Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
129. Latihan Memanjakan Perut


__ADS_3

"Terus, Mih. Bukan yang itu....turun dikit. Ahh masih kurang pas. Agak tengah....nah itu. Dikit lagi....kurang bawah, Mami sayang. Nahhhh......hmmm PAS MANTAP." Papi Krisna menggeliatkan punggungnya diiringi de sahan panjang dengan mimik wajah penuh kelegaan.


Saat punggung terasa gatal dan tidak terjangkau tangan sendiri, Papi Krisna meminta tolong pada sang istri sambil membuka bajunya. Dan rasanya nikmat tiada tara saat garukkan pas di titik yang gatal.


"Udah, Pih?" Tanya Mami Ratna memastikan.


"Lanjutin pijit pasti enak, Mih. Badan Papi lagi cape. Seharian ini sidak proyek di lapangan." Papi Krisna merajuk.


"Jangan di sini. Papinya pindah ke kasur." Mami Ratna lebih dulu beranjak dari sofa. Menyiapkan minyak zaitun untuk memijat.


Papi Krisna sudah dalam posisi telungkup bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana santai selutut.


"Papi tau nggak?" Mami Ratna mulai mengoles minyak zaitun ke punggung.


"Nggak, Mih." Sahut Papi Krisna.


"Diem dulu. Mami belum ngomong." Dengan gemas Mami Ratna mencubit pinggang suaminya itu yang terkekeh.


"Pih, yang ngedesain dresscode lamaran Cia, dresscode resepsi Rama, sama gaun pengantin Puput, itu orang yang sama lho Pih." Mami Ratna mulai mengurut dari pinggang mengarah ke atas.


"Ratih, kan?" Papi Krisna telungkup dengan kepala miring ke kiri dengan pipi menempel ke bantal.


"Salah." Mami Ratna mengulum senyum.


"Mami tidak pesan dari butik Sundari?! Kan Papi selalu wanti-wanti. Dahulukan pesan tuh pada keluarga besar sendiri sebelum keluar. Sama aja kita berbagi rejeki plus saling membantu perkuat perekonomian keluarga." Papi Krisna memberi teguran panjang.


Mami Ratna terkekeh mendengar ceramah sang suami yang memang selalu konsisten untuk saling memajukan bisnis keluarga. "Mami pesan dari butik Sundari kok. Dan Ratih punya asisten desainer yang qualified. Dia adalah......Kartika. Wanita masa lalu Papi yang aku bantu untuk berubah nasib."


Papi Krisna membalikkan badan. Berubah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Menepuk kaki agar sang istri beralih memijat kedua kakinya.


"Kartika...Mami titipkan kerja di butiknya Ratih. Dan ternyata dia punya bakat terpendam. Selama ini dia selalu menggambar berbagai desain pakaian wanita dalam sebuah buku. Ratih udah launching koleksi terbaru dan produk rancangan Kartika itu laris manis di pasaran."


Mami Ratna sejak mendapat izin sang suami untuk membantu Kartika, sejak itu pula tak lagi membahas ulang. Ia dengan penuh ketulusan, turun tangan membantu mulai dari me make over tampilan fisik. Kemudian bersama Ratih menghadirkan guru privat kursus kecantikan dan kursus kepribadian.


"Kartika sekarang dengan yang dulu jauh banget lho, Pih. Sekarang cantik sekali dan karirnya lagi naik daun. Dia udah jadi salah satu brand ambassador Sundari. Papi kalo melihatnya kayaknya akan terpana deh. Pangling pokoknya. " Ucap Mami Ratna sambil tangannya tidak berhenti memijat kaki suaminya itu.


"Papi nggak menyangka Mami menolong sampe sejauh itu. Istri Papi memang luar biasa berhati mulia. Mudah-mudahan Kartika bertemu jodoh laki-laki yang baik." Papi Krisna menarik lengan istrinya itu. Membuat Ratna berhenti memijat dan beralih posisi menjadi bersandar di dadanya.


"Mami lain kali jangan muji-muji wanita lain di depan Papi. Papi malah jadi khawatir dengan suasana hati Mami nantinya." Papi Krisna mengecup kening sang istri penuh sayang.

__ADS_1


"Maksud Papi apa?" Mami Ratna mendongak dengan kening mengkerut.


