
Ratna menyaksikan dengan jelas dan pasti kembalinya sikap sang suami seperti dulu lagi. Hari-hari berada di kampung halaman, Krisna selalu siaga menemani Ibu jalan-jalan pagi. Rutinitas yang selalu dilakukan Ibunya setiap hari jika cuaca mendukung. Untuk menjaga kebugaran dan kesehatan di usia yang sudah senja itu. Menemani Ibu berbincang ataupun menonton televisi tanpa menunjukkan rasa bosan. Krisna juga memanjakan Ibu dengan menawarkan liburan atau apapun yang diinginkan atau ingin dibeli.
Meski sudah memaafkan atas ketidakjujuran sang suami, Ratna hanyalah manusia biasa. Ganjalan di hati masih ada. Namun tidak memperlihatkannya. Rasa penasaran menggelitik. Ingin tahu dengan sosok perempuan yang bernama Kartika.
"Rama, mau kemana?!" Ratna berpapasan dengan si sulung yang baru keluar dari kamar. Mengenakan polo shirt hitam dan celana jeans biru. Sudah rapih dan fresh, bersiap pergi.
"Mau ke reuni SD, Mam. Ada reuni akbar 10 angkatan, aku pengen hadir...kangen ketemu teman lama." Rama menyisir rambut belakang telinga dengan jarinya. Memastikan rambut pendeknya sudah rapih paripurna. Dresscode atasan warna hitam membungkus tubuh atletisnya.
Mami Ratna mengangguk-anggukkan kepala. "Besok kalau santai, anter Mami pergi ya!" pintanya dengan serius.
"Oke. Mami mau pergi kemana?!" Rama menatap dengan kedua alis bertaut.
"Besok aja dikasih tahu. Tapi awas jangan bilang sama Papi!" ujar Ratna setengah berbisik.
Rama beralih mengerutkan kening heran. Ingin bertanya lagi namun mami telah berlalu setelah menepuk bahunya. Hanya bisa mengangkat bahu.
"Kak, Kak Damar mau kesini. Tadi jam 7 udah berangkat." Cia yang muncul dari halaman belakang, mensejajari langkah Rama yang baru membuka pintu utama.
"Oh ya?! Kemarin teleponan, dia gak confirm." Rama mengarahkan remote mobil Pajero dari teras, menekan tombol unlock.
"Karena belum pasti kali. Sekarang udah fix berangkat. Kak Damar mau jemput aku buat ketemu Adit di Jakarta. Karena Adit gak bisa nemui aku di sini. Kak Damar mau bantu ngasih surprise, katanya." Cia memperlihatkan keriaannya di hadapan kakaknya itu. Terus mengekori langkah sang kakak yang mengambil sepatu di rak penyimpanan.
Rama termenung sejenak. Penjelasan Cia soal Adit harus dicerna dengan seksama. Namun sekarang waktunya tidak banyak. Acara reuni akan dimulai jam 9 pagi. Berarti sisa waktunya 20 menit lagi. Hanya menganggukkan kepala sebagai respon.
Rama berjongkok di teras untuk mengenakan sepatu sneaker warna dark grey - white dengan logo centang. Salah satu koleksi sepatu merk favorit yang menjadi penyempurna penampilan casualnya. "Kakak pergi dulu. Mau reunian."
"Oke. Have fun, Kak!"
Cia berinisiatif menutup kembali pintu gerbang begitu mobil sang kakak keluar. Mang Jaja masih libur lebaran sampai hari sabtu.
"Cia, jangan dulu ditutup!" Panji berteriak dari teras. Pemuda 24 tahun itu sudah rapih dengan outfit celana chino krem dan kemeja slimfit warna putih yang lengannya digulung sampai sikut.
"Mau kemana sih, pagi-pagi dah gaya gitu." Cia urung menutup pintu. Mendekat dan menilik penampilan sepupunya itu dengan seksama.
"Mau nganterin motor ke rumah Aul." Panji duduk di kursi. Memakai sepatu slip on warna coklat yang tadi ditentengnya.
"Haisss....keluarga pada modus kabeh." Cia berkacak pingggang sambil mencebikkan bibir.
"Namanya juga usaha." Panji menaik turunkan alisnya. Berdiri merapihkan ikat pinggang berlogo LV. Bersiap menuju motor yang ada di dalam garasi.
"Eh tunggu!" Cia menahan bahu Panji yang akan melewatinya.
"Bawa tentengan apa ke sana?!" Cia memperhatikan sekitaran kursi. Tidak ada apa-apa.
"Gak bawa apa-apa. Kenapa?!" Panji balik bertanya dengan raut heran.
