
Mizyan dan istri serta Mark dan istri menginap di hotel yang sama dengan Rama. Hanya beda lantai. Pasangan Bapak dan anak itu berjalan bersama memasuki lift. Mark menekan tombol angka 19. Sementara Mizyan menekan tombol 21.
Di dalam lift, Mizyan memasukkan sesuatu pada saku jas Papi Mark tanpa sepengetahuan Rahma maupun Bu Ima. Mengedipkan mata dan menyimpan telunjuk di bibir saat ayahnya itu mengernyit dan akan membuka suara.
"Selamat istirahat Papi, Ibu," ujar Mizyan saat pintu lift terbuka di lantai 19. Rahma pun melambaikan tangan terhadap mertuanya itu. Ucapan yang sama dilontarkan pula oleh Mark.
Pintu lift kembali tertutup. Mizyan senyum-senyum sendiri sambil merangkum bahu sang istri.
"Papa, kenapa senyum-senyum? Jadi curiga mau bikin ulah." Rahma memicingkan mata saat keluar dari lift.
"Apa sih, Bun. Sama suami nggak boleh curigaan." Mizyan dengan santai memasukan key card untuk membuka pintu kamarnya.
Rahma berkacak pinggang begitu pintu sudah tertutup. "Papa, awas kalo ngerencanain ganggu pengantin baru! Yang udah-udah biasanya gitu, kan?" Ia melontarkan kecurigaannya karena Mizyan sudah mendapat julukan biang kerok oleh Arya and the genk.
Mizyan nyengir kuda lalu mengangkat dua jarinya. "Kali ini nggak, Bun. Balas dendam Arya udah selesai di aku. Sumpah, Bun. Nggak akan ganggu Rama. Tapi mau ikutan honeymoon. Jangan kalah sama pengantin baru." ujarnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Hm, ngantuk ah. Mending bobo." Rahma bersiap berganti pakaian dan membersihkan wajah dari sisa make up.
"Oh, tidak bisa, sayang. Kan sengaja gak bawa anak-anak biar bisa anu." Mizyan melempar jas dan kemejanya ke sofa. Beralih menuju dispenser untuk menyeduh kopi.
Mizyan membuka ponsel. Memasukkan kontak Rama pada grup chat khusus para hot daddy, yang ia seorang sebagai adminnya. Dengan nama grup "Brotherly Club"
[Welcome newmem. Rama Adyatama]
[Sepertinya gak bakal diread]
[Dia lagi prepare praktek jurus 🤣]
Mizyan senyum-senyum mengirimkan tiga pesan. Ia mengaduk-ngaduk kopi khusus pria yang terakhir diberikan pada Papi Mark.
[Woy, dah pada sampe kamar belom? Absen plis]
[It's ngopi time] Mizyan memberi caption pada gambar segelas kopi yang barusan dijepretnya.
"Papa, ayo salat!" Rahma keluar dari kamar mandi memakai baju tidur selutut.
"Duluan aja, Bun. Tanggung lagi ngopi." Sahut Mizyan tanpa melihat ke arah Rahma. Lagi menunduk ke ponsel melihat teman-temannya sedang mengetik balasan.
"Ish, mau tidur malah ngopi sih." Protes Rahma sambil geleng-geleng kepala.
"Emang niat mau begadang, sayang." Mizyan menoleh sambil mengedipkan sebelah mata. Tak ada lagi respon dari istrinya itu yang kemudian menggelar sajadah tipis yang selalu dibawa setiap bepergian.
Ricky : [Lagi nyeduh. Ini beneran obat kuat, bukan obat tidur? Awas lo ya, kalo iseng]
Satya : [Nyimak. Soalnya gue pernah lo kerjain]
Nico : [Nyimak. Gue baru sampe rumah]
Nico satu-satunya anggota grup yang tidak menginap di hotel. Tetapi pulang ke rumah orang tuanya yang hanya ditempuh setengah jam perjalanan normal.
