Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
91. Keputusan Puput


__ADS_3

Bel berbunyi. Yang tersisa di ruang tengah hanya Aul dan Ami yang sedang memainkan ponsel. Yang lainnya sudah masuk ke kamar masing-masing. Oleh-oleh dari hajatan pun sudah dirapihkan dan disimpan di dapur.


"Teteh, tuh ada tamu." Ujar Ami tanpa menoleh, tetap anteng bermain game.


Aul tanpa kata beranjak bangun usai berbalas pesan dengan temannya. Ia mengintip dari tirai jendela untuk melihat siapa yang datang. Dan mampu membuatnya kaget. Segera merapihkan kerudung yang barusan dipakainya asal.


"Assalamu'alaikum."


Saat pintu dibuka, pria dengan hidung mancung yang tajam itu mengulas senyum usai berucap salam.


"Wa'alaikum salam. Masuk, Kak!" Aul balas tersenyum dan mengajak duduk.


"Maaf bertamu malam-malam. Sebenarnya tadi siang kesini tapi katanya lagi ke Banyumas."


"Nggak papa ini baru jam 8, belum malam. Iya, Kak. Kemarin siang berangkatnya. Nginep semalam. Itu bestie nya Teh Puput nikah. Kami semua diharuskan datang." Jelas Aul. Yang ditanggapi Panji dengan manggut-manggut.


"Eh, ada Kak Panji. Hehehe..." Ami menghampiri dan mencium punggung tangan sang tamu dengan girang. Kemudian duduk di samping Aul.


"Hmm, apa Ibu udah istirahat ya?" Pertanyaan Panji bersamaan dengan kedatangan Zaky yang berniat mengunci pintu pagar. Jadinya pemuda tanggung itu bergabung di ruang tamu. Dan Aul beranjak untuk memanggil ibu sekalian membuatkan minuman.


"Zaky, tolong ya ambilin oleh-oleh di mobil!" Panji menyerahkan kunci mobilnya.


"Aku bantuin ya, Kak?" Ami mengacungkan tangan dengan semangat. Dan mendapat anggukkan Panji yang tersenyum simpul.


"Uhuy!" Ami mengekori dengan memegang kaos belakang Zaky agar tidak ketinggalan.


Puput, mengetahui ada adik iparnya datang, bergabung sebentar demi menghargai sang tamu. Jadinya semua keluarga berkumpul dan berbincang ringan.


"Aku kesini sengaja mau ngasih oleh-oleh dari Bandung, sekalian pengen ketemu kamu. Nggak ada waktu lagi. Besok subuh mau ke Bandung lagi karena ada jadwal kuliah siang." Jelas Panji disaat di ruang tamu tersisa hanya berdua dengan Aul.


Aul tersenyum tipis. "Makasih oleh-olehnya, Kak. Tapi lain kali kalau mau kesini nggak usah bawa oleh-oleh segala. Kalau mau main ya main aja, bebas. Kita kan udah jadi keluarga."


"Jadi keluarga karena Kak Rama nikah sama Teh Puput? Atau karena aku diterima secara pribadi?" Panji menaikkan kedua alisnya.


"Maksud Kak Panji?" Aul menatap dengan kening mengkerut.


"Aku suka sama kamu, Aul."


...***...


Puput menyiapkan baju dan jilbab yang akan dipakai untuk ke kantor besok. Agar pagi hari tidak repot lagi karena harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Seperti biasa, bagi-bagi tugas dengan sang adik. Jabatan tinggi hanya di kantor. Di rumah, ia tetaplah seorang anak yang harus membantu pekerjaan Ibu.


"Teh, udah tidur belum?"


Ketukan di pintu diiringi teriakan Aul, terdengar oleh Puput yang tengah mengaplikasikan serum dan krim malam di wajah. "Belum. Masuk aja!"


Aul masuk dan langsung naik ke atas ranjang. "Aku mau curhat, teh." Menatap sang kakak yang masih duduk di depan meja rias.


"Panji udah pulang?" Puput bergabung naik dan duduk sila mengenakan setelan piyama dengan panjang celana selutut.


"Udah barusan. Udah pamit sama Ibu." Aul menghela nafas panjang. "Kak Panji bilang suka sama aku. Dia meminta aku jadi pacarnya." Raut wajahnya seperti orang bingung. Dan menatap sang kakak seolah meminta solusi.