"Kalau mau modusin jangan tanggung. Bawa oleh-oleh yang bikin Ami senang. Nanti kamu bakal diclaim pacarnya Aul oleh Ami kalau kamu ngasih pelicin sama dia." Cia memberi nasehat sesuai pengalaman selama ini sebagai agen modus Rama.
__ADS_1
"Masa sih?!" Panji terkekeh. Antara tidak percaya sekaligus senang. "Oh, waktu aku ngasih THR, si Ami langsung ngundang main ke rumahnya," ia mulai percaya dengan ucapan Cia.
"Nah itu buktinya." Cia menyahut cepat. Ia menyuruh Panji memesan pizza dan donat madu via go food sebelum berangkat.
.
.
Memasuki kawasan Cikoneng, radius 500 meter sebelum melewati rumah Puput, Rama menurunkan laju kecepatan mobil. Tersenyum sendiri mengingat momen senja kala lebaran. Terbayang lagi wajah Puput yang merona merah dan salah tingkah kerena grogi di rumah pohon. Sebagai pria dengan pengalaman percintaan serta pergaulan yang luas di berbagai kalangan, ia menebak dengan yakin jika hati Puput sudah tersentuh oleh pesonanya.
Rama menambah volume player musik begitu lagu list berikutnya mengalun lagu Ari Lasso - Rahasia Perempuan. Mengetuk-ngetukkan jari di stir kemudi sebagai bentuk menikmati lagu saat lirik memasuki reff. Lagu yang mewakili usahanya mendekati si mojang Ciamis saat ini.
Sentuhlah dia tepat dihatinya
Dia kan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan setulus cinta
Buat hatinya terbang melayang
Rama menolehkan wajah begitu mobil tepat di di depan rumah Puput. Sekilas mengamati suasana luar rumah sepi. Pintu gerbang setinggi 180 cm itu tertutup rapat.
Oke, Puput. Sampai kapan kamu akan terus menyangkal rasa yang sudah tumbuh. Aku akan ikuti alurnya....
Rama menancap gas setelah memastikan sosok Puput tidak nampak di luar rumah.
Tiba di gedung tempat acara, panitia menyambutnya di ambang pintu masuk dengan sukacita. Apalagi Rama menjadi donatur terbesar yang menutupi kekurangan anggaran penyelenggaraan acara reuni tersebut. Lalu beralih berbaur dengan teman-teman lama yang sekitar 70 persen dari angkatannya hadir.
...***...
Spanduk besar terbentang di depan pintu masuk. Puput berjalan santai dengan mengenakan outfit tunik berwarna pink muda dengan pasmina warna coklat susu senada warna celana kulotnya. Sebagian kecil orang masih berdatangan. Kemungkinan acara sudah dimulai karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.
...Selamat Datang...
... Reuni Tepang Sono Alumni SD Pitaloka ...
...Angkatan 1997 - 2007...
Setiap angkatan sudah dikonfirmasi lewat grup chat memakai dresscode yang berbeda. Alumni angkatan Puput memakai warna merah muda. Sehingga Puput tidak susah mencari posisi teman seangkatannya begitu masuk ke dalam gedung. Benar saja, acara sudah dimulai. Nampak ketua panitia tengah memberi sambutan disela keheningan yang sejenak tercipta karena semua atensi mengarah ke atas panggung.
"Hai....Puput!" Teman-temannya sontak memekik tertahan begitu Puput mendekati kerumunan genk pingky. Ada sekitar 20 orang dari angkatannya yang hadir.
Puput bersalaman dengan teman-teman pria, bercipika cipiki dengan teman-teman wanita. Berbicara dan saling bertanya kabar dengan volime rendah agar tidak mengganggu jalannya sambutan yang masih berlangsung.
"Put, pangling euy. Makin cantik aja. Sejak lulus SD gak ketemu lagi. Berapa tahun ya....?!" Roy dengan wajah semringah mengamati penampilan Puput sambil geleng-geleng kepala. Tersirat kekaguman di wajahnya. Ia setelah lulus SD berpindah-pindah kota mengikuti orangtuanya yang dimutasi oleh kantor. Dan kemudian menetap di Bali sampai sekarang.
"Lah itung aja sendiri." sahut Puput santai.
__ADS_1
"Awas Put, buaya darat dia mah." Sahut Selly yang dibalas tawa oleh teman lainnya.
Puput kemudian menempelkan telunjuk di depan bibir. Meminta teman-temanya untuk berhenti mengobrol dan becanda. Mengaminkan dulu do'a yang tengah dipimpin seorang alumni angkatan 1997, yang mengenakan dresscode putih.
Acara puncak yang dinanti dalam setiap reuni adalah makan dan hiburan musik. Personel band mulai menaiki panggung. Bersiap memberi persembahan. Menemani para peserta yang riuh berbincang penuh canda tawa sambil menikmati sajian makanan catering.
