
Jam pelajaran pertama tengah berlangsung. Pintu ruangan kelas XI jurusan Teknik Gambar Bangunan diketuk. Guru menghentikan penjelasannya dan melangkah menuju pintu.
Fokus semua murid teralihkan pada kedatangan seorang guru bersama sang bintang anak akuntansi, Clarissa. Suit-suitan murid laki-laki karena kedatangan anak pak camat itu yang juga terkenal suka rusuh. Banyak murid laki-laki yang mengejar ingin menjadi pacarnya. Namun semua anak kelas XI pun tahu, jika sang bintang terobsesi terhadap Zaky.
"Zak, makmum lo tuh!" Fatur menyikut lengan Zaky yang hanya menoleh sekilas ke arah Clarissa lalu beralih menunduk menekuri buku. Sejak mengintip isi surat kecil dari Clarissa waktu pemilihan bangku, Fatur dan Ibeng menjadi punya bahan untuk menggoda Zaky dengan istilah makmum dan imam. Meski harus berbuah sepakan kaki atau toyoran dari sahabatnya itu.
"Zaky, bereskan bukumu. Kamu boleh pulang!" Ucap Pak Sofyan membuat Zaky menegakkan punggung karena terkejut.
"Kenapa, Pak? Saya dihukum?" Zaky mengernyit heran menatap gurunya itu.
Pak Sofyan menggelengkan kepala. "Nanti dijelasin di ruang guru ya. Sekarang beresin saja dulu bukumu!"
"Aku bantu beresin ya." Tanpa canggung, Clarissa masuk ke kelas yang mayoritas muridnya adalah laki-laki. Sehingga kelas menjadi riuh dengan sorakan dan godaan "Cie-cie".
"Rissa!" Zaky protes. Menahan tangan Clarissa yang membereskan bukunya dengan cepat.
"Sst, dah diem. Kamu lelet sih. Kamu tuh harus pulang sekarang juga. Teh Aul telpon aku. Kenapa hapemu mati sih. Buruan keluar!" Dengan percaya diri Clarissa melenggang keluar menggendong tas Zaky sambil melambaikan tangan dan menebar senyum pada semua anak TGB itu.
Secuil informasi itu membuat Zaky penasaran, beranjak menyusul Clarissa yang berjalan cepat bersama guru piket menuju ruang guru.
Jelas sekarang. Guru piket dan wali kelas menerangkan terhadap Zaky sesuai kabar yang diterima Clarissa jika Ibu Sekar mengalamai kecelakaan dan kini berada di rumah sakit.
"Kamu nggak boleh pulang bawa motor sendiri, Zaky. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan." Clarissa yang beralih mengekori Zaky yang berjalan cepat menuju parkiran.
"Zak, tunggu!" Terengah-engah Fatur mendekat setelah berlari cepat. "Aku aja yang bawa motornya. Udah ijin sama Pak Sofyan." Ia sudah mendengar cerita lengkap setelah sang guru kembali ke kelas dan mengumumkan kabar kecelakaan ibunya Zaky itu.
"Nah itu lebih baik. Aku setuju." Clarissa mendukung usul Fatur. Ia merasa tenang.
Zaky mengangguk. Menyerahkan kunci motor sportnya pada Fatur. "Aku pulang dulu, Ris. Makasih ya." Ia memang selalu mematikan ponsel saat jam pelajaran dimulai. Sehingga ia baru tahu saat ponsel diaktifkan, jika Aul menghubunginya berkali-kali dan mengirimkan pesan jika sang ibu sekarang berada di ruang UGD.
Sepanjang jalan masih menduga-duga penyebab ibu kecelakaan. Padahal tadi pagi Ibu ada di rumah, seperti biasanya menyiapkan sarapan. Tanpa raut lelah padahal baru sehari tiba dari Jakarta.
Clarissa menghentikan langkah di koridor saat berjalan menuju kelasny, karena seseorang memanggil namanya. Ia memutar, melipat tangan di dada saat melihat siapa wajah yang terengah-engah berdiri di hadapannya.