"Aul jawab apa?" Puput menatap dengan tatapan menyelidik.


"Aku bilang belum bisa jawab. Mau mikir dulu. Aku.harus gimana, Teh?" Aul nampak dilema.


"Perasaan Aul sendiri gimana? Teteh mah nggak akan nyuruh atau ngelarang Aul pacaran sambil kuliah."


Aul menggeleng. "Aku mau seperti teteh. Fokus tamatin dulu kuliah. Belum mau pacaran. Mau ngembangin usaha Dapoer Ibu. Mau bebas dulu berteman sama siapapun. Itu temenku si Asty, patah hati diputusin sampe sering bolos kuliah. Jadi down pokoknya. Ngeri deh pacarannya bablas sih." Jelasnya panjang lebar.


"Kamu bingung ngasih jawaban karena nggak enak sama Panji sebagai adiknya Kak Rama, sebagai cucunya Enin?" Tebaknya. Yang memang benar mendapat anggukkan Aul.

__ADS_1


"Soal perasaan nggak bisa dipaksa. Kalau Aul mau nolak ya tolak aja dengan sopan. Sampaikan alasannya seadanya. Ajak berteman aja. Teteh yakin, Panji orang yang baik. Akan bersikap bijak memilah urusan pribadi dan urusan keluarga."


Sesi curhat pun berakhir dengan beralih topik obrolan membahas trik marketing Dapoer Ibu. Dimana Aul sudah membuat grup Wa khusus pelanggan yang nantinya akan dimumkan promo-promo setiap bulannya. Dengan syarat dan ketentuan berlaku. Puput setuju dengan ide smart adiknya itu. Ia memang sudah melihat potensi Aul yang bisa mengelola. Tugasnya membangun usaha kuliner sang ibu sudah terwujud. Tugas selanjutnya ia embankan kepada Aul yang memang memiliki passion di sana.


.


.


Senin waktunya kembali ke aktifitas kerja. Menyambung kembali pembahasan permasalahan di sektor gudang. Di ruangannya, Puput menerima berkas laporan dari Hendra tentang besarnya kerugian dari barang-barang yang hilang selama kurun waktu setahun. Dan nama tiga orang tersangka sudah dikantongi. Supervisor gudang, berikut 2 staf picker.


"Apa kita panggil sekarang pelakunya, Bu Puput?" Hendra menatap Puput yang masih menekuri berkas pemberiannya.


Puput menutup berkas. "Jangan dulu, Pak. Aku mau hubungi dulu Pak Damar. Nanti Pak Hendra aku panggil lagi ya!" Secara tidak langsung ia meminta sang manajer keluar dari ruangannya. Dan itu dimengerti oleh Hendra.


Kini Puput sudah tersambung dengan Damar. Melaporkan secara detail tentang penemuan korupsi di bagian gudang. Yang disimak dengan baik oleh Damar.


"Sesuai rule, setiap pelanggaran ataupun penyelewengan akan dikenakan sanksi. Disesuaikan dengan ringan atau beratnya pelanggaran."


"Namun khusus cabang Ciamis, Rama sudah memberi otonomi. Jadi segala keputusan ada di tangan Teh Puput. Kami yang di pusat tidak lepas tangan, namun peran saja yang berbeda. Sekarang sebagai konsultan saja. Silakan Teh Puput mengacu pada rules, lalu lihat prestasi dan lamanya pengabdian oknum tersebut untuk acuan jika saja Teteh mau buat kebijakan."


Puput mengusap muka usai mengakhiri sambungan telepon dengan Damar. Kini ia harus menghadapi tantangan sebagai pemimpin baru dengan dihadapkan pada permasalahan. Ia tidak boleh salah mengambil keputusan.


Selepas istirahat, ia mendapatkan berkas yang dibutuhkan. Mempelajari profil tiga orang oknum sebelum membuat keputusan final. Bahkan malamnya pun Puput masih terjaga di jam 11 malam. Terus berpikir keras, mengolah dan mempertimbangkan sanksi yang akan diberikan esok hari. Kebetulan Rama pun tengak sibuk dan hanya berkabar lewat pesan. Membuat Puput tidak mungkin curhat tentang masalah yang terjadi di cabang Ciamis.