__ADS_1
Mizyan tertawa tanpa suara. Lalu mengetik balasan. [Dijamin strong, Bro. Belinya aja dari Mesir. MAHAL. Gue kasih free demi persaudaraan]
Rendi : [True, Bro. Gue mulai on nih. Off duluan dah]
Ricky: [Njirr, Pak dokter gercep. Percaya dah kalo si Rendi dah buktiin mah. Otw seduh]
Mizyan tertawa lepas. Ia beralih membuka pesan baru dengan nama Papi yang baru saja tampil di layar atas.
[Miki, ini gak ada efek samping buat Papi yang udah tua?]
Mizyan menarik sudut bibir membaca pesan Papi Mark.
[Ada efek samping, Pi. Tegang terooosss sampe subuh]
[Aman, Pi. Premium herbal. Gaspolll, Pi 💪]
Mark : [Anak kurang ajar 👊]
Mizyan tergelak membaca balasan terakhir Papi Mark. Beralih membuka grup Brotherly Club.
Arya : [Bro, pengantin lo kasih juga?]
Mizyan: [No. si Rama gue bisikin mantra aja. Belum butuh kopi dia mah]
Satya: [Ugh, tegang euy. Gue off]
Nico: [Mantap jiwa. Langsung ser seran nih darah. OFF]
Arya: [Gue baru nyeduh. Si Willi kemana? belum nongol]
Ricky: [Duh, gue.....auuwwww. OFF]
Mizyan: [Ky, lo parah. berubah jadi wolf?! 🤣]
William: [Hadir. Gue abis nyari kopi yang ilang. Ternyata diumpetin celine. Otw seduh. Njirr, yg udah off langsung macul ya]
Mizyan tertawa membaca kiriman Willi.
"PAPA, SHALAT ISYA DULU!"
Ultimatum sang istri membuat Mizyan mematikan ponselnya. Sudah dipastikan semuanya menyeduh kopi dan mulai begadang. Ia beranjak dari kursinya setelah kopi habis sejak 10 menit yang lalu.
"Siap, sayang." Mizyan mengecup pipi Rahma yang sedang mengaplikasikan krim skincare di depan meja rias. Berlalu menuju kamar mandi.
Lampu terang berganti lampu tidur yang remang usai Mizyan melipat sajadah. Ia tersenyum melihat Rahma yang bergelung di dalam selimut.
"Sayang, udah tidur, hm?" Tangan Mizyan menyusup ke balik selimut bawah. Merayap menuju paha bagian dalam. Menyentuh salah satu titik sensitif sang istri yang sudah khatam di luar kepala.
"Papa ih, aku mau bobo." Rahma menyembulkan kepala dari balik selimut. Merajuk sambil menggigit bibir bawah menahan sensasi gelenyar karena ulahnya sang expert.
__ADS_1
Mizyan tersenyum menyeringai. "Oh, tidak bisa. Pegang nih si adek pengen ngajak maen." ujarnya sambil mengarahkan tangan Rahma pada dedek kecil.
Tak ada lagi ucap manja merajuk. Toh dalam hati sebenarnya, Rahma juga selalu ketagihan sentuhan sang suami. Bibir ranumnya sudah dibungkam oleh bibir Mizyan dengan lembut. Sang expert memulai eksplorasi diiringi gerak jarum jam dinding yang seolah memulai mengukur durasi.
...***...
Kamar pengantin yang luas dengan dekorasi bernuansa romantis. Sepasang pengantin sudah berada di peraduan. Ponsel keduanya sudah dimatikan. Menghindari keisengan teman-teman yang mengirim chat mesum.
"Neng, cape nggak?" Ramam memiringkan badan memeluk Puput yang mengenakan baju kesukaannya. Lingerie.
"Mau bilang cape juga pasti Aa ngajak anu." Puput mengusap rambut Rama yang kini terbenam di dadanya.
"Hehe udah kebaca ya modusku." Rama menurunkan tali lingerie coklat dari bahu Puput. Bisikan Mizyan saat tadi terbayang dan tergambar untuk dipraktekan.
"Sayang, kita begadang ya." Rama mendongak menatap wajah Puput dalam remang cahaya lampu tidur. Wewangian aromateraphy menciptakan suasana syahdu merayu untuk bercumbu, memadu kasih.