"Kak, Kak Zaky udah pulang belum? Aku baru denger berita kalau ibunya---"
"Udah pulang. Emang mau apa?" Sentak Clarissa memotong ucapan. Menatap tidak suka pada adik kelas bernama Nadia itu.
__ADS_1
"Boleh aku tau ibunya kak Zaky dirawat di mana? Aku telpon kak Zaky nggak dijawab."
Clarisaa mendelikkan mata. Makin sebal dengan orang yang menurutnya berbahaya itu. Yang bisa saja merebut Zakynya. "Nggak usah sok perhatian. Sana balik kelas!"
"Papa aku dokter. Siapa tahu ibunya kak Zaky dirawat di rumah sakit tempat papa aku praktek."
Clarissa yang melangkah tergesa masih bisa menangkap teriakan murid baru itu. Ia acuh. Tanpa papa nya Nadia pun pasti ibunya Zaky akan mendapatkan perawatan dokter. "Halah modus!" Ia bergumam dengan sinis.
...***...
Puput dalam perjalanan pulang satu pesawat dengan Akbar. Setelah mempertimbangkan efektifitas waktu, Mami dan Papi mempercayakan dan setuju dengan usul Akbar yang akan menemani Puput pulang dan mengantar sampai rumah sakit. Karena perjalanan darat akan memakan waktu lama sampai 7 jam.
Akbar dari awal sudah ada jadwal perjalanan ke Tasik dan sudah mengantongi tiket. Beruntung Leo bisa mengusahakan mendapatkan tiket kursi yang berada di sampingnya untuk Puput.
"Aku di Tasik akan lama sampai lima hari. Lagi ada project bangun hotel. Baru tahap 30%. Harus sering dipantau. Waktu kemarin kita satu pesawat, aku baru pulang mantau project itu." Akbar sengaja bercerita agar Puput tidak terlalu gelisah memikirkan ibunya yang dikabarkan sedang mendapat penanganan di UGD.
Puput menanggapi dengan manggut-manggut.
"Aku sama Rama seumuran. Aku tinggal di Surabaya sampai SMA. Kemudian Papa memutuskan pindah ke Singapura biar fokus ngurus bisnis di sana. Sekalian aku kuliah di sana juga. Udah lama banget nggak ketemu Rama. Masing-masing sibuk. Paling kali-kali teleponan. Jadi kaget lho pas denger Rama dah nikah. Kurang ajar, nggak ngabarin. Udah niat mau nonjok dia kalo ketemu." Akbar terkekeh dengan pemikirannya itu sebelum tahu kabar jika saudaranya itu diculik.
Puput tersenyum simpul saat obrolan beralih membahas suaminya itu. "Memang nikahnya mendadak. Enam jam menuju acara lamaran, eh Aa berubah pikiran ngajak nikah. Karena dia harus terbang ke New york dan pengen tenang hati katanya. Dan rencananya akhir bulan ini mau ngadain resepsi. Tapi takdir berkata lain." Ia kembali sendu di ujung cerita.
"Oh ya? Siapa, Mas?" Puput menoleh dengan penuh keingintahuan.
"Tunggu Om Krisna yang ngabarin deh. Karena sekarang masih abu-abu."
Pesawat mendarat di bandara Wiriadinata setelah satu jam di udara. Sudah ada sopir Akbar yang menjemput. Bergegas mobil melaju mengantar dulu Puput menuju rumah sakit swasta di Tasik yang jaraknya 15 menit dari bandara.
"Mas Akbar, cukup antar sampai sini aja!" Puput menahan Akbar yang akan ikut turun di parkiran rumah sakit. Ia tidak enak hati sudah merepotkannya.
Akbar menggeleng. "Aku juga mau lihat keadaan ibumu. Dan tugas dari Om Krisna harus nemenin dulu kamu sampai orang-orang yang akan mengawalmu datang."
Puput mengalah. Memang Papi Krisna sudah bilang akan ada dua orang yang mengawalnya dari jauh. Ia pasrah menurut. Keduanya berjalan menuju lift karena ibu sudah dipindah ke kamar perawatan di lantai 4 ruang VIP.
