal pulang malam."


"Eh, TIDAK-TIDAK! Iya nanti Mami pijitin. Jam lima Papi sudah harus ada di rumah. AWAS!"


Krisna tertawa tanpa suara. Mendengar nama Heaven Spa, istrinya seperti kebakaran jenggot. Spa khusus pria dengan terapis wanita seksi itu klub tersembunyi, khusus bagi pria berkantong tebal, yang ingin mendapatkan servis pijat plus-plus dengan fasilitas bintang lima.


"Papi, ih. Malah diem." Terdengar Ratna yang merajuk.


"Iya Mami sayang. Papi pulang jam lima. Nanti pijatnya pakai baju seksi ya!" Krisna tersenyum miring. Yang tentu saja tidak akan terlihat oleh Ratna.


"Papi ih, geli dengernya. Udah tua ah malu." Ratna terdengar memelankan suaranya.


"Yang tua cuma hitungan angka aja. Casing Mami masih muda. Masih singset. Ngapain Mami perawatan kalo disembunyikan body seksinya dari Papi. Nanti malam Papi mau periksa hasil Spa Mami."


"Astaga. Papi udah mau jadi Aki masih aja mesum." Ratna berdecak. Padahal wajahnya sedang merona. Dalam hati bermekaran bunga-bunga indah mendapatkan pujian suaminya itu. Ia memang sengaja merawat diri untuk sang suami.


Krisna terkekeh. Suara ketukan di pintu membuatnya mengakhiri obrolan.


...***...

__ADS_1


"Kapan datang ke Jakarta, Nji." Krisna menyambut sang keponakan yang mencium tangannya dengan pelukan hangat khas pria. Mengajaknya duduk di sofa.


"Tadi jam 10, Om. Panji menghadiri opening outlet baru mewakili Bunda." Panji duduk di sofa yang sama dengan Krisna.


Obrolan santai bergulir menjawab keingin tahuan Krisna tentang perkembangan butik Sundari yang pelan tapi pasti membuka gerai-gerai baru di berbagai kota. Tak terpengaruh dengan rivalitas. Butik Sundari tetap jaya karena punya ciri khas tersendiri.


"Om, Panji ke sini mau tanya soal Ayah." Panji mulai masuk pada tujuan utama.


Krisna menaikkan satu alisnya. Ia menunggu kelanjutan ucapan keponakannya itu.


"Setahu Panji, dulu Om sama Ayah deket ya. Apa sampai sekarang masih berkomunikasi?"


Krisna mengatupkan bibir sejenak.


"Terus terang, iya. Tapi Om gak pernah cerita sama siapapun kecuali sama istri Om sendiri. Kita tetap menjalin silaturahmi. Putus hubungan ipar tidak lantas putus hubungan pertemanan."


"Bahkan waktu acara lamaran Cia dan resepsi Rama, Om juga ngundang ayahmu. Tapi dia gak mau datang karena takut merusak mood bundamu."


Panji menyimak sambil manggut-manggut.


"Apa Ayah pernah curhat soal alasan dulu nikah lagi?" Tanya Panji menatap Krisna yang berubah mengerutkan kening.


"Kenapa Panji ungkit masalah lama yang tidak mungkin bisa diubah lagi?" Krisna berusaha bijak.


"Karena Panji dan Ayah udah baikan. Ayah sekarang tinggal satu komplek dengan Panji. Katanya Ayah dan Padma sengaja pindah, ingin dekat sama Panji, Om. Ayah udah cerita soal kehidupan masa lalunya." Jelas Panji.


"Siapa Padma?!" Krisna penasaran.


Krisna manggut-manggut. Ia hanya tahu jika Anjar memiliki anak perempuan. Namun tidak tahu namanya.


"Dulu, sebelum kejadian itu, Ayah Anjar pernah curhat sama Om. Soal keinginannya ingin nambah anak, tapi ternyata bundamu mengulur-ngulur waktu sampai bertahun-tahun. Hingga akhirnya memutuskan tidak mau nambah anak. Ayah Anjar kecewa berat. Tapi untuk berkata tegas dan keras sama bundamu tidak berani. Ayahmu memilih diam dan membuat keputusan sendiri. Menikahi seorang janda mati demi mewujudkan ambisinya ingin menambah anak."


"Apa yang diucapkan Om ternyata sama dengan cerita Ayah." Panji membuat kesimpulan. Ia menghembuskan napas panjang.


"Baguslah kalau Ayahmu udah cerita. Dulu, bundamu selalu tutup kuping setiap Anjar mau menjelaskan alasannya. Bagi bundamu, Anjar dianggap pengkhianat. Tidak ada kata maaf. Cerai menjadi keputusan yang tidak bisa diganggu gugat." Krisna menatap Panji yang tercenung.