"Kalo Papi merespon dengan memujinya, bisa jadi Mami malah sakit hati dan cemburu. Bukankah wanita itu makhluk halus yang perasa, hm?" Papi Krisna mengecup bibir sang istri yang masih mendongak menatapnya.


Mami Ratna tersenyum tipis. "Papi benar. Tapi Mami yakin cinta Papi hanya buatku aja. Papi suami setia. " Ia menelusupkan wajah meronanya di dada bidang sang suami yang hangat dan nyamannya masih sama sejak awal pernikahan.


"Mami salah. Dulu iya, cinta Papi hanya untukmu seorang. Seiring waktu, semuanya berubah. Cinta Papi udah terbagi." Papi Krisna menarik sudut bibirnya saat sang istri terlonjak kaget. Dan memicingkan mata menatapnya.


"Sejak kehadiran Rama dan Cia, cinta Papi terbagi untuk mereka. Tapi kasih sayang Papi sama Mami seiring waktu makin bertambah. Dada ini tumpah ruah oleh rasa kasih sayang sama kamu, istri terbaik dan ibu terhebat. Love you more and more." Papi Krisna mendekap erat Ratna Gayatri, sang bunga desa pada masanya. Yang berhasil dipetik dengan bersaing mengalahkan puluhan pemuda lainnya yang datang dengan tongkrongan berbagai kendaraan mewah. Ia percaya diri datang menggunakan motor tua. Lewat jalan dapur mendekati ibunya Ratna hingga berkali-kali. Dan akhirnya berhasil mengambil hati orangtua sang bunga desa itu.


"Papi, mulai deh ngegombal." Mami Ratna mencubit dada dengan gemas. Tapi dalam hati dipenuhi kupu-kupu beterbangan. Ia pasrah saat Krisna merubah posisi merebahkan dirinya telentang. Menjadi mengungkungnya. Kedua tangannya dilingkarkan di leher suaminya itu yang mulai memagutnya.


"Pih, masih sore." Ucap Mami Ratna saat mengatur nafas, menghirup oksigen bebas. Usai bibir saling me magut, lidah saling membelit hingga menimbulkan gejolak nafsu yang naik ke ubun-ubun.


"Nggak papa. Kan udah salat isya." Ucap Papi Krisna dengan suara serak. Mulai mempreteli satu persatu kancing home dress Mami Ratna. Usia boleh tua. Tapi gairah selalu muda.


"Nanti dulu nunggu Cia pulang, Pih. Nanti dia ketuk pintu lho." Mami Ratna mengingatkan kebiasaan ngobrol santai sebelum tidur dengan si bungsu. Berbincang tentang kegiatan seharian ini. Komunikasi yang selalu dijaga sebagai bentuk perhatian.


Baru selesai Mami Ratna berucap, pintu terdengar diketuk sampai tiga kali diiringi teriakan panggilan.


"Tuh kan. Panjang umur..." Mami Ratna mengulum senyum. Papi Krisna menjatuhkan tubuhnya di sisi kiri sambil menghela nafas panjang.


"Om, Tante. Aku udah berunding dengan Cia soal waktu untuk acara pernikahan kami." Damar duduk tegak di hadapan calon mertuanya itu. Ia datang bersama Cia yang dijemputnya di kantor.


Papi Krisna dan Mami Ratna yang duduk di satu sofa, menyimak ucapan calon menantunya itu.


"Kami memilih waktu tanggal 17 Desember, Om. Pagi akad, malamnya resepsi." Ucap Damar dengan yakin.


"Alhamdulillah, Om sangat senang mendengarnya. Berarti ada waktu tiga bulan untuk persiapan." Papi Krisna manggut-manggut. "Semoga kita diberi kemudahan, kelancaran, dan kesehatan, sampai waktunya tiba."


Cia dan Damar serta Mami Ratna mengaminkan dengan sungguh-sungguh.


Mami tersenyum lebar dengan wajah semringah. "Kalian udah tentuin venue nya dimana?"


"Masih pilih-pilih, Mih. Nanti deh aku update." Ucap Cia.


"Kalo udah pasti gini, Mami akan kabari keluarga besar." Sahut Mami. Ia lalu menyuruh Cia dan Damar ke ruang makan karena mereka belum makan malam.