Semua warna baju mulai berbaur dalam antrian prasmanan. Ada putih, biru, hitam, oren, pink, dan warna lainnya.
"Put, makan yuk. Tenang...gue kawal. Bahaya ini gadis cantik kalau gak dikawal bisa jadi incaran senior. Mana mereka kebanyakan dah pada punya buntut." ucapan Miller yang bergaya slengean disambut tawa lepas dua orang lainnya.
Pulut geleng-geleng kepala. Trio slengean itu sepertinya tetap menyebalkan. Mereka sejak SD paling nakal di kelas. Suka mengintip rok siswi memakai kaca serutan pensil. Hanya kepada Puput mereka tidak berani. Karena Puput pernah menghajar Miller dengan jurus silat saat teman sebangkunya menangis karena diintip rok oleh trio slengean itu.
"Aku masih kenyang. Sok aja duluan---" Tolak Puput. Beralih mengamati lalu lalang orang. Saling sapa dengan orang-orang beda angkatan yang dikenalnya.
Musik mulai dimainkan. Lagu pembuka berjudul Laskar Cinta milik Dewa 19 mulai menghentak. Adi sebagai vokalis band Axel mulai unjuk suara emasnya. Sebagian orang mulai merapat ke depan panggung untuk berjodet. Termasuk trio slengean yang urung mengantri prasmanan. Berlari ke arah depan panggung. Mulai berbaur berjoget dengan happy.
"Put, udah punya buntut berapa?!" Linda duduk di kursi bekas Miller. Pandangan dari sana bisa lurus menonton aksi panggung.
"Aku belum nikah. Kamu udah ya?!" Puput balik bertanya kepada temannya yang tinggal di Bandung itu.
"Udah. Dua kali malah." Jawab Linda sambil tersipu. "Kemungkinan bakal udahan lagi ini juga. Pernikahanku hambar...gak bahagia."
Puput mengatupkan bibir. Bingung. Teman seangkatannya itu mulai sesi curhat dan minta sarannya. Padahal ia nol pengalaman berumah tangga. Ingin menghindar pergi tapi takut tersinggung.
"Sudah dua persembahan lagu yang kami haturkan. Sekarang saatnya memanggil teman duet. Teman duetku ini adalah alumni SD Pitaloka juga. Dia adalah alumni berbaju pink. Coba tebak ada yang tau nggak....."
Puput seolah mendapat angin segar. Ia menahan Linda yang akan berucap lagi. Meminta sama-sama memusatkan perhatian ke arah panggung saat vokalis berbicara. Tidak menyangka Adi memanggilnya dengan cepat. Nervous tentu saja ada. Sekitar 200 orang memenuhi gedung graha yang berkapasitas maksimal 350 orang itu.
"Kami panggilkan.....PUTRI KIRANA!" Suara Adi terdengar lantang diiringi tepukan tangan sebagian penonton di bawah panggung.
...***...
Rama memilih memojok bersama teman-temannya melanjutkan perbincangan yang terpotong saat acara pembukaan. Agak jauh dari panggung agar tidak terlalu terganggu dengan tingkah orang-orang yang berjoget heboh karena disawer oleh alumni lain dari atas panggung.
Mendadak terkejut mendengar suara vokalis memanggil rekan duet yang namanya familiar di telinga.
Putri Kirana yang mana ya?!
Rama memgerutkan kening. Di angkatannya tidak ada teman bernama Putri Kirana. Menduga-duga dengan badan yang tiba-tiba menegang. Mungkinkah dia...
"Putri Kirana alias Puput ada dimana ya?! Ditunggu di atas panggung." Suara vokalis yang memanggil untuk kedua kalinya, sontak membuat Rama berdiri tegak. Tanpa pamit meninggalkan teman-temannya yang keheranan bahkan berseru memanggil namanya.
Rama acuh. Spontan melangkah mendekat dengan tatapan mengunci pada punggung perempuan berbaju pink yang melangkah menuju panggung dengan dikawal dua orang pria berkemeja pink pula. Langkahnya terhenti di tengah kerumunan orang yang merangsek maju untuk menonton. Deg-degan menunggu perempuan berbaju pink dan berhijab yang tengah berdiskusi dengan vokalis dalam posisi memunggungi penonton. Menegang karena tidak sabar ingin melihat wajah rekan duet vokalis itu menghadap ke depan.
"Astaga....Puput!" Mata Rama membelalak sempurna melihat wajah cantik dengan senyum terkembang yang begitu luwes menyapa seluruh peserta alumni.
...***...
__ADS_1
Bestie....saweran kembang dan kopi lah.....💃
Giliran Rama yang akan mangap nih kayaknya. Melihat Puput mau tampil di panggung. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️