"Sekarang sudah tidak penting lagi menghakimi siapa benar, siapa salah. Masa lalu adalah takdir yang sudah tidak bisa diubah. Ini bisa jadi pelajaran buat Panji kelak jika berumah tangga. Kegagalan yang dialami orangtua jangan sampai terulang oleh Panji. Komunikasi dan kedewasaan harus jadi kunci agar masalah apapun bisa diselesaikan dengan sama-sama mencari jalan keluar terbaik. " Sambung Krisna dengan petuahnya sebagai orang yang pernah mengalami ujian besar dalam pernikahannya.


"Om benar. Dan sekarang ini Panji punya ekspektasi tinggi, ingin Ayah dan Bunda rujuk."


"Asal Om tahu. Bunda udah mau nerima ajakan Ayah dinner dua hari yang lalu." Lapor Panji.


"Oh ya?!" Krisna menatap tak percaya.


Panji mengangguk. "Panji duduk dengan Bunda. Ayah duduk dengan Padma. Meskipun Bunda masih kaku, lebih banyak diam, tapi Panji senang bisa berkumpul seperti keluarga utuh."


"Om, Panji udah sayang sama Padma sejak pertama kali dikenalkan Ayah. Gak nyangka selama ini Ayah udah mengenalkan Panji pada Padma meski lewat foto."


"Panji jadi nyesel selama ini udah jahat sama Ayah. Suka nolak setiap Ayah minta bertemu Bukan karena benci tapi Panji kesal aja kenapa harus jadi anak broken home." Raut wajah Panji penuh penyesalan.

__ADS_1


Krisna menyimak tanpa menanggapi.


"Kalo Ayah udah jujur sama Panji pengen balikan lagi dengan Bunda. Tapi Panji belum bisa meraba hati Bunda gimana." Keluh Panji diiringi hembusan nafas berat.


"Sabar, nak. Wanita itu jenis makhluk halus. Selalu mengedapankan rasa bukan logika. Jadi harus main cantik buat luluhin egonya." Krisna memberi motivasi.


"Om ada saran buat luluhin hati Bunda?" Panji menatap penuh harap.


"Hm, Panji boleh coba. Kita hanya berusaha. Hasil akhir serahkan sama Allah yang Maha membolak-balikan hati." Krisna meminta Panji maju. Padahal tidak ada orang lain yang menguping. Tapi ia memilih membisikkan ide ke telinga keponakannya itu.


(Yang suka kepo mah readers 🏃🏃 )


Panji tersenyum lebar. Binar asa berkilat di kedua bola matanya.


"Makasih, Om. Sekarang Panji mau ke ruangan Ka Rama dulu." Panji bangun dari duduknya dengan semangat.


"Mau nginep di mana, Nji?" Krisna menatap Panji yang menggulung lengan kemeja sampai sikut.


"Di rumah Kak Rama aja, Om. Tadi Kak Rama udah nawarin."


Krisna menatap punggung Panji yang melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.


Krisna beralih duduk di kursi kebesarannya lagi. Menempelkan ponsel ke telinga menunggu panggilan tersambung.


"Hallo, Bro!" Ucap suara di sebrang sana terdengar riang.


"Barusan adik lo dari kantor gue." sahut Krisna dengan nada serius.


"Adik pala lo. Gue anak tunggal. Serius ada siapa?"


Krisna tertawa lepas mendengar suara Anjar yang sewot.


"Lo tebak dah." Seringai jahil terbit di wajah Krisna.


"Awakmu ojo kakehan kode, Kris. Gue udah tua. Sirahku mumet."


Lagi-lagi Krisna tertawa puas sudah membuat Anjar makin sewot.


"Sampeyan mumet karena yang bawah mampet. Hahahaha." Tawa Krisna membahana ke seisi ruangan.


"KRISNA! SEKALI LAGI LO MAIN-MAIN, GUE SURUH ORANG LEMPAR BOM MOLOTOV KE RUANGAN LO!" Sarkas Anjar yang sudah tidak sabar dengan jawaban Krisna.


Krisna mendecak. "Otakkmu beneran dah tumpul ini mah. Siapa lagi wajah yang mirip sama lo kalau bukan Panji."


"Anakku datang?!" Anjar memekik tak percaya. "Alhamdulillah....akhirnya dia datang padamu juga. Bahas rujuk kan, Bro?"


"Iya. Buah kesabaran selama ini. Kamu udah hijrah jadi manusia lebih baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Pintu hati anakmu terbuka dengan sendirinya mau menerima kehadiranmu sama putrimu. Aku udah janji sama Panji akan bantu mempersatukan ayah bundanya lagi." Krisna beralih berkata serius.


"Matur nuwun saget, Kris. Kamu memang best bro forever."

__ADS_1


Krisna menyimpan ponselnya. Tersenyum simpul dengan otak yang berputar dipenuhi rencana. Berharap misinya berhasil. Bahagia harus jadi milik semua orang.


Krisna beralih menatap jam di pergelangan tangannya. Tersenyum tipis. Sudah waktunya pulang. Malam ini sungguh-sungguh membutuhkan pijat plus-plus.


__ADS_2