Cia dan Damar meninggalkan ruang tengah. Memang sengaja memilih makan di rumah karena ingin suasana yang lebih santai.

__ADS_1


"Neng Cia, biar sama si mbak panasin dulu sayurnya." Mbak Nur tergopoh-gopoh menghampiri meja makan melihat Cia dan Damar sudah menarik kursi. Tidak ada Bi Lilis karena sudah ditarik kerja di rumah Rama.


"Nggak papa samu aku aja. Mbak istirahat aja." Cia melangkah ke arah dapur memangku mangkuk kaca berisi soto ayam kampung.


"Tapi Neng Cia kan cape baru pulang kerja." Keukeuh Mbak Nur sigap menyiapkan panci stainles untuk memanaskan soto tersebut.


"Aku kan dah mau nikah, mbak. Jadi harus belajar ke dapur. Belajar ngelayani suami. hehe." Cia tersipu malu. Menuangkan soto dari mangkok kaca ke dalam panci stainles yang sudah ada di atas kompor gas. Ia menyalakan apinya.


"Wah, jadinya kapan nikahnya, Neng?" Mbak Nur sedikit mengecilkan api sambil memberitahu jika wadah berbahan stainles mudah menghantarkan panas dan juga santan akan pecah jika api ukuran normal.


"Tuh kan hal gini aja aku belum tahu. Kayak sepele tapi pengaruh juga ya." Cia sama sekali tidak tersinggung dikoreksi oleh sang ART. "In syaa Allah, nikah tanggal 17 Desember. Doain ya, mbak." Sambungnya.


"Alhamdulillah. Mbak pasti doain biar segala sesuatunya dilancarkan." Sahut Mbak Nur yang diamini Cia.


Cia membawa kuah soto kembali ke meja makan. Aroma wangi menguar dari asap yang mengepul. Ada lauk pelengkap sudah tersaji di meja. Perkedel kentang, kacang, dan kerupuk emping.


Damar menyimpan ponselnya. Satu tangannya memangku dagu sambil memperhatikan Cia yang sedang menuangkan soto dalam mangkok saji, menaburkan bawang daun dan bawang goreng diatasnya. Lalu menyendok nasi ke dalam piring sambil bertanya kebanyakan tidaknya pada Damar.


"Kak, kenapa senyum-senyum?" Cia mendongak merasa diri diperhatikan terus-terusan oleh calon imamnya itu.


"Lagi ngebayangin nanti bakalan tiap hari dilayani Ayang. Jadi nggak sabar pengen ke KUA besok aja. Nunggu tiga bulan lama." Ucap Damar tanpa berpaling sedetik pun.


Cia tersenyum simpul dengan wajah yang merona merah jambu. Memberikan apa yang dituangkannya barusan ke depan tangan Damar yang duduk di kursi sampingnya.


"Tapi aku jujur aja belum mahir soal masak memasak. Mau belajar dulu sama Teh Puput ah. Jadi Kak Damar jangan berekspektasi terlalu tinggi ya. Nanti malah kecewa." Cia menyendok nasi juga soto yang dipisah dalam mangkok saji untuknya, usai menyiapkan dua gelas air putih hangat.


"Nggak lah. Aku akan respect sama Ayang, yang mau belajar masak. Jangan jadi beban, Yang. Nggak harus masak tiap hari kok. Kalo malas atau sibuk ya beli aja. Yang penting kamu selalu perhatian sama aku." Damar mengusap kepala Cia yang berbalut hijab sebelum memulai makan.


"Iya, Kak. Tapi tetep aku harus bisa masak selain ceplok telor dan mie rebus. Mami juga nasihatin gitu. Istri harus bisa memanjakan seputar perut suami karena itu bisa jadi pelet agar si suami klepek-klepek."


"Hm, memanjakan seputar perut. Jelasin dong Yang, letaknya dimana aja itu? Atau sambil dipraktekin satu-satu juga boleh." Seringai jahil terbit di wajah Damar.


Cia menatap tajam sambil mencubit pinggang Damar dengan keras.


"Aduduh ampun, Ayang. Belum apa-apa udah KDRT." Damar mengusap pinggangnya yang lumayan sakit.


...****************...


Besties, just info biar nggak bingung. Setting KCM lebih dulu daripada KARTIKA, ya.....

__ADS_1


__ADS_2