Selasa.


"Welcome pengantin baru." Puput yang baru turun dari mobilnya, menghampiri Via yang juga sama baru turun dari mobil yang dikemudikan Adi. Sejenak berbincang ringan diselingi tawa. Sampai kemudian Adi pamit pergi, kembali pada rutinitas. Ia memiliki toko distro yang sudah 2 hari tutup karena cuti menikah.


"Mau pegangan nggak jalannya?" Puput memberikan tangan agar Via menggandengnya.


"Apaan sih kayak nenek-nenek mesti digandeng." Cibir Via.


"Soalnya jalanmu aneh. Kayak bebek." Bisik Puput agar tidak terdengar orang lain. Membuat Via menghentikan langkah dan terlihat berpikir. Lalu menunduk ke bawah.


Puput menyeringai. "Aku cuma mancing kok. Hmm ternyata benar....gawang sudah jebol, euy." Ujarnya tergelak dengan puas. Tidak mempedulikan karyawan yang lewat menoleh padanya.


"Dasar gak waras!" Geram Via dengan wajah yang merona merah.


"Ecieee, seorang Bakpia bisa malu juga. Haha..." Puput kembali tertawa dan berlari menghindar dari serangan Via. Sejenak bisa melepas dari mumetnya urusan pekerjaan.


...***...


Tiga orang yang menjadi tersangka sudah berada di ruangan Puput. Disamping ada Dwi, hadir pula Hendra dan satu security untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan.


"Maaf." Ucap Heru, sang supervisor gudang dengan menundukkan kepala. Tidak bisa lagi menyangkal atas bukti yang disodorkan di depannya. Telak.


"Saya hanya disuruh Pak Heru, Bu." Satu staf mewakili menjawab dengan mengangkat wajah sekilas. Lalu menunduk lagi. Yang satu orang lagi menganggukkan kepala sebagai tanda mendukung jawaban.


Semua berdiri, sama-sama melipat tangan di dada. Menatap tiga pelaku penuh intimidasi seolah sedang penghakiman.


Hendra maju. Tangannya mencengkram rahang Heru agar mendongak dan menatap lurus padanya.


Plak.


Tanpa diduga, tamparan keras dilayangkan Hendra dengan wajah merah padam. Nafasnya naik turun menahan luapan amarah. Membuat tubuh Heru oleng.


"Saya tunjuk kamu jadi supervisor gudang bukan karena kamu adik ipar. Tapi karena prestasi kerja kamu saat jadi staf selalu jujur. Saya selalu percaya setiap laporan yang kamu buat. Tapi nyatanya kamu jadi pengkhianat, An jing!" Hendra memberikan lagi satu tamparan di pipi kiri Heru yang tidak memberikan perlawanan. Melampiaskan kekesalan dan kemarahannya.


Security menatap Puput dengan wajah panik. Namun Puput memberi isyarat tangan untuk diam di tempat.


Puput cukup terkejut. Ia malah baru tahu sekarang, jika Heru yang dari data kemarin diketahui memiliki dua istri, ternyata adik iparnya Hendra. Jelas, marahnya Hendra bukan hanya karena pengkhianatan di perusahaan saja tapi juga kemarahan seorang kakak karena adiknya dimadu secara diam-diam.

__ADS_1


"Maafin saya, Kang. Saya udah nikah lagi dan gaji saya nggak cukup buat nafkahin 2 istri. Saya khilaf." Heru menurunkan badan dengan berdiri bertumpu pada kedua lutut. Bukan kata maaf yang didapat dari Hendra yang tak lain adalah kakak iparnya. Tapi hadiah sebuah tendangan di perut yang membuatnya terjungkal.


Hendra mengusap muka, menarik nafas panjang untuk meredakan amarahnya. Kemudian memutar tubuhnya menatap Puput. "Bu Puput, tolong segera buat keputusan. Urusan saya sama Heru agar berlanjut di sidang keluarga." pintanya dengan suara yang kembali normal.


"Baik, Pak." Puput beralih memasukkan kedua tangan ke dalam saku blazernya.


"Untuk kalian bertiga, dengar baik-baik! Mulai hari ini kalian dibebas tugaskan. Dipecat dengan tidak hormat tanpa pesangon. Dan tanpa gaji terakhir."