"Hm, terserah Aa deh." Puput menjawil hidung Rama dengan gemas. Tatapan mesum suaminya itu sudah terbaca.
"Tiap nempel sama kamu pasti saja langsung on. Mana kemarin libur sehari kan?" ucapnya sambil menurunkan satu tali lagi di bahu kiri. Kini, bahu seputih susu itu terekspos jelas tanpa penghalang.
"Hm, meni dihitung." Sahut Puput yang mulai menggelinjang saat bibir Rama menyusuri belakang telinganya.
"Iya atuh, Neng. Aa kan gak mau rugi." Rama memutar wajah Puput sehingga kini saling tatap. Otomatis keduanya tidur miring saling berhadapan.
"Istriku cantik sekali." Lirih Rama dengan suara berat. Diiringi mengecup bibir Puput yang manis dengan hembusan nafas segar aroma mint. Puput mengulas senyum manis sambil mengerjapkan mata.
"Aa juga kasep." Jemari Puput menelusuri wajah Rama yang nampak menikmati sentuhan halus lembut usapannya.
"Tapi kita jangan saling cinta karena visual saja. Karena seiring waktu fisik akan berubah dengan bertambahnya usia. Aku gak mau sampe Aa berpaling mencari daun muda yang lebih cantik dan seksi." lanjut Puput sekaligus ungkapan isi hatinya.
"Nggak akan, sayang. Meskipun di atas langit masih ada langit. Kamulah langit terindah yang akan selalu mengiri langkah hidupku. Kamu istri terbaik yang cantik fisik dan hatinya. I love you." Rama menangkup wajah Puput. Mulai menempelkan bibir. Yang kemudian saling me magut perlahan dan lembut. Dilakukan sepenuh hati dan segenap perasaan cinta yang memenuhi sukma.
"Aa, udah berdo'a?" ucap Puput mengingatkan setelah melepas dulu tautan bibir itu.
"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaan wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." Rama berucap lirih mengulang doa yang sebelumnya diucapkan dalam hati.
Lima puluh menit berlalu. Buliran keringat sudah mengembun di kening juga seluruh badan Puput. Ia dibuat bergetar berkali-kali. Mendesah dan meracau tanpa henti.
Rama masih senang bermain-main. Semakin bersemangat mempraktekkan bisikin sang expert mendengar suara Puput yang menurutnya seksi. Memacu untuk terus mengeksplorasi dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ilmu baru. Ia abaikan permintaan Puput yang ingin segera penyatuan.
"Aa, udah....aku gak kuat. Pengen....." Puput mendesah manja, menatap nanar dengan kedua tangan mencengkram seprai dengan kuat. Lagi, ia dihadapkan pada kenikmatan yang berulang. Yang membuatnya melenguh dengan nafas naik turun.
"Baiklah, sayang. Aku datang...." Rama pun sudah bergejolak sampai ke ubun-ubun. Ia mulai mengungkung di atas tubuh Puput. Mulai menyatukan dua raga. Menyemai benih berkualitas dengan berharap akan menjadi buah. Sebagai bukti cinta dalam ikatan halal.
Malam panjang ini tidak hanya milik Rama dan Puput yang berada di kamar president lantai 25. Yang kini sedang mengistirahatkan badan dan mengatur nafas yang memburu usai sama-sama mencapai surga dunia.
Semua pasangan peminum kopi pun sedang merayakan malam panjang penuh gairah. Yang sengaja direncanakan menikmati quality time bersama sang istri. Sejenak mencuri waktu semalam jauh dari anak-anak demi satu niat. Demi memupuk kasih sayang serta kemesraan yang tidak boleh berkurang apalagi pudar seiring bertambahnya usia pernikahan.
Berapa lama sesi dan durasi, hanya mereka para pelaku yang tahu pasti. Di saat waktu menunjukkan pukul dua malam, di kamar pengantin sedang berlangsung sesi kedua usai break satu setengah jam lamanya. Entahlah sedang apa di kamar-kamar yang lainnya.
__ADS_1
Author gak berani ngintip. Lutut lemes, bestie 😑 🏃🏃🏃