"Ibu----" Puput langsung menghambur ke arah bed setelah berpelukan dengan Aul dan Zaky. Ia memperhatikan tangan kanan Ibu yang digips.
"Ibu nggak papa, Teh. Aul aja yang paniknya berlebihan. Ibu dah larang jangan kasih tau teteh eh malah ditelpon...." Ibu Sekar menatap kilat kecemasan di mata anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Justru kalo nggak dikasih tau, aku akan marah." Puput mengerucutkan bibir usai mencium kening sang ibu. "Ini tangan digips, ibu bilang nggak papa. Ini juga kaki banyak luka." Protesnya lagi usai menyingkap selimut yang menutupi kaki ibunya itu
"Jadi gimana ini ceritanya, Bu?" Puput menatap ibu karena Aul tidak menceritakan detailnya. Adiknya itu mendapat kabar kecelakaan dari Anggara yang tengah bertugas di kawasan simpang lima. Dialah yamg membawa ibu ke rumah sakit ini. Dan Aul menyusulnya.
"Ibu lagi naik ojol mau ke ikut pengajian di masjid agung. Tiba-tiba ada yang menabrak dari belakang. Ibu jatuh nyuksruk. Ibu nggak tau keadaan mang ojolnya sama motornya gimana. Semuanya berlangsung cepat. Alhamdulillah ada polisi Anggara nolongin Ibu."
"Kak Anggara lagi urusin, Teh. Katanya mobil yang nabrak udah siap tanggung jawab secara kekeluargaan. Untung di jalur lambat, jadi mobil lagi melaju pelan pas nabrak." Sahut Aul dengan pandangan sesekali menatap Akbar yang berdiri di samping Puput.
...***...
"Namanya Akbar. Masih saudaranya Kak Rama. Anak dari sepupunya Papi." Puput menjawab keingintahuan Aul usai Akbar pamit. Berganti ada dua orang pengawal yang menjaga di luar ruangan menyamar sebagai pengunjung pasien.
"Udah nikah?" Aul masih penasaran.
"Belum. Mau daftar?" Puput menarik sudut bibir, kangen suasana becanda. Seminggu ini hanya ketegangan yang menyelimuti.
"Ish teteh mah." Aul mencebikkan bibir.
Puput memperbaiki selimut yang dipakai ibunya yang kini terlelap karena meminum obat. Hasil diagnosis, tangan kanan ibu mengalami retak dan harus menggunakan gips untuk waktu yang lama mengingat faktor usia. Sehingga proses pemulihan membutuhkan waktu lebih lama.
Pintu di dorong dari luar. Zaky datang membawa nasi dus untuk makan siang bertiga sesuai yang dipesan Puput. Mereka duduk melingkar di meja makan bundar yang terdapat di ruang VIP itu.
"Lho, kok ada surat?" Zaky yang mengeluarkan nasi dus dari kantong kresek, mengernyitkan dahi karena mendapati amplop putih di sisi dus paling atas.
"Coba buka! Itu nggak dirapet." Aul pun penasaran. Puput hanya menoleh sekilas karena sedang membalas pesan dari Mami yang menanyakan kabar Ibu.
"Teh, baca!"
Suara kaget Zaky membuat Puput mendongak. Ia menerima uluran kertas isi amplop putih itu dan membacanya...
Puput, jangan balik ke Jakarta. Suamimu ada di daerah ini. Tapi jangan lapor polisi karena akan membahayakan nyawa suamimu. Jangan panik, saat ini dia baik-baik saja. Ada 6 orang pesilat menjaga villa tempat suamimu disekap, bisa jadi kamu kenal mereka yang dibayar oleh big boss. Waspadalah dan tunggu kabar dari saya selanjutnya....
...****************...
Alhamdulillah, 100 bab terlampaui.
Besties, terima kasih sudah membersamai RamPut sampai detik ini. Semoga masih antusias menanti kelanjutan cerita. 🤗
__ADS_1
Lima pemenang GA "Tanda Kasih dari Author" akan di umumkan 1 agustus ya. Masih ada waktu untuk mengirim ss kopi kepada admin Imas Perwati sampai akhir Juli.
Salam cinta dari RamPut ❤