"Atau pilih. Dipecat dengan tidak hormat tanpa pesangon. Mendapat gaji terakhir, tapi kasus akan dilaporkan ke polisi!" Tegas Puput menatap satu persatu tiga pelaku yang ketakutan itu.


"Ja jangan dilaporkan ke polisi, Bu." Heru dan dua stafnya memelas kompak.


"Oke. Sudan jelas pilihannya kalau gitu."


Heru yang wajahnya memerah bekas tamparan, memberanikan diri menatap Puput. "Bu Puput, kami terima salah. Tapi ada satu orang lagi yang nerima upeti tutup mulut. Dia juga harus kena sanksi."


"Siapa?" Puput memicingkan mata.


"Se Septi."


Puput dan Dwi saling tatap dengan sorot penuh arti.


"Bu Puput, Septi mengajukan resign sabtu kemarin. Suratnya baru sampai ke meja saya tadi pagi." Lapor Hendra. Yang membuat Puput menghela nafas panjang.


...***...


Selepas magrib, Puput mengenakan setelan kaos panjang dan celana jeans dipadu jaket hitam. Menuruni tangga dengan tergesa dan menghampiri Ibu di kamar. "Bu, Teteh keluar dulu ya mau ke rumah temen pakai motor. Ada urusan penting."


"Di mana, Teh?" Ibu meletakkan tasbihnya menatap si sulung yang sudah rapih.


"Di Kujang, Bu. Nggak lama kok, jam 8 juga udah pulang lagi."


Ibu mengangguk. "Hati-hati bawa motornya, jangan ngebut. Kenapa gak pakai mobil aja?"


"Biar cepet, Bu. Lagian jalan kampung susah kalau perewis sama mobil lain." Puput mencium tangan Ibu.


Perjalanan 20 menit membawa motor Vario dengan menggunakan helm fullpace, sampailah di tempat yang dituju. Sebuah rumah dengan cat berwarna biru. Puput mengetuk pintu dan berucap salam. Seraut wajah tua nampak membukakan pintu dan menjawab salamnya.


"Ya Allah, Neng Kiran geuning. Mangga ka lebet (silakan masuk), Neng!" Ibu itu memekik girang. Merapihkan rambut yang dipenuhi uban dan tergesa memakai kerudung instan yamg tersampir di kursi.


"Nabil....Nabila....liat nih siapa yang datang!" Ibu itu berteriak ke arah kamar yang pintunya sedikit terbuka.


Terdengar decitan ranjang, lalu pintu kamar terbuka lebar.


"Ateu Kiran...." Pekik Nabila riang dan menghambur memeluk Puput.


Puput mengusap rambut anak gadis berusia 5 tahun itu dengan senyum lebar. "Nabila.udah sehat?" tanyanya dengan tulus.


"Udah dong. Kan Nabil diobati sama Ateu. Nabil juga ditemani boneka dari Ateu." Sahut Nabila dengan manja.


"Bilang Alham----" Puput menuntun.


"Alhamdulillah." Nabila menyahut cepat.


"Pinter." Puput mengecup kening anak gadis yang riang itu. Wajah yang polos tanpa dosa. Karena sang pendosa adalah mereka yang melakukan hubungan di luar nikah.


"Mama mana, Nabil? Bilangin ada tamu gitu. Mama kamu kan penasaran pengen tau yang namanya Ateu Kiran." teriak neneknya Nabil dari arah dapur. Ia tengah meembuatkan minum untuk tamunya. Menyeduh teh celup.


Puput tersenyum miris. Kedatangannya ke rumah ini adalah kali ke empat tanpa sepengatahuan ibunya Nabila. Sehingga Nabila dan neneknya sudah sangat akrab dan selalu menyambutnya dengan sukacita. Dan malam ini, mungkin hari terakhir ia menginjakkan kaki di rumah bernuansa biru itu.


Nabila menurut. Sambil berjingkrak riang dan bernyanyi, ia pergi ke belakang untuk memanggil mamanya yang sedang menyendiri di sebuah kursi. Dalam remang cahaya bohlam, terlihat kepulan asap putih yang dihembuskan dari mulut menggulung bulat kemudian membias pudar diterpa angin malam.

__ADS_1


...***...


Ateu (bahasa sunda) \= Tante


__